Chaterine pergi ke pabrik perusahaan keluarga Verentsille. Ia ingin menemui Robert dan mencaritahu informasi mengenai putra sulungnya. Ia akan berusaha tetap bersikap tenang dengan apapun yang akan diketahuinya hari ini.
"Sungguh sebuah kejutan, Bi.", kata Robert yang selalu ceria. "Tempat ini dipenuhi dengan para lelaki. Dan anda berani datang kemari sendirian. Dimana Rein ? Kenapa dia tidak menemani anda ?"
"...!"
"Baiklah. Sebaiknya kita duduk di sana saja.", usulnya.
Robert membawa Nyonya Chaterine duduk di kursi di depan gudang. Pemuda itu memberikan segelas teh pada tamunya. "Rasanya memang tidak senikmat yang biasa kalian minum. Tapi di sini hanya ada satu macam teh."
Nyonya Chaterine tersenyum. "Terimakasih."
"Jadi...ada apa bibi mencari ku ?"
"Selamat atas kelahiran bayi mu, Robert."
"Terimakasih, Bi.", ucap Robert. "Rein bersedia menjadi ayah baptis putri ku. Apa dia sudah memberitahu bibi ?"
Chaterine berusaha tetap tenang. "Belum.", jawabnya.
"Orang itu... ", Robert menghela napas sambil menggeleng.
"Kapan pertama kali kau bertemu lagi dengannya sejak kami pergi, Robert ?"
Robert melihat ke langit sambil berpikir-pikir. "Umm...kira-kira seminggu sebelum pernikahannya. Kebetulan aku sedang mencari pekerjaan baru di pabriknya dan Rein sedang berada di sana.", jelasnya. "Aku hampir tidak percaya melihatnya yang sekarang."
"Apa saja yang diceritakan pada mu ?"
Robert melihat wanita itu dengan penuh pertanyaan. "Ada apa, Bi ?"
"Pernahkah dia bercerita tentang ibunya ?", Chaterine terus mendesak.
"Ya.", jawabnya. "Terkadang.", tambahnya. "Dia bilang butuh proses yang sulit mendapatkan restu pernikahan dari ibunya walaupun pada akhirnya dia berhasil. Dia mengundang ku, tapi aku menolak untuk hadir. Kami hanyalah orang rendah, karena itu aku hanya mampu memberinya doa."
"Jadi itu maksudnya meminta ku hadir di gereja.", pikir Chaterine.
"Tapi ku rasa Rein tidak salah pilih. Istrinya cantik dan lembut. Dan aku tidak pernah mendengar keluhan tentang istrinya."
Chaterine berusaha tersenyum. "Kau benar."
Tuan Jovant sedang membaca koran di kamarnya ketika Chaterine masuk. "Ada apa dengan mu, Chaterine ?", tanyanya yang masih menyibukkan diri membaca. Ia menyadari raut wajah putrinya yang sedih. "Akan lebih baik kau tidak memikirkan masalah Richard. Setelah ku pikirkan, dengan bantuan Tuan Muda Verentsille, Richard pasti akan berhasil membangun usahanya."
"Kenapa ayah begitu mempercayai Tuan Muda Verentsille ?"
"Aku tidak mengerti maksud mu."
"Aku tidak mengerti kenapa pemuda itu dengan mudahnya menyanggupi permintaan Richard."
Tuan Jovant meletakkan surat kabarnya. "Itu wajar saja, bukan ? Richard adalah adik iparnya. Membantu Richard berarti membantu adik perempuannya."
"Bukan itu maksud ku, Ayah."
Tuan Jovant menyadari ada sesuatu yang mulai disadari putrinya, atau bahkan putrinya telah mengetahui kebenarannya. Tapi tidak mungkin Rein sendiri yang memberitahunya. Pemuda itu pernah menolak memberitahu ibunya, pikir orang tua itu. "Jadi apa yang mengganggu pikiran mu, Chaterine ?", tanyanya.
"..."
"Kau tidak mempercayainya ?"
"... bukan begitu.", jawab Chaterine. "...yang kalian panggil Tuan Muda Verentsille...adalah putra ku. Kakak kandung Richard."
Tuan Jovant terdiam. Kemudian ia berdiri dan melihat keluar jendela sambil membelakangkan kedua tangannya. "Siapa yang memberitahu mu?
Chaterine melihat keanehan pada sikap orang tua itu. "Ayah ?", sebutnya. "Jangan katakan kalau ayah telah mengetahuinya."
