Sabtu, 06 Juni 2015

Ch 11

"Sekarang juga aku mau pulang !", tegas Issabelle dengan tangan dilipat di atas perutnya yang kian membesar. Akhir-akhir ini pengaruh mengidamnya tambah besar. Apapun yang diinginkannya harus dipenuhi sekarang juga. Wanita itu memasang wajah cemberut sambil menatap suaminya. "Kau ikut atau tidak ?", tanyanya ketus.
Richard memegang keningnya dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi diletakkan di pinggang. Ia terlihat lebih kurus sejak pernikahan kakaknya dua minggu lalu. Lelaki itu sering dibuat kewalahan dengan keinginan istrinya yang aneh-aneh. Terkadang ia harus tidur di kursi panjang di dalam kamarnya pada saat sang istri sedang tidak ingin tidur berdampingan dengannya. Tidak jarang Issabelle akan membangunkannya di tengah malam hanya untuk menemaninya mengobrol karena tidak bisa tidur. Dan sekarang ia diminta untuk mengantarnya pulang ke rumah ayahnya.
"Baiklah aku akan mengantarmu, Sayang. Tapi tidak bisa menemanimu di sana. Banyak hal yang harus kuselesaikan di pabrik.", kata Richard.
"Jadi urusan pabrik lebih penting daripada istrimu ? Hari ini Kak Rein pulang. Aku ingin bertemu dengannya. Jangan katakan kau tidak peduli ? Kamu kan adik kandungnya, Richard."
"Aku tahu. Aku tahu, Sayang. Tapi tidak sekarang."
Issabelle memanggil pelayan dan meminta mereka membantunya mengenakan gaun barunya. Richard hanya memandangnya heran. Ketika pelayan keluar, ia mendekati  istrinya. "Kau tetap akan pergi?"
"Ya.", jawabnya. "Sendiri."
"Astaga ! Itu tidak mungkin ! Kau tidak boleh berpergian seorang diri, Sayang ! Lihat kondisimu. Apa kau mau membuatku mati ketakutan ?"
"Kalau kau tidak mau menemaniku, aku tidak akan pulang lagi ke rumah ini."

Rein duduk bersama ayahnya di ruang kerja. Keduanya membicarakan bisnis yang diambil alih  sang ayah selama Rein dan Clara pergi bulan madu. Mereka baru akan makan malam ketika Richard dan Issabelle tiba. Kemudian mereka pun makan malam bersama.
"Richard, kau terlihat kurus.", kata Rein. "Apa kau sakit ?"
"Wajar kalau aku jadi kurus. Adik perempuan tercintamu selalu membuatku kewalahan akhir-akhir ini."
"Kau tidak mengerti penderitaan seorang wanita hamil yang tentu ya lebih berat dari kewalahanmu itu.", kata Issabelle. "Seandainya perut ini dapat dilepaskan."
Semua orang tertawa.
"Putri ku ini pasti cerewet sekali, ya ?"
"Benar, Ayah. Hampir setiap malam saya diusir dari ranjang dan harus tidur di kursi. Terkadang kalau dia tidak bisa tidur, dia akan membangunkanku untuk menemaninya bicara sampai dia tertidur. Mengerikan bukan ?"
"Itu karena anakmu tidak bisa diam."
"Apa mungkin yang lahir nanti perempuan, ya ?", kata Clara.
"Apapun itu aku ingin anak ini segera lahir dan sehat tentunya.", kata Richard.
"Kalian sudah menyiapkan nama ?", tanya Rein.
"Sudah kubuat list namanya.", kata Issabelle. "Oh, kalian belum menceritakan tentang bulan madu yang kalian lalui."
Rein tersenyum. "Syukurlah Clara menyukainya."
"Tempatnya benar-benar indah sekali, Issabelle. Rumah yang kami tempati ada di pinggir danau. Ada juga kebun kecil untuk menanam kentang dan bunga. Lalu di malam hari ada kunang-kunang."
"Kami juga berkuda.", tambah Rein.
"Clara, jangan katakan kau ingin menetap di desa.", kata Issabelle penuh curiga.
"Tebakan mu tidak salah, Issbelle.", kata Rein.
Clara tersenyum menatap suaminya.
"Lalu ?", tanya Richard.
"Tentu saja itu baru sebuah keinginan. Karena aku juga menyukai tempat itu.", jawab Rein. "Kami akan tetap di sini menemani ayah."
"Jangan khawatirkan orang tua ini. Ayah sama sekali tidak keberatan kalian tinggal di sana.", kata Tuan Verentsille.
"Tidak, Ayah.", kata Clara dengan lembut. "Kami tidak ingin meninggalkan ayah di sini. Lagipula pekerjaan Rein juga di kota ini. Akan sulit untuknya bila pindah ke desa."
"Clara benar, Ayah. Kalaupun kami pindah, ayah juga akan tetap tinggal bersama kami."
Tuan Verentsille tertawa kecil.

