Minggu, 31 Mei 2015

Ch 09

Tuan verentsille baru turun dari kamarnya ketika putri dan menantunya datang berkunjung. Orang tua itu mengajak mereka ke ruang makan, sambil menunggu Rein turun, Issabelle menceritakan tentang kejadian semalam. Keduanya khawatir dengan kondisi tubuh kakaknya.
"Kakakmu tidak menceritakan apapun tentang lukanya.", kata Tuan Verentsille. "Ayah sempat berpikir kalau kakakmu kelelahan setelah dua hari disibukkan mencari Nona Jovant dan akan telat sarapan pagi ini. Akan lebih baik kita ke kamarnya untuk memeriksa keadaannya sekarang."
"Maaf telah membuat kalian khawatir.", kata Rein ketika memasuki ruang makan.
Richard segera menarikkan kursi untuknya duduk. 
"Selamat pagi, Ayah, Richard, Issabelle."
"Bagaimana keadaanmu pagi ini?", tanya sang ayah.
Rein tersenyum. "Tentunya tidak separah yang dikatakan kedua adikku ini, Ayah.", sangkalnya. Rasa sakit pada lukanya masih sangat terasa pagi itu. Bahkan lebih parah dari semalam. Namun ia menutupinya dari semua orang.
"Kakak pikir kami akan percaya begitu saja ?", tanya Richard. 
Rein terdiam. 
"Kami sudah memanggil dokter.", kata Richard lagi.
"Kalian terlalu berlebihan. Ini hanya luka lebam, nanti juga akan sembuh."
Issabelle berjalan ke belakang kakaknya lalu menekan punggungnya. Rein bersuara kesakitan memegang pundaknya. "Padahal aku tidak menekannya dengan kuat tapi reaksi kakak sudah seperti itu. Apa perlu kucoba sekali lagi?"
"Cukup, Issabelle. Cukup.", kata Rein yang mencoba melindungi punggungnya. "Baiklah aku akan mendengarkan saran kalian.", ia menyerah.
"Bagus, Issabelle.", puji Richard.
"Sepertinya aku harus berbicara langsung dengan Clara mengenai kakak ku ini.", kata perempuan berambut pirang itu setelah kembali ke tempat duduknya.
"Kau mau mengatakan apa padanya?", tanya Rein curiga.
"Clara harus tahu cara mengatasi calon suaminya yang keras kepala ini."
"Aku setuju, Istriku.", kata Richard.
Tuan Verentsille ikut tersenyum. "Ayah mendukungmu, Putriku."
Rein terdiam, ia kalah suara untuk membela diri. Issabelle memang selalu unggul dalam hal mendesaknya melakukan sesuatu.

Dokter yang dipanggil Richard mulai memeriksa kondisi Rein. Pemuda itu tidak mampu bergerak cepat, terkendala oleh luka-luka di sekujur tubuhnya. Rein harus mengatakan ia menjadi korban perampokan ketika dokter menanyakan apa yang terjadi padanya. Kemudian Richard membantu kakaknya berbaring. Dokter meminta pasiennya itu istirahat total sampai lukanya sembuh. Ia dilarang keluar kamar atau berjalan jauh selama masa istirahat. Dokter juga memberikan resep obat untuk diminum tiga kali sehari selama satu bulan. Untuk sementara masalah pekerjaan akan diambil alih oleh Tuan Verentsille.
"Maaf, Ayah jadi harus mengurus pekerjaan saya.", kata Rein.
"Ini sama sekali tidak membebaniku, Rein.", kata sang ayah yang lalu menghela napas. "Tapi apa yang dilakukan Tuan Andrew padamu benar-benar sudah keterlaluan."
Rein berdiam diri. Saat ini yang ia pikirkan adalah bagaimana mengatakan pada Clara kalau ia tidak bisa menemuinya untuk sementara waktu.