Tuan Jovant berpikir bahwa sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi dari putrinya. "..."
"Sejak kapan, Ayah ? Siapa saja yang tahu hal ini ?"
"Semua.", jawab Tuan Jovant. "Semuanya kecuali kau, Chaterine."
"... ! Kalian semua keterlaluan !" Wanita itu meninggalkan kamar ayahnya.
Rein membawa satu buket mawar putih untuk diletakkan di depan batu nisan pamannya. Ia berhenti melangkah ketika melihat ibunya yang juga sama terkejutnya.
"Nyonya Chaterine.", sebutnya. Ia melihat ke tanah dan berusaha tersenyum seperti biasa. Kemudian ia kembali melangkah mendekati ibunya. "Saya dengar dari Richard kalau anda sudah sehat. Syukurlah."
"..."
Rein melihat nisan sang paman yang didepannya diletakkan bunga. "Keluarga anda, Nyonya ?"
Chaterine berbalik kembali ke arah nisan adiknya. "Saya sedang bertanya kepada adik ku.", katanya. "Kesalahan apa yang telah kulakukan hingga putra ku menolak mengakui ku ?"
"... !"
Chaterine menghela napas. Matanya mulai berair dan ia mengusapnya. "Bagaimana caranya agar dia bersedia memaafkan ku ?" Wanita berambut pirang itu berbalik menghadap putranya. "Apakah anda bisa membantu saya, Tuan Muda Verentsille ?"
Rein menatap mata ibunya dengan penuh rasa bersalah. "... Ibu.", panggilnya. "Maafkan saya."
"..."
Pemuda itu memeluk erat ibunya. "Saya minta maaf, Ibu.", katanya. "Ibu tidak melakukan kesalahan apa pun.", ia berkata dengan suara bergetar. "Saya sangat menyayangi ibu, selalu merindukan ibu. Selalu berharap suatu hari nanti dapat kembali memanggil mu ibu."
"Lalu kenapa ...Rein."
Pemuda itu menggeleng tanpa melepaskan pelukannya. "Selamanya saya tetap putra ibu.", katanya. "Selamanya juga saya adalah putra Tuan Verentsille."
Chaterine melepaskan pelukan dan memegang kedua pundak putranya. Tatapan matanya meminta penjelasan.
"Ayah angkat ku akan sendirian bila saya pergi. Ayah telah banyak menolong ku.", katanya. "Saya tidak bisa seperti Richard yang dapat selalu menemani ibu." Ia membisu sejenak dan tersenyum. "Karena itulah saya tidak bisa mengatakan pada mu juga melarang yang lainnya memberitahu ibu. Saya mohon agar ibu mengerti." Kemudian pemuda itu menghampiri makam pamannya dan meletakkan bunga yang dibawa. "Paman Carlfred.", panggilnya. "Tidak pernah terpikir oleh ku semuanya akan terungkap di hadapan paman."
"Rein."
"Bagaimana kalau kita bicara di suatu tempat, Ibu?"
Ibu dan Anak itu mengunjungi Hyde Park. Mereka duduk di kursi dekat danau seperti sebelumnya.
"Lalu kenapa kau tidak kembali, Rein ?"
Rein terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apapun mengenai Andrew. "Mengenai itu ... sebaiknya kita lewatkan saja, Ibu."
"Katakan pada ibu apa yang terjadi ?", tanya sang ibu dengan tegas.
"..."
"Karena Andrew kah ?", terka nya.
Rein terkejut memandang ibunya.
"Ternyata memang benar.", kata Chaterine. "Ibu tidak tahu kenapa dia begitu membenci ayah mu. Andrew selalu mempersulitnya. Selalu mencari kesalahannya."
Rein mencoba tersenyum. "Dulu banyak orang yang bilang wajah saya mirip ayah. Ibu juga pernah mengatakan itu."
Chaterine menyadarinya.
"Jangan bertengkar dengan paman, Ibu."
"..."
"Akan sulit bagi kakek dan yang lainnya nanti.", jelasnya. "Beranggapanlah ibu tidak mengetahui tentang paman."
Chaterine menghela napas lalu mengangguk dengan terpaksa.
"Terimakasih, Ibu."
Rein mengantar ibunya pulang dan setelah itu langsung pamit. Ia pulang dengan perasaan lega dan tidak mampu membendung kebahagiaannya sehingga Tuan Verentsille dan Clara menyadari sesuatu telah terjadi. Rein menceritakan semuanya pada mereka saat makan malam.