Richard berdiri di dekat perapian sambil memegang segelas wine. "Kakak tampak bahagia."
Rein hanya tersenyum sambil duduk di kursi.
Sang adik membisu sejenak dan memilah kata-kata yang tepat. "Apa ada kabar dari sepupu kita itu ?", tanyanya ragu. Belum sempat dijawab, ia sudah menambahkan lagi, "aku tahu seharusnya aku tidak menanyakan ini padamu yang telah beristri. Tapi satu-satunya yang mengetahui keberadaannya adalah kakak."
"Tidak ada kabar apapun darinya, Richard."
Richard meneguk habis wine-nya lalu menambah lagi.
"Apa kau sedang bermasalah ?", tanya Rein.
"Tidak.", jawab sang adik singkat.
"Aku mengerti bila kau menutupinya dari Issabelle.", kata Rein. "Kudengar ada masalah pada perusahaan keluarga Jovant."
Richard meletakkan gelasnya di atas perapian lalu duduk di sisi kakaknya. "Sekarang masih masalah kecil.", jawabnya. "Tapi akan jadi besar bila terus dibiarkan."
"Katakan apa yang dapat kubantu ?"
Richard tersenyum. "Paman Andrew tidak akan mau dibantu oleh mu, Kak.", ia menghela napas. "Sepertinya kemampuan paman sudah tidak sehebat dulu."
"Kau tidak perlu memberitahunya tentang bantuanku."
"Jadi apa yang harus kukatakan pada paman ? Seorang misterius yang dermawan memberikan bantuan begitu saja ?" Richard tertawa. "Bisa berapa lama kita menutupinya dari paman ?"
Issabelle dan Clara masuk menemui suami mereka. Tidak lama kemudian Richard dan Issabelle berpamitan pulang, namun Rein menahan adik perempuannya untuk tidak meninggalakan ruangan dulu.
"Issabelle.", sebut Rein dengan lembut. "Kakak tahu kalau wanita hamil itu punya banyak keinginan yang aneh-aneh." Rein tertawa kecil. "Tapi sebisanya jangan mempersulit suami mu. Kasihan dia."
Sorot mata Issabelle menunjukkan keterkejutan. Lalu ia berusaha menutupinya. "Pasti sejak tadi Richard mengeluh terus, ya?", tanyanya. Sebenarnya ia menyadari ada sesuatu di balik kata-kata sang kakak yang tidak bisa dikatakannya. "Baiklah aku mengerti. Mungkin aku sering-sering saja datang untuk mengganggu mu, Kak.", katanya nakal.
Rein tersenyum. "Tolong sampaikan salam ku pada Nyonya Chaterine."
"Iya iya."


