Sabtu, 22 Agustus 2015

Ch 14

Chaterine pergi ke pabrik perusahaan keluarga Verentsille. Ia ingin menemui Robert dan mencaritahu informasi mengenai putra sulungnya. Ia akan berusaha tetap bersikap tenang dengan apapun yang akan diketahuinya hari ini. 
"Sungguh sebuah kejutan, Bi.", kata Robert yang selalu ceria. "Tempat ini dipenuhi dengan para lelaki. Dan anda berani datang kemari sendirian. Dimana Rein ? Kenapa dia tidak menemani anda ?"
"...!"
"Baiklah. Sebaiknya kita duduk di sana saja.", usulnya.
Robert membawa Nyonya Chaterine duduk di kursi di depan gudang. Pemuda itu memberikan segelas teh pada tamunya. "Rasanya memang tidak senikmat yang biasa kalian minum. Tapi di sini hanya ada satu macam teh."
Nyonya Chaterine tersenyum. "Terimakasih."
"Jadi...ada apa bibi mencari ku ?"
"Selamat atas kelahiran bayi mu, Robert."
"Terimakasih, Bi.", ucap Robert. "Rein bersedia menjadi ayah baptis putri ku. Apa dia sudah memberitahu bibi ?"
Chaterine berusaha tetap tenang. "Belum.", jawabnya.
"Orang itu... ", Robert menghela napas sambil menggeleng.
"Kapan pertama kali kau bertemu lagi dengannya sejak kami pergi, Robert ?"
Robert melihat ke langit sambil berpikir-pikir. "Umm...kira-kira seminggu sebelum pernikahannya. Kebetulan aku sedang mencari pekerjaan baru di pabriknya dan Rein sedang berada di sana.", jelasnya. "Aku hampir tidak percaya melihatnya yang sekarang."
"Apa saja yang diceritakan pada mu ?"
Robert melihat wanita itu dengan penuh pertanyaan. "Ada apa, Bi ?"
"Pernahkah dia bercerita tentang ibunya ?", Chaterine terus mendesak.
"Ya.", jawabnya. "Terkadang.", tambahnya. "Dia bilang butuh proses yang sulit mendapatkan restu pernikahan dari ibunya walaupun pada akhirnya dia berhasil. Dia mengundang ku, tapi aku menolak untuk hadir. Kami hanyalah orang rendah, karena itu aku hanya mampu memberinya doa."
"Jadi itu maksudnya meminta ku hadir di gereja.", pikir Chaterine.
"Tapi ku rasa Rein tidak salah pilih. Istrinya cantik dan lembut. Dan aku tidak pernah mendengar keluhan tentang istrinya."
Chaterine berusaha tersenyum. "Kau benar."

Tuan Jovant sedang membaca koran di kamarnya ketika Chaterine masuk. "Ada apa dengan mu, Chaterine ?", tanyanya yang masih menyibukkan diri membaca. Ia menyadari raut wajah putrinya yang sedih. "Akan lebih baik kau tidak memikirkan masalah Richard. Setelah ku pikirkan, dengan bantuan Tuan Muda Verentsille, Richard pasti akan berhasil membangun usahanya."
"Kenapa ayah begitu mempercayai Tuan Muda Verentsille ?"
"Aku tidak mengerti maksud mu."
"Aku tidak mengerti kenapa pemuda itu dengan mudahnya menyanggupi permintaan Richard."
Tuan Jovant meletakkan surat kabarnya. "Itu wajar saja, bukan ? Richard adalah adik iparnya. Membantu Richard berarti membantu adik perempuannya."
"Bukan itu maksud ku, Ayah."
Tuan Jovant menyadari ada sesuatu yang mulai disadari putrinya, atau bahkan putrinya telah mengetahui kebenarannya. Tapi tidak mungkin Rein sendiri yang memberitahunya. Pemuda itu pernah menolak memberitahu ibunya, pikir orang tua itu. "Jadi apa yang mengganggu pikiran mu, Chaterine ?", tanyanya.
"..."
"Kau tidak mempercayainya ?"
"... bukan begitu.", jawab Chaterine. "...yang kalian panggil Tuan Muda Verentsille...adalah putra ku. Kakak kandung Richard."
Tuan Jovant terdiam. Kemudian ia berdiri dan melihat keluar jendela sambil membelakangkan  kedua tangannya. "Siapa yang memberitahu mu?
Chaterine melihat keanehan pada sikap orang tua itu. "Ayah ?", sebutnya. "Jangan katakan kalau ayah telah mengetahuinya."
Tuan Jovant berpikir bahwa sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi dari putrinya. "..."
"Sejak kapan, Ayah ? Siapa saja yang tahu hal ini ?"
"Semua.", jawab Tuan Jovant. "Semuanya kecuali kau, Chaterine."
"... ! Kalian semua keterlaluan !" Wanita itu meninggalkan kamar ayahnya.