Chaterine datang bertamu pada Tuan Verentsille pada saat Rein sedang bekerja di perusahaan. Ketika Clara hendak meninggalkan keduanya, ia diminta untuk tinggal oleh Chaterine.
"Apa yang membuat anda berkunjung kemari, Nyonya Chaterine ?", tanya lelaki tua itu.
Chaterine tersenyum berusaha memilah kata-kata yang tepat dalam benaknya. "Rein sudah menceritakan semuanya pada ku. Saya datang untuk berterimakasih pada anda, Tuan Verentsille. Anda sudah begitu baik merawat putra sulung ku bahkan mengangkatnya menjadi putra anda."
Tuan Verentsille tertawa kecil. "Anda melahirkan seorang putra yang sangat baik. Sudah sepantasnya saya membantunya."
Chaterine tersenyum menunduk.
"Anda ingin mengajaknya tinggal di kediaman keluarga Jovant ?"
Clara terkejut dan menoleh pada ayah mertuanya.
"Itu adalah hal yang mustahil. Rein tidak ingin meninggalkan anda.", jawab Chaterine. "Tapi saya menerima itu."
"Anda dapat datang kapan pun yang anda inginkan, Nyonya Chaterine."
"Terimakasih, Tuan Verentsille."
Clara merasa lega dengan percakapan kedua orang itu. "Saya ... boleh memanggil anda ibu sekarang ?"
Chaterine tersenyum senang. "Tentu saja, Clara menantu ku."
Wanita muda itu juga tersenyum senang. "Ibu.", sebutnya.
Senyuman memudar dari wajah Chaterine. "Saya adalah ibunya, tapi saya tidak mengetahui apapun tentangnya."
"Rein yang selama ini anda kenal itulah putra mu, Nyonya Chaterine. Dia tidaklah berbeda dari sejak aku bertemu dengannya.", kata Tuan Verentsille.
"Ayah benar, Ibu. Walaupun saya tidak mengenalnya sejak kecil, namun suami ku itu tidak berubah sedikit pun sejak pertama kali saya mengenalnya sampai sekarang."
Akhirnya wanita itu kembali tersenyum.
Rein memainkan piano sementara Clara merajut dan Tuan Verentsille asyik membaca buku. Mereka melewatkan waktu bersama di ruang keluarga pada hari Minggu sepulang dari gereja.
Pemuda itu menghentikan permainannya setelah Molly menyampaikan pesan. Ia bergegas ke ruang tengah menerima telepon dan bercakap selama beberapa menit. Setelah itu Rein kembali ke ruang keluarga.
"Siapa yang mencari mu ?", tanya Clara.
"Derik.", jawabnya. "Orang yang ku utus ke New York mencari Eruna."
"Bagaimana hasilnya ?"
Rein menggeleng. "..."
"Sudah tiga bulan sejak kau mengirimnya.", kata Clara.
Rein duduk di sebelah istrinya tanpa menanggapi apa pun.
"Tidak semudah itu menemukan satu orang dari sekian banyak orang. Lagipula mungkin saja gadis itu sudah tidak berada di New York.", kata Tuan Verentaille.
"Perkataan ayah mungkin benar.", kata Rein. "Ini akan sulit dan membutuhkan waktu."
Clara memegang tangan suaminya. "Bagaimana bila besok kita mengundang keluarga Jovant makan malam di sini ?", usulnya.
"Ide bagus, Clara.", puji sang ayah mertua.
Sejak pagi Clara dan para pelayan telah sibuk mempersiapkan jamuan makan malam yang diusulkannya. Ia mempersiapkan diri agar tampil secantik mungkin sebagai Nyonya Muda Verentsille. Hari itu Rein sengaja pulang lebih awal. Ia istirahat di kamar untuk beberapa saat sebelum bersiap-siap menyambut ibunya.
"Kau sudah merasa lebih baik, Sayang?", tanya Clara sembari membantunya memakaikan jas.
"Ya. Tapi aku tidak bisa makan banyak malam ini."
"Kau sakit ?", tanyanya cemas.
Rein menggeleng. "Hanya tidak ada nafsu makan."
Clara tersenyum dan kembali merapikan pakaian suaminya. "Sayang, aku tahu kau sibuk. Tapi aku ingin meminta waktu mu sedikit."
"Ada apa, Clara ?", tanya Rein. "Katakanlah."
"Saat ini aku tahu kau sedang sibuk berusaha memikirkan cara menemukan sepupu mu dan juga pekerjaan. Aku harap kau juga bisa memberikan waktu mu membantu ku memikirkan nama-nama anak."