Rein memegang pundak istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. "Besok aku akan berangkat karena pekerjaan."
Clara menatapnya melalui kaca. "Kalau begitu aku akan mempersiapkan keperluan."
"Aku bisa melakukannya sendiri, Clara."
Wanita itu berdiri dan berbalik menatap suaminya. "Itu sudah menjadi kewajibanku untuk mempersiapkan keperluan suamiku. Rein, sekarang kau bukan lagi seorang diri. Jangan segan bila aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku istrimu, bukan ?"
Rein tersenyum, ia meraih kedua tangan Clara dan mengecupnya. "Maafkan perkataanku."
Clara menunduk cemberut. "Ini adalah yang kesekian kalinya kau menolak bantuanku. Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya."
Rein tertawa kecil sambil memeluknya. "Baiklah, Nyonya Muda Verentsille. Aku berjanji tidak akan menolaknya lagi. Aku butuh bantuanmu untuk mempersiapkan pakaianku selama tiga hari di York."
Clara tersenyum lucu. "Baiklah, Tuan Muda Verentsille." Ia meminta pelayan menyiapkan koper sementara dirinya menyiapkan pakaian-pakaian untuk sang suami. "Berarti besok aku sendirian yang akan menhadiri undangan minum teh dari Nyonya Chaterine."
"Bukankah kita yang mengundangnya ?"
"Ingatanmu tidak salah, Rein. Tapi usia kandungan Issabelle sudah tidak memungkinkannya lagi untuk berpergian."
"Begitu.", kata Rein. "Kuharap tidak akan terjadi apa-apa. Ibu dan kakek tidak akan membiarkan Paman Andrew mengganggu.", pikirnya.
"Ada apa?"
Rein tersenyum. "Aku tidur duluan." Ia mengecup kening istrinya. "Selamat malam."


"Kebetulan sekali suamiku berangkat hari ini.", kata Clara yang menjawab pertanyaan Nyonya Chaterine.
"Oh.", tanggap Nyonya Chaterine yang tidak mampu menutupi kekecewaannya. "Sayang sekali."
"Anda baik-baik saja, Nyonya ?", tanya Clara yang merasa aneh dengan ekspresi kekecewaannya.
Chaterine berusaha tersenyum. "Tentu.", jawabnya. Ia meminum tehnya lalu meletakkannya kembali.
"Apakah ada yang ingin anda bicarakan dengan Suami ku?"
"Tidak ada, Nyonya Verentsille.", jawabnya.
"Saya rasa tidak apa-apa bila ibu memberitahu Clara.", kata Issabelle.
"Bila anda tidak keberatan memberitahu saya tentunya.", tanggap Clara.
Chaterine tersenyum menunduk. "Saya melihat putra sulungku yang sudah meninggal di dalam diri Tuan Muda Verentsille."
Clara semakin penasaran. "Maaf, Nyonya Chaterine. Saya tidak mengerti yang anda bicarakan."
"Ya. Itu hanya perasaan ku saja. Mungkin karena saya terlalu merindukannya. Rein mirip dengan putraku."
"Apakah Rein tahu hal ini ?"
Chaterine mengangguk. "Berapa lama dia pergi, Nyonya Muda Verentsille?"
"Mungkin tiga hari.", jawabnya. "Ketika dia pulang, saya akan mengajaknya menemui anda."
Chaterine terkejut. "Anda tidak keberatan ?"
Clara tersenyum. "Kenapa saya harus keberatan, Nyonya ? Saya yakin suami ku juga tidak keberatan dianggap putra anda."
Chaterine tersenyum senang.
"Sudah saya katakan, bukan, kalau kakak ipar ku ini wanita yang pengertian.", kata Issabelle.
Chaterine mengangguk.
Tiba-tiba Issabelle memegang perutnya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat. Wanita itu akan segera melahirkan. Chaterine segera memanggil pelayan untuk membantu menantunya ke kamar. Semua orang dibuat panik. Dokter segera dipanggil dan para pelayan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Di saat semuanya sibuk, Andrew menemui Clara dan membawanya ke ruang kerja.
"Saya yakin anda telah lupa pada saya, Nyonya Muda Verentsille."
Clara mencoba mengingat lelaki kurus itu. "Maaf."
Andrew tersenyum. "Tidak apa-apa.", katanya. "Nama saya Andrew. Saya pernah menghadiri pesta dansa di kediaman keluarga Danforth bersama putri ku."
Clara tersenyum.
"Bisakah saya meminta bantuan kecil dari anda ?"
"Bantuan seperti apa, Tuan Andrew ?"
"Tolong tanyakan pada suami mu, dimanakah dia menyembunyikan putriku."
Clara terkejut. "Suami saya menyembunyikan putri anda ? Saya rasa anda salah orang, Tuan Andrew. Suami ku bukan orang seperti itu."
"Awalnya saya juga mengira dia adalah seorang pemuda tampan yang baik. Dan saya tidak ingin menanyakannya melalui anda karena ini akan merusak kepercayaan anda padanya. Tapi saya sudah pernah menanyakan langsung padanya dan dia tidak mau menjawabnya. Karena itu saya tidak punya pilihan selain meminta bantuan anda."
"Saya percaya padanya. Sepenuhnya."
"Bagaimana bila saya memberitahu anda tentang hubungan Tuan Muda Verentsille dengan putriku?"
"..."
"Saya menentang hubungan mereka, karena itulah dia membalasku dengan menyembunyikan keberadaan Eruna putriku. Dia sengaja mendekatimu untuk menyakiti Eruna."
Clara memejam dan menggeleng. "Itu tidak benar."
"Pikirkanlah. Apakah anda berhasil memiliki hatinya ?"
"Saya tidak meragukannya."
"Baiklah. Tapi tolong bantu saya menanyakannya.", kata Andrew yang kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Clara masih terkejut dengan apa yang didengarnya. Namun ia masih berharap untuk terus mempercayai suaminya. Lalu ia keluar dan menuju ke kamar Issabelle dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri membantu yang bisa dilakukan.