Sudah satu minggu Clara tidak bertemu dengan calon suaminya. Tidak biasanya Rein tidak mengunjunginya selama satu minggu penuh. Pemuda itu bahkan tidak mengabarkan apapun padanya. Sekarang gadis itu mulai khawatir. Kedua orang tuanya sedang berada di luar kota menghadiri pesta pernikahan kerabatnya. Sedangkan kakaknya sibuk mengurus perusahaan dan kekasihnya. Ia sendirian di rumah. Rasa kesepian begitu terasa. Ketika Steven pulang, ia langsung menemuinya.
"Clara, bagaimana keadaan Tuan Verentsille ? Apa sudah lebih baik ?", tanya Josephine yang diundang makan malam oleh kekasihnya.
Clara menatap wanita itu dengan heran. "Maaf. Aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan, Josephine."
Sekarang giliran wanita itu yang heran. "Kau tidak tahu ? Kudengar dari ayahku kalau calon suami mu sedang terluka. Dokter memintanya istirahat total dan ayahnya yang menggantikannya mengurus perusahaan."
Clara terbelalak seraya menutup bibirnya. Ia tersentak berdiri.
"Kami tidak tahu mengenai itu.", kata Steven. "Tidak ada yang memberitahu kami."
"Aku harus menjenguknya.", kata Clara yang hendak meninggalkan ruang makan.
Steven segera menghentikan adiknya. "Sudah malam, Clara. Besok pagi aku akan mengantarmu ke sana."


Rein menyelesaikan sarapan dan meminum obat yang diantarkan Molly. Ia duduk di tempat tidurnya sambil menyandar pada tumpukan bantal. Ada beberapa buku yang diletakkan di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya. Ia menikmati sinar matahari yang masuk melalui jendela yang tepat berada di sisi kirinya. Tidak lama kemudian ia hampir tertidur ketika Molly mengantarkan Steven dan Clara ke kamarnya. Pemuda itu membuka matanya lalu menoleh ke arah pintu. Ia bergerak ingin bangun dari tempatnya ketika melihat mereka. Clara segera mendekat dan menahannya. "Tetaplah seperti ini, Rein. Jangan paksakan dirimu.", wanita itu berkata dengan lembut sambil memegang tangan kanannya.
"Bagaimana keadaanmu?", tanya Steven.
"Sudah lebih baik.", jawabnya. "Bagaimana kalian bisa tahu?"
Steven memperlihatkan wajah kesalnya. "Josephine.", jawabnya singkat.
"Maaf. Aku tidak memberitahu kalian."
"Tidak seharusnya kau menyembunyikan ini dari kami, Rein. Kami berhak dan harus mengetahuinya. Apa kau tidak kasihan pada adikku ?"
"Sudahlah, Kak!", tegur Clara.
"Maaf.", ucapnya lagi.
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak akan memaafkanmu bila ada lain kali."
Rein tersenyum. "Ya."
"Baiklah, aku titipkan adikku di sini. Nanti aku akan kembali menjemputnya."
Rein mengangguk.
Setelah Steven pergi, Rein menatap wajah Clara yang penuh kecemasan. "Jangan khawatir, Clara." Ia menyentuh wajahnya.
"Kau mengantuk ?"
Rein mengangguk. "Sepertinya ada kandungan obat tidur  pada obat ku."
Clara memberikan senyumnya. Ia tidak melepaskan tangan kekasihnya sejak berada di sisinya. "Tidurlah. Aku akan selalu berada di sini menemanimu."
Rein menyungging senyum lalu memejam. Satu hal yang wanita itu pelajari dari calon suaminya, bahwa pria yang akan menikahinya ini adalah seseorang yang selalu menyimpan semua hal buruk yang dialaminya.
Setelah Rein terlelap, Clara melihat beberapa foto yang terletak di atas meja kecil. Foto-foto Rein bersama ayah dan adiknya, lalu foto pernikahan kedua adiknya. Ia juga melihat buku-buku yang tertumpuk rapi. Dia pasti melewati waktu dengan membaca buku-buku ini, pikirnya. Kemudian wanita itu ingin mengetahui buku apa saja yang dibaca calon suaminya. Ada beberapa buku karya Sir Arthur Conan Doyle dan Oliver Twist oleh Charles Dickens. Clara mengambil salah satu buku karya Conan Doyle dan membacanya sambil duduk di kursi di sebelah tempat tidur.