"Ya, akan kucoba..." Lelaki tersebut terdiam. "Clara, kau..."
Sang istri tersenyum dan meletakkan tangan suaminya pada perutnya.
"Ohhh...!", sang suami memeluk istrinya dengan luapan emosi kebahagiaan. "Katakan ini bukan mimpi, Clara."
"Kau akan menjadi ayah, Suamiku. Dan kau tidak sedang bermimpi."
Rein menatap istrinya dan menyentuh perutnya. "Kapan kau mengetahuinya, Clara ?"
"Sebenarnya sudah sejak tiga hari yang lalu. Tapi melihatmu begitu sibuk dan mencemaskan keberadaan Eruna, aku jadi tidak ingin memberitahumu dulu."
"Clara, kau seharusnya memberitahu ku. Betapa bahagianya aku mendapat berita ini. "
"Maaf."
"Sudah. Tidak apa-apa. Yang penting kau harus lebih menjaga kesehatan mu, Clara."
Clara mengangguk. Ia menunduk malu karena terus ditatapi suaminya. "Ada apa, Rein ?"
"Aku masih belum bisa mempercayainya.", katanya yang masih diliputi kebahagiaan. "Aku akan menjadi ayah." Ia kembali memeluk istrinya.
"..."
"Kau sudah memberitahu ayah ?"
Clara menggeleng. "Aku ingin kau lah yang pertama kuberitahu."
"Terimakasih, Clara. Aku sangat bahagia.", katanya. "Kita akan memberitahu mereka saat makan malam."
"Iya." jawab Clara yang tidak pernah menduga akan reaksi sang suami yang begitu bahagia mengetahui tentang kehamilannya. Ia melihat reaksi kebahagiaan yang belum pernah dilihatnya. Yang ia ketahui adalah suaminya selalu bisa mengendalikan emosi dan tersenyum padanya. Inilah pertama kalinya ia melihat sang suami tertawa. Padahal tidak pernah lelaki itu mengatakan begitu mengharapkan menjadi seorang ayah. Adapun yang pernah dikatakannya adalah 'lahirkanlah anak-anak yang sehat untuk ku', namun perkataan itu dianggap sebagai kata-kata untuk menghibur sang istri setelah melihat kemenakannya lahir dan desakan dari sang mertua. Ia melewati kehidupan pernikahan mereka tanpa menuntut apa pun dari sang istri.
Rein membawa satu buket mawar putih untuk diletakkan di depan batu nisan pamannya. Ia berhenti melangkah ketika melihat ibunya yang juga sama terkejutnya.
"Nyonya Chaterine.", sebutnya. Ia melihat ke tanah dan berusaha tersenyum seperti biasa. Kemudian ia kembali melangkah mendekati ibunya. "Saya dengar dari Richard kalau anda sudah sehat. Syukurlah."
"..."
Rein melihat nisan sang paman yang didepannya diletakkan bunga. "Keluarga anda, Nyonya ?"
Chaterine berbalik kembali ke arah nisan adiknya. "Saya sedang bertanya kepada adik ku.", katanya. "Kesalahan apa yang telah kulakukan hingga putra ku menolak mengakui ku ?"
"... !"
Chaterine menghela napas. Matanya mulai berair dan ia mengusapnya. "Bagaimana caranya agar dia bersedia memaafkan ku ?" Wanita berambut pirang itu berbalik menghadap putranya. "Apakah anda bisa membantu saya, Tuan Muda Verentsille ?"
Rein menatap mata ibunya dengan penuh rasa bersalah. "... Ibu.", panggilnya. "Maafkan saya."
"..."
Pemuda itu memeluk erat ibunya. "Saya minta maaf, Ibu.", katanya. "Ibu tidak melakukan kesalahan apa pun.", ia berkata dengan suara bergetar. "Saya sangat menyayangi ibu, selalu merindukan ibu. Selalu berharap suatu hari nanti dapat kembali memanggil mu ibu."
"Lalu kenapa ...Rein."
Pemuda itu menggeleng tanpa melepaskan pelukannya. "Selamanya saya tetap putra ibu.", katanya. "Selamanya juga saya adalah putra Tuan Verentsille."
Chaterine melepaskan pelukan dan memegang kedua pundak putranya. Tatapan matanya meminta penjelasan.