Rein membawa satu buket mawar putih untuk diletakkan di depan batu nisan pamannya. Ia berhenti melangkah ketika melihat ibunya yang juga sama terkejutnya.
"Nyonya Chaterine.", sebutnya. Ia melihat ke tanah dan berusaha tersenyum seperti biasa. Kemudian ia kembali melangkah mendekati ibunya. "Saya dengar dari Richard kalau anda sudah sehat. Syukurlah."
"..."
Rein melihat nisan sang paman yang didepannya diletakkan bunga. "Keluarga anda, Nyonya ?"
Chaterine berbalik kembali ke arah nisan adiknya. "Saya sedang bertanya kepada adik ku.", katanya. "Kesalahan apa yang telah kulakukan hingga putra ku menolak mengakui ku ?"
"... !"
Chaterine menghela napas. Matanya mulai berair dan ia mengusapnya. "Bagaimana caranya agar dia bersedia memaafkan ku ?" Wanita berambut pirang itu berbalik menghadap putranya. "Apakah anda bisa membantu saya, Tuan Muda Verentsille ?"
Rein menatap mata ibunya dengan penuh rasa bersalah. "... Ibu.", panggilnya. "Maafkan saya."
"..."
Pemuda itu memeluk erat ibunya. "Saya minta maaf, Ibu.", katanya. "Ibu tidak melakukan kesalahan apa pun.", ia berkata dengan suara bergetar. "Saya sangat menyayangi ibu, selalu merindukan ibu. Selalu berharap suatu hari nanti dapat kembali memanggil mu ibu."
"Lalu kenapa ...Rein."
Pemuda itu menggeleng tanpa melepaskan pelukannya. "Selamanya saya tetap putra ibu.", katanya. "Selamanya juga saya adalah putra Tuan Verentsille."
Chaterine melepaskan pelukan dan memegang kedua pundak putranya. Tatapan matanya meminta penjelasan.
"Ayah angkat ku akan sendirian bila saya pergi. Ayah telah banyak menolong ku.", katanya. "Saya tidak bisa seperti Richard yang dapat selalu menemani ibu." Ia membisu sejenak dan tersenyum. "Karena itulah saya tidak bisa mengatakan pada mu juga melarang yang lainnya memberitahu ibu. Saya mohon agar ibu mengerti." Kemudian pemuda itu menghampiri makam pamannya dan meletakkan bunga yang dibawa. "Paman Carlfred.", panggilnya. "Tidak pernah terpikir oleh ku semuanya akan terungkap di hadapan paman."
"Rein."
"Bagaimana kalau kita bicara di suatu tempat, Ibu?"

Ibu dan Anak itu mengunjungi Hyde Park. Mereka duduk di kursi dekat danau seperti sebelumnya.
"Lalu kenapa kau tidak kembali, Rein ?"
Rein terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apapun mengenai Andrew. "Mengenai itu ... sebaiknya kita lewatkan saja, Ibu."
"Katakan pada ibu apa yang terjadi ?", tanya sang ibu dengan tegas.
"..."
"Karena Andrew kah ?", terka nya.
Rein terkejut memandang ibunya.
"Ternyata memang benar.", kata Chaterine. "Ibu tidak tahu kenapa dia begitu membenci ayah mu. Andrew selalu mempersulitnya. Selalu mencari kesalahannya."
Rein mencoba tersenyum. "Dulu banyak orang yang bilang wajah saya mirip ayah. Ibu juga pernah mengatakan itu."
Chaterine menyadarinya.
"Jangan bertengkar dengan paman, Ibu."
"..."
"Akan sulit bagi kakek dan yang lainnya nanti.", jelasnya. "Beranggapanlah ibu tidak mengetahui tentang paman."
Chaterine menghela napas lalu mengangguk dengan terpaksa.
"Terimakasih, Ibu."
Rein mengantar ibunya pulang dan setelah itu langsung pamit. Ia pulang dengan perasaan lega dan tidak mampu membendung kebahagiaannya sehingga Tuan Verentsille dan Clara menyadari sesuatu telah terjadi. Rein menceritakan semuanya pada mereka saat makan malam.


Chaterine datang bertamu pada Tuan Verentsille pada saat Rein sedang bekerja di perusahaan. Ketika Clara hendak meninggalkan keduanya, ia diminta untuk tinggal oleh Chaterine.
"Apa yang membuat anda berkunjung kemari, Nyonya Chaterine ?", tanya lelaki tua itu.
Chaterine tersenyum berusaha memilah kata-kata yang tepat dalam benaknya. "Rein sudah menceritakan semuanya pada ku. Saya datang untuk berterimakasih pada anda, Tuan Verentsille. Anda sudah begitu baik merawat putra sulung ku bahkan mengangkatnya menjadi putra anda."
Tuan Verentsille tertawa kecil. "Anda melahirkan seorang putra yang sangat baik. Sudah sepantasnya saya membantunya."
Chaterine tersenyum menunduk.
"Anda ingin mengajaknya tinggal di kediaman keluarga Jovant ?"
Clara terkejut dan menoleh pada ayah mertuanya.
"Itu adalah hal yang mustahil. Rein tidak ingin meninggalkan anda.", jawab Chaterine. "Tapi saya menerima itu."
"Anda dapat datang kapan pun yang anda inginkan, Nyonya Chaterine."
"Terimakasih, Tuan Verentsille."
Clara merasa lega dengan percakapan kedua orang itu. "Saya ... boleh memanggil anda ibu sekarang ?"
Chaterine tersenyum senang. "Tentu saja, Clara menantu ku."
Wanita muda itu juga tersenyum senang. "Ibu.", sebutnya.
Senyuman memudar dari wajah Chaterine. "Saya adalah ibunya, tapi saya tidak mengetahui apapun tentangnya."
"Rein yang selama ini anda kenal itulah putra mu, Nyonya Chaterine. Dia tidaklah berbeda dari sejak aku bertemu dengannya.", kata Tuan Verentsille.
"Ayah benar, Ibu. Walaupun saya tidak mengenalnya sejak kecil, namun suami ku itu tidak berubah sedikit pun sejak pertama kali saya mengenalnya sampai sekarang."
Akhirnya wanita itu kembali tersenyum.

