Sabtu, 22 Agustus 2015

Ch 14

Chaterine pergi ke pabrik perusahaan keluarga Verentsille. Ia ingin menemui Robert dan mencaritahu informasi mengenai putra sulungnya. Ia akan berusaha tetap bersikap tenang dengan apapun yang akan diketahuinya hari ini. 
"Sungguh sebuah kejutan, Bi.", kata Robert yang selalu ceria. "Tempat ini dipenuhi dengan para lelaki. Dan anda berani datang kemari sendirian. Dimana Rein ? Kenapa dia tidak menemani anda ?"
"...!"
"Baiklah. Sebaiknya kita duduk di sana saja.", usulnya.
Robert membawa Nyonya Chaterine duduk di kursi di depan gudang. Pemuda itu memberikan segelas teh pada tamunya. "Rasanya memang tidak senikmat yang biasa kalian minum. Tapi di sini hanya ada satu macam teh."
Nyonya Chaterine tersenyum. "Terimakasih."
"Jadi...ada apa bibi mencari ku ?"
"Selamat atas kelahiran bayi mu, Robert."
"Terimakasih, Bi.", ucap Robert. "Rein bersedia menjadi ayah baptis putri ku. Apa dia sudah memberitahu bibi ?"
Chaterine berusaha tetap tenang. "Belum.", jawabnya.
"Orang itu... ", Robert menghela napas sambil menggeleng.
"Kapan pertama kali kau bertemu lagi dengannya sejak kami pergi, Robert ?"
Robert melihat ke langit sambil berpikir-pikir. "Umm...kira-kira seminggu sebelum pernikahannya. Kebetulan aku sedang mencari pekerjaan baru di pabriknya dan Rein sedang berada di sana.", jelasnya. "Aku hampir tidak percaya melihatnya yang sekarang."
"Apa saja yang diceritakan pada mu ?"
Robert melihat wanita itu dengan penuh pertanyaan. "Ada apa, Bi ?"
"Pernahkah dia bercerita tentang ibunya ?", Chaterine terus mendesak.
"Ya.", jawabnya. "Terkadang.", tambahnya. "Dia bilang butuh proses yang sulit mendapatkan restu pernikahan dari ibunya walaupun pada akhirnya dia berhasil. Dia mengundang ku, tapi aku menolak untuk hadir. Kami hanyalah orang rendah, karena itu aku hanya mampu memberinya doa."
"Jadi itu maksudnya meminta ku hadir di gereja.", pikir Chaterine.
"Tapi ku rasa Rein tidak salah pilih. Istrinya cantik dan lembut. Dan aku tidak pernah mendengar keluhan tentang istrinya."
Chaterine berusaha tersenyum. "Kau benar."

Tuan Jovant sedang membaca koran di kamarnya ketika Chaterine masuk. "Ada apa dengan mu, Chaterine ?", tanyanya yang masih menyibukkan diri membaca. Ia menyadari raut wajah putrinya yang sedih. "Akan lebih baik kau tidak memikirkan masalah Richard. Setelah ku pikirkan, dengan bantuan Tuan Muda Verentsille, Richard pasti akan berhasil membangun usahanya."
"Kenapa ayah begitu mempercayai Tuan Muda Verentsille ?"
"Aku tidak mengerti maksud mu."
"Aku tidak mengerti kenapa pemuda itu dengan mudahnya menyanggupi permintaan Richard."
Tuan Jovant meletakkan surat kabarnya. "Itu wajar saja, bukan ? Richard adalah adik iparnya. Membantu Richard berarti membantu adik perempuannya."
"Bukan itu maksud ku, Ayah."
Tuan Jovant menyadari ada sesuatu yang mulai disadari putrinya, atau bahkan putrinya telah mengetahui kebenarannya. Tapi tidak mungkin Rein sendiri yang memberitahunya. Pemuda itu pernah menolak memberitahu ibunya, pikir orang tua itu. "Jadi apa yang mengganggu pikiran mu, Chaterine ?", tanyanya.
"..."
"Kau tidak mempercayainya ?"
"... bukan begitu.", jawab Chaterine. "...yang kalian panggil Tuan Muda Verentsille...adalah putra ku. Kakak kandung Richard."
Tuan Jovant terdiam. Kemudian ia berdiri dan melihat keluar jendela sambil membelakangkan  kedua tangannya. "Siapa yang memberitahu mu?
Chaterine melihat keanehan pada sikap orang tua itu. "Ayah ?", sebutnya. "Jangan katakan kalau ayah telah mengetahuinya."
Tuan Jovant berpikir bahwa sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi dari putrinya. "..."
"Sejak kapan, Ayah ? Siapa saja yang tahu hal ini ?"
"Semua.", jawab Tuan Jovant. "Semuanya kecuali kau, Chaterine."
"... ! Kalian semua keterlaluan !" Wanita itu meninggalkan kamar ayahnya.


Rein membawa satu buket mawar putih untuk diletakkan di depan batu nisan pamannya. Ia berhenti melangkah ketika melihat ibunya yang juga sama terkejutnya.
"Nyonya Chaterine.", sebutnya. Ia melihat ke tanah dan berusaha tersenyum seperti biasa. Kemudian ia kembali melangkah mendekati ibunya. "Saya dengar dari Richard kalau anda sudah sehat. Syukurlah."
"..."
Rein melihat nisan sang paman yang didepannya diletakkan bunga. "Keluarga anda, Nyonya ?"
Chaterine berbalik kembali ke arah nisan adiknya. "Saya sedang bertanya kepada adik ku.", katanya. "Kesalahan apa yang telah kulakukan hingga putra ku menolak mengakui ku ?"
"... !"
Chaterine menghela napas. Matanya mulai berair dan ia mengusapnya. "Bagaimana caranya agar dia bersedia memaafkan ku ?" Wanita berambut pirang itu berbalik menghadap putranya. "Apakah anda bisa membantu saya, Tuan Muda Verentsille ?"
Rein menatap mata ibunya dengan penuh rasa bersalah. "... Ibu.", panggilnya. "Maafkan saya."
"..."
Pemuda itu memeluk erat ibunya. "Saya minta maaf, Ibu.", katanya. "Ibu tidak melakukan kesalahan apa pun.", ia berkata dengan suara bergetar. "Saya sangat menyayangi ibu, selalu merindukan ibu. Selalu berharap suatu hari nanti dapat kembali memanggil mu ibu."
"Lalu kenapa ...Rein."
Pemuda itu menggeleng tanpa melepaskan pelukannya. "Selamanya saya tetap putra ibu.", katanya. "Selamanya juga saya adalah putra Tuan Verentsille."
Chaterine melepaskan pelukan dan memegang kedua pundak putranya. Tatapan matanya meminta penjelasan.
"Ayah angkat ku akan sendirian bila saya pergi. Ayah telah banyak menolong ku.", katanya. "Saya tidak bisa seperti Richard yang dapat selalu menemani ibu." Ia membisu sejenak dan tersenyum. "Karena itulah saya tidak bisa mengatakan pada mu juga melarang yang lainnya memberitahu ibu. Saya mohon agar ibu mengerti." Kemudian pemuda itu menghampiri makam pamannya dan meletakkan bunga yang dibawa. "Paman Carlfred.", panggilnya. "Tidak pernah terpikir oleh ku semuanya akan terungkap di hadapan paman."
"Rein."
"Bagaimana kalau kita bicara di suatu tempat, Ibu?"

Ibu dan Anak itu mengunjungi Hyde Park. Mereka duduk di kursi dekat danau seperti sebelumnya.
"Lalu kenapa kau tidak kembali, Rein ?"
Rein terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apapun mengenai Andrew. "Mengenai itu ... sebaiknya kita lewatkan saja, Ibu."
"Katakan pada ibu apa yang terjadi ?", tanya sang ibu dengan tegas.
"..."
"Karena Andrew kah ?", terka nya.
Rein terkejut memandang ibunya.
"Ternyata memang benar.", kata Chaterine. "Ibu tidak tahu kenapa dia begitu membenci ayah mu. Andrew selalu mempersulitnya. Selalu mencari kesalahannya."
Rein mencoba tersenyum. "Dulu banyak orang yang bilang wajah saya mirip ayah. Ibu juga pernah mengatakan itu."
Chaterine menyadarinya.
"Jangan bertengkar dengan paman, Ibu."
"..."
"Akan sulit bagi kakek dan yang lainnya nanti.", jelasnya. "Beranggapanlah ibu tidak mengetahui tentang paman."
Chaterine menghela napas lalu mengangguk dengan terpaksa.
"Terimakasih, Ibu."
Rein mengantar ibunya pulang dan setelah itu langsung pamit. Ia pulang dengan perasaan lega dan tidak mampu membendung kebahagiaannya sehingga Tuan Verentsille dan Clara menyadari sesuatu telah terjadi. Rein menceritakan semuanya pada mereka saat makan malam.


Chaterine datang bertamu pada Tuan Verentsille pada saat Rein sedang bekerja di perusahaan. Ketika Clara hendak meninggalkan keduanya, ia diminta untuk tinggal oleh Chaterine.
"Apa yang membuat anda berkunjung kemari, Nyonya Chaterine ?", tanya lelaki tua itu.
Chaterine tersenyum berusaha memilah kata-kata yang tepat dalam benaknya. "Rein sudah menceritakan semuanya pada ku. Saya datang untuk berterimakasih pada anda, Tuan Verentsille. Anda sudah begitu baik merawat putra sulung ku bahkan mengangkatnya menjadi putra anda."
Tuan Verentsille tertawa kecil. "Anda melahirkan seorang putra yang sangat baik. Sudah sepantasnya saya membantunya."
Chaterine tersenyum menunduk.
"Anda ingin mengajaknya tinggal di kediaman keluarga Jovant ?"
Clara terkejut dan menoleh pada ayah mertuanya.
"Itu adalah hal yang mustahil. Rein tidak ingin meninggalkan anda.", jawab Chaterine. "Tapi saya menerima itu."
"Anda dapat datang kapan pun yang anda inginkan, Nyonya Chaterine."
"Terimakasih, Tuan Verentsille."
Clara merasa lega dengan percakapan kedua orang itu. "Saya ... boleh memanggil anda ibu sekarang ?"
Chaterine tersenyum senang. "Tentu saja, Clara menantu ku."
Wanita muda itu juga tersenyum senang. "Ibu.", sebutnya.
Senyuman memudar dari wajah Chaterine. "Saya adalah ibunya, tapi saya tidak mengetahui apapun tentangnya."
"Rein yang selama ini anda kenal itulah putra mu, Nyonya Chaterine. Dia tidaklah berbeda dari sejak aku bertemu dengannya.", kata Tuan Verentsille.
"Ayah benar, Ibu. Walaupun saya tidak mengenalnya sejak kecil, namun suami ku itu tidak berubah sedikit pun sejak pertama kali saya mengenalnya sampai sekarang."
Akhirnya wanita itu kembali tersenyum.

Rein memainkan piano sementara Clara merajut dan Tuan Verentsille asyik membaca buku. Mereka melewatkan waktu bersama di ruang keluarga pada hari Minggu sepulang dari gereja.
Pemuda itu menghentikan permainannya setelah Molly menyampaikan pesan. Ia bergegas ke ruang tengah menerima telepon dan bercakap selama beberapa menit. Setelah itu Rein kembali ke ruang keluarga.
"Siapa yang mencari mu ?", tanya Clara.
"Derik.", jawabnya. "Orang yang ku utus ke New York mencari Eruna."
"Bagaimana hasilnya ?"
Rein menggeleng. "..."
"Sudah tiga bulan sejak kau mengirimnya.", kata Clara.
Rein duduk di sebelah istrinya tanpa menanggapi apa pun.
"Tidak semudah itu menemukan satu orang dari sekian banyak orang. Lagipula mungkin saja gadis itu sudah tidak berada di New York.", kata Tuan Verentaille.
"Perkataan ayah mungkin benar.", kata Rein. "Ini akan sulit dan membutuhkan waktu."
Clara memegang tangan suaminya. "Bagaimana bila besok kita mengundang keluarga Jovant makan malam di sini ?", usulnya.
"Ide bagus, Clara.", puji sang ayah mertua.