"Ayah angkat ku akan sendirian bila saya pergi. Ayah telah banyak menolong ku.", katanya. "Saya tidak bisa seperti Richard yang dapat selalu menemani ibu." Ia membisu sejenak dan tersenyum. "Karena itulah saya tidak bisa mengatakan pada mu juga melarang yang lainnya memberitahu ibu. Saya mohon agar ibu mengerti." Kemudian pemuda itu menghampiri makam pamannya dan meletakkan bunga yang dibawa. "Paman Carlfred.", panggilnya. "Tidak pernah terpikir oleh ku semuanya akan terungkap di hadapan paman."
"Rein."
"Bagaimana kalau kita bicara di suatu tempat, Ibu?"
Ibu dan Anak itu mengunjungi Hyde Park. Mereka duduk di kursi dekat danau seperti sebelumnya.
"Lalu kenapa kau tidak kembali, Rein ?"
Rein terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apapun mengenai Andrew. "Mengenai itu ... sebaiknya kita lewatkan saja, Ibu."
"Katakan pada ibu apa yang terjadi ?", tanya sang ibu dengan tegas.
"..."
"Karena Andrew kah ?", terka nya.
Rein terkejut memandang ibunya.
"Ternyata memang benar.", kata Chaterine. "Ibu tidak tahu kenapa dia begitu membenci ayah mu. Andrew selalu mempersulitnya. Selalu mencari kesalahannya."
Rein mencoba tersenyum. "Dulu banyak orang yang bilang wajah saya mirip ayah. Ibu juga pernah mengatakan itu."
Chaterine menyadarinya.
"Jangan bertengkar dengan paman, Ibu."
"..."
"Akan sulit bagi kakek dan yang lainnya nanti.", jelasnya. "Beranggapanlah ibu tidak mengetahui tentang paman."
Chaterine menghela napas lalu mengangguk dengan terpaksa.
"Terimakasih, Ibu."
Rein mengantar ibunya pulang dan setelah itu langsung pamit. Ia pulang dengan perasaan lega dan tidak mampu membendung kebahagiaannya sehingga Tuan Verentsille dan Clara menyadari sesuatu telah terjadi. Rein menceritakan semuanya pada mereka saat makan malam.
Chaterine datang bertamu pada Tuan Verentsille pada saat Rein sedang bekerja di perusahaan. Ketika Clara hendak meninggalkan keduanya, ia diminta untuk tinggal oleh Chaterine.
"Apa yang membuat anda berkunjung kemari, Nyonya Chaterine ?", tanya lelaki tua itu.
Chaterine tersenyum berusaha memilah kata-kata yang tepat dalam benaknya. "Rein sudah menceritakan semuanya pada ku. Saya datang untuk berterimakasih pada anda, Tuan Verentsille. Anda sudah begitu baik merawat putra sulung ku bahkan mengangkatnya menjadi putra anda."
Tuan Verentsille tertawa kecil. "Anda melahirkan seorang putra yang sangat baik. Sudah sepantasnya saya membantunya."
Chaterine tersenyum menunduk.
"Anda ingin mengajaknya tinggal di kediaman keluarga Jovant ?"
Clara terkejut dan menoleh pada ayah mertuanya.
"Itu adalah hal yang mustahil. Rein tidak ingin meninggalkan anda.", jawab Chaterine. "Tapi saya menerima itu."
"Anda dapat datang kapan pun yang anda inginkan, Nyonya Chaterine."
"Terimakasih, Tuan Verentsille."
Clara merasa lega dengan percakapan kedua orang itu. "Saya ... boleh memanggil anda ibu sekarang ?"
Chaterine tersenyum senang. "Tentu saja, Clara menantu ku."
Wanita muda itu juga tersenyum senang. "Ibu.", sebutnya.
Senyuman memudar dari wajah Chaterine. "Saya adalah ibunya, tapi saya tidak mengetahui apapun tentangnya."
"Rein yang selama ini anda kenal itulah putra mu, Nyonya Chaterine. Dia tidaklah berbeda dari sejak aku bertemu dengannya.", kata Tuan Verentsille.
"Ayah benar, Ibu. Walaupun saya tidak mengenalnya sejak kecil, namun suami ku itu tidak berubah sedikit pun sejak pertama kali saya mengenalnya sampai sekarang."
Akhirnya wanita itu kembali tersenyum.
Rein memainkan piano sementara Clara merajut dan Tuan Verentsille asyik membaca buku. Mereka melewatkan waktu bersama di ruang keluarga pada hari Minggu sepulang dari gereja.
Pemuda itu menghentikan permainannya setelah Molly menyampaikan pesan. Ia bergegas ke ruang tengah menerima telepon dan bercakap selama beberapa menit. Setelah itu Rein kembali ke ruang keluarga.