Issabelle melahirkan bayi kembar laki-laki. Clara melihat Tuan Verentsille dan Nyonya Chaterine menimang cucu mereka. Wanita muda itu ditawarkan untuk menggendong salah satu bayi kembar itu. Awalnya ia menolak, namun Nyonya Chaterine terus membujuknya hingga ia menyanggupi.
"Dia mungil sekali.", kata Clara. "Selamat, ya, Richard, Issabelle.", ucapnya.
"Terimakasih.", ucap Richard.
"Kau pun harus segera memberikan sepupu kepada kedua putraku ini, Clara.", kata Issabelle.
Clara tertawa kecil.
"Benar sekali. Saya yakin Tuan Verentsille juga sudah lama menantikan calon penerusnya.", kata Nyonya Chaterine.
Clara hanya menanggapi dengan senyuman setelah melihat ayah mertuanya mengangguk.

Rein kembali dari luar kota saat menjelang tengah malam. Ia menyadari bahwa orang-orang di rumahnya pasti telah terlelap. Karena itu saat memasuki kamar, ia berusaha sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya.
"Rein ?", sebut Clara yang terbangun ketika Rein berbaring di sisinya.
"Selamat malam, Clara. Maaf aku membuatmu terbangun.", katanya. "Tidurlah."
Clara memeluknya erat.
Rein tersenyum dan memeluk wanita itu. "Maaf, ya, aku tidak mengabarimu kalau akan pulang lebih awal."
"Aku sangat merindukanmu."
"..."
"Apa kau tidak merindukan istrimu?"
Rein mengecup kening Clara. "Bila aku tidak rindu, tentu aku tidak akan segera pulang begitu pekerjaan selesai."
Clara berdiam lama. "Issabelle melahirkan bayi kembar."
"Benarkah?" Pemuda itu terkejut dan senang. "Besok aku akan menjenguk mereka."
Lagi-lagi Sang istri membisu.
"Ada apa, Clara ?"
"Aku juga ingin menjadi seorang ibu."
"Tentu saja, Clara. Suatu saat nanti kau akan melahirkan anak-anak ku."
Wanita itu bangun melihat suaminya dengan pandangan tidak percaya.
Rein menyentuh pipi istrinya. "Sejak tadi sikapmu aneh. Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?"
Clara mencoba tersenyum dan kembali berbaring dalam pelukan suaminya tanpa menanggapi pertanyaan tersebut.