Rein memainkan piano sementara Clara merajut dan Tuan Verentsille asyik membaca buku. Mereka melewatkan waktu bersama di ruang keluarga pada hari Minggu sepulang dari gereja.
Pemuda itu menghentikan permainannya setelah Molly menyampaikan pesan. Ia bergegas ke ruang tengah menerima telepon dan bercakap selama beberapa menit. Setelah itu Rein kembali ke ruang keluarga.
"Siapa yang mencari mu ?", tanya Clara.
"Derik.", jawabnya. "Orang yang ku utus ke New York mencari Eruna."
"Bagaimana hasilnya ?"
Rein menggeleng. "..."
"Sudah tiga bulan sejak kau mengirimnya.", kata Clara.
Rein duduk di sebelah istrinya tanpa menanggapi apa pun.
"Tidak semudah itu menemukan satu orang dari sekian banyak orang. Lagipula mungkin saja gadis itu sudah tidak berada di New York.", kata Tuan Verentaille.
"Perkataan ayah mungkin benar.", kata Rein. "Ini akan sulit dan membutuhkan waktu."
Clara memegang tangan suaminya. "Bagaimana bila besok kita mengundang keluarga Jovant makan malam di sini ?", usulnya.
"Ide bagus, Clara.", puji sang ayah mertua.

Sejak pagi Clara dan para pelayan telah sibuk mempersiapkan jamuan makan malam yang diusulkannya. Ia mempersiapkan diri agar tampil secantik mungkin sebagai Nyonya Muda Verentsille. Hari itu Rein sengaja pulang lebih awal. Ia istirahat di kamar untuk beberapa saat sebelum bersiap-siap menyambut ibunya.
"Kau sudah merasa lebih baik, Sayang?", tanya Clara sembari membantunya memakaikan jas.
"Ya. Tapi aku tidak bisa makan banyak malam ini."
"Kau sakit ?", tanyanya cemas.
Rein menggeleng. "Hanya tidak ada nafsu makan."
Clara tersenyum dan kembali merapikan pakaian suaminya. "Sayang, aku tahu kau sibuk. Tapi aku ingin meminta waktu mu sedikit."
"Ada apa, Clara ?", tanya Rein. "Katakanlah."
"Saat ini aku tahu kau sedang sibuk berusaha memikirkan cara menemukan sepupu mu dan juga pekerjaan. Aku harap kau juga bisa memberikan waktu mu membantu ku memikirkan nama-nama anak."
"Ya, akan kucoba..." Lelaki tersebut terdiam. "Clara, kau..."
Sang istri tersenyum dan meletakkan tangan suaminya pada perutnya.
"Ohhh...!", sang suami memeluk istrinya dengan luapan emosi kebahagiaan. "Katakan ini bukan mimpi, Clara."
"Kau akan menjadi ayah, Suamiku. Dan kau tidak sedang bermimpi."
Rein menatap istrinya dan menyentuh perutnya. "Kapan kau mengetahuinya, Clara ?"
"Sebenarnya sudah sejak tiga hari yang lalu. Tapi melihatmu begitu sibuk dan mencemaskan keberadaan Eruna, aku jadi tidak ingin memberitahumu dulu."
"Clara, kau seharusnya memberitahu ku. Betapa bahagianya aku mendapat berita ini. "
"Maaf."
"Sudah. Tidak apa-apa. Yang penting kau harus lebih menjaga kesehatan mu, Clara."
Clara mengangguk. Ia menunduk malu karena terus ditatapi suaminya. "Ada apa, Rein ?"
"Aku masih belum bisa mempercayainya.", katanya yang masih diliputi kebahagiaan. "Aku akan menjadi ayah." Ia kembali memeluk istrinya.
"..."
"Kau sudah memberitahu ayah ?"
Clara menggeleng. "Aku ingin kau lah yang pertama kuberitahu."
"Terimakasih, Clara. Aku sangat bahagia.", katanya. "Kita akan memberitahu mereka saat makan malam."
"Iya." jawab Clara yang tidak pernah menduga akan reaksi sang suami yang begitu bahagia mengetahui tentang kehamilannya. Ia melihat reaksi kebahagiaan yang belum pernah dilihatnya. Yang ia ketahui adalah suaminya selalu bisa mengendalikan emosi dan tersenyum padanya. Inilah pertama kalinya ia melihat sang suami tertawa. Padahal tidak pernah lelaki itu mengatakan begitu mengharapkan menjadi seorang ayah. Adapun yang pernah dikatakannya adalah 'lahirkanlah anak-anak yang sehat untuk ku', namun perkataan itu dianggap sebagai kata-kata untuk menghibur sang istri setelah melihat kemenakannya lahir dan desakan dari sang mertua. Ia melewati kehidupan pernikahan mereka tanpa menuntut apa pun dari sang istri.

Rabu, 19 Agustus 2015

Ch 13

"Sudah lama kita tidak jalan berdua seperti ini, Clara.", kata Nyonya Danforth.
"Bila ibu kesepian, jangan ragu untuk meminta ku menemani ibu.", kata Clara.
Ibu dan anak itu melewati sore hari di Tea House.
"Kakak mu akan menikahi Josephine akhir tahun ini."
"Benarkah ?"
"Tapi...ibu tidak yakin bisa akrab dengan calon kakak ipar mu itu."
"Kenapa, Ibu ? Josephine gadis yang baik walaupun dia sedikit pemilih."
Nyonya Danforth menikmati teh nya. "Bagaimana dengan kehidupan mu, Clara ? Bagaimana sikap suami mu selama ini ? Juga ayah mertua mu ? Mereka tidak bersikap buruk pada mu, bukan ?"
Clara tertawa. "Ibu lucu sekali."
"Kenapa kau malah menertawakan ibu ? Itu adalah pertanyaan yang wajar. Suatu hari nanti kau pun akan mempertanyakan hal yang sama pada putrimu."
Clara hanya tersenyum. "Suami dan ayah mertua ku adalah orang-orang baik. Saya merasa beruntung dinikahi oleh Tuan muda Verentsille. Semoga keberuntungan selalu menyertai ku."
"Amin.", kata sang ibu. "Merupakan suatu keberuntungan juga Rein memiliki mu sebagai istrinya."
Clara melihat sebuah sosok yang dikenalnya tengah duduk di sudut ruangan sendirian. "Ibu, bukankah itu Nyonya Chaterine ?"
Sang ibu melihat ke arah yang dilihat putrinya. "Mungkin."
"Mari kita bergabung bersamanya, Ibu."
Ibu dan anak itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Nyonya Chaterine.
"Selamat sore, Nyonya Chaterine.", salam 
Clara, begitu pun dengan Nyonya Danforth.
"Oh.", wanita itu terkejut melihat mereka. "Selamat sore, Nyonya Verentsille dan ..."
"Beliau adalah ibu ku."
"Nyonya Danforth.", sebutnya sambil tersenyum. "Silahkan duduk."
Kedua wanita itu mengambil tempatnya masing-masing.
"Anda tidak sedang menunggu orang, Nyonya ?", tanya Clara.
"Sama sekali tidak, Nyonya Verentsille.", jawabnya. "Saya hanya sedang menikmati teh di sini. Richard pernah membawa ku kemari."
"Selamat atas kelahiran cucu anda, Nyonya Chaterine.", ucap Nyonya Danforth. 
"Terima kasih.", ucap Chaterine. "Berdua saja ?"
"Ya.", jawab sang ibu yang kemudian menoleh keluar jendela. "Clara, bukankah itu suami mu ?"
Clara segera menoleh. "Ya, Ibu", jawabnya setelah melihat Rein sedang berjalan keluar dari coffee house sebelah bersama seorang laki-laki. "Mungkin mereka sedang membicarakan pekerjaan.", katanya yang masih memperhatikan suaminya. Ia melihat Rein berpisah dengan orang itu di jalan, kemudian ia didekati oleh seorang anak kecil berbaju lusuh. Pemuda itu lalu mengikuti si anak pergi.
"Kemana mereka ?", tanya Nyonya Danforth. "Suami mu bergaul dengan anak-anak kumuh, Clara ?"
Clara memutuskan untuk mengikuti mereka walaupun Nyonya Danforth melarangnya. Nyonya Chaterine ikut bersama Clara, kecuali sang ibu yang merasa kesal dan tetap duduk di tempatnya.


"Tempat ini ...", kata Nyonya Chaterine.
"Anda tahu tempat ini?"
Seorang pemuda mendekati kedua wanita tersebut sambil terus memasati wajah Nyonya Chaterine. "Maaf, apakah anda bibi Chaterine ? Ibunya Rein ?"
Nyonya Chaterine memasati wajah pemuda itu. Ia menjawab pertanyaannya dengan mengangguk. "Anda ..."
"Saya Robert. Dulu teman bermainnya Rein, Bi. Tidak disangka penglihatan anda benar -benar telah sembuh.", katanya.
"Robert.", sebutnya mengulang nama itu sambil berusaha mengingat.
"Ayah !!!", panggil seorang anak kecil yang mendekatinya.
"Adrian, ada apa ?", tanya Robert panik melihat anaknya yang tergesa-gesa.
"Ibu segera melahirkan !"
"Robert ! Kita harus cepat membawanya..." Rein terdiam melihat istri dan ibu nya, kedua tangannya tengah mengangkat seorang wanita hamil yang merintih kesakitan.
Robert mendekati temannya lalu mengambil alih menggendong sang istri.
"Tidak ada waktu menunggu dokter. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.", kata Rein.
"Ya." Robert segera membawa istrinya ke rumah sakit dan diikuti si kecil Adrian.
Rein mendekati istri dan ibu nya. "Nyonya Chaterine, Clara, apa yang kalian lakukan di sini ?"
Clara menoleh sejenak melihat Nyonya Chaterine lalu menjawab suaminya. "Tadi kami di tea house melihat mu pergi dengan seorang anak kecil. Karena itu kami ingin tahu apa yang terjadi."
Rein mengangguk. "Aku akan mengantar kalian pulang setelah itu aku akan menyusul Robert ke rumah sakit."
"Saya juga ingin ke rumah sakit.", kata Nyonya Chaterine. "Saya harap anda tidak keberatan, Tuan Verentsille."
"Tapi ini sudah senja, Nyonya. Akan lebih baik bila saya mengantar anda pulang."
"Teman lama putra ku sedang cemas menunggu kelahiran bayi nya, Tuan Verentsille. Saya ingin berada di sana untuk menemaninya."
Rein melihat Clara yang memberikan anggukan kecil. "Baiklah.", katanya menyerah.

Rein menyewa sebuah kereta kuda. Di sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Rein terus berpikir inikah saatnya sang ibu mengetahui kebenarannya. Ataukah ia masih harus menunggu saat yang tepat untuk memberitahunya.
"Saya tidak menyangka anda begitu peduli pada keluarga kecil itu.", kata Nyonya Chaterine.
"Robert bekerja di pabrik kami.  Tadi putranya hendak mencarinya di pabrik, tapi bertemu dengan ku di jalan. Saya hanya membantu sebisanya.", jelasnya yang melihat raut wajah ibunya kurang baik. Sang ibu memejam sambil mengeryit alis. "Ada apa, Nyonya ? Anda terlihat pucat."
Clara menyentuh tangan wanita itu. "Tangan anda dingin, Nyonya Chaterine."
Rein segera meminta kusir mempercepat laju keretanya.
"Saya tidak apa-apa.", jawab wanita itu sambil menyentuh keningnya.
Rein melepaskan jas untuk menyelimuti Nyonya Chaterine. Kemudian ia berpindah duduk ke sisi ibunya lalu merangkulnya. "Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit. Bertahanlah."
Nyonya Chaterine menyandarkan kepala di pundak putranya.

Dokter mengatakan bahwa Nyonya Chaterine kelelahan dan stress. Ia harus banyak istirahat.
Sementara Clara menjaga Nyonya Chaterine yang tertidur setelah minum obat, Rein menghubungi keluarga Jovant dan juga ayahnya. Setelah itu ia mengunjungi Robert yang tengah menantikan kelahiran bayinya di luar kamar bersalin.
"Bagaimana ibu mu ?"
"Kelelahan dan butuh istirahat.", jawab pemuda tampan itu. Keduanya duduk berdampingan di kursi.
Robert menepuk pundak temannya. "Terimakasih dan maaf sudah merepotkanmu."
Rein tersenyum mengangguk.
"Ibu mu tetap cantik seperti dulu. Begitu melihatnya aku langsung mengenalinya. Dia tidak banyak berubah."
"..."
"Hei, Kenapa tiba-tiba diam ?"
Rein memandangi temannya. Mulutnya menganga kecil hendak berkata, namun ia mengurungkan niatnya. Ia menghela napas. "Aku temani ibu dulu.", ia berkata sambil berdiri dan menepuk pundak Robert. "Beritahu aku kalau bayi mu sudah lahir.", tambahnya yang kemudian pergi ke lantai atas setelah temannya menanggapi dengan anggukkan dan senyum.

"Clara, aku sudah meminta kusir menjemput mu. Kau harus pulang istirahat.", ia berkata sambil menyentuh wajah istrinya.
"Aku akan di sini bersama mu, Rein. Yang sedang terbaring di sini adalah ibu dari suami ku. Bagaimana mungkin aku pulang."
Rein memeluknya setelah itu ia duduk di kursi di sisi tempat tidur dan memegang tangan sang ibu dengan kedua tangannya. "Untuk sesaat aku merasa ibu mengenaliku ... serta kesal pada ku.", katanya. "Clara...", panggilnya. "Aku tidak berani memberitahunya."
Wanita muda itu menyentuh pundak suaminya. "Gunakaan saat yang tepat, Rein. Perlukah aku yang membantu mu ?"
Rein menggeleng. Andrew dan Richard masuk dan seketika Rein berdiri. "Menyingkir !", tegur Andrew yang mendorong Rein. Ia memegang tangan kakaknya dan wajahnya tampak cemas.
"Apa kata dokter, Kak ?", tanya Richard.
"Kelelahan dan stress. Harus banyak istirahat.", jawab Rein.
Andrew menarik baju Rein. "Kemana kau membawanya pergi ? Apa saja yang kau katakan padanya sampai kakak ku jadi seperti ini ?"
"Bila anda begitu menyayanginya...peduli pada perasaannya...anda tidak seharusnya memisahkan kami."
Andrew mendorong pemuda itu hingga jatuh. "Jawab apa yang kutanyakan !"
Clara membantu suaminya berdiri. "Apa yang anda takutkan, Tuan Andrew ?", tanya wanita itu.
Rein mengisyaratkan Clara untuk tidak berdebat dengan pamannya. "Dokter bilang, besok pagi Nyonya Chaterine sudah boleh pulang dan cukup istirahat di rumah.", katanya. "Kami pamit dulu."
Andrew tidak berkata apa pun. Ia masih terpaku pada tempatnya.
"Kenapa tidak kau jelaskan kejadiannya ?", tanya Clara saat dalam perjalan pulang.
"Paman tidak akan pernah percaya apapun yang kukatan. Dia hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada ku."
"Rein.", panggil Clara.
"Ya ?"
"Melihat sikap paman pada mu tadi ... selain saat kau masih kecil ... apakah dia juga pernah melukai mu lagi ?"
Rein menatap mata istrinya untuk beberapa saat. "Ya.", jawabnya.
Clara terkejut dan menyentuh pundak suaminya.
"Maaf, Clara. Waktu itu aku berbohong pada mu.", katanya. "Luka di sekujur tubuh ku saat itu bukan karena perampokan."
"Tega sekali dia melukai mu sampai separah itu."
"Saat itu aku menolak menjawab keberadaan Eruna. Karena itu paman marah."
"..."
Rein tersenyum. "Tapi itu kan sudah lama berlalu. Dan terimakasih pada mu yang sudah merawat dan menemani ku sampai sembuh."
Clara berusaha tersenyum.
"Setelah apa yang terjadi hari ini, aku tidak ingin kau pergi sendirian ke kediaman keluarga Jovant lagi."
"...?"
"Aku takut paman akan melukai mu, Clara.", katanya. "Katakan pada ku bila kau ingin ke sana. Aku harus bersama mu."
Clara tersenyum. "Baiklah."


Rein berdansa dengan Clara di sebuah pesta dansa. Walaupun sekarang statusnya telah beristri, namun tetap saja Rein masih menjadi idola kaum hawa. Banyak mata yang akan memperhatikan bila ia hadir. Tuan dan Nyonya Danforth juga hadir di pesta, keduanya menghampiri pasangan muda itu.
"Beberapa hari yang lalu aku melihat mu bersama seorang anak di jalan, Menantu ku.", kata Nyonya Danforth.
"Ya, Ibu.", Rein membenarkan. "Dia adalah anak dari teman ku."
Nyonya Danforth terkejut. "Kau bergaul dengan mereka dari kelas rendah ?"
Rein hanya diam tanpa menanggapi.
"Ibu, ayah anak itu bekerja di pabrik kami. Tentu saja Rein akan sering bertemu langsung dengan para pekerjanya. Bagi saya itu adalah hal yang wajar.", jelas Clara.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka.", kata Tuan Danforth. "Harus ada jarak antara majikan dan bawahan."
Rein berusaha tersenyum dan mengangguk. "Saya mengerti.", katanya walaupun tidak sependapat dengan mereka.
"Lalu akan lebih baik bila kalian segera mempunyai anak, Clara. Dengan begitu suami mu pasti akan lebih memperhatikan kalian daripada anak-anak orang lain.", kata Nyonya Danforth.
"Kenapa ibu berbicara seolah-olah suami ku begitu buruk ?", tanya Clara.
"Clara, ibu mu mengkhawatirkan mu. Dan menantu ku, aku harap kau tidak berkecil hati dengan perkataannya.", kata Tuan Danforth.
"Sama sekali tidak, Ayah.", kata Rein tersenyum.
"Tapi apa yang dikatakan ibu mu benar, Clara. Kami sedang menantikan kabar baik dari kalian."
Clara menunduk melihat gelas wine di tangannya.
"Berusahalah.", bisik Tuan Danforth pada menantunya, setelah itu keduanya meninggalkan mereka.
"Clara.", panggil sang suami yang mengetahui suasana hati istrinya sedang kurang baik.
Tuan Verentsille yang juga ikut menghadiri pesta bersama putra dan menantunya mendekat. "Ayah tidak melihat keluarga Jovant di sini.", katanya.
"Mungkin mereka sibuk, Ayah.", kata Rein. "Ayah menikmati pestanya ?"
Orang tua itu tertawa. "Banyak sekali teman lama ku yang datang. Tentu aku menikmatinya."
"Syukurlah.", kata Rein. "Bila ayah tidak keberatan, kami ingin pulang duluan."
"Kenapa ?", tanya sang ayah yang kemudian melihat menantunya. "Putri ku, kau sakit ?"
Clara berusaha tersenyum. "Saya sedikit lelah, Ayah."
"Kalau begitu cepatlah pulang. Rein, pastikan kau harus merawatnya."
"Saya mengerti, Ayah."

Rein mematikan lampu kamar dan berbaring di ranjang. Ia menyelimuti istrinya lalu mengecup keningnya. "Mimpi indah, Clara."
"Rein."
"Hmm ?"
"Aku tidak mengerti kenapa ibu ku berkata seperti itu pada mu. Padahal ibu sangat senang kau menjadi menantunya."
"Jangan dipikirkan, Clara. Aku tidak marah. Mungkin ibu mu benar."
"..."
"Aku belum benar-benar menjadi seorang suami yang sempurna untuk putrinya. Kalau memang seperti itu, ibu mu benar. Dan aku pantas ditegur."
"Aku tidak merasa seperti itu."
Rein menghela napas. Ia berbalik dan mengecup bibir istrinya. "Aku harap semuanya belum terlambat.", katanya. "Aku akan benar-benar menjadi suami yang buruk bila sampai istri ku membenci ku."
Clara tersenyum.
"Lahirkan anak-anak yang sehat untuk ku, Clara."
Clara menyentuh wajah suaminya. "Ya.", jawabnya lembut.
Rein mencium bibir sang istri dengan lembut dan melewatkan malam yang indah.



~ ● ~

Minggu, 16 Agustus 2015

CH 12

Rein bersama Clara mengunjungi Issabelle di sore hari. Wajah pemuda itu begitu bahagia ketika menimang keponakannya secara bergiliran. Kemudian Richard mengajaknya berbicara di ruang kerja di lantai dasar ketika Issabelle hendak menyusui kedua putra mereka.
"Sudah kuputuskan tidak akan kuteruskan perusahaan ini, Kak."
"Seburuk itukah keadaannya ?"
"..."
"Aku sudah membicarakan dengan Ibu dan Kakek. Mereka tidak setuju dengan keputusanku."
"Apa rencana mu selanjutnya, Richard ?"
Sang adik menatap mata kakaknya dengan serius. "Aku butuh pinjaman dana dari kakak.", katanya. "Aku ingin mendirikan perusahaan pembuatan mainan anak."
"Kau tahu aku akan membantu mu, Richard. Tapi apa kau sudah yakin ? Pikirkanlah lagi dan rundingkan rencanamu ini dengan ibu dan kakek.", sarannya. "Juga istrimu.", tambahnya.
Pintu dibuka dengan cepat lalu Andrew masuk ke ruang kerja. "Tinggalkan ruangan ini, Richard.", perintahnya dengan suara datar.
Kakak beradik itu berdiri dan menoleh padanya.
"Apa kau ingin aku mengulangi perintahku ?"
Rein mengisyaratkan adiknya untuk pergi. "Selamat sore, Tuan Andrew.", salamnya setelah sang adik meninggalkan ruangan. Pemuda ini tidak mengenali pamannya untuk sesaat tadi. Perawakan sang paman yang sekarang sangat kurus dan kulitnya pucat tersebut tetap tegap dengan pembawaan yang selalu berkelas. 
"Kau harus membawa putriku pulang ke rumah ini.", kata Andrew seraya berjalan melaluinya.
Rein terkejut serta terdiam, ia tidak mengerti. Walaupun sang paman sangat membencinya, namun kali ini lelaki setengah baya itu terdengar seperti meminta bantuan.
"Aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengatakan keberadaannya.", lanjutnya. "Sebagai gantinya, kau harus menceraikan istrimu dan bertanggung jawab atas kebahagiaan putriku."
Rein menunduk lalu menatap pamannya dengan serius. "Saya akan berusaha menemukan putri anda, Tuan Andrew. Namun saya tidak bisa memenuhi permintaan anda yang selanjutnya."
Andrew menatap tajam padanya. Dapat terlihat bila emosinya akan segera meledak.
"Saya tidak akan pernah menceraikan Clara. Kebahagiaan Clara adalah tanggung jawabku sebagai suaminya. Permintaan anda seperti memperlakukan semua orang sebagai barang yang bisa diserahkan pada siapa saja yang anda inginkan. Putri anda juga manusia, Tuan Andrew. Putri anda memiliki perasaan dan pikiran, biarkan dirinya sendiri yang menentukan yang terbaik untuknya."
Andrew menyungging senyum. "Bisakah kau mempertahankan pernikahanmu setelah istrimu tahu kalau kau hanya memperalatnya untuk menjauhi Eruna ?"
Rein terbelalak. "Apa yang telah anda katakan pada Clara ?"
Andrew hanya tertawa kecil.
Rein segera keluar dan menemukan Clara di depan pintu. Keduanya pulang dan tidak ada yang membuka pembicaraan di sepanjang perjalanan di dalam kereta kuda.
Rein ingin membicarakan permasalahan ini dengan Clara, namun wanita itu memintanya untuk menunda sampai makan malam selesai.

Rein duduk di tepi ranjang sementara sang istri tengah menyisir rambut di depan meja rias. Keduanya sudah siap untuk tidur malam itu, namun Rein ingin masalah ini segera diselesaikan.
"Nyonya Chaterine adalah ibu kandung ku.", sang suami berkata sambil menatap mata istrinya melalui kaca rias.
Kegiatan menyisir Clara terhenti. Ia pun juga menatap suaminya melalui kaca di hadapannya.
"Richard adalah adik kandung ku.", ia menambahkan. "Aku adalah anak angkat keluarga Verentsille." Rein berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Ibu tidak mengenaliku. Mereka memberitahunya kalau aku, Reinharverd, sudah meninggal karena kecelakaan.", katanya. "Ayahku adalah seorang pelayan di kediaman keluarga Jovant. Hubungan kedua orang tua ku tidak direstui sehingga mereka kabur. Empat tahun setelah Richard lahir, ayahku meninggal. Ibu mengalami kebutaan. Aku bekerja untuk penghidupan kami bertiga."
Clara membalikkan badan melihat langsung suaminya.
"Suatu hari, ibu sakit parah, kami tidak punya uang untuk berobat. Berbekal pengetahuanku tentang keluarga Jovant, aku memberanikan diri mencari tempat tinggal mereka dan meminta bantuan. Setelah Paman Andrew melihat kondisi ibu, dia bahkan memberikan tawaran untuk membawa ibu dan adikku kembali ke kediamannya, namun aku tidak diijinkan ikut."
"Kau menerima tawaran itu ?", tebak Clara.
Rein mengangguk.
"Kenapa keluarga Jovant menolakmu, Rein ?"
Rein menggeleng. "Aku tidak tahu."
"..."
"Sampai sekarang aku tidak pernah tahu penyebab kebencian paman Andrew padaku."
"..."
"Karena aku tidak diijinkan bertemu dengan ibu dan adikku, sesekali aku akan menunggu dari kejauhan sambil memperhatikan pintu gerbang keluarga Jovant. Berharap aku bisa melihat mereka."
"..."
"Paman Andrew menyadari keberadaan ku dan berusaha melenyapkan ku. Mungkin paman ingin mencegah kemungkinan suatu waktu nanti kami akan bertemu. Ketika aku dikira telah mati, seseorang menemukanku yang bersimbah darah. Orang itu membawaku ke kediamannya lalu merawatku. Orang baik itu adalah Tuan Besar Verentsille yang kemudian mengangkatku sebagai putranya. Beliau memberiku pendidikan dan mengajariku banyak hal untuk hidup dalam lingkungan ini. Demi melindungiku, ayah mengganti namaku menjadi Reinheart dan menjauhkanku dari jangkauan keluarga Jovant."
"Kemudian bagaimana kau bisa berhubungan lagi dengan keluarga Jovant ?"
"Karena aku terlalu pesimis. Aku terus mencari cara agar dapat bertemu ibu dan Richard. Ayah tidak setuju dengan rencana ku untuk berbisnis dengan keluarga Jovant. Tapi aku tidak mendengarkannya. Aku tetap melaksanakan rencana ku. Semuanya berjalan lancar. Paman Andrew tidak mengenali ku. Lalu aku bertemu dengan Eruna, putri tunggal paman, di pesta dansa. Seiring waktu, kami mulai dekat."
"Lalu ?"
"Ketika aku sakit, Eruna dan Richard datang menjenguk serta merawat ku. Mereka membaca buku harian ku sambil menunggu ku tidur. Dari tulisan itulah mereka menemukan kebenaran tentang aku."
"Kau menulis buku harian ?"
"Dulu.", jawab Rein. "Aku membakar semuanya dan berhenti menulis." Pemuda itu menghela napas. "Kemudian aku melarang mereka memberitahu yang lainnya. Terlebih lagi pada ibu."
"Bagaimana paman Andrew mengetahuinya ?"
"Menurut perkataan Richard, Eruna menceritakan tentang aku pada kakek. Tanpa sepengetahuan mereka, paman Andrew mendengarkan semuanya."
"..."
"Paman memintaku menjauhi putrinya bila ingin hubungan Richard dan Issabelle direstui. Aku menyetujuinya tanpa sepengetahuan siapa pun. Aku juga ingin agar kau tidak memberitahu mereka tentang kesepakatan ini, Clara."
"..."
"Lalu aku bertemu dengan mu, Clara." Rein mendekati istrinya lalu berlutut dengan satu kaki di hadapannya. Ia memegang kedua tangan wanita itu. "Awalnya aku hanya menganggapmu sebagai adik dari teman ku." Ia menunduk. "Aku mencoba keluar dari bayang-bayang Eruna. Aku mencoba memulai hubungan yang baru dengan mu. Ketulusan dan kelembutan mu membuat ku ingin meneruskan hubungan ini bersama mu. Aku ingin membahagiakan mu, Clara."
"Oh, Tuhan ku ...", ucap Clara yang sudah tidak dapat membendung tangisannya.
Sang suami mengusap air mata istrinya. "Clara."
"Selesaikan cerita mu, Rein.", kata wanita itu. "Beritahu aku semuanya malam ini. Jangan ada rahasia apa pun lagi bila kau tulus ingin membahagiakan istri mu ini."
Rein berjalan mendekati meja kecil lalu menuangkan segelas air putih untuk Clara. Sang istri mencoba menenangkan diri setelah minum.
"Suatu pagi, Richard datang memberitahu ku bahwa Eruna menghilang. Aku bantu mencari sepupu ku itu. Akhirnya aku menemukannya di pelabuhan, dia akan pergi ke New York saat itu juga dan memintaku untuk tidak memberitahu siapa pun. Hanya itu yang sanggup ku lakukan untuknya."
"..."
"Hari ini paman memintaku mencari dan membawanya pulang.", Rein mengecup tangan istrinya. "Aku akan memenuhi permintaan paman satu kali lagi, Clara. Hanya sampai membawanya pulang pada ayahnya. Ini janji ku pada mu."
"..." Clara sangat ingin menanyakan perasaan suaminya itu terhadap dirinya. Namun ia takut mendengar jawaban yang akan diucapkan. Karena itu ia memilih untuk berdiam diri dan menanyakan hal lain. "Nyonya Chaterine harus mengetahui kebenaran ini, Rein. Sungguh tidak adil baginya, hanya dia seorang satu-satunya yang masih berduka akan putra sulungnya. Pengakuan mu akan menghapus kesedihan yang sudah berlarut dalam dirinya. Ibu mu masih belum dapat menerima pernyataan itu. Dia mengatakan pada ku bahwa kau begitu mirip dengan putra sulungnya. Dari lubuk hatinya dia sangat berharap kalau kau masih hidup dan kau lah putranya."
Rein mengangguk. "Aku tahu itu, Clara. Tapi kenyataannya aku tetap tidak bisa berada di sisi ibu seperti Richard. Aku harus di sini menemani ayah angkat ku. Aku tidak ingin meninggalkan orang baik itu sendirian."
"Suami ku yang baik.", sebut wanita cantik itu yang berbalik memegang sepasang tangan suaminya. "Kalian hanya dipisahkan oleh jarak. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa Reinharverd nya masih hidup akan membuat wanita itu dihujani air mata kebahagiaan. Aku yakin ibu mu akan mengerti kesulitan mu. Dia akan bisa memaklumkan mu. Percayalah."
"Clara.", sebutnya.
Suami istri itu berpelukan. Clara menangis dengan perasaan yang bercampur aduk. Wanita itu lega setelah mengetahui semua kenyataan yang diceritakan, namun ia takut akan kehilangan suaminya. Sedangkan Rein juga merasakan telah terbebas dari beban rahasia yang ia pikul selama ini. Mulai saat ini ia akan bisa membicarakan segala sesuatunya bersama sang istri.



~  o  ~