"Sekarang juga aku mau pulang !", tegas Issabelle dengan tangan dilipat di atas perutnya yang kian membesar. Akhir-akhir ini pengaruh mengidamnya tambah besar. Apapun yang diinginkannya harus dipenuhi sekarang juga. Wanita itu memasang wajah cemberut sambil menatap suaminya. "Kau ikut atau tidak ?", tanyanya ketus.
Richard memegang keningnya dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi diletakkan di pinggang. Ia terlihat lebih kurus sejak pernikahan kakaknya dua minggu lalu. Lelaki itu sering dibuat kewalahan dengan keinginan istrinya yang aneh-aneh. Terkadang ia harus tidur di kursi panjang di dalam kamarnya pada saat sang istri sedang tidak ingin tidur berdampingan dengannya. Tidak jarang Issabelle akan membangunkannya di tengah malam hanya untuk menemaninya mengobrol karena tidak bisa tidur. Dan sekarang ia diminta untuk mengantarnya pulang ke rumah ayahnya.
"Baiklah aku akan mengantarmu, Sayang. Tapi tidak bisa menemanimu di sana. Banyak hal yang harus kuselesaikan di pabrik.", kata Richard.
"Jadi urusan pabrik lebih penting daripada istrimu ? Hari ini Kak Rein pulang. Aku ingin bertemu dengannya. Jangan katakan kau tidak peduli ? Kamu kan adik kandungnya, Richard."
"Aku tahu. Aku tahu, Sayang. Tapi tidak sekarang."
Issabelle memanggil pelayan dan meminta mereka membantunya mengenakan gaun barunya. Richard hanya memandangnya heran. Ketika pelayan keluar, ia mendekati istrinya. "Kau tetap akan pergi?"
"Ya.", jawabnya. "Sendiri."
"Astaga ! Itu tidak mungkin ! Kau tidak boleh berpergian seorang diri, Sayang ! Lihat kondisimu. Apa kau mau membuatku mati ketakutan ?"
"Kalau kau tidak mau menemaniku, aku tidak akan pulang lagi ke rumah ini."
Rein duduk bersama ayahnya di ruang kerja. Keduanya membicarakan bisnis yang diambil alih sang ayah selama Rein dan Clara pergi bulan madu. Mereka baru akan makan malam ketika Richard dan Issabelle tiba. Kemudian mereka pun makan malam bersama.
"Richard, kau terlihat kurus.", kata Rein. "Apa kau sakit ?"
"Wajar kalau aku jadi kurus. Adik perempuan tercintamu selalu membuatku kewalahan akhir-akhir ini."
"Kau tidak mengerti penderitaan seorang wanita hamil yang tentu ya lebih berat dari kewalahanmu itu.", kata Issabelle. "Seandainya perut ini dapat dilepaskan."
Semua orang tertawa.
"Putri ku ini pasti cerewet sekali, ya ?"
"Benar, Ayah. Hampir setiap malam saya diusir dari ranjang dan harus tidur di kursi. Terkadang kalau dia tidak bisa tidur, dia akan membangunkanku untuk menemaninya bicara sampai dia tertidur. Mengerikan bukan ?"
"Itu karena anakmu tidak bisa diam."
"Apa mungkin yang lahir nanti perempuan, ya ?", kata Clara.
"Apapun itu aku ingin anak ini segera lahir dan sehat tentunya.", kata Richard.
"Kalian sudah menyiapkan nama ?", tanya Rein.
"Sudah kubuat list namanya.", kata Issabelle. "Oh, kalian belum menceritakan tentang bulan madu yang kalian lalui."
Rein tersenyum. "Syukurlah Clara menyukainya."
"Tempatnya benar-benar indah sekali, Issabelle. Rumah yang kami tempati ada di pinggir danau. Ada juga kebun kecil untuk menanam kentang dan bunga. Lalu di malam hari ada kunang-kunang."
"Kami juga berkuda.", tambah Rein.
"Clara, jangan katakan kau ingin menetap di desa.", kata Issabelle penuh curiga.
"Tebakan mu tidak salah, Issbelle.", kata Rein.