~  0  ~

Selasa, 02 Juni 2015

Ch 10

Rein sedang berdiri di dekat jendela ketika Clara datang.
"Selamat pagi.", salam Clara yang menyadarkan Rein akan kehadirannya.
"Selamat pagi, Clara."
"Sedang memikirkan sesuatu ?", tanya wanita itu ketika berdiri di sisinya.
"Sejak terluka, aku belum pernah keluar dari kamar ini selangkah pun.", katanya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Rein ?"
"Rasa sakitnya sudah semakin berkurang. Mungkin besok aku sudah bisa kembali bekerja."
Clara meraih tangan kekasihnya. "Ayo, kita duduk di taman.", ajaknya.
Rein terkejut lalu tersenyum senang. "Tentu."
Clara membantu Rein berjalan. Mereka dengan pelan dan hati-hati menuruni tangga.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan ? Anda masih harus banyak istirahat di kamar.", kata Molly yang melihatnya.
"Aku ingin ke taman, Molly.", jawab pemuda itu. "Bisakah kau menyiapkan teh dan makanan kecil untuk kami ? Sandwich buatanmu yang kemarin sangat enak.", pujinya.
Kepala pelayan itu tersenyum kesal, ia tahu tuan mudanya sedang memuji dengan maksud jangan mengomelinya. Ia lalu bergegas ke dapur mempersiapkan yang diminta.
Clara tertawa kecil. "Dia terlihat kesal."
"Kalau aku tidak melakukannya, dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menceramahiku."
Mereka tiba di taman belakang. Keduanya duduk di kursi yang berada di bawah pohon. Rein memejam sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit, ia menarik napas yang dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
"Segarnya.", kata pemuda itu.
Clara tersenyum melihatnya.
"Terimakasih, Clara. Hanya kau satu-satunya yang bersedia membawaku kemari."
"Tapi kita tidak bisa lama berada di sini."
"Tidak apa-apa. Walau hanya sebentar, aku sudah sangat senang."
Molly mengantarkan pesanan tuan mudanya.
"Terimakasih, Molly.", kata Rein.
"Tuan Rein, ingatlah anda masih harus banyak istirahat."
"Aku tahu, Molly. Setelah menikmati ini aku akan kembali."
"Baiklah, Tuan dan Nona Danforth. Saya permisi."
"Kurasa besok kau belum boleh bekerja, Rein."
Pemuda itu hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Aku mengerti kalau kau sudah bosan di kamar terus."
Rein meletakkan cangkirnya. "Ayahku sudah tidak seharusnya bekerja.", katanya.
"Kalau begitu kau harus cepat sembuh dengan banyak istirahat. Kalau kau memaksakan tubuhmu, bukankah hasilnya akan lebih parah."
Lelaki itu menyadari kebenaran dari perkataan Clara. Namun ia membenci diri sendiri yang belum kunjung sembuh.

Keesokan sorenya ketika Tuan Verentsille kembali dari perusahaan, ia membawa beberapa dokumen yang perlu ditandatangani kepada putranya.
Rein merasa bingung melihat ayahnya. "Tanda tangan ayah juga berlaku di dokumen ini.", katanya.
"Yaaa...mungkin akan lebih baik kau yang memeriksanya sendiri karena ini adalah proyekmu."
Rein tersenyum senang. Dengan segera ia memeriksa dokumen-dokumen itu. Tuan Verentsille dapat melihat perubahan wajah putra angkatnya menjadi serius ketika sedang bekerja.
"Sementara kau bisa menangani pekerjaan dari rumah, Rein.", kata orang tua itu.
"Tentu, Ayah. Saya akan sangat menantikan berkas yang ayah bawa."
Rein sangat serius membaca dokumen-dokumen itu sampai tidak menyadari ayahnya telah meninggalkan kamarnya.
"Dia sedang menikmati pekerjaannya.", kata Tuan Verentsille.
"Terimakasih anda bersedia memenuhi permintaan saya, Tuan Verentsille.", kata Clara.
"Dengan senang hati, Nona Danforth. Saya senang anda bisa memikirkan cara terbaik untuk putraku."
Clara tersenyum. "Saya akan menemani Rein sekarang. Mungkin saya dapat melakukan sesuatu sementara ia bekerja.", pamitnya.