Sejak pagi Clara dan para pelayan telah sibuk mempersiapkan jamuan makan malam yang diusulkannya. Ia mempersiapkan diri agar tampil secantik mungkin sebagai Nyonya Muda Verentsille. Hari itu Rein sengaja pulang lebih awal. Ia istirahat di kamar untuk beberapa saat sebelum bersiap-siap menyambut ibunya.
"Kau sudah merasa lebih baik, Sayang?", tanya Clara sembari membantunya memakaikan jas.
"Ya. Tapi aku tidak bisa makan banyak malam ini."
"Kau sakit ?", tanyanya cemas.
Rein menggeleng. "Hanya tidak ada nafsu makan."
Clara tersenyum dan kembali merapikan pakaian suaminya. "Sayang, aku tahu kau sibuk. Tapi aku ingin meminta waktu mu sedikit."
"Ada apa, Clara ?", tanya Rein. "Katakanlah."
"Saat ini aku tahu kau sedang sibuk berusaha memikirkan cara menemukan sepupu mu dan juga pekerjaan. Aku harap kau juga bisa memberikan waktu mu membantu ku memikirkan nama-nama anak."
"Ya, akan kucoba..." Lelaki tersebut terdiam. "Clara, kau..."
Sang istri tersenyum dan meletakkan tangan suaminya pada perutnya.
"Ohhh...!", sang suami memeluk istrinya dengan luapan emosi kebahagiaan. "Katakan ini bukan mimpi, Clara."
"Kau akan menjadi ayah, Suamiku. Dan kau tidak sedang bermimpi."
Rein menatap istrinya dan menyentuh perutnya. "Kapan kau mengetahuinya, Clara ?"
"Sebenarnya sudah sejak tiga hari yang lalu. Tapi melihatmu begitu sibuk dan mencemaskan keberadaan Eruna, aku jadi tidak ingin memberitahumu dulu."
"Clara, kau seharusnya memberitahu ku. Betapa bahagianya aku mendapat berita ini. "
"Maaf."
"Sudah. Tidak apa-apa. Yang penting kau harus lebih menjaga kesehatan mu, Clara."
Clara mengangguk. Ia menunduk malu karena terus ditatapi suaminya. "Ada apa, Rein ?"
"Aku masih belum bisa mempercayainya.", katanya yang masih diliputi kebahagiaan. "Aku akan menjadi ayah." Ia kembali memeluk istrinya.
"..."
"Kau sudah memberitahu ayah ?"
Clara menggeleng. "Aku ingin kau lah yang pertama kuberitahu."
"Terimakasih, Clara. Aku sangat bahagia.", katanya. "Kita akan memberitahu mereka saat makan malam."
"Iya." jawab Clara yang tidak pernah menduga akan reaksi sang suami yang begitu bahagia mengetahui tentang kehamilannya. Ia melihat reaksi kebahagiaan yang belum pernah dilihatnya. Yang ia ketahui adalah suaminya selalu bisa mengendalikan emosi dan tersenyum padanya. Inilah pertama kalinya ia melihat sang suami tertawa. Padahal tidak pernah lelaki itu mengatakan begitu mengharapkan menjadi seorang ayah. Adapun yang pernah dikatakannya adalah 'lahirkanlah anak-anak yang sehat untuk ku', namun perkataan itu dianggap sebagai kata-kata untuk menghibur sang istri setelah melihat kemenakannya lahir dan desakan dari sang mertua. Ia melewati kehidupan pernikahan mereka tanpa menuntut apa pun dari sang istri.

Rabu, 19 Agustus 2015

Ch 13

"Sudah lama kita tidak jalan berdua seperti ini, Clara.", kata Nyonya Danforth.
"Bila ibu kesepian, jangan ragu untuk meminta ku menemani ibu.", kata Clara.
Ibu dan anak itu melewati sore hari di Tea House.
"Kakak mu akan menikahi Josephine akhir tahun ini."
"Benarkah ?"
"Tapi...ibu tidak yakin bisa akrab dengan calon kakak ipar mu itu."
"Kenapa, Ibu ? Josephine gadis yang baik walaupun dia sedikit pemilih."
Nyonya Danforth menikmati teh nya. "Bagaimana dengan kehidupan mu, Clara ? Bagaimana sikap suami mu selama ini ? Juga ayah mertua mu ? Mereka tidak bersikap buruk pada mu, bukan ?"
Clara tertawa. "Ibu lucu sekali."
"Kenapa kau malah menertawakan ibu ? Itu adalah pertanyaan yang wajar. Suatu hari nanti kau pun akan mempertanyakan hal yang sama pada putrimu."
Clara hanya tersenyum. "Suami dan ayah mertua ku adalah orang-orang baik. Saya merasa beruntung dinikahi oleh Tuan muda Verentsille. Semoga keberuntungan selalu menyertai ku."
"Amin.", kata sang ibu. "Merupakan suatu keberuntungan juga Rein memiliki mu sebagai istrinya."
Clara melihat sebuah sosok yang dikenalnya tengah duduk di sudut ruangan sendirian. "Ibu, bukankah itu Nyonya Chaterine ?"
Sang ibu melihat ke arah yang dilihat putrinya. "Mungkin."
"Mari kita bergabung bersamanya, Ibu."
Ibu dan anak itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Nyonya Chaterine.
"Selamat sore, Nyonya Chaterine.", salam 
Clara, begitu pun dengan Nyonya Danforth.
"Oh.", wanita itu terkejut melihat mereka. "Selamat sore, Nyonya Verentsille dan ..."
"Beliau adalah ibu ku."
"Nyonya Danforth.", sebutnya sambil tersenyum. "Silahkan duduk."
Kedua wanita itu mengambil tempatnya masing-masing.
"Anda tidak sedang menunggu orang, Nyonya ?", tanya Clara.
"Sama sekali tidak, Nyonya Verentsille.", jawabnya. "Saya hanya sedang menikmati teh di sini. Richard pernah membawa ku kemari."
"Selamat atas kelahiran cucu anda, Nyonya Chaterine.", ucap Nyonya Danforth. 
"Terima kasih.", ucap Chaterine. "Berdua saja ?"
"Ya.", jawab sang ibu yang kemudian menoleh keluar jendela. "Clara, bukankah itu suami mu ?"
Clara segera menoleh. "Ya, Ibu", jawabnya setelah melihat Rein sedang berjalan keluar dari coffee house sebelah bersama seorang laki-laki. "Mungkin mereka sedang membicarakan pekerjaan.", katanya yang masih memperhatikan suaminya. Ia melihat Rein berpisah dengan orang itu di jalan, kemudian ia didekati oleh seorang anak kecil berbaju lusuh. Pemuda itu lalu mengikuti si anak pergi.
"Kemana mereka ?", tanya Nyonya Danforth. "Suami mu bergaul dengan anak-anak kumuh, Clara ?"
Clara memutuskan untuk mengikuti mereka walaupun Nyonya Danforth melarangnya. Nyonya Chaterine ikut bersama Clara, kecuali sang ibu yang merasa kesal dan tetap duduk di tempatnya.


"Tempat ini ...", kata Nyonya Chaterine.
"Anda tahu tempat ini?"
Seorang pemuda mendekati kedua wanita tersebut sambil terus memasati wajah Nyonya Chaterine. "Maaf, apakah anda bibi Chaterine ? Ibunya Rein ?"
Nyonya Chaterine memasati wajah pemuda itu. Ia menjawab pertanyaannya dengan mengangguk. "Anda ..."
"Saya Robert. Dulu teman bermainnya Rein, Bi. Tidak disangka penglihatan anda benar -benar telah sembuh.", katanya.
"Robert.", sebutnya mengulang nama itu sambil berusaha mengingat.
"Ayah !!!", panggil seorang anak kecil yang mendekatinya.
"Adrian, ada apa ?", tanya Robert panik melihat anaknya yang tergesa-gesa.
"Ibu segera melahirkan !"
"Robert ! Kita harus cepat membawanya..." Rein terdiam melihat istri dan ibu nya, kedua tangannya tengah mengangkat seorang wanita hamil yang merintih kesakitan.
Robert mendekati temannya lalu mengambil alih menggendong sang istri.
"Tidak ada waktu menunggu dokter. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.", kata Rein.
"Ya." Robert segera membawa istrinya ke rumah sakit dan diikuti si kecil Adrian.
Rein mendekati istri dan ibu nya. "Nyonya Chaterine, Clara, apa yang kalian lakukan di sini ?"
Clara menoleh sejenak melihat Nyonya Chaterine lalu menjawab suaminya. "Tadi kami di tea house melihat mu pergi dengan seorang anak kecil. Karena itu kami ingin tahu apa yang terjadi."
Rein mengangguk. "Aku akan mengantar kalian pulang setelah itu aku akan menyusul Robert ke rumah sakit."
"Saya juga ingin ke rumah sakit.", kata Nyonya Chaterine. "Saya harap anda tidak keberatan, Tuan Verentsille."
"Tapi ini sudah senja, Nyonya. Akan lebih baik bila saya mengantar anda pulang."
"Teman lama putra ku sedang cemas menunggu kelahiran bayi nya, Tuan Verentsille. Saya ingin berada di sana untuk menemaninya."
Rein melihat Clara yang memberikan anggukan kecil. "Baiklah.", katanya menyerah.

Rein menyewa sebuah kereta kuda. Di sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Rein terus berpikir inikah saatnya sang ibu mengetahui kebenarannya. Ataukah ia masih harus menunggu saat yang tepat untuk memberitahunya.
"Saya tidak menyangka anda begitu peduli pada keluarga kecil itu.", kata Nyonya Chaterine.
"Robert bekerja di pabrik kami.  Tadi putranya hendak mencarinya di pabrik, tapi bertemu dengan ku di jalan. Saya hanya membantu sebisanya.", jelasnya yang melihat raut wajah ibunya kurang baik. Sang ibu memejam sambil mengeryit alis. "Ada apa, Nyonya ? Anda terlihat pucat."
Clara menyentuh tangan wanita itu. "Tangan anda dingin, Nyonya Chaterine."
Rein segera meminta kusir mempercepat laju keretanya.
"Saya tidak apa-apa.", jawab wanita itu sambil menyentuh keningnya.
Rein melepaskan jas untuk menyelimuti Nyonya Chaterine. Kemudian ia berpindah duduk ke sisi ibunya lalu merangkulnya. "Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit. Bertahanlah."
Nyonya Chaterine menyandarkan kepala di pundak putranya.

Dokter mengatakan bahwa Nyonya Chaterine kelelahan dan stress. Ia harus banyak istirahat.
Sementara Clara menjaga Nyonya Chaterine yang tertidur setelah minum obat, Rein menghubungi keluarga Jovant dan juga ayahnya. Setelah itu ia mengunjungi Robert yang tengah menantikan kelahiran bayinya di luar kamar bersalin.
"Bagaimana ibu mu ?"
"Kelelahan dan butuh istirahat.", jawab pemuda tampan itu. Keduanya duduk berdampingan di kursi.
Robert menepuk pundak temannya. "Terimakasih dan maaf sudah merepotkanmu."
Rein tersenyum mengangguk.
"Ibu mu tetap cantik seperti dulu. Begitu melihatnya aku langsung mengenalinya. Dia tidak banyak berubah."
"..."
"Hei, Kenapa tiba-tiba diam ?"
Rein memandangi temannya. Mulutnya menganga kecil hendak berkata, namun ia mengurungkan niatnya. Ia menghela napas. "Aku temani ibu dulu.", ia berkata sambil berdiri dan menepuk pundak Robert. "Beritahu aku kalau bayi mu sudah lahir.", tambahnya yang kemudian pergi ke lantai atas setelah temannya menanggapi dengan anggukkan dan senyum.