Clara tersenyum menatap suaminya.
"Lalu ?", tanya Richard.
"Tentu saja itu baru sebuah keinginan. Karena aku juga menyukai tempat itu.", jawab Rein. "Kami akan tetap di sini menemani ayah."
"Jangan khawatirkan orang tua ini. Ayah sama sekali tidak keberatan kalian tinggal di sana.", kata Tuan Verentsille.
"Tidak, Ayah.", kata Clara dengan lembut. "Kami tidak ingin meninggalkan ayah di sini. Lagipula pekerjaan Rein juga di kota ini. Akan sulit untuknya bila pindah ke desa."
"Clara benar, Ayah. Kalaupun kami pindah, ayah juga akan tetap tinggal bersama kami."
Tuan Verentsille tertawa kecil.
Richard berdiri di dekat perapian sambil memegang segelas wine. "Kakak tampak bahagia."
Rein hanya tersenyum sambil duduk di kursi.
Sang adik membisu sejenak dan memilah kata-kata yang tepat. "Apa ada kabar dari sepupu kita itu ?", tanyanya ragu. Belum sempat dijawab, ia sudah menambahkan lagi, "aku tahu seharusnya aku tidak menanyakan ini padamu yang telah beristri. Tapi satu-satunya yang mengetahui keberadaannya adalah kakak."
"Tidak ada kabar apapun darinya, Richard."
Richard meneguk habis wine-nya lalu menambah lagi.
"Apa kau sedang bermasalah ?", tanya Rein.
"Tidak.", jawab sang adik singkat.
"Aku mengerti bila kau menutupinya dari Issabelle.", kata Rein. "Kudengar ada masalah pada perusahaan keluarga Jovant."
Richard meletakkan gelasnya di atas perapian lalu duduk di sisi kakaknya. "Sekarang masih masalah kecil.", jawabnya. "Tapi akan jadi besar bila terus dibiarkan."
"Katakan apa yang dapat kubantu ?"
Richard tersenyum. "Paman Andrew tidak akan mau dibantu oleh mu, Kak.", ia menghela napas. "Sepertinya kemampuan paman sudah tidak sehebat dulu."
"Kau tidak perlu memberitahunya tentang bantuanku."
"Jadi apa yang harus kukatakan pada paman ? Seorang misterius yang dermawan memberikan bantuan begitu saja ?" Richard tertawa. "Bisa berapa lama kita menutupinya dari paman ?"
Issabelle dan Clara masuk menemui suami mereka. Tidak lama kemudian Richard dan Issabelle berpamitan pulang, namun Rein menahan adik perempuannya untuk tidak meninggalakan ruangan dulu.
"Issabelle.", sebut Rein dengan lembut. "Kakak tahu kalau wanita hamil itu punya banyak keinginan yang aneh-aneh." Rein tertawa kecil. "Tapi sebisanya jangan mempersulit suami mu. Kasihan dia."
Sorot mata Issabelle menunjukkan keterkejutan. Lalu ia berusaha menutupinya. "Pasti sejak tadi Richard mengeluh terus, ya?", tanyanya. Sebenarnya ia menyadari ada sesuatu di balik kata-kata sang kakak yang tidak bisa dikatakannya. "Baiklah aku mengerti. Mungkin aku sering-sering saja datang untuk mengganggu mu, Kak.", katanya nakal.
Rein tersenyum. "Tolong sampaikan salam ku pada Nyonya Chaterine."
"Iya iya."
Rein memegang pundak istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. "Besok aku akan berangkat karena pekerjaan."
Clara menatapnya melalui kaca. "Kalau begitu aku akan mempersiapkan keperluan."
"Aku bisa melakukannya sendiri, Clara."
Wanita itu berdiri dan berbalik menatap suaminya. "Itu sudah menjadi kewajibanku untuk mempersiapkan keperluan suamiku. Rein, sekarang kau bukan lagi seorang diri. Jangan segan bila aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku istrimu, bukan ?"
Rein tersenyum, ia meraih kedua tangan Clara dan mengecupnya. "Maafkan perkataanku."