Molly mengetuk pintu lalu masuk menyuguhkan teh dan sandwich untuk gadis itu. Lalu ia berdiri sejenak melihat tuan mudanya.
"Saya tidak akan bisa melihat wajah tidur Tuan Rein kalau dia tidak sedang sakit seperti ini.", kata Molly sambil tersenyum kagum.
"Maaf ?", kata Clara.
"Oh. Bukan berarti saya senang melihatnya sakit, Nona.", ia menjelaskan. "Nona Issabelle secara khusus meminta dokter memberikan obat tidur. Tentunya dengan dosis yang masih layak."
"Dari yang kau katakan, sepertinya tuan mu adalah orang yang sering memaksakan diri.", tebak Clara.
"Benar, Nona Clara.", tanggapnya. "Kalau bukan karena kecerdikan Nona Issabelle, saya yakin Tuan Rein saat ini sedang berada di pabrik." Wanita gemuk itu menghela napas. "Saya sangat berharap kelak Nona Clara dapat mengatasi kebiasaaan calon suami anda ini."
Clara tertawa kecil. "Kalau begitu aku harus belajar dari adiknya."
"Nona Issabelle pasti senang mengajari anda."
"Terimakasih sudah memberitahuku, Molly."
"Sama-sama, Nona Clara. Sekrang saya harus pergi.", pamitnya.
Clara duduk di pinggiran ranjang dan memegang tangan kanan Rein. Ia perhatikan ada air mata yang menggenang di kedua sudut matanya yang terpejam. Selain itu ia merasakan tangan Rein menggenggam tangannya dan mulai bergerak gelisah. Clara mencoba menenangkannya. Ia mengusap kepalanya yang berkeringat dengan sapu tangan. Rein terbangun duduk dengan napas kuat. Ia menopang keningnya dengan tangan kiri.
"Kau mimpi buruk.", kata Clara.
Rein baru menyadari kehadiran wanita itu. "Clara.", sebutnya.
Wanita itu menuangkan teh untuknya.
"Terimakasih." Ia meminum tehnya.
"Merasa lebih baik, Rein ?"
Pemuda itu menjawabnya dengan mengangguk. "Sejak tadi kau menjagaku ?"
Clara tersenyum. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Aku ingin merawatmu, Rein."
"Terimakasih, Clara. Itulah kenapa aku tidak ingin memberitahumu. Kau pasti akan melakukan ini."
"Apa kau tidak suka ?"
Rein tersenyum menggeleng. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula hari ini aku merasa sudah jauh lebih baik."
"Kalau kau menginginkannya, aku akan berhenti merawatmu."
Rein tertawa kecil sambil menunduk. "Aku tidak akan melarangmu, Clara.", katanya. "Kau boleh datang kapan pun kau mau. Dan aku akan selalu menantikannya."
Clara tersenyum senang lalu beranjak mendekati meja. "Kau sudah tidur dua jam, Rein. Dan aku yakin kau lapar. Molly membuatkan sandwich untukku. Kita makan bersama ya."
Rein berguman setuju, ia menyusun bantal untuk disandari.
"Lagi-lagi kau melakukannya.", kata Clara yang mendekatinya. Ia menyusun bantal-bantal itu lalu membantunya mundur untuk menyandar. "Mintalah padaku untuk melakukannya. Aku ingin bisa berguna untukmu, Rein. Kurang dari dua bulan lagi aku akan menjadi istrimu."
"Clara.", lelaki itu menyebut namanya.
Clara memberikan satu potong sandwich untuknya. Mereka bersama-sama menikmati roti isi buatan Molly sambil mengobrol.
"Aku tidak tahu kau suka membaca karya fiksi, Rein."
Pemuda itu melihat pada tumpukan buku di meja lalu tersenyum lucu. "Bukan karena aku menyukainya. Aku minta diantarkan buku non-fiksi. Tapi Issabellle malah memberikanku bacaan itu."
Clara tertawa. "Lalu kau membacanya ?"
Rein mengangguk. "Aku juga membaca koran yang diantar Molly.", tambahnya.
"Cerita Sherlock Holmes sangat menarik. Tadi aku membacanya selagi kau tidur."
"Ya, aku sependapat denganmu.", katanya. "Bila kau ingin membacanya, kau bisa membawanya pulang, Clara."
"Aku akan baca di sini."
Pemuda itu menatapnya. "Begitu."
Clara memberinya minum. "Mau sandwichnya lagi?"
"Tidak, terimakasih.", tolaknya. Rein menurunkan kakinya ke lantai.
"Kau mau kemana, Rein? Kalau butuh sesuatu katakan saja padaku."
"Aku tahu, Clara.", kata lelaki yang selalu tersenyum ramah itu. "Tapi kau tidak mungkin menemaiku sampai ke kamar mandi bukan?"
Clara segera tertunduk malu. Wajahnya merona.
Dengan pelan pemuda itu berdiri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya memang sudah tidak separah seminggu yang lalu, namun tetap saja ia belum bisa bergerak dengan cepat layaknya orang sehat. Ia masih harus berpegangan pada sesuatu untuk berjalan.
"Akan kupanggilkan seseorang untuk membantumu."
"Tidak, Clara.", tolaknya. "Aku harus latihan. Berbaring terus membuat tubuhku pegal dan kepalaku pusing. Aku akan mencoba sendiri."
Clara mengulurkan tangannya untuk menjadi penopang. "Kalau begitu berpeganganlah pada tanganku. Aku akan mengantarmu, jangan khawatir, aku akan menunggu di luar pintu."
Rein menerima bantuan yang ditawarkan.
Tuan Jovant beserta Chaterine dan Issabelle datang menjenguk Rein. Mereka masuk ke kamarnya ketika Clara tengah menopangnya menuju ke ranjang.
"Clara, mari perkenalkan. Beliau adalah Tuan Jovant dan putrinya, Nyonya Chaterine, lalu ini adikku Issabelle.", kata Rein setelah duduk kembali di ranjang. "Dan ini adalah Nona Danforth, calon istri saya."
Clara memberi salam pada mereka.
"Kakak sudah pernah memperkenalkanku pada Nona Danforth.", kata Issabelle.
"Benarkah ?", tanya Rein.
Clara mempersilahkan mereka duduk.
"Nona Danforth, ayo kita bicara di bawah.", ajak Issabelle.
"Tapi...", gadis itu menoleh pada kekasihnya.
"Pergilah, Clara.", kata Rein.
Kedua wanita itu pun turun dan duduk di taman.
Molly mengantarkan teh dan kue-kue kering untuk tamu.
"Bagaimana kondisimu, Tuan Verentsille ?", tanya Chaterine.
"Sudah lebih baik, Nyonya. Terimakasih sudah datang menjengukku."
"Seharusnya orang tua ini yang berterimakasih padamu. Sebenarnya bisa saja kau melaporkan Andrew pada polisi atas penganiayaan ini. Tapi tidak kau lakukan."
"Ini adalah masalah keluarga, Tuan Jovant."
"Nona Danforth tidak mengetahui masalah ini ?", tanya Chaterine.
"Tidak, Nyonya."
"Dia gadis yang baik dan lembut. Anda pasti akan bahagia bersamanya."
"Terimakasih, Nyonya Chaterine."
"Sejak hari itu, Andrew menyuruh orang mencarinya."
"Katakanlah padanya, Tuan. Pencariannya hanya akan sia-sia. Dan berikan putrinya waktu untuk menenangkan diri."
"Sudah kukatakan padanya. Tapi putraku yang satu itu sangat keras."
Tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat.
Rein bersuara memecah keheningan. "Silahkan diminum tehnya.", katanya.
"Oh. Kau benar." Nyonya Chaterine menanggapi. "Sejak tadi membicarakan hal serius sampai lupa minum."
Kedua orang tersebut menikmati teh dan kue kecil yang disajikan.