"Clara, aku sudah meminta kusir menjemput mu. Kau harus pulang istirahat.", ia berkata sambil menyentuh wajah istrinya.
"Aku akan di sini bersama mu, Rein. Yang sedang terbaring di sini adalah ibu dari suami ku. Bagaimana mungkin aku pulang."
Rein memeluknya setelah itu ia duduk di kursi di sisi tempat tidur dan memegang tangan sang ibu dengan kedua tangannya. "Untuk sesaat aku merasa ibu mengenaliku ... serta kesal pada ku.", katanya. "Clara...", panggilnya. "Aku tidak berani memberitahunya."
Wanita muda itu menyentuh pundak suaminya. "Gunakaan saat yang tepat, Rein. Perlukah aku yang membantu mu ?"
Rein menggeleng. Andrew dan Richard masuk dan seketika Rein berdiri. "Menyingkir !", tegur Andrew yang mendorong Rein. Ia memegang tangan kakaknya dan wajahnya tampak cemas.
"Apa kata dokter, Kak ?", tanya Richard.
"Kelelahan dan stress. Harus banyak istirahat.", jawab Rein.
Andrew menarik baju Rein. "Kemana kau membawanya pergi ? Apa saja yang kau katakan padanya sampai kakak ku jadi seperti ini ?"
"Bila anda begitu menyayanginya...peduli pada perasaannya...anda tidak seharusnya memisahkan kami."
Andrew mendorong pemuda itu hingga jatuh. "Jawab apa yang kutanyakan !"
Clara membantu suaminya berdiri. "Apa yang anda takutkan, Tuan Andrew ?", tanya wanita itu.
Rein mengisyaratkan Clara untuk tidak berdebat dengan pamannya. "Dokter bilang, besok pagi Nyonya Chaterine sudah boleh pulang dan cukup istirahat di rumah.", katanya. "Kami pamit dulu."
Andrew tidak berkata apa pun. Ia masih terpaku pada tempatnya.
"Kenapa tidak kau jelaskan kejadiannya ?", tanya Clara saat dalam perjalan pulang.
"Paman tidak akan pernah percaya apapun yang kukatan. Dia hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada ku."
"Rein.", panggil Clara.
"Ya ?"
"Melihat sikap paman pada mu tadi ... selain saat kau masih kecil ... apakah dia juga pernah melukai mu lagi ?"
Rein menatap mata istrinya untuk beberapa saat. "Ya.", jawabnya.
Clara terkejut dan menyentuh pundak suaminya.
"Maaf, Clara. Waktu itu aku berbohong pada mu.", katanya. "Luka di sekujur tubuh ku saat itu bukan karena perampokan."
"Tega sekali dia melukai mu sampai separah itu."
"Saat itu aku menolak menjawab keberadaan Eruna. Karena itu paman marah."
"..."
Rein tersenyum. "Tapi itu kan sudah lama berlalu. Dan terimakasih pada mu yang sudah merawat dan menemani ku sampai sembuh."
Clara berusaha tersenyum.
"Setelah apa yang terjadi hari ini, aku tidak ingin kau pergi sendirian ke kediaman keluarga Jovant lagi."
"...?"
"Aku takut paman akan melukai mu, Clara.", katanya. "Katakan pada ku bila kau ingin ke sana. Aku harus bersama mu."
Clara tersenyum. "Baiklah."


Rein berdansa dengan Clara di sebuah pesta dansa. Walaupun sekarang statusnya telah beristri, namun tetap saja Rein masih menjadi idola kaum hawa. Banyak mata yang akan memperhatikan bila ia hadir. Tuan dan Nyonya Danforth juga hadir di pesta, keduanya menghampiri pasangan muda itu.
"Beberapa hari yang lalu aku melihat mu bersama seorang anak di jalan, Menantu ku.", kata Nyonya Danforth.
"Ya, Ibu.", Rein membenarkan. "Dia adalah anak dari teman ku."
Nyonya Danforth terkejut. "Kau bergaul dengan mereka dari kelas rendah ?"
Rein hanya diam tanpa menanggapi.
"Ibu, ayah anak itu bekerja di pabrik kami. Tentu saja Rein akan sering bertemu langsung dengan para pekerjanya. Bagi saya itu adalah hal yang wajar.", jelas Clara.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka.", kata Tuan Danforth. "Harus ada jarak antara majikan dan bawahan."
Rein berusaha tersenyum dan mengangguk. "Saya mengerti.", katanya walaupun tidak sependapat dengan mereka.
"Lalu akan lebih baik bila kalian segera mempunyai anak, Clara. Dengan begitu suami mu pasti akan lebih memperhatikan kalian daripada anak-anak orang lain.", kata Nyonya Danforth.
"Kenapa ibu berbicara seolah-olah suami ku begitu buruk ?", tanya Clara.
"Clara, ibu mu mengkhawatirkan mu. Dan menantu ku, aku harap kau tidak berkecil hati dengan perkataannya.", kata Tuan Danforth.
"Sama sekali tidak, Ayah.", kata Rein tersenyum.
"Tapi apa yang dikatakan ibu mu benar, Clara. Kami sedang menantikan kabar baik dari kalian."
Clara menunduk melihat gelas wine di tangannya.
"Berusahalah.", bisik Tuan Danforth pada menantunya, setelah itu keduanya meninggalkan mereka.
"Clara.", panggil sang suami yang mengetahui suasana hati istrinya sedang kurang baik.
Tuan Verentsille yang juga ikut menghadiri pesta bersama putra dan menantunya mendekat. "Ayah tidak melihat keluarga Jovant di sini.", katanya.
"Mungkin mereka sibuk, Ayah.", kata Rein. "Ayah menikmati pestanya ?"
Orang tua itu tertawa. "Banyak sekali teman lama ku yang datang. Tentu aku menikmatinya."
"Syukurlah.", kata Rein. "Bila ayah tidak keberatan, kami ingin pulang duluan."
"Kenapa ?", tanya sang ayah yang kemudian melihat menantunya. "Putri ku, kau sakit ?"
Clara berusaha tersenyum. "Saya sedikit lelah, Ayah."
"Kalau begitu cepatlah pulang. Rein, pastikan kau harus merawatnya."
"Saya mengerti, Ayah."

Rein mematikan lampu kamar dan berbaring di ranjang. Ia menyelimuti istrinya lalu mengecup keningnya. "Mimpi indah, Clara."
"Rein."
"Hmm ?"
"Aku tidak mengerti kenapa ibu ku berkata seperti itu pada mu. Padahal ibu sangat senang kau menjadi menantunya."
"Jangan dipikirkan, Clara. Aku tidak marah. Mungkin ibu mu benar."
"..."
"Aku belum benar-benar menjadi seorang suami yang sempurna untuk putrinya. Kalau memang seperti itu, ibu mu benar. Dan aku pantas ditegur."
"Aku tidak merasa seperti itu."
Rein menghela napas. Ia berbalik dan mengecup bibir istrinya. "Aku harap semuanya belum terlambat.", katanya. "Aku akan benar-benar menjadi suami yang buruk bila sampai istri ku membenci ku."
Clara tersenyum.
"Lahirkan anak-anak yang sehat untuk ku, Clara."
Clara menyentuh wajah suaminya. "Ya.", jawabnya lembut.
Rein mencium bibir sang istri dengan lembut dan melewatkan malam yang indah.



~ ● ~

Minggu, 16 Agustus 2015

CH 12

Rein bersama Clara mengunjungi Issabelle di sore hari. Wajah pemuda itu begitu bahagia ketika menimang keponakannya secara bergiliran. Kemudian Richard mengajaknya berbicara di ruang kerja di lantai dasar ketika Issabelle hendak menyusui kedua putra mereka.
"Sudah kuputuskan tidak akan kuteruskan perusahaan ini, Kak."
"Seburuk itukah keadaannya ?"
"..."
"Aku sudah membicarakan dengan Ibu dan Kakek. Mereka tidak setuju dengan keputusanku."
"Apa rencana mu selanjutnya, Richard ?"
Sang adik menatap mata kakaknya dengan serius. "Aku butuh pinjaman dana dari kakak.", katanya. "Aku ingin mendirikan perusahaan pembuatan mainan anak."
"Kau tahu aku akan membantu mu, Richard. Tapi apa kau sudah yakin ? Pikirkanlah lagi dan rundingkan rencanamu ini dengan ibu dan kakek.", sarannya. "Juga istrimu.", tambahnya.
Pintu dibuka dengan cepat lalu Andrew masuk ke ruang kerja. "Tinggalkan ruangan ini, Richard.", perintahnya dengan suara datar.
Kakak beradik itu berdiri dan menoleh padanya.
"Apa kau ingin aku mengulangi perintahku ?"
Rein mengisyaratkan adiknya untuk pergi. "Selamat sore, Tuan Andrew.", salamnya setelah sang adik meninggalkan ruangan. Pemuda ini tidak mengenali pamannya untuk sesaat tadi. Perawakan sang paman yang sekarang sangat kurus dan kulitnya pucat tersebut tetap tegap dengan pembawaan yang selalu berkelas. 
"Kau harus membawa putriku pulang ke rumah ini.", kata Andrew seraya berjalan melaluinya.
Rein terkejut serta terdiam, ia tidak mengerti. Walaupun sang paman sangat membencinya, namun kali ini lelaki setengah baya itu terdengar seperti meminta bantuan.
"Aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengatakan keberadaannya.", lanjutnya. "Sebagai gantinya, kau harus menceraikan istrimu dan bertanggung jawab atas kebahagiaan putriku."
Rein menunduk lalu menatap pamannya dengan serius. "Saya akan berusaha menemukan putri anda, Tuan Andrew. Namun saya tidak bisa memenuhi permintaan anda yang selanjutnya."
Andrew menatap tajam padanya. Dapat terlihat bila emosinya akan segera meledak.
"Saya tidak akan pernah menceraikan Clara. Kebahagiaan Clara adalah tanggung jawabku sebagai suaminya. Permintaan anda seperti memperlakukan semua orang sebagai barang yang bisa diserahkan pada siapa saja yang anda inginkan. Putri anda juga manusia, Tuan Andrew. Putri anda memiliki perasaan dan pikiran, biarkan dirinya sendiri yang menentukan yang terbaik untuknya."
Andrew menyungging senyum. "Bisakah kau mempertahankan pernikahanmu setelah istrimu tahu kalau kau hanya memperalatnya untuk menjauhi Eruna ?"
Rein terbelalak. "Apa yang telah anda katakan pada Clara ?"
Andrew hanya tertawa kecil.
Rein segera keluar dan menemukan Clara di depan pintu. Keduanya pulang dan tidak ada yang membuka pembicaraan di sepanjang perjalanan di dalam kereta kuda.
Rein ingin membicarakan permasalahan ini dengan Clara, namun wanita itu memintanya untuk menunda sampai makan malam selesai.