"Siapa yang mencari mu ?", tanya Clara.
"Derik.", jawabnya. "Orang yang ku utus ke New York mencari Eruna."
"Bagaimana hasilnya ?"
Rein menggeleng. "..."
"Sudah tiga bulan sejak kau mengirimnya.", kata Clara.
Rein duduk di sebelah istrinya tanpa menanggapi apa pun.
"Tidak semudah itu menemukan satu orang dari sekian banyak orang. Lagipula mungkin saja gadis itu sudah tidak berada di New York.", kata Tuan Verentaille.
"Perkataan ayah mungkin benar.", kata Rein. "Ini akan sulit dan membutuhkan waktu."
Clara memegang tangan suaminya. "Bagaimana bila besok kita mengundang keluarga Jovant makan malam di sini ?", usulnya.
"Ide bagus, Clara.", puji sang ayah mertua.
Sejak pagi Clara dan para pelayan telah sibuk mempersiapkan jamuan makan malam yang diusulkannya. Ia mempersiapkan diri agar tampil secantik mungkin sebagai Nyonya Muda Verentsille. Hari itu Rein sengaja pulang lebih awal. Ia istirahat di kamar untuk beberapa saat sebelum bersiap-siap menyambut ibunya.
"Kau sudah merasa lebih baik, Sayang?", tanya Clara sembari membantunya memakaikan jas.
"Ya. Tapi aku tidak bisa makan banyak malam ini."
"Kau sakit ?", tanyanya cemas.
Rein menggeleng. "Hanya tidak ada nafsu makan."
Clara tersenyum dan kembali merapikan pakaian suaminya. "Sayang, aku tahu kau sibuk. Tapi aku ingin meminta waktu mu sedikit."
"Ada apa, Clara ?", tanya Rein. "Katakanlah."
"Saat ini aku tahu kau sedang sibuk berusaha memikirkan cara menemukan sepupu mu dan juga pekerjaan. Aku harap kau juga bisa memberikan waktu mu membantu ku memikirkan nama-nama anak."
"Ya, akan kucoba..." Lelaki tersebut terdiam. "Clara, kau..."
Sang istri tersenyum dan meletakkan tangan suaminya pada perutnya.
"Ohhh...!", sang suami memeluk istrinya dengan luapan emosi kebahagiaan. "Katakan ini bukan mimpi, Clara."
"Kau akan menjadi ayah, Suamiku. Dan kau tidak sedang bermimpi."
Rein menatap istrinya dan menyentuh perutnya. "Kapan kau mengetahuinya, Clara ?"
"Sebenarnya sudah sejak tiga hari yang lalu. Tapi melihatmu begitu sibuk dan mencemaskan keberadaan Eruna, aku jadi tidak ingin memberitahumu dulu."
"Clara, kau seharusnya memberitahu ku. Betapa bahagianya aku mendapat berita ini. "
"Maaf."
"Sudah. Tidak apa-apa. Yang penting kau harus lebih menjaga kesehatan mu, Clara."
Clara mengangguk. Ia menunduk malu karena terus ditatapi suaminya. "Ada apa, Rein ?"
"Aku masih belum bisa mempercayainya.", katanya yang masih diliputi kebahagiaan. "Aku akan menjadi ayah." Ia kembali memeluk istrinya.
"..."
"Kau sudah memberitahu ayah ?"
Clara menggeleng. "Aku ingin kau lah yang pertama kuberitahu."
"Terimakasih, Clara. Aku sangat bahagia.", katanya. "Kita akan memberitahu mereka saat makan malam."
"Iya." jawab Clara yang tidak pernah menduga akan reaksi sang suami yang begitu bahagia mengetahui tentang kehamilannya. Ia melihat reaksi kebahagiaan yang belum pernah dilihatnya. Yang ia ketahui adalah suaminya selalu bisa mengendalikan emosi dan tersenyum padanya. Inilah pertama kalinya ia melihat sang suami tertawa. Padahal tidak pernah lelaki itu mengatakan begitu mengharapkan menjadi seorang ayah. Adapun yang pernah dikatakannya adalah 'lahirkanlah anak-anak yang sehat untuk ku', namun perkataan itu dianggap sebagai kata-kata untuk menghibur sang istri setelah melihat kemenakannya lahir dan desakan dari sang mertua. Ia melewati kehidupan pernikahan mereka tanpa menuntut apa pun dari sang istri.