Setiap hari sepulangnya dari perusahaan, Tuan Verentsille akan membawakan dokumen ataupun berita terbaru dari perusahaannya. Mereka akan selalu membahasnya bersama. Dengan ijin dari dokter, Rein diperbolehkan memulai aktivitas nya kembali.
Begitu pun dengan Clara, gadis itu disibukkan dengan persiapan pernikahannya dua minggu lagi. Sang ibu selalu membawanya ke toko-toko tempat mereka memesan segala sesuatu yang dibutuhkan, mereka memastikan kalau pesanannya benar. Sepasang calon pengantin itu tidak diijinkan bertemu sampai di hari pernikahannya tiba.


Rein mengunjungi makam pamannya sehari sebelum acara pernikahan. Ia membawa bunga untuk di letakkan di depan nisan. Hari itu cuaca panas menyengat.
"Paman.", sebutnya. "Besok saya akan menikah dengan Clara.", katanya. "Saya mohon doa dari Paman Carlfred agar semuanya berjalan lancar. Juga...doakan saya agar mampu membuat Clara bahagia. Semoga saya mampu menjadi suami yang baik untuknya." Ia menunduk. "Sebenarnya saya sangat takut. Bantulah saya, Paman Carlfred."
Tuan Jovant mendekati makam putranya. "Kakek terus merasa akan bertemu denganmu di sini, Rein."
"Kakek.", panggilnya terkejut. Pemuda itu berdiri. "Kakek sering datang kemari ?"
"Ya.", jawab orang tua itu. "Ketika kakek merasa ingin bicara dengan Carlfred, maka kakek akan datang."
"..."
"Besok adalah hari pernikahanmu, Rein. Ada apa kau datang ke makam Carlfred ?"
"Kakek.", sebutnya. "Apakah menurut kakek besok Paman Andrew akan datang ?"
"Kakek melarangnya hadir. Kakek yakin dia akan mengacaukan hari besarmu."
"Sebenci itukah Paman Andrew padaku ? Apakah kakek juga membenci ayahku ?"
"Orang itu membawa putriku kabur lalu menelantarkannya juga kalian. Apa menurutmu kakek bisa memaafkannya ?"
"Apakah kakek yakin ayah lari dari tanggung jawab ?"
Tuan Jovant menatap cucunya.
"Saya mencaritahu tentang ayah.", katanya. "Untuk pertama kalinya ayah ikut bersama temannya menjadi awak kapal. Tapi sayang kapal itu disapu badai. Hanya beberapa yang selamat. Menurut informasi yang kudapatkan, ayah menolong rekannya hingga tidak sempat keluar dari kapal. Dia terjebak di dalam dan tenggelam bersama kapal itu.", jelasnya.
Tuan Jovant terkejut dan tak mampu berkata apapun.
"Ayahku bukanlah bajingan yang seperti selama ini keluarga Jovant anggap."
"Maaf, Cucuku."
Rein memegang pundak kakeknya. "Sekarang semuanya sudah jelas. Saya harap Paman Andrew juga bisa mengerti."
"Besok jalankan semuanya dengan tenang. Kakek pastikan pamanmu tidak akan hadir dan mengacaukannya."
"Terimakasih, Kakek."


Richard dan Issabelle memasuki kamar kakaknya.
"Hari besarmu ini akan menjadi hari peringatan patah hatinya para gadis penggemarmu, Kak.", kata Richard.
"Apa yang kau bicarakan, Richard.", tanggap sang kakak yang terlihat gugup lalu memeluk kedua adiknya.
"Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Kak Rein.", kata Issabelle.
"Terimakasih, Issabelle."
"Santai saja, Kak. Belum saatnya untuk gugup.", kata Richard yang menertawainya. "Saat yang akan membuatmu gugup adalah malam ini. Jangan sampai melakukan kesalahan.", bisiknya menggoda kakaknya.
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, Richard. Kalau tidak aku akan membatalkan posisimu sebagai best men ku."
"Hahahaha...Maaf, Kak. Itu adalah posisi yang kau percayakan padaku. Mana boleh diberikan pada orang lain."
"Kalau begitu berhentilah menggodaku.", kata Rein.
"Baik. Baik."
"Tuan Rein, kereta sudah siap. Sudah saatnya ke gereja sekarang.", kata Molly.
"Ya, Molly. Aku segera turun."