Clara menunduk cemberut. "Ini adalah yang kesekian kalinya kau menolak bantuanku. Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya."
Rein tertawa kecil sambil memeluknya. "Baiklah, Nyonya Muda Verentsille. Aku berjanji tidak akan menolaknya lagi. Aku butuh bantuanmu untuk mempersiapkan pakaianku selama tiga hari di York."
Clara tersenyum lucu. "Baiklah, Tuan Muda Verentsille." Ia meminta pelayan menyiapkan koper sementara dirinya menyiapkan pakaian-pakaian untuk sang suami. "Berarti besok aku sendirian yang akan menhadiri undangan minum teh dari Nyonya Chaterine."
"Bukankah kita yang mengundangnya ?"
"Ingatanmu tidak salah, Rein. Tapi usia kandungan Issabelle sudah tidak memungkinkannya lagi untuk berpergian."
"Begitu.", kata Rein. "Kuharap tidak akan terjadi apa-apa. Ibu dan kakek tidak akan membiarkan Paman Andrew mengganggu.", pikirnya.
"Ada apa?"
Rein tersenyum. "Aku tidur duluan." Ia mengecup kening istrinya. "Selamat malam."
"Kebetulan sekali suamiku berangkat hari ini.", kata Clara yang menjawab pertanyaan Nyonya Chaterine.
"Oh.", tanggap Nyonya Chaterine yang tidak mampu menutupi kekecewaannya. "Sayang sekali."
"Anda baik-baik saja, Nyonya ?", tanya Clara yang merasa aneh dengan ekspresi kekecewaannya.
Chaterine berusaha tersenyum. "Tentu.", jawabnya. Ia meminum tehnya lalu meletakkannya kembali.
"Apakah ada yang ingin anda bicarakan dengan Suami ku?"
"Tidak ada, Nyonya Verentsille.", jawabnya.
"Saya rasa tidak apa-apa bila ibu memberitahu Clara.", kata Issabelle.
"Bila anda tidak keberatan memberitahu saya tentunya.", tanggap Clara.
Chaterine tersenyum menunduk. "Saya melihat putra sulungku yang sudah meninggal di dalam diri Tuan Muda Verentsille."
Clara semakin penasaran. "Maaf, Nyonya Chaterine. Saya tidak mengerti yang anda bicarakan."
"Ya. Itu hanya perasaan ku saja. Mungkin karena saya terlalu merindukannya. Rein mirip dengan putraku."
"Apakah Rein tahu hal ini ?"
Chaterine mengangguk. "Berapa lama dia pergi, Nyonya Muda Verentsille?"
"Mungkin tiga hari.", jawabnya. "Ketika dia pulang, saya akan mengajaknya menemui anda."
Chaterine terkejut. "Anda tidak keberatan ?"
Clara tersenyum. "Kenapa saya harus keberatan, Nyonya ? Saya yakin suami ku juga tidak keberatan dianggap putra anda."
Chaterine tersenyum senang.
"Sudah saya katakan, bukan, kalau kakak ipar ku ini wanita yang pengertian.", kata Issabelle.
Chaterine mengangguk.
Tiba-tiba Issabelle memegang perutnya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat. Wanita itu akan segera melahirkan. Chaterine segera memanggil pelayan untuk membantu menantunya ke kamar. Semua orang dibuat panik. Dokter segera dipanggil dan para pelayan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Di saat semuanya sibuk, Andrew menemui Clara dan membawanya ke ruang kerja.
"Saya yakin anda telah lupa pada saya, Nyonya Muda Verentsille."
Clara mencoba mengingat lelaki kurus itu. "Maaf."
Andrew tersenyum. "Tidak apa-apa.", katanya. "Nama saya Andrew. Saya pernah menghadiri pesta dansa di kediaman keluarga Danforth bersama putri ku."
Clara tersenyum.
"Bisakah saya meminta bantuan kecil dari anda ?"
"Bantuan seperti apa, Tuan Andrew ?"
"Tolong tanyakan pada suami mu, dimanakah dia menyembunyikan putriku."