Rein duduk di tepi ranjang sementara sang istri tengah menyisir rambut di depan meja rias. Keduanya sudah siap untuk tidur malam itu, namun Rein ingin masalah ini segera diselesaikan.
"Nyonya Chaterine adalah ibu kandung ku.", sang suami berkata sambil menatap mata istrinya melalui kaca rias.
Kegiatan menyisir Clara terhenti. Ia pun juga menatap suaminya melalui kaca di hadapannya.
"Richard adalah adik kandung ku.", ia menambahkan. "Aku adalah anak angkat keluarga Verentsille." Rein berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Ibu tidak mengenaliku. Mereka memberitahunya kalau aku, Reinharverd, sudah meninggal karena kecelakaan.", katanya. "Ayahku adalah seorang pelayan di kediaman keluarga Jovant. Hubungan kedua orang tua ku tidak direstui sehingga mereka kabur. Empat tahun setelah Richard lahir, ayahku meninggal. Ibu mengalami kebutaan. Aku bekerja untuk penghidupan kami bertiga."
Clara membalikkan badan melihat langsung suaminya.
"Suatu hari, ibu sakit parah, kami tidak punya uang untuk berobat. Berbekal pengetahuanku tentang keluarga Jovant, aku memberanikan diri mencari tempat tinggal mereka dan meminta bantuan. Setelah Paman Andrew melihat kondisi ibu, dia bahkan memberikan tawaran untuk membawa ibu dan adikku kembali ke kediamannya, namun aku tidak diijinkan ikut."
"Kau menerima tawaran itu ?", tebak Clara.
Rein mengangguk.
"Kenapa keluarga Jovant menolakmu, Rein ?"
Rein menggeleng. "Aku tidak tahu."
"..."
"Sampai sekarang aku tidak pernah tahu penyebab kebencian paman Andrew padaku."
"..."
"Karena aku tidak diijinkan bertemu dengan ibu dan adikku, sesekali aku akan menunggu dari kejauhan sambil memperhatikan pintu gerbang keluarga Jovant. Berharap aku bisa melihat mereka."
"..."
"Paman Andrew menyadari keberadaan ku dan berusaha melenyapkan ku. Mungkin paman ingin mencegah kemungkinan suatu waktu nanti kami akan bertemu. Ketika aku dikira telah mati, seseorang menemukanku yang bersimbah darah. Orang itu membawaku ke kediamannya lalu merawatku. Orang baik itu adalah Tuan Besar Verentsille yang kemudian mengangkatku sebagai putranya. Beliau memberiku pendidikan dan mengajariku banyak hal untuk hidup dalam lingkungan ini. Demi melindungiku, ayah mengganti namaku menjadi Reinheart dan menjauhkanku dari jangkauan keluarga Jovant."
"Kemudian bagaimana kau bisa berhubungan lagi dengan keluarga Jovant ?"
"Karena aku terlalu pesimis. Aku terus mencari cara agar dapat bertemu ibu dan Richard. Ayah tidak setuju dengan rencana ku untuk berbisnis dengan keluarga Jovant. Tapi aku tidak mendengarkannya. Aku tetap melaksanakan rencana ku. Semuanya berjalan lancar. Paman Andrew tidak mengenali ku. Lalu aku bertemu dengan Eruna, putri tunggal paman, di pesta dansa. Seiring waktu, kami mulai dekat."
"Lalu ?"
"Ketika aku sakit, Eruna dan Richard datang menjenguk serta merawat ku. Mereka membaca buku harian ku sambil menunggu ku tidur. Dari tulisan itulah mereka menemukan kebenaran tentang aku."
"Kau menulis buku harian ?"
"Dulu.", jawab Rein. "Aku membakar semuanya dan berhenti menulis." Pemuda itu menghela napas. "Kemudian aku melarang mereka memberitahu yang lainnya. Terlebih lagi pada ibu."
"Bagaimana paman Andrew mengetahuinya ?"
"Menurut perkataan Richard, Eruna menceritakan tentang aku pada kakek. Tanpa sepengetahuan mereka, paman Andrew mendengarkan semuanya."
"..."
"Paman memintaku menjauhi putrinya bila ingin hubungan Richard dan Issabelle direstui. Aku menyetujuinya tanpa sepengetahuan siapa pun. Aku juga ingin agar kau tidak memberitahu mereka tentang kesepakatan ini, Clara."
"..."
"Lalu aku bertemu dengan mu, Clara." Rein mendekati istrinya lalu berlutut dengan satu kaki di hadapannya. Ia memegang kedua tangan wanita itu. "Awalnya aku hanya menganggapmu sebagai adik dari teman ku." Ia menunduk. "Aku mencoba keluar dari bayang-bayang Eruna. Aku mencoba memulai hubungan yang baru dengan mu. Ketulusan dan kelembutan mu membuat ku ingin meneruskan hubungan ini bersama mu. Aku ingin membahagiakan mu, Clara."
"Oh, Tuhan ku ...", ucap Clara yang sudah tidak dapat membendung tangisannya.
Sang suami mengusap air mata istrinya. "Clara."
"Selesaikan cerita mu, Rein.", kata wanita itu. "Beritahu aku semuanya malam ini. Jangan ada rahasia apa pun lagi bila kau tulus ingin membahagiakan istri mu ini."
Rein berjalan mendekati meja kecil lalu menuangkan segelas air putih untuk Clara. Sang istri mencoba menenangkan diri setelah minum.
"Suatu pagi, Richard datang memberitahu ku bahwa Eruna menghilang. Aku bantu mencari sepupu ku itu. Akhirnya aku menemukannya di pelabuhan, dia akan pergi ke New York saat itu juga dan memintaku untuk tidak memberitahu siapa pun. Hanya itu yang sanggup ku lakukan untuknya."
"..."
"Hari ini paman memintaku mencari dan membawanya pulang.", Rein mengecup tangan istrinya. "Aku akan memenuhi permintaan paman satu kali lagi, Clara. Hanya sampai membawanya pulang pada ayahnya. Ini janji ku pada mu."
"..." Clara sangat ingin menanyakan perasaan suaminya itu terhadap dirinya. Namun ia takut mendengar jawaban yang akan diucapkan. Karena itu ia memilih untuk berdiam diri dan menanyakan hal lain. "Nyonya Chaterine harus mengetahui kebenaran ini, Rein. Sungguh tidak adil baginya, hanya dia seorang satu-satunya yang masih berduka akan putra sulungnya. Pengakuan mu akan menghapus kesedihan yang sudah berlarut dalam dirinya. Ibu mu masih belum dapat menerima pernyataan itu. Dia mengatakan pada ku bahwa kau begitu mirip dengan putra sulungnya. Dari lubuk hatinya dia sangat berharap kalau kau masih hidup dan kau lah putranya."
Rein mengangguk. "Aku tahu itu, Clara. Tapi kenyataannya aku tetap tidak bisa berada di sisi ibu seperti Richard. Aku harus di sini menemani ayah angkat ku. Aku tidak ingin meninggalkan orang baik itu sendirian."
"Suami ku yang baik.", sebut wanita cantik itu yang berbalik memegang sepasang tangan suaminya. "Kalian hanya dipisahkan oleh jarak. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa Reinharverd nya masih hidup akan membuat wanita itu dihujani air mata kebahagiaan. Aku yakin ibu mu akan mengerti kesulitan mu. Dia akan bisa memaklumkan mu. Percayalah."
"Clara.", sebutnya.
Suami istri itu berpelukan. Clara menangis dengan perasaan yang bercampur aduk. Wanita itu lega setelah mengetahui semua kenyataan yang diceritakan, namun ia takut akan kehilangan suaminya. Sedangkan Rein juga merasakan telah terbebas dari beban rahasia yang ia pikul selama ini. Mulai saat ini ia akan bisa membicarakan segala sesuatunya bersama sang istri.



~  o  ~









Sabtu, 06 Juni 2015

Ch 11

"Sekarang juga aku mau pulang !", tegas Issabelle dengan tangan dilipat di atas perutnya yang kian membesar. Akhir-akhir ini pengaruh mengidamnya tambah besar. Apapun yang diinginkannya harus dipenuhi sekarang juga. Wanita itu memasang wajah cemberut sambil menatap suaminya. "Kau ikut atau tidak ?", tanyanya ketus.
Richard memegang keningnya dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi diletakkan di pinggang. Ia terlihat lebih kurus sejak pernikahan kakaknya dua minggu lalu. Lelaki itu sering dibuat kewalahan dengan keinginan istrinya yang aneh-aneh. Terkadang ia harus tidur di kursi panjang di dalam kamarnya pada saat sang istri sedang tidak ingin tidur berdampingan dengannya. Tidak jarang Issabelle akan membangunkannya di tengah malam hanya untuk menemaninya mengobrol karena tidak bisa tidur. Dan sekarang ia diminta untuk mengantarnya pulang ke rumah ayahnya.
"Baiklah aku akan mengantarmu, Sayang. Tapi tidak bisa menemanimu di sana. Banyak hal yang harus kuselesaikan di pabrik.", kata Richard.
"Jadi urusan pabrik lebih penting daripada istrimu ? Hari ini Kak Rein pulang. Aku ingin bertemu dengannya. Jangan katakan kau tidak peduli ? Kamu kan adik kandungnya, Richard."
"Aku tahu. Aku tahu, Sayang. Tapi tidak sekarang."
Issabelle memanggil pelayan dan meminta mereka membantunya mengenakan gaun barunya. Richard hanya memandangnya heran. Ketika pelayan keluar, ia mendekati  istrinya. "Kau tetap akan pergi?"
"Ya.", jawabnya. "Sendiri."
"Astaga ! Itu tidak mungkin ! Kau tidak boleh berpergian seorang diri, Sayang ! Lihat kondisimu. Apa kau mau membuatku mati ketakutan ?"
"Kalau kau tidak mau menemaniku, aku tidak akan pulang lagi ke rumah ini."

Rein duduk bersama ayahnya di ruang kerja. Keduanya membicarakan bisnis yang diambil alih  sang ayah selama Rein dan Clara pergi bulan madu. Mereka baru akan makan malam ketika Richard dan Issabelle tiba. Kemudian mereka pun makan malam bersama.
"Richard, kau terlihat kurus.", kata Rein. "Apa kau sakit ?"
"Wajar kalau aku jadi kurus. Adik perempuan tercintamu selalu membuatku kewalahan akhir-akhir ini."
"Kau tidak mengerti penderitaan seorang wanita hamil yang tentu ya lebih berat dari kewalahanmu itu.", kata Issabelle. "Seandainya perut ini dapat dilepaskan."
Semua orang tertawa.
"Putri ku ini pasti cerewet sekali, ya ?"
"Benar, Ayah. Hampir setiap malam saya diusir dari ranjang dan harus tidur di kursi. Terkadang kalau dia tidak bisa tidur, dia akan membangunkanku untuk menemaninya bicara sampai dia tertidur. Mengerikan bukan ?"
"Itu karena anakmu tidak bisa diam."
"Apa mungkin yang lahir nanti perempuan, ya ?", kata Clara.
"Apapun itu aku ingin anak ini segera lahir dan sehat tentunya.", kata Richard.
"Kalian sudah menyiapkan nama ?", tanya Rein.
"Sudah kubuat list namanya.", kata Issabelle. "Oh, kalian belum menceritakan tentang bulan madu yang kalian lalui."
Rein tersenyum. "Syukurlah Clara menyukainya."
"Tempatnya benar-benar indah sekali, Issabelle. Rumah yang kami tempati ada di pinggir danau. Ada juga kebun kecil untuk menanam kentang dan bunga. Lalu di malam hari ada kunang-kunang."
"Kami juga berkuda.", tambah Rein.
"Clara, jangan katakan kau ingin menetap di desa.", kata Issabelle penuh curiga.
"Tebakan mu tidak salah, Issbelle.", kata Rein.
Clara tersenyum menatap suaminya.
"Lalu ?", tanya Richard.
"Tentu saja itu baru sebuah keinginan. Karena aku juga menyukai tempat itu.", jawab Rein. "Kami akan tetap di sini menemani ayah."
"Jangan khawatirkan orang tua ini. Ayah sama sekali tidak keberatan kalian tinggal di sana.", kata Tuan Verentsille.
"Tidak, Ayah.", kata Clara dengan lembut. "Kami tidak ingin meninggalkan ayah di sini. Lagipula pekerjaan Rein juga di kota ini. Akan sulit untuknya bila pindah ke desa."
"Clara benar, Ayah. Kalaupun kami pindah, ayah juga akan tetap tinggal bersama kami."
Tuan Verentsille tertawa kecil.