Para undangan telah memenuhi tempat duduk di dalam gereja. Pengantin pria dan best men-nya berdiri di sebelah kanan altar menunggu pengantin wanita masuk. Suasana di dalam gereja sangatlah tenang ketika pengantin wanita berjalan memasuki ruangan menuju ke altar dengan didampingi oleh sang ayah. Clara tidak mampu membendung kebahagiaannya, senyumnya merekah di balik cadar, ia tidak melepaskan pandangan pada calon suaminya yang mampu menutupi kegugupannya dengan senyuman di wajah. Tuan Danforth memberikan tangan kanan putrinya yang disambut Rein. "Mulai hari ini, kupercayakan putriku padamu, Rein. Jagalah dia dan bangunlah keluarga yang hangat bersamanya.", kata sang ayah.
"Saya berjanji akan memenuhi permintaan anda, Tuan Danforth."
Kemudian Tuan Danforth menempati tempat duduk di sebelah kanan istrinya.
Rein membuka cadar yang menutupi wajah pengantinnya. Kemudian mereka berlutut di tempat yang telah disediakan. Misa pernikahan pun dimulai dengan khidmat. Setelah selesai, Richard memberikan cincin kepada kakaknya  untuk dipakaikan di jari manis Clara. Kemudian kedua mempelai menandatangani surat pernikahan mereka. Dengan begitu mereka telah resmi menjadi suami dan istri. Tangan kiri Clara melingkari lengan kanan suaminya, keduanya berjalan keluar dari gereja sambil tersenyum dengan iringan tepuk tangan dari para undangan.

Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman keluarga Verentsille. Jamuan makan bersama berlangsung selama dua jam. Setelah itu pengantin baru berangkat menuju ke Holly Village untuk berbulan madu. Mereka menyewa sebuah rumah sederhana di dekat danau. Hari sudah gelap ketika mereka tiba. Beberapa pelayan yang siap melayani segala kebutuhan majikannya, segera mengantarkan mereka ke kamar untuk beristirahat.
Clara membantu suaminya melepaskan jasnya.
"Karena sudah malam kita jadi tidak bisa menikmati pemandangannya.", kata Rein.
"Masih ada besok pagi.", kata Clara.
"Ya...kau benar.", tanggapnya.
"Pelayan bilang sudah menyiapkan air hangat. Mandilah dulu agar merasa segar, Sayang."
Rein terdiam mendengar panggilan mesra tersebut. "Kau duluan saja, Clara.", katanya. "Aku akan memeriksa perapiannya dulu." Ia segera mendekati perapian dan melihat kayu-kayu yang berada pada tempatnya yang siap untuk dibakar.
Clara menyadari kegugupan suaminya itu karena ia pun merasakan hal yang sama. Wanita itu hanya bisa tersenyum dan menuruti perkataan suaminya.
Beberapa waktu kemudian setelah Clara selesai, ia duduk di depan meja rias menyisir rambut merahnya sementara menunggu sang suami. Lalu ia berjalan mendekati jendela.
Rein keluar dan mendapatkan istrinya sedang berdiri sendirian di dekat jendela yang terbuka. Ia mendekatinya dan memakaikan mantel padanya. "Udara malam tidak baik untuk tubuh." Lalu ia menutup jendela.
"Aku sedang memikirkan kembali pemberkatan tadi pagi. Rasanya seperti mimpi."
Rein meraih tangan istrinya. "Ini bukan mimpi."
Clara terbuai dengan tatapan suaminya.
Rein mengecup punggung tangannya. "Selamat datang di keluarga Verentsille, Clara.", ucapnya. "Tolong jangan segan menyampaikan keluhanmu bila kelak aku melakukan kesalahan sebagai seorang suami."
Wanita itu tersenyum. "Begitu juga denganmu, Rein. Katakan padaku bila ada hal yang kulakukan yang tidak berkenan di hatimu."
Rein mengecup kening Clara dan memeluknya. Mereka duduk di salah satu sisi tempat tidur sambil menikmati wine yang telah disediakan.


~  0  ~