Clara terkejut. "Suami saya menyembunyikan putri anda ? Saya rasa anda salah orang, Tuan Andrew. Suami ku bukan orang seperti itu."
"Awalnya saya juga mengira dia adalah seorang pemuda tampan yang baik. Dan saya tidak ingin menanyakannya melalui anda karena ini akan merusak kepercayaan anda padanya. Tapi saya sudah pernah menanyakan langsung padanya dan dia tidak mau menjawabnya. Karena itu saya tidak punya pilihan selain meminta bantuan anda."
"Saya percaya padanya. Sepenuhnya."
"Bagaimana bila saya memberitahu anda tentang hubungan Tuan Muda Verentsille dengan putriku?"
"..."
"Saya menentang hubungan mereka, karena itulah dia membalasku dengan menyembunyikan keberadaan Eruna putriku. Dia sengaja mendekatimu untuk menyakiti Eruna."
Clara memejam dan menggeleng. "Itu tidak benar."
"Pikirkanlah. Apakah anda berhasil memiliki hatinya ?"
"Saya tidak meragukannya."
"Baiklah. Tapi tolong bantu saya menanyakannya.", kata Andrew yang kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Clara masih terkejut dengan apa yang didengarnya. Namun ia masih berharap untuk terus mempercayai suaminya. Lalu ia keluar dan menuju ke kamar Issabelle dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri membantu yang bisa dilakukan.
Issabelle melahirkan bayi kembar laki-laki. Clara melihat Tuan Verentsille dan Nyonya Chaterine menimang cucu mereka. Wanita muda itu ditawarkan untuk menggendong salah satu bayi kembar itu. Awalnya ia menolak, namun Nyonya Chaterine terus membujuknya hingga ia menyanggupi.
"Dia mungil sekali.", kata Clara. "Selamat, ya, Richard, Issabelle.", ucapnya.
"Terimakasih.", ucap Richard.
"Kau pun harus segera memberikan sepupu kepada kedua putraku ini, Clara.", kata Issabelle.
Clara tertawa kecil.
"Benar sekali. Saya yakin Tuan Verentsille juga sudah lama menantikan calon penerusnya.", kata Nyonya Chaterine.
Clara hanya menanggapi dengan senyuman setelah melihat ayah mertuanya mengangguk.
Rein kembali dari luar kota saat menjelang tengah malam. Ia menyadari bahwa orang-orang di rumahnya pasti telah terlelap. Karena itu saat memasuki kamar, ia berusaha sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya.
"Rein ?", sebut Clara yang terbangun ketika Rein berbaring di sisinya.
"Selamat malam, Clara. Maaf aku membuatmu terbangun.", katanya. "Tidurlah."
Clara memeluknya erat.
Rein tersenyum dan memeluk wanita itu. "Maaf, ya, aku tidak mengabarimu kalau akan pulang lebih awal."
"Aku sangat merindukanmu."
"..."
"Apa kau tidak merindukan istrimu?"
Rein mengecup kening Clara. "Bila aku tidak rindu, tentu aku tidak akan segera pulang begitu pekerjaan selesai."
Clara berdiam lama. "Issabelle melahirkan bayi kembar."
"Benarkah?" Pemuda itu terkejut dan senang. "Besok aku akan menjenguk mereka."
Lagi-lagi Sang istri membisu.
"Ada apa, Clara ?"
"Aku juga ingin menjadi seorang ibu."
"Tentu saja, Clara. Suatu saat nanti kau akan melahirkan anak-anak ku."
Wanita itu bangun melihat suaminya dengan pandangan tidak percaya.
Rein menyentuh pipi istrinya. "Sejak tadi sikapmu aneh. Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?"
Clara mencoba tersenyum dan kembali berbaring dalam pelukan suaminya tanpa menanggapi pertanyaan tersebut.
Clara menatapnya melalui kaca. "Kalau begitu aku akan mempersiapkan keperluan."
"Aku bisa melakukannya sendiri, Clara."