"Issabelle, aku tahu ini sedikit kasar. Tapi aku ingin tahu tentang kakakmu lebih banyak.", kata Clara.
"Sejauh kau mengenal kakakku, apa saja yang kau ketahui tentangnya?"
"Seperti yang banyak orang katakan, Rein sangat ramah dan perhatian. Dan baru hari ini aku tahu dia tidak suka membebani orang. Bagiku itu adalah keburukannya. Aku ingin berguna untuknya. Aku ingin dia membutuhkanku."
"Kalau begitu buatlah kakakku membutuhkanmu."
Clara menatapnya. "Bagaimana caranya ?"
Issabelle meneguk tehnya. "Kakakku terlalu serius dan keras pada diri sendiri. Kau harus menemukan celah pada dirinya. Walaupun aku bilang kakakku keras, tapi sebenarnya dia sangat rapuh. Apa kau mengerti maksudku, Clara ?"
Clara mengangguk mengerti. "Aku akan berusaha.", katanya. "Lalu...satu hal lagi.", ia berkata dengan ragu.
"Ya?"
"Saya dengar, dulu Rein sempat dekat dengan Nona Jovant."
Issabelle menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Apakah dia pernah membutuhkannya?"
"Kurasa lebih penting bagimu untuk berusaha menjadi orang yang dibutuhkan kakakku. Itulah yang terpenting saat ini."
Clara berdiam diri. Ia menyadari masa lalu itu bukanlah sesuatu yang pantas ditanyakan. Setiap orang pasti memiliki rahasianya tersendiri. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak lagi menanyakan hal itu di kemudian hari.