Richard berdiri di dekat perapian sambil memegang segelas wine. "Kakak tampak bahagia."
Rein hanya tersenyum sambil duduk di kursi.
Sang adik membisu sejenak dan memilah kata-kata yang tepat. "Apa ada kabar dari sepupu kita itu ?", tanyanya ragu. Belum sempat dijawab, ia sudah menambahkan lagi, "aku tahu seharusnya aku tidak menanyakan ini padamu yang telah beristri. Tapi satu-satunya yang mengetahui keberadaannya adalah kakak."
"Tidak ada kabar apapun darinya, Richard."
Richard meneguk habis wine-nya lalu menambah lagi.
"Apa kau sedang bermasalah ?", tanya Rein.
"Tidak.", jawab sang adik singkat.
"Aku mengerti bila kau menutupinya dari Issabelle.", kata Rein. "Kudengar ada masalah pada perusahaan keluarga Jovant."
Richard meletakkan gelasnya di atas perapian lalu duduk di sisi kakaknya. "Sekarang masih masalah kecil.", jawabnya. "Tapi akan jadi besar bila terus dibiarkan."
"Katakan apa yang dapat kubantu ?"
Richard tersenyum. "Paman Andrew tidak akan mau dibantu oleh mu, Kak.", ia menghela napas. "Sepertinya kemampuan paman sudah tidak sehebat dulu."
"Kau tidak perlu memberitahunya tentang bantuanku."
"Jadi apa yang harus kukatakan pada paman ? Seorang misterius yang dermawan memberikan bantuan begitu saja ?" Richard tertawa. "Bisa berapa lama kita menutupinya dari paman ?"
Issabelle dan Clara masuk menemui suami mereka. Tidak lama kemudian Richard dan Issabelle berpamitan pulang, namun Rein menahan adik perempuannya untuk tidak meninggalakan ruangan dulu.
"Issabelle.", sebut Rein dengan lembut. "Kakak tahu kalau wanita hamil itu punya banyak keinginan yang aneh-aneh." Rein tertawa kecil. "Tapi sebisanya jangan mempersulit suami mu. Kasihan dia."
Sorot mata Issabelle menunjukkan keterkejutan. Lalu ia berusaha menutupinya. "Pasti sejak tadi Richard mengeluh terus, ya?", tanyanya. Sebenarnya ia menyadari ada sesuatu di balik kata-kata sang kakak yang tidak bisa dikatakannya. "Baiklah aku mengerti. Mungkin aku sering-sering saja datang untuk mengganggu mu, Kak.", katanya nakal.
Rein tersenyum. "Tolong sampaikan salam ku pada Nyonya Chaterine."
"Iya iya."


Rein memegang pundak istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. "Besok aku akan berangkat karena pekerjaan."
Clara menatapnya melalui kaca. "Kalau begitu aku akan mempersiapkan keperluan."
"Aku bisa melakukannya sendiri, Clara."
Wanita itu berdiri dan berbalik menatap suaminya. "Itu sudah menjadi kewajibanku untuk mempersiapkan keperluan suamiku. Rein, sekarang kau bukan lagi seorang diri. Jangan segan bila aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku istrimu, bukan ?"
Rein tersenyum, ia meraih kedua tangan Clara dan mengecupnya. "Maafkan perkataanku."
Clara menunduk cemberut. "Ini adalah yang kesekian kalinya kau menolak bantuanku. Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya."
Rein tertawa kecil sambil memeluknya. "Baiklah, Nyonya Muda Verentsille. Aku berjanji tidak akan menolaknya lagi. Aku butuh bantuanmu untuk mempersiapkan pakaianku selama tiga hari di York."
Clara tersenyum lucu. "Baiklah, Tuan Muda Verentsille." Ia meminta pelayan menyiapkan koper sementara dirinya menyiapkan pakaian-pakaian untuk sang suami. "Berarti besok aku sendirian yang akan menhadiri undangan minum teh dari Nyonya Chaterine."
"Bukankah kita yang mengundangnya ?"
"Ingatanmu tidak salah, Rein. Tapi usia kandungan Issabelle sudah tidak memungkinkannya lagi untuk berpergian."
"Begitu.", kata Rein. "Kuharap tidak akan terjadi apa-apa. Ibu dan kakek tidak akan membiarkan Paman Andrew mengganggu.", pikirnya.
"Ada apa?"
Rein tersenyum. "Aku tidur duluan." Ia mengecup kening istrinya. "Selamat malam."


"Kebetulan sekali suamiku berangkat hari ini.", kata Clara yang menjawab pertanyaan Nyonya Chaterine.
"Oh.", tanggap Nyonya Chaterine yang tidak mampu menutupi kekecewaannya. "Sayang sekali."
"Anda baik-baik saja, Nyonya ?", tanya Clara yang merasa aneh dengan ekspresi kekecewaannya.
Chaterine berusaha tersenyum. "Tentu.", jawabnya. Ia meminum tehnya lalu meletakkannya kembali.
"Apakah ada yang ingin anda bicarakan dengan Suami ku?"
"Tidak ada, Nyonya Verentsille.", jawabnya.
"Saya rasa tidak apa-apa bila ibu memberitahu Clara.", kata Issabelle.
"Bila anda tidak keberatan memberitahu saya tentunya.", tanggap Clara.
Chaterine tersenyum menunduk. "Saya melihat putra sulungku yang sudah meninggal di dalam diri Tuan Muda Verentsille."
Clara semakin penasaran. "Maaf, Nyonya Chaterine. Saya tidak mengerti yang anda bicarakan."
"Ya. Itu hanya perasaan ku saja. Mungkin karena saya terlalu merindukannya. Rein mirip dengan putraku."
"Apakah Rein tahu hal ini ?"
Chaterine mengangguk. "Berapa lama dia pergi, Nyonya Muda Verentsille?"
"Mungkin tiga hari.", jawabnya. "Ketika dia pulang, saya akan mengajaknya menemui anda."
Chaterine terkejut. "Anda tidak keberatan ?"
Clara tersenyum. "Kenapa saya harus keberatan, Nyonya ? Saya yakin suami ku juga tidak keberatan dianggap putra anda."
Chaterine tersenyum senang.
"Sudah saya katakan, bukan, kalau kakak ipar ku ini wanita yang pengertian.", kata Issabelle.
Chaterine mengangguk.
Tiba-tiba Issabelle memegang perutnya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat. Wanita itu akan segera melahirkan. Chaterine segera memanggil pelayan untuk membantu menantunya ke kamar. Semua orang dibuat panik. Dokter segera dipanggil dan para pelayan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Di saat semuanya sibuk, Andrew menemui Clara dan membawanya ke ruang kerja.
"Saya yakin anda telah lupa pada saya, Nyonya Muda Verentsille."
Clara mencoba mengingat lelaki kurus itu. "Maaf."
Andrew tersenyum. "Tidak apa-apa.", katanya. "Nama saya Andrew. Saya pernah menghadiri pesta dansa di kediaman keluarga Danforth bersama putri ku."
Clara tersenyum.
"Bisakah saya meminta bantuan kecil dari anda ?"
"Bantuan seperti apa, Tuan Andrew ?"
"Tolong tanyakan pada suami mu, dimanakah dia menyembunyikan putriku."
Clara terkejut. "Suami saya menyembunyikan putri anda ? Saya rasa anda salah orang, Tuan Andrew. Suami ku bukan orang seperti itu."
"Awalnya saya juga mengira dia adalah seorang pemuda tampan yang baik. Dan saya tidak ingin menanyakannya melalui anda karena ini akan merusak kepercayaan anda padanya. Tapi saya sudah pernah menanyakan langsung padanya dan dia tidak mau menjawabnya. Karena itu saya tidak punya pilihan selain meminta bantuan anda."
"Saya percaya padanya. Sepenuhnya."
"Bagaimana bila saya memberitahu anda tentang hubungan Tuan Muda Verentsille dengan putriku?"
"..."
"Saya menentang hubungan mereka, karena itulah dia membalasku dengan menyembunyikan keberadaan Eruna putriku. Dia sengaja mendekatimu untuk menyakiti Eruna."
Clara memejam dan menggeleng. "Itu tidak benar."
"Pikirkanlah. Apakah anda berhasil memiliki hatinya ?"
"Saya tidak meragukannya."
"Baiklah. Tapi tolong bantu saya menanyakannya.", kata Andrew yang kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Clara masih terkejut dengan apa yang didengarnya. Namun ia masih berharap untuk terus mempercayai suaminya. Lalu ia keluar dan menuju ke kamar Issabelle dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri membantu yang bisa dilakukan.


Issabelle melahirkan bayi kembar laki-laki. Clara melihat Tuan Verentsille dan Nyonya Chaterine menimang cucu mereka. Wanita muda itu ditawarkan untuk menggendong salah satu bayi kembar itu. Awalnya ia menolak, namun Nyonya Chaterine terus membujuknya hingga ia menyanggupi.
"Dia mungil sekali.", kata Clara. "Selamat, ya, Richard, Issabelle.", ucapnya.
"Terimakasih.", ucap Richard.
"Kau pun harus segera memberikan sepupu kepada kedua putraku ini, Clara.", kata Issabelle.
Clara tertawa kecil.
"Benar sekali. Saya yakin Tuan Verentsille juga sudah lama menantikan calon penerusnya.", kata Nyonya Chaterine.
Clara hanya menanggapi dengan senyuman setelah melihat ayah mertuanya mengangguk.

Rein kembali dari luar kota saat menjelang tengah malam. Ia menyadari bahwa orang-orang di rumahnya pasti telah terlelap. Karena itu saat memasuki kamar, ia berusaha sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya.
"Rein ?", sebut Clara yang terbangun ketika Rein berbaring di sisinya.
"Selamat malam, Clara. Maaf aku membuatmu terbangun.", katanya. "Tidurlah."
Clara memeluknya erat.
Rein tersenyum dan memeluk wanita itu. "Maaf, ya, aku tidak mengabarimu kalau akan pulang lebih awal."
"Aku sangat merindukanmu."
"..."
"Apa kau tidak merindukan istrimu?"
Rein mengecup kening Clara. "Bila aku tidak rindu, tentu aku tidak akan segera pulang begitu pekerjaan selesai."
Clara berdiam lama. "Issabelle melahirkan bayi kembar."
"Benarkah?" Pemuda itu terkejut dan senang. "Besok aku akan menjenguk mereka."
Lagi-lagi Sang istri membisu.
"Ada apa, Clara ?"
"Aku juga ingin menjadi seorang ibu."
"Tentu saja, Clara. Suatu saat nanti kau akan melahirkan anak-anak ku."
Wanita itu bangun melihat suaminya dengan pandangan tidak percaya.
Rein menyentuh pipi istrinya. "Sejak tadi sikapmu aneh. Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?"
Clara mencoba tersenyum dan kembali berbaring dalam pelukan suaminya tanpa menanggapi pertanyaan tersebut.


~  0  ~

Selasa, 02 Juni 2015

Ch 10

Rein sedang berdiri di dekat jendela ketika Clara datang.
"Selamat pagi.", salam Clara yang menyadarkan Rein akan kehadirannya.
"Selamat pagi, Clara."
"Sedang memikirkan sesuatu ?", tanya wanita itu ketika berdiri di sisinya.
"Sejak terluka, aku belum pernah keluar dari kamar ini selangkah pun.", katanya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Rein ?"
"Rasa sakitnya sudah semakin berkurang. Mungkin besok aku sudah bisa kembali bekerja."
Clara meraih tangan kekasihnya. "Ayo, kita duduk di taman.", ajaknya.
Rein terkejut lalu tersenyum senang. "Tentu."
Clara membantu Rein berjalan. Mereka dengan pelan dan hati-hati menuruni tangga.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan ? Anda masih harus banyak istirahat di kamar.", kata Molly yang melihatnya.
"Aku ingin ke taman, Molly.", jawab pemuda itu. "Bisakah kau menyiapkan teh dan makanan kecil untuk kami ? Sandwich buatanmu yang kemarin sangat enak.", pujinya.
Kepala pelayan itu tersenyum kesal, ia tahu tuan mudanya sedang memuji dengan maksud jangan mengomelinya. Ia lalu bergegas ke dapur mempersiapkan yang diminta.
Clara tertawa kecil. "Dia terlihat kesal."
"Kalau aku tidak melakukannya, dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menceramahiku."
Mereka tiba di taman belakang. Keduanya duduk di kursi yang berada di bawah pohon. Rein memejam sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit, ia menarik napas yang dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
"Segarnya.", kata pemuda itu.
Clara tersenyum melihatnya.
"Terimakasih, Clara. Hanya kau satu-satunya yang bersedia membawaku kemari."
"Tapi kita tidak bisa lama berada di sini."
"Tidak apa-apa. Walau hanya sebentar, aku sudah sangat senang."
Molly mengantarkan pesanan tuan mudanya.
"Terimakasih, Molly.", kata Rein.
"Tuan Rein, ingatlah anda masih harus banyak istirahat."
"Aku tahu, Molly. Setelah menikmati ini aku akan kembali."
"Baiklah, Tuan dan Nona Danforth. Saya permisi."
"Kurasa besok kau belum boleh bekerja, Rein."
Pemuda itu hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Aku mengerti kalau kau sudah bosan di kamar terus."
Rein meletakkan cangkirnya. "Ayahku sudah tidak seharusnya bekerja.", katanya.
"Kalau begitu kau harus cepat sembuh dengan banyak istirahat. Kalau kau memaksakan tubuhmu, bukankah hasilnya akan lebih parah."
Lelaki itu menyadari kebenaran dari perkataan Clara. Namun ia membenci diri sendiri yang belum kunjung sembuh.