Wanita itu berdiri dan berbalik menatap suaminya. "Itu sudah menjadi kewajibanku untuk mempersiapkan keperluan suamiku. Rein, sekarang kau bukan lagi seorang diri. Jangan segan bila aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku istrimu, bukan ?"
Rein tersenyum, ia meraih kedua tangan Clara dan mengecupnya. "Maafkan perkataanku."
Clara menunduk cemberut. "Ini adalah yang kesekian kalinya kau menolak bantuanku. Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya."
Rein tertawa kecil sambil memeluknya. "Baiklah, Nyonya Muda Verentsille. Aku berjanji tidak akan menolaknya lagi. Aku butuh bantuanmu untuk mempersiapkan pakaianku selama tiga hari di York."
Clara tersenyum lucu. "Baiklah, Tuan Muda Verentsille." Ia meminta pelayan menyiapkan koper sementara dirinya menyiapkan pakaian-pakaian untuk sang suami. "Berarti besok aku sendirian yang akan menhadiri undangan minum teh dari Nyonya Chaterine."
"Bukankah kita yang mengundangnya ?"
"Ingatanmu tidak salah, Rein. Tapi usia kandungan Issabelle sudah tidak memungkinkannya lagi untuk berpergian."
"Begitu.", kata Rein. "Kuharap tidak akan terjadi apa-apa. Ibu dan kakek tidak akan membiarkan Paman Andrew mengganggu.", pikirnya.
"Ada apa?"
Rein tersenyum. "Aku tidur duluan." Ia mengecup kening istrinya. "Selamat malam."
"Kebetulan sekali suamiku berangkat hari ini.", kata Clara yang menjawab pertanyaan Nyonya Chaterine.
"Oh.", tanggap Nyonya Chaterine yang tidak mampu menutupi kekecewaannya. "Sayang sekali."
"Anda baik-baik saja, Nyonya ?", tanya Clara yang merasa aneh dengan ekspresi kekecewaannya.
Chaterine berusaha tersenyum. "Tentu.", jawabnya. Ia meminum tehnya lalu meletakkannya kembali.
"Apakah ada yang ingin anda bicarakan dengan Suami ku?"
"Tidak ada, Nyonya Verentsille.", jawabnya.
"Saya rasa tidak apa-apa bila ibu memberitahu Clara.", kata Issabelle.
"Bila anda tidak keberatan memberitahu saya tentunya.", tanggap Clara.
Chaterine tersenyum menunduk. "Saya melihat putra sulungku yang sudah meninggal di dalam diri Tuan Muda Verentsille."
Clara semakin penasaran. "Maaf, Nyonya Chaterine. Saya tidak mengerti yang anda bicarakan."
"Ya. Itu hanya perasaan ku saja. Mungkin karena saya terlalu merindukannya. Rein mirip dengan putraku."
"Apakah Rein tahu hal ini ?"
Chaterine mengangguk. "Berapa lama dia pergi, Nyonya Muda Verentsille?"
"Mungkin tiga hari.", jawabnya. "Ketika dia pulang, saya akan mengajaknya menemui anda."
Chaterine terkejut. "Anda tidak keberatan ?"
Clara tersenyum. "Kenapa saya harus keberatan, Nyonya ? Saya yakin suami ku juga tidak keberatan dianggap putra anda."
Chaterine tersenyum senang.
"Sudah saya katakan, bukan, kalau kakak ipar ku ini wanita yang pengertian.", kata Issabelle.
Chaterine mengangguk.
Tiba-tiba Issabelle memegang perutnya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat. Wanita itu akan segera melahirkan. Chaterine segera memanggil pelayan untuk membantu menantunya ke kamar. Semua orang dibuat panik. Dokter segera dipanggil dan para pelayan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Di saat semuanya sibuk, Andrew menemui Clara dan membawanya ke ruang kerja.
"Saya yakin anda telah lupa pada saya, Nyonya Muda Verentsille."
Clara mencoba mengingat lelaki kurus itu. "Maaf."
Andrew tersenyum. "Tidak apa-apa.", katanya. "Nama saya Andrew. Saya pernah menghadiri pesta dansa di kediaman keluarga Danforth bersama putri ku."