"Sudah saatnya pulang, Adikku.", kata Steven yang sore itu datang menjemput.
Clara merasa berat meninggalkan Rein sendirian. "Kakak, bolehkah aku pulang setelah makan malam ?"
Steven menoleh pada Rein. "Lihatlah adikku. Kurasa semakin cepat kalian menikah akan semakin baik."
Rein tertawa. "Aku tahu kau mengkhawatirkan ku sendirian di sini, Clara. Percayalah, Molly sangat sering masuk kemari memeriksa keadaanku dan apa yang kubutuhkan."
Clara masih menunduk membisu.
"Hari ini kau merawatku seharian. Aku tidak ingin kau kelelahan dan sakit."
"..."
Rein memegang tangan wanita itu. "Dan aku akan menunggumu besok."
Clara tersenyum senang.
"Kau dengar itu, Adikku sayang ?"
"Kalau begitu sampai bertemu besok, Rein."
Rein mengagguk. "Aku akan menantikanmu.", katanya yang lalu mengecup punggung tangan calon istrinya.


~  ●  ~








Sabtu, 30 Mei 2015

Ch 08

Rein meletakkan peralatan makan dan menopang pelipisnya dengan tangan kiri.
"Apa kalian yakin dia kabur?", tanya Tuan Verentsille.
Richard mengeluarkan sepucuk surat. "Kami menemukan ini di kamarnya."
Tuan Verentsille mengambil surat itu dan membacanya. Setelah itu ia menoleh pada putra angkatnya yang sedaritadi tidak mengatakan apapun.
"Bagaimana Paman Andrew?", tanya Rein dengan mata yang masih memejam.
"Paman sedang berada di York dan kami belum menghubunginya. Dalam beberapa hari ini Paman akan pulang."
"..."
"Pikirkanlah sesuatu, Kak. Mungkin kakak bisa menebak kemana Eruna pergi."
"Aku tidak tahu.", kata Rein. Ia menurunkan tangannya dan menatap Richard dengan wajah lelah.
"Apa sebaiknya kau bantu mereka mencarinya, Rein?", usul Tuan Verentsille.
"Kemana aku harus mencarinya, Ayah ?"
"Dimanapun yang terpikirkan olehmu.", jawab lelaki tua itu. "Pergilah."


Richard dan Rein mencari sepupu mereka secara terpisah, mereka membagi wilayah pencarian. Barat dan timur. Rein mencarinya di wilayah barat dimulai dari gereja, restoran, taman, hotel, tea house, dan tempat-tempat lainnya yang mungkin Eruna kunjungi. Berbekal foto, mereka bertanya pada orang-orang yang ditemui di sekitar tempat pencarian. 
Mereka tidak menemukannya di hari pertama pencarian. Kakak beradik itu bahkan mengabaikan pekerjaannya di kantor. Rein mulai merasa kelelahan setelah dua hari pencarian dan istirahat yang sedikit. Ia terus berusaha berpikir dimana lagi kemungkinan gadis itu berada. Akhirnya kata 'pelabuhan' terlintas dalam pikirannya. Ia segera menuju ke sana dan menunjukkan foto Eruna pada penjaga loket. Tepat sekali dugaannya, gadis itu akan berlayar ke New York sore ini. Sekrang yang menjadi kendala pemuda itu adalah bagaimana menemukannya di antara lautan manusia sebanyak ini. Namun ia tetap berusaha menemukannya, melihat ke segala arah.