Keesokan sorenya ketika Tuan Verentsille kembali dari perusahaan, ia membawa beberapa dokumen yang perlu ditandatangani kepada putranya.
Rein merasa bingung melihat ayahnya. "Tanda tangan ayah juga berlaku di dokumen ini.", katanya.
"Yaaa...mungkin akan lebih baik kau yang memeriksanya sendiri karena ini adalah proyekmu."
Rein tersenyum senang. Dengan segera ia memeriksa dokumen-dokumen itu. Tuan Verentsille dapat melihat perubahan wajah putra angkatnya menjadi serius ketika sedang bekerja.
"Sementara kau bisa menangani pekerjaan dari rumah, Rein.", kata orang tua itu.
"Tentu, Ayah. Saya akan sangat menantikan berkas yang ayah bawa."
Rein sangat serius membaca dokumen-dokumen itu sampai tidak menyadari ayahnya telah meninggalkan kamarnya.
"Dia sedang menikmati pekerjaannya.", kata Tuan Verentsille.
"Terimakasih anda bersedia memenuhi permintaan saya, Tuan Verentsille.", kata Clara.
"Dengan senang hati, Nona Danforth. Saya senang anda bisa memikirkan cara terbaik untuk putraku."
Clara tersenyum. "Saya akan menemani Rein sekarang. Mungkin saya dapat melakukan sesuatu sementara ia bekerja.", pamitnya.

Setiap hari sepulangnya dari perusahaan, Tuan Verentsille akan membawakan dokumen ataupun berita terbaru dari perusahaannya. Mereka akan selalu membahasnya bersama. Dengan ijin dari dokter, Rein diperbolehkan memulai aktivitas nya kembali.
Begitu pun dengan Clara, gadis itu disibukkan dengan persiapan pernikahannya dua minggu lagi. Sang ibu selalu membawanya ke toko-toko tempat mereka memesan segala sesuatu yang dibutuhkan, mereka memastikan kalau pesanannya benar. Sepasang calon pengantin itu tidak diijinkan bertemu sampai di hari pernikahannya tiba.


Rein mengunjungi makam pamannya sehari sebelum acara pernikahan. Ia membawa bunga untuk di letakkan di depan nisan. Hari itu cuaca panas menyengat.
"Paman.", sebutnya. "Besok saya akan menikah dengan Clara.", katanya. "Saya mohon doa dari Paman Carlfred agar semuanya berjalan lancar. Juga...doakan saya agar mampu membuat Clara bahagia. Semoga saya mampu menjadi suami yang baik untuknya." Ia menunduk. "Sebenarnya saya sangat takut. Bantulah saya, Paman Carlfred."
Tuan Jovant mendekati makam putranya. "Kakek terus merasa akan bertemu denganmu di sini, Rein."
"Kakek.", panggilnya terkejut. Pemuda itu berdiri. "Kakek sering datang kemari ?"
"Ya.", jawab orang tua itu. "Ketika kakek merasa ingin bicara dengan Carlfred, maka kakek akan datang."
"..."
"Besok adalah hari pernikahanmu, Rein. Ada apa kau datang ke makam Carlfred ?"
"Kakek.", sebutnya. "Apakah menurut kakek besok Paman Andrew akan datang ?"
"Kakek melarangnya hadir. Kakek yakin dia akan mengacaukan hari besarmu."
"Sebenci itukah Paman Andrew padaku ? Apakah kakek juga membenci ayahku ?"
"Orang itu membawa putriku kabur lalu menelantarkannya juga kalian. Apa menurutmu kakek bisa memaafkannya ?"
"Apakah kakek yakin ayah lari dari tanggung jawab ?"
Tuan Jovant menatap cucunya.
"Saya mencaritahu tentang ayah.", katanya. "Untuk pertama kalinya ayah ikut bersama temannya menjadi awak kapal. Tapi sayang kapal itu disapu badai. Hanya beberapa yang selamat. Menurut informasi yang kudapatkan, ayah menolong rekannya hingga tidak sempat keluar dari kapal. Dia terjebak di dalam dan tenggelam bersama kapal itu.", jelasnya.
Tuan Jovant terkejut dan tak mampu berkata apapun.
"Ayahku bukanlah bajingan yang seperti selama ini keluarga Jovant anggap."
"Maaf, Cucuku."
Rein memegang pundak kakeknya. "Sekarang semuanya sudah jelas. Saya harap Paman Andrew juga bisa mengerti."
"Besok jalankan semuanya dengan tenang. Kakek pastikan pamanmu tidak akan hadir dan mengacaukannya."
"Terimakasih, Kakek."


Richard dan Issabelle memasuki kamar kakaknya.
"Hari besarmu ini akan menjadi hari peringatan patah hatinya para gadis penggemarmu, Kak.", kata Richard.
"Apa yang kau bicarakan, Richard.", tanggap sang kakak yang terlihat gugup lalu memeluk kedua adiknya.
"Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Kak Rein.", kata Issabelle.
"Terimakasih, Issabelle."
"Santai saja, Kak. Belum saatnya untuk gugup.", kata Richard yang menertawainya. "Saat yang akan membuatmu gugup adalah malam ini. Jangan sampai melakukan kesalahan.", bisiknya menggoda kakaknya.
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, Richard. Kalau tidak aku akan membatalkan posisimu sebagai best men ku."
"Hahahaha...Maaf, Kak. Itu adalah posisi yang kau percayakan padaku. Mana boleh diberikan pada orang lain."
"Kalau begitu berhentilah menggodaku.", kata Rein.
"Baik. Baik."
"Tuan Rein, kereta sudah siap. Sudah saatnya ke gereja sekarang.", kata Molly.
"Ya, Molly. Aku segera turun."


Para undangan telah memenuhi tempat duduk di dalam gereja. Pengantin pria dan best men-nya berdiri di sebelah kanan altar menunggu pengantin wanita masuk. Suasana di dalam gereja sangatlah tenang ketika pengantin wanita berjalan memasuki ruangan menuju ke altar dengan didampingi oleh sang ayah. Clara tidak mampu membendung kebahagiaannya, senyumnya merekah di balik cadar, ia tidak melepaskan pandangan pada calon suaminya yang mampu menutupi kegugupannya dengan senyuman di wajah. Tuan Danforth memberikan tangan kanan putrinya yang disambut Rein. "Mulai hari ini, kupercayakan putriku padamu, Rein. Jagalah dia dan bangunlah keluarga yang hangat bersamanya.", kata sang ayah.
"Saya berjanji akan memenuhi permintaan anda, Tuan Danforth."
Kemudian Tuan Danforth menempati tempat duduk di sebelah kanan istrinya.
Rein membuka cadar yang menutupi wajah pengantinnya. Kemudian mereka berlutut di tempat yang telah disediakan. Misa pernikahan pun dimulai dengan khidmat. Setelah selesai, Richard memberikan cincin kepada kakaknya  untuk dipakaikan di jari manis Clara. Kemudian kedua mempelai menandatangani surat pernikahan mereka. Dengan begitu mereka telah resmi menjadi suami dan istri. Tangan kiri Clara melingkari lengan kanan suaminya, keduanya berjalan keluar dari gereja sambil tersenyum dengan iringan tepuk tangan dari para undangan.

Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman keluarga Verentsille. Jamuan makan bersama berlangsung selama dua jam. Setelah itu pengantin baru berangkat menuju ke Holly Village untuk berbulan madu. Mereka menyewa sebuah rumah sederhana di dekat danau. Hari sudah gelap ketika mereka tiba. Beberapa pelayan yang siap melayani segala kebutuhan majikannya, segera mengantarkan mereka ke kamar untuk beristirahat.
Clara membantu suaminya melepaskan jasnya.
"Karena sudah malam kita jadi tidak bisa menikmati pemandangannya.", kata Rein.
"Masih ada besok pagi.", kata Clara.
"Ya...kau benar.", tanggapnya.
"Pelayan bilang sudah menyiapkan air hangat. Mandilah dulu agar merasa segar, Sayang."
Rein terdiam mendengar panggilan mesra tersebut. "Kau duluan saja, Clara.", katanya. "Aku akan memeriksa perapiannya dulu." Ia segera mendekati perapian dan melihat kayu-kayu yang berada pada tempatnya yang siap untuk dibakar.
Clara menyadari kegugupan suaminya itu karena ia pun merasakan hal yang sama. Wanita itu hanya bisa tersenyum dan menuruti perkataan suaminya.
Beberapa waktu kemudian setelah Clara selesai, ia duduk di depan meja rias menyisir rambut merahnya sementara menunggu sang suami. Lalu ia berjalan mendekati jendela.
Rein keluar dan mendapatkan istrinya sedang berdiri sendirian di dekat jendela yang terbuka. Ia mendekatinya dan memakaikan mantel padanya. "Udara malam tidak baik untuk tubuh." Lalu ia menutup jendela.
"Aku sedang memikirkan kembali pemberkatan tadi pagi. Rasanya seperti mimpi."
Rein meraih tangan istrinya. "Ini bukan mimpi."
Clara terbuai dengan tatapan suaminya.
Rein mengecup punggung tangannya. "Selamat datang di keluarga Verentsille, Clara.", ucapnya. "Tolong jangan segan menyampaikan keluhanmu bila kelak aku melakukan kesalahan sebagai seorang suami."
Wanita itu tersenyum. "Begitu juga denganmu, Rein. Katakan padaku bila ada hal yang kulakukan yang tidak berkenan di hatimu."
Rein mengecup kening Clara dan memeluknya. Mereka duduk di salah satu sisi tempat tidur sambil menikmati wine yang telah disediakan.


~  0  ~



Minggu, 31 Mei 2015

Ch 09

Tuan verentsille baru turun dari kamarnya ketika putri dan menantunya datang berkunjung. Orang tua itu mengajak mereka ke ruang makan, sambil menunggu Rein turun, Issabelle menceritakan tentang kejadian semalam. Keduanya khawatir dengan kondisi tubuh kakaknya.
"Kakakmu tidak menceritakan apapun tentang lukanya.", kata Tuan Verentsille. "Ayah sempat berpikir kalau kakakmu kelelahan setelah dua hari disibukkan mencari Nona Jovant dan akan telat sarapan pagi ini. Akan lebih baik kita ke kamarnya untuk memeriksa keadaannya sekarang."
"Maaf telah membuat kalian khawatir.", kata Rein ketika memasuki ruang makan.
Richard segera menarikkan kursi untuknya duduk. 
"Selamat pagi, Ayah, Richard, Issabelle."
"Bagaimana keadaanmu pagi ini?", tanya sang ayah.
Rein tersenyum. "Tentunya tidak separah yang dikatakan kedua adikku ini, Ayah.", sangkalnya. Rasa sakit pada lukanya masih sangat terasa pagi itu. Bahkan lebih parah dari semalam. Namun ia menutupinya dari semua orang.
"Kakak pikir kami akan percaya begitu saja ?", tanya Richard. 
Rein terdiam. 
"Kami sudah memanggil dokter.", kata Richard lagi.
"Kalian terlalu berlebihan. Ini hanya luka lebam, nanti juga akan sembuh."
Issabelle berjalan ke belakang kakaknya lalu menekan punggungnya. Rein bersuara kesakitan memegang pundaknya. "Padahal aku tidak menekannya dengan kuat tapi reaksi kakak sudah seperti itu. Apa perlu kucoba sekali lagi?"
"Cukup, Issabelle. Cukup.", kata Rein yang mencoba melindungi punggungnya. "Baiklah aku akan mendengarkan saran kalian.", ia menyerah.
"Bagus, Issabelle.", puji Richard.
"Sepertinya aku harus berbicara langsung dengan Clara mengenai kakak ku ini.", kata perempuan berambut pirang itu setelah kembali ke tempat duduknya.
"Kau mau mengatakan apa padanya?", tanya Rein curiga.
"Clara harus tahu cara mengatasi calon suaminya yang keras kepala ini."
"Aku setuju, Istriku.", kata Richard.
Tuan Verentsille ikut tersenyum. "Ayah mendukungmu, Putriku."
Rein terdiam, ia kalah suara untuk membela diri. Issabelle memang selalu unggul dalam hal mendesaknya melakukan sesuatu.

Dokter yang dipanggil Richard mulai memeriksa kondisi Rein. Pemuda itu tidak mampu bergerak cepat, terkendala oleh luka-luka di sekujur tubuhnya. Rein harus mengatakan ia menjadi korban perampokan ketika dokter menanyakan apa yang terjadi padanya. Kemudian Richard membantu kakaknya berbaring. Dokter meminta pasiennya itu istirahat total sampai lukanya sembuh. Ia dilarang keluar kamar atau berjalan jauh selama masa istirahat. Dokter juga memberikan resep obat untuk diminum tiga kali sehari selama satu bulan. Untuk sementara masalah pekerjaan akan diambil alih oleh Tuan Verentsille.
"Maaf, Ayah jadi harus mengurus pekerjaan saya.", kata Rein.
"Ini sama sekali tidak membebaniku, Rein.", kata sang ayah yang lalu menghela napas. "Tapi apa yang dilakukan Tuan Andrew padamu benar-benar sudah keterlaluan."
Rein berdiam diri. Saat ini yang ia pikirkan adalah bagaimana mengatakan pada Clara kalau ia tidak bisa menemuinya untuk sementara waktu.


Sudah satu minggu Clara tidak bertemu dengan calon suaminya. Tidak biasanya Rein tidak mengunjunginya selama satu minggu penuh. Pemuda itu bahkan tidak mengabarkan apapun padanya. Sekarang gadis itu mulai khawatir. Kedua orang tuanya sedang berada di luar kota menghadiri pesta pernikahan kerabatnya. Sedangkan kakaknya sibuk mengurus perusahaan dan kekasihnya. Ia sendirian di rumah. Rasa kesepian begitu terasa. Ketika Steven pulang, ia langsung menemuinya.
"Clara, bagaimana keadaan Tuan Verentsille ? Apa sudah lebih baik ?", tanya Josephine yang diundang makan malam oleh kekasihnya.
Clara menatap wanita itu dengan heran. "Maaf. Aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan, Josephine."
Sekarang giliran wanita itu yang heran. "Kau tidak tahu ? Kudengar dari ayahku kalau calon suami mu sedang terluka. Dokter memintanya istirahat total dan ayahnya yang menggantikannya mengurus perusahaan."
Clara terbelalak seraya menutup bibirnya. Ia tersentak berdiri.
"Kami tidak tahu mengenai itu.", kata Steven. "Tidak ada yang memberitahu kami."
"Aku harus menjenguknya.", kata Clara yang hendak meninggalkan ruang makan.
Steven segera menghentikan adiknya. "Sudah malam, Clara. Besok pagi aku akan mengantarmu ke sana."


Rein menyelesaikan sarapan dan meminum obat yang diantarkan Molly. Ia duduk di tempat tidurnya sambil menyandar pada tumpukan bantal. Ada beberapa buku yang diletakkan di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya. Ia menikmati sinar matahari yang masuk melalui jendela yang tepat berada di sisi kirinya. Tidak lama kemudian ia hampir tertidur ketika Molly mengantarkan Steven dan Clara ke kamarnya. Pemuda itu membuka matanya lalu menoleh ke arah pintu. Ia bergerak ingin bangun dari tempatnya ketika melihat mereka. Clara segera mendekat dan menahannya. "Tetaplah seperti ini, Rein. Jangan paksakan dirimu.", wanita itu berkata dengan lembut sambil memegang tangan kanannya.
"Bagaimana keadaanmu?", tanya Steven.
"Sudah lebih baik.", jawabnya. "Bagaimana kalian bisa tahu?"
Steven memperlihatkan wajah kesalnya. "Josephine.", jawabnya singkat.
"Maaf. Aku tidak memberitahu kalian."
"Tidak seharusnya kau menyembunyikan ini dari kami, Rein. Kami berhak dan harus mengetahuinya. Apa kau tidak kasihan pada adikku ?"
"Sudahlah, Kak!", tegur Clara.
"Maaf.", ucapnya lagi.
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak akan memaafkanmu bila ada lain kali."
Rein tersenyum. "Ya."
"Baiklah, aku titipkan adikku di sini. Nanti aku akan kembali menjemputnya."
Rein mengangguk.
Setelah Steven pergi, Rein menatap wajah Clara yang penuh kecemasan. "Jangan khawatir, Clara." Ia menyentuh wajahnya.
"Kau mengantuk ?"
Rein mengangguk. "Sepertinya ada kandungan obat tidur  pada obat ku."
Clara memberikan senyumnya. Ia tidak melepaskan tangan kekasihnya sejak berada di sisinya. "Tidurlah. Aku akan selalu berada di sini menemanimu."
Rein menyungging senyum lalu memejam. Satu hal yang wanita itu pelajari dari calon suaminya, bahwa pria yang akan menikahinya ini adalah seseorang yang selalu menyimpan semua hal buruk yang dialaminya.
Setelah Rein terlelap, Clara melihat beberapa foto yang terletak di atas meja kecil. Foto-foto Rein bersama ayah dan adiknya, lalu foto pernikahan kedua adiknya. Ia juga melihat buku-buku yang tertumpuk rapi. Dia pasti melewati waktu dengan membaca buku-buku ini, pikirnya. Kemudian wanita itu ingin mengetahui buku apa saja yang dibaca calon suaminya. Ada beberapa buku karya Sir Arthur Conan Doyle dan Oliver Twist oleh Charles Dickens. Clara mengambil salah satu buku karya Conan Doyle dan membacanya sambil duduk di kursi di sebelah tempat tidur.

Molly mengetuk pintu lalu masuk menyuguhkan teh dan sandwich untuk gadis itu. Lalu ia berdiri sejenak melihat tuan mudanya.
"Saya tidak akan bisa melihat wajah tidur Tuan Rein kalau dia tidak sedang sakit seperti ini.", kata Molly sambil tersenyum kagum.
"Maaf ?", kata Clara.
"Oh. Bukan berarti saya senang melihatnya sakit, Nona.", ia menjelaskan. "Nona Issabelle secara khusus meminta dokter memberikan obat tidur. Tentunya dengan dosis yang masih layak."
"Dari yang kau katakan, sepertinya tuan mu adalah orang yang sering memaksakan diri.", tebak Clara.
"Benar, Nona Clara.", tanggapnya. "Kalau bukan karena kecerdikan Nona Issabelle, saya yakin Tuan Rein saat ini sedang berada di pabrik." Wanita gemuk itu menghela napas. "Saya sangat berharap kelak Nona Clara dapat mengatasi kebiasaaan calon suami anda ini."
Clara tertawa kecil. "Kalau begitu aku harus belajar dari adiknya."
"Nona Issabelle pasti senang mengajari anda."
"Terimakasih sudah memberitahuku, Molly."
"Sama-sama, Nona Clara. Sekrang saya harus pergi.", pamitnya.
Clara duduk di pinggiran ranjang dan memegang tangan kanan Rein. Ia perhatikan ada air mata yang menggenang di kedua sudut matanya yang terpejam. Selain itu ia merasakan tangan Rein menggenggam tangannya dan mulai bergerak gelisah. Clara mencoba menenangkannya. Ia mengusap kepalanya yang berkeringat dengan sapu tangan. Rein terbangun duduk dengan napas kuat. Ia menopang keningnya dengan tangan kiri.
"Kau mimpi buruk.", kata Clara.
Rein baru menyadari kehadiran wanita itu. "Clara.", sebutnya.
Wanita itu menuangkan teh untuknya.
"Terimakasih." Ia meminum tehnya.
"Merasa lebih baik, Rein ?"
Pemuda itu menjawabnya dengan mengangguk. "Sejak tadi kau menjagaku ?"
Clara tersenyum. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Aku ingin merawatmu, Rein."
"Terimakasih, Clara. Itulah kenapa aku tidak ingin memberitahumu. Kau pasti akan melakukan ini."
"Apa kau tidak suka ?"
Rein tersenyum menggeleng. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula hari ini aku merasa sudah jauh lebih baik."
"Kalau kau menginginkannya, aku akan berhenti merawatmu."
Rein tertawa kecil sambil menunduk. "Aku tidak akan melarangmu, Clara.", katanya. "Kau boleh datang kapan pun kau mau. Dan aku akan selalu menantikannya."
Clara tersenyum senang lalu beranjak mendekati meja. "Kau sudah tidur dua jam, Rein. Dan aku yakin kau lapar. Molly membuatkan sandwich untukku. Kita makan bersama ya."
Rein berguman setuju, ia menyusun bantal untuk disandari.
"Lagi-lagi kau melakukannya.", kata Clara yang mendekatinya. Ia menyusun bantal-bantal itu lalu membantunya mundur untuk menyandar. "Mintalah padaku untuk melakukannya. Aku ingin bisa berguna untukmu, Rein. Kurang dari dua bulan lagi aku akan menjadi istrimu."
"Clara.", lelaki itu menyebut namanya.
Clara memberikan satu potong sandwich untuknya. Mereka bersama-sama menikmati roti isi buatan Molly sambil mengobrol.
"Aku tidak tahu kau suka membaca karya fiksi, Rein."
Pemuda itu melihat pada tumpukan buku di meja lalu tersenyum lucu. "Bukan karena aku menyukainya. Aku minta diantarkan buku non-fiksi. Tapi Issabellle malah memberikanku bacaan itu."
Clara tertawa. "Lalu kau membacanya ?"
Rein mengangguk. "Aku juga membaca koran yang diantar Molly.", tambahnya.
"Cerita Sherlock Holmes sangat menarik. Tadi aku membacanya selagi kau tidur."
"Ya, aku sependapat denganmu.", katanya. "Bila kau ingin membacanya, kau bisa membawanya pulang, Clara."
"Aku akan baca di sini."
Pemuda itu menatapnya. "Begitu."
Clara memberinya minum. "Mau sandwichnya lagi?"
"Tidak, terimakasih.", tolaknya. Rein menurunkan kakinya ke lantai.
"Kau mau kemana, Rein? Kalau butuh sesuatu katakan saja padaku."
"Aku tahu, Clara.", kata lelaki yang selalu tersenyum ramah itu. "Tapi kau tidak mungkin menemaiku sampai ke kamar mandi bukan?"
Clara segera tertunduk malu. Wajahnya merona.
Dengan pelan pemuda itu berdiri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya memang sudah tidak separah seminggu yang lalu, namun tetap saja ia belum bisa bergerak dengan cepat layaknya orang sehat. Ia masih harus berpegangan pada sesuatu untuk berjalan.
"Akan kupanggilkan seseorang untuk membantumu."
"Tidak, Clara.", tolaknya. "Aku harus latihan. Berbaring terus membuat tubuhku pegal dan kepalaku pusing. Aku akan mencoba sendiri."
Clara mengulurkan tangannya untuk menjadi penopang. "Kalau begitu berpeganganlah pada tanganku. Aku akan mengantarmu, jangan khawatir, aku akan menunggu di luar pintu."
Rein menerima bantuan yang ditawarkan.
Tuan Jovant beserta Chaterine dan Issabelle datang menjenguk Rein. Mereka masuk ke kamarnya ketika Clara tengah menopangnya menuju ke ranjang.
"Clara, mari perkenalkan. Beliau adalah Tuan Jovant dan putrinya, Nyonya Chaterine, lalu ini adikku Issabelle.", kata Rein setelah duduk kembali di ranjang. "Dan ini adalah Nona Danforth, calon istri saya."
Clara memberi salam pada mereka.
"Kakak sudah pernah memperkenalkanku pada Nona Danforth.", kata Issabelle.
"Benarkah ?", tanya Rein.
Clara mempersilahkan mereka duduk.
"Nona Danforth, ayo kita bicara di bawah.", ajak Issabelle.
"Tapi...", gadis itu menoleh pada kekasihnya.
"Pergilah, Clara.", kata Rein.
Kedua wanita itu pun turun dan duduk di taman.
Molly mengantarkan teh dan kue-kue kering untuk tamu.
"Bagaimana kondisimu, Tuan Verentsille ?", tanya Chaterine.
"Sudah lebih baik, Nyonya. Terimakasih sudah datang menjengukku."
"Seharusnya orang tua ini yang berterimakasih padamu. Sebenarnya bisa saja kau melaporkan Andrew pada polisi atas penganiayaan ini. Tapi tidak kau lakukan."
"Ini adalah masalah keluarga, Tuan Jovant."
"Nona Danforth tidak mengetahui masalah ini ?", tanya Chaterine.
"Tidak, Nyonya."
"Dia gadis yang baik dan lembut. Anda pasti akan bahagia bersamanya."
"Terimakasih, Nyonya Chaterine."
"Sejak hari itu, Andrew menyuruh orang mencarinya."
"Katakanlah padanya, Tuan. Pencariannya hanya akan sia-sia. Dan berikan putrinya waktu untuk menenangkan diri."
"Sudah kukatakan padanya. Tapi putraku yang satu itu sangat keras."
Tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat.
Rein bersuara memecah keheningan. "Silahkan diminum tehnya.", katanya.
"Oh. Kau benar." Nyonya Chaterine menanggapi. "Sejak tadi membicarakan hal serius sampai lupa minum."
Kedua orang tersebut menikmati teh dan kue kecil yang disajikan.

"Issabelle, aku tahu ini sedikit kasar. Tapi aku ingin tahu tentang kakakmu lebih banyak.", kata Clara.
"Sejauh kau mengenal kakakku, apa saja yang kau ketahui tentangnya?"
"Seperti yang banyak orang katakan, Rein sangat ramah dan perhatian. Dan baru hari ini aku tahu dia tidak suka membebani orang. Bagiku itu adalah keburukannya. Aku ingin berguna untuknya. Aku ingin dia membutuhkanku."
"Kalau begitu buatlah kakakku membutuhkanmu."
Clara menatapnya. "Bagaimana caranya ?"
Issabelle meneguk tehnya. "Kakakku terlalu serius dan keras pada diri sendiri. Kau harus menemukan celah pada dirinya. Walaupun aku bilang kakakku keras, tapi sebenarnya dia sangat rapuh. Apa kau mengerti maksudku, Clara ?"
Clara mengangguk mengerti. "Aku akan berusaha.", katanya. "Lalu...satu hal lagi.", ia berkata dengan ragu.
"Ya?"
"Saya dengar, dulu Rein sempat dekat dengan Nona Jovant."
Issabelle menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Apakah dia pernah membutuhkannya?"
"Kurasa lebih penting bagimu untuk berusaha menjadi orang yang dibutuhkan kakakku. Itulah yang terpenting saat ini."
Clara berdiam diri. Ia menyadari masa lalu itu bukanlah sesuatu yang pantas ditanyakan. Setiap orang pasti memiliki rahasianya tersendiri. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak lagi menanyakan hal itu di kemudian hari.

"Sudah saatnya pulang, Adikku.", kata Steven yang sore itu datang menjemput.
Clara merasa berat meninggalkan Rein sendirian. "Kakak, bolehkah aku pulang setelah makan malam ?"
Steven menoleh pada Rein. "Lihatlah adikku. Kurasa semakin cepat kalian menikah akan semakin baik."
Rein tertawa. "Aku tahu kau mengkhawatirkan ku sendirian di sini, Clara. Percayalah, Molly sangat sering masuk kemari memeriksa keadaanku dan apa yang kubutuhkan."
Clara masih menunduk membisu.
"Hari ini kau merawatku seharian. Aku tidak ingin kau kelelahan dan sakit."
"..."
Rein memegang tangan wanita itu. "Dan aku akan menunggumu besok."
Clara tersenyum senang.
"Kau dengar itu, Adikku sayang ?"
"Kalau begitu sampai bertemu besok, Rein."
Rein mengagguk. "Aku akan menantikanmu.", katanya yang lalu mengecup punggung tangan calon istrinya.


~  ●  ~








Sabtu, 30 Mei 2015

Ch 08

Rein meletakkan peralatan makan dan menopang pelipisnya dengan tangan kiri.
"Apa kalian yakin dia kabur?", tanya Tuan Verentsille.
Richard mengeluarkan sepucuk surat. "Kami menemukan ini di kamarnya."
Tuan Verentsille mengambil surat itu dan membacanya. Setelah itu ia menoleh pada putra angkatnya yang sedaritadi tidak mengatakan apapun.
"Bagaimana Paman Andrew?", tanya Rein dengan mata yang masih memejam.
"Paman sedang berada di York dan kami belum menghubunginya. Dalam beberapa hari ini Paman akan pulang."
"..."
"Pikirkanlah sesuatu, Kak. Mungkin kakak bisa menebak kemana Eruna pergi."
"Aku tidak tahu.", kata Rein. Ia menurunkan tangannya dan menatap Richard dengan wajah lelah.
"Apa sebaiknya kau bantu mereka mencarinya, Rein?", usul Tuan Verentsille.
"Kemana aku harus mencarinya, Ayah ?"
"Dimanapun yang terpikirkan olehmu.", jawab lelaki tua itu. "Pergilah."


Richard dan Rein mencari sepupu mereka secara terpisah, mereka membagi wilayah pencarian. Barat dan timur. Rein mencarinya di wilayah barat dimulai dari gereja, restoran, taman, hotel, tea house, dan tempat-tempat lainnya yang mungkin Eruna kunjungi. Berbekal foto, mereka bertanya pada orang-orang yang ditemui di sekitar tempat pencarian. 
Mereka tidak menemukannya di hari pertama pencarian. Kakak beradik itu bahkan mengabaikan pekerjaannya di kantor. Rein mulai merasa kelelahan setelah dua hari pencarian dan istirahat yang sedikit. Ia terus berusaha berpikir dimana lagi kemungkinan gadis itu berada. Akhirnya kata 'pelabuhan' terlintas dalam pikirannya. Ia segera menuju ke sana dan menunjukkan foto Eruna pada penjaga loket. Tepat sekali dugaannya, gadis itu akan berlayar ke New York sore ini. Sekrang yang menjadi kendala pemuda itu adalah bagaimana menemukannya di antara lautan manusia sebanyak ini. Namun ia tetap berusaha menemukannya, melihat ke segala arah.

Jembatan kayu, tempat para penumpang melintas memasuki kapal berada tidak jauh dari tempat Rein berdiri. Ia memutuskan untuk berdiri di dekat jembatan itu dan mengawasi para penumpang yang akan melintas. Tempat itu lebih menyesakkan juga panas, berkali-kali ia mengusap keringat di kepalanya. Lalu setelah sekian lama menunggu, ia menemukannya ! Rein berhasil menarik tangan Eruna dan mencegahnya. "Jangan pergi.", katanya dengan napas sedikit tersenggal karena panas dan lelah.
Gadis itu hanya menatapnya dengan mata berkaca.
"Pulanglah, Eruna.", bujuknya. "Mereka menantimu."
Kemudian wanita itu menunduk melihat tangannya yang masih digenggam oleh pria yang ia cintai.
"Maaf.", ucap Rein seraya melepaskan tangannya.
Eruna tersenyum padanya. "Terima kasih, Rein. Aku senang kau mencariku."a
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang sekarang.", ajaknya kemudian berbalik.
"Ayah merencanakan pernikahanku."
Rein terpaku, dengan pelan ia berbalik kembali menatapnya.
"Aku belum siap, Rein.", katanya lagi. 
"Katakanlah pada Paman Andrew, tapi jangan bertindak seperti ini."
"Kau sangat mengerti siapa ayahku."
Rein menunduk berpikir apalagi yang mampu ia katakan. Kemudian ia menatapnya dengan mata yang mulai memerah dan berkaca. "Kau seorang wanita, Eruna. Sendirian di New York, tempat yang begitu jauh dan asing, bagaimana kau akan melewati hari-harimu?"
"Sekarang sudah bukan kewajibanmu memikirkan itu. Nona Danforth wanita yang baik. Berbahagialah dengannya."
"Eruna."
"Hanya satu hal yang bisa kau lakukan untukku."
"... Katakanlah."
"Rahasiakan keberadaanku dari siapapun juga."
"Tapi..."
"Bisakah aku mempercayaimu ?"
Rein membisu sejenak lalu menyanggupinya. "Baiklah."
Eruna tersenyum walaupun airmatanya telah tak terbendung. "Selamat tinggal, Tuan muda Verentsille yang pernah kucintai.", salamnya yang kemudian melintasi jembatan memasuki kapal.
Rein terus memperhatikan hingga kapal bergerak menjauh. Para pengantar yang memadati pelabuhan mulai membubarkan diri.

Rein tiba di kediaman keluarga Jovant sebelum jam makan malam. Ia tidak menyangka akan langsung bertemu dengan Andrew ketika memasuki rumah itu. Sang paman telah kembali dan mengetahui putrinya menghilang. Luapan kemarahannya langsung ditujukan pada pemuda di hadapannya. Dengan tongkat yang selalu dibawanya, ia memukul pemuda itu hingga roboh ke lantai. 
"Pasti kau yang menghasutnya !", marahnya. "Dimana kau menyembunyikannya ?! Katakan !"
Bagaimana bisa Rein menjawabnya bila ia terus dipukuli seperti itu. Pemuda itu bahkan sudah tidak bertenaga untuk melindungi diri. Ia lelah secara jiwa dan fisik. Beruntung anggota keluarga Jovant yang lain segera menghampiri mereka dan menghentikan Andrew.
"Jangan gila, Andrew ! Dia bisa mati kau pukuli !", tegur Tuan Jovant. Ia bersama dengan Richard menahan Andrew dan membawanya menjauh.
"Lepaskan aku, Ayah ! Aku akan membuatnya bicara ! Jangan halangi aku !"
Issabelle dan Chaterine membantu Rein bangun dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya dengan sapu tangan.
Rein mengisyaratkan mereka untuk tidak memapahnya. Pemuda itu memegang lengan kirinya yang sakit. Lalu bergerak maju beberapa langkah. "Saya bertemu Eruna."
Andrew berhenti merontah.
"Dimana dia ? Kenapa dia tidak bersamamu ?", tanya Nyonya Chaterine.
"Eruna sudah pergi.", jawabnya. "Dan saya sudah berjanji padanya tidak akan memberitahu siapapun tentang keberadaannya."
Andrew kembali ingin mendekati pemuda itu namun berhasil ditahan ayahnya dan Richard. "Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong itu !"
"Saya tahu anda tidak akan percaya.", kata Rein. "Tapi itulah kenyataannya."
"Terimakasih atas bantuanmu untuk mencari Eruna, Tuan muda Verentsille. Akan lebih baik bila sekarang anda pulang dan istirahat.", kata Tuan Jovant.
"Anda benar, Tuan Jovant. Saya akan pulang sekarang.", pamitnya.

Tuan Verentsille sedang menikmati makan malam ketika putra angkatnya pulang. Orang tua itu melihat penampilan Rein yang kacau dan lelah. Untunglah ia dapat melindungi kepalanya ketika sang paman memukulnya, pikir pemuda itu. Ia tidak akan mampu menyembunyikan luka lebam di bagian tubuhnya yang terbuka. Rein memberitahukan hasil pencariannya hari ini dan menyampaikan hal yang sama kepada ayahnya seperti yang dikatakannya pada keluarga Jovant. Malam itu Tuan Verentsille makan malam sendirian sementara putranya memilih beristirahat di kamar setelah mandi. 



~  0  ~