Clara tersenyum.
"Bisakah saya meminta bantuan kecil dari anda ?"
"Bantuan seperti apa, Tuan Andrew ?"
"Tolong tanyakan pada suami mu, dimanakah dia menyembunyikan putriku."
Clara terkejut. "Suami saya menyembunyikan putri anda ? Saya rasa anda salah orang, Tuan Andrew. Suami ku bukan orang seperti itu."
"Awalnya saya juga mengira dia adalah seorang pemuda tampan yang baik. Dan saya tidak ingin menanyakannya melalui anda karena ini akan merusak kepercayaan anda padanya. Tapi saya sudah pernah menanyakan langsung padanya dan dia tidak mau menjawabnya. Karena itu saya tidak punya pilihan selain meminta bantuan anda."
"Saya percaya padanya. Sepenuhnya."
"Bagaimana bila saya memberitahu anda tentang hubungan Tuan Muda Verentsille dengan putriku?"
"..."
"Saya menentang hubungan mereka, karena itulah dia membalasku dengan menyembunyikan keberadaan Eruna putriku. Dia sengaja mendekatimu untuk menyakiti Eruna."
Clara memejam dan menggeleng. "Itu tidak benar."
"Pikirkanlah. Apakah anda berhasil memiliki hatinya ?"
"Saya tidak meragukannya."
"Baiklah. Tapi tolong bantu saya menanyakannya.", kata Andrew yang kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Clara masih terkejut dengan apa yang didengarnya. Namun ia masih berharap untuk terus mempercayai suaminya. Lalu ia keluar dan menuju ke kamar Issabelle dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri membantu yang bisa dilakukan.
Issabelle melahirkan bayi kembar laki-laki. Clara melihat Tuan Verentsille dan Nyonya Chaterine menimang cucu mereka. Wanita muda itu ditawarkan untuk menggendong salah satu bayi kembar itu. Awalnya ia menolak, namun Nyonya Chaterine terus membujuknya hingga ia menyanggupi.
"Dia mungil sekali.", kata Clara. "Selamat, ya, Richard, Issabelle.", ucapnya.
"Terimakasih.", ucap Richard.
"Kau pun harus segera memberikan sepupu kepada kedua putraku ini, Clara.", kata Issabelle.
Clara tertawa kecil.
"Benar sekali. Saya yakin Tuan Verentsille juga sudah lama menantikan calon penerusnya.", kata Nyonya Chaterine.
Clara hanya menanggapi dengan senyuman setelah melihat ayah mertuanya mengangguk.
Rein kembali dari luar kota saat menjelang tengah malam. Ia menyadari bahwa orang-orang di rumahnya pasti telah terlelap. Karena itu saat memasuki kamar, ia berusaha sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya.
"Rein ?", sebut Clara yang terbangun ketika Rein berbaring di sisinya.
"Selamat malam, Clara. Maaf aku membuatmu terbangun.", katanya. "Tidurlah."
Clara memeluknya erat.
Rein tersenyum dan memeluk wanita itu. "Maaf, ya, aku tidak mengabarimu kalau akan pulang lebih awal."
"Aku sangat merindukanmu."
"..."
"Apa kau tidak merindukan istrimu?"
Rein mengecup kening Clara. "Bila aku tidak rindu, tentu aku tidak akan segera pulang begitu pekerjaan selesai."
Clara berdiam lama. "Issabelle melahirkan bayi kembar."
"Benarkah?" Pemuda itu terkejut dan senang. "Besok aku akan menjenguk mereka."
Lagi-lagi Sang istri membisu.
"Ada apa, Clara ?"
"Aku juga ingin menjadi seorang ibu."
"Tentu saja, Clara. Suatu saat nanti kau akan melahirkan anak-anak ku."
Wanita itu bangun melihat suaminya dengan pandangan tidak percaya.
Rein menyentuh pipi istrinya. "Sejak tadi sikapmu aneh. Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?"
Clara mencoba tersenyum dan kembali berbaring dalam pelukan suaminya tanpa menanggapi pertanyaan tersebut.
~ 0 ~