Jembatan kayu, tempat para penumpang melintas memasuki kapal berada tidak jauh dari tempat Rein berdiri. Ia memutuskan untuk berdiri di dekat jembatan itu dan mengawasi para penumpang yang akan melintas. Tempat itu lebih menyesakkan juga panas, berkali-kali ia mengusap keringat di kepalanya. Lalu setelah sekian lama menunggu, ia menemukannya ! Rein berhasil menarik tangan Eruna dan mencegahnya. "Jangan pergi.", katanya dengan napas sedikit tersenggal karena panas dan lelah.
Gadis itu hanya menatapnya dengan mata berkaca.
"Pulanglah, Eruna.", bujuknya. "Mereka menantimu."
Kemudian wanita itu menunduk melihat tangannya yang masih digenggam oleh pria yang ia cintai.
"Maaf.", ucap Rein seraya melepaskan tangannya.
Eruna tersenyum padanya. "Terima kasih, Rein. Aku senang kau mencariku."a
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang sekarang.", ajaknya kemudian berbalik.
"Ayah merencanakan pernikahanku."
Rein terpaku, dengan pelan ia berbalik kembali menatapnya.
"Aku belum siap, Rein.", katanya lagi. 
"Katakanlah pada Paman Andrew, tapi jangan bertindak seperti ini."
"Kau sangat mengerti siapa ayahku."
Rein menunduk berpikir apalagi yang mampu ia katakan. Kemudian ia menatapnya dengan mata yang mulai memerah dan berkaca. "Kau seorang wanita, Eruna. Sendirian di New York, tempat yang begitu jauh dan asing, bagaimana kau akan melewati hari-harimu?"
"Sekarang sudah bukan kewajibanmu memikirkan itu. Nona Danforth wanita yang baik. Berbahagialah dengannya."
"Eruna."
"Hanya satu hal yang bisa kau lakukan untukku."
"... Katakanlah."
"Rahasiakan keberadaanku dari siapapun juga."
"Tapi..."
"Bisakah aku mempercayaimu ?"
Rein membisu sejenak lalu menyanggupinya. "Baiklah."
Eruna tersenyum walaupun airmatanya telah tak terbendung. "Selamat tinggal, Tuan muda Verentsille yang pernah kucintai.", salamnya yang kemudian melintasi jembatan memasuki kapal.
Rein terus memperhatikan hingga kapal bergerak menjauh. Para pengantar yang memadati pelabuhan mulai membubarkan diri.

Rein tiba di kediaman keluarga Jovant sebelum jam makan malam. Ia tidak menyangka akan langsung bertemu dengan Andrew ketika memasuki rumah itu. Sang paman telah kembali dan mengetahui putrinya menghilang. Luapan kemarahannya langsung ditujukan pada pemuda di hadapannya. Dengan tongkat yang selalu dibawanya, ia memukul pemuda itu hingga roboh ke lantai. 
"Pasti kau yang menghasutnya !", marahnya. "Dimana kau menyembunyikannya ?! Katakan !"
Bagaimana bisa Rein menjawabnya bila ia terus dipukuli seperti itu. Pemuda itu bahkan sudah tidak bertenaga untuk melindungi diri. Ia lelah secara jiwa dan fisik. Beruntung anggota keluarga Jovant yang lain segera menghampiri mereka dan menghentikan Andrew.
"Jangan gila, Andrew ! Dia bisa mati kau pukuli !", tegur Tuan Jovant. Ia bersama dengan Richard menahan Andrew dan membawanya menjauh.
"Lepaskan aku, Ayah ! Aku akan membuatnya bicara ! Jangan halangi aku !"
Issabelle dan Chaterine membantu Rein bangun dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya dengan sapu tangan.
Rein mengisyaratkan mereka untuk tidak memapahnya. Pemuda itu memegang lengan kirinya yang sakit. Lalu bergerak maju beberapa langkah. "Saya bertemu Eruna."
Andrew berhenti merontah.
"Dimana dia ? Kenapa dia tidak bersamamu ?", tanya Nyonya Chaterine.
"Eruna sudah pergi.", jawabnya. "Dan saya sudah berjanji padanya tidak akan memberitahu siapapun tentang keberadaannya."
Andrew kembali ingin mendekati pemuda itu namun berhasil ditahan ayahnya dan Richard. "Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong itu !"
"Saya tahu anda tidak akan percaya.", kata Rein. "Tapi itulah kenyataannya."
"Terimakasih atas bantuanmu untuk mencari Eruna, Tuan muda Verentsille. Akan lebih baik bila sekarang anda pulang dan istirahat.", kata Tuan Jovant.
"Anda benar, Tuan Jovant. Saya akan pulang sekarang.", pamitnya.

Tuan Verentsille sedang menikmati makan malam ketika putra angkatnya pulang. Orang tua itu melihat penampilan Rein yang kacau dan lelah. Untunglah ia dapat melindungi kepalanya ketika sang paman memukulnya, pikir pemuda itu. Ia tidak akan mampu menyembunyikan luka lebam di bagian tubuhnya yang terbuka. Rein memberitahukan hasil pencariannya hari ini dan menyampaikan hal yang sama kepada ayahnya seperti yang dikatakannya pada keluarga Jovant. Malam itu Tuan Verentsille makan malam sendirian sementara putranya memilih beristirahat di kamar setelah mandi. 



~  0  ~




Kamis, 28 Mei 2015

Ch 07

Rein datang sebelum pukul tiga. Ia duduk sendirian di dalam tea house yang telah dijanjikan. Ia belum memesan apapun sejak tiba di sana. Entah apa yang dipikirkan Richard, pikirnya. Kenapa tiba-tiba memintanya kemari. Apakah dia ingin mempertemukannya dengan Eruna atau ada hal lain. Bermacam-macam pikiran silih berganti di dalam kepalanya. 
Beberapa pelanggan yang mengenali pemuda itu mulai berbisik menerka.
"Itu Tuan muda Verentsille."
"Kenapa dia sendirian ya? Atau sedang menunggu orang?"
"Kudengar hubungannya dengan Nona Danforth semakin dekat."
"Beruntung sekali gadis itu."
"Lihat! Lihat! Ada yang menghampirinya!"
"Bukankah itu Tuan muda Jovant, adik iparnya? Bersama dengan Nyonya Chaterine?"

Rein terkejut melihat ibunya tengah berdiri di hadapannya. Ia segera berdiri. Chaterine mengulurkan tangan kanannya yang disambut Rein dan mengecup punggung tangannya. "Selamat sore, Nyonya Chaterine.", salamnya.
"Selamat sore, Tuan Verentsille.", salam wanita itu. Kemudian Richard menarikkan kursi untuk ibunya duduk, lalu ia sendiri duduk di sebelah kirinya.
Rein tidak berani menatap langsung mata ibunya setelah kembali ke tempat duduk.
Mereka memesan teh dan biskuit untuk tiga orang.
"Saya tidak menyangka anda akan datang, Nyonya.", kata pemuda itu mencoba membuka pembicaraan.
Wanita dengan topi biru itu hanya menatap wajah pemuda yang duduk di hadapannya.
"Ibuku jarang keluar. Karena itu aku mengajaknya.", jelas Richard.
"Kalau begitu kau harus sering mengajaknya jalan-jalan, Richard."
"Sejujurnya saya kurang menyukai keramaian, Tuan Verentsille."
Rein menatap ibunya. "Keramaian tidak seburuk yang anda bayangkan. Banyak pemandangan indah bila anda mencoba untuk melihatnya."
Chaterine tersenyum. "Sepertinya anda bukanlah orang yang lebih suka tinggal di rumah di waktu senggang seperti yang dikatakan orang."
Tuan muda itu terdiam menyadari kemiripannya dengan sang ibu. Mereka sama-sama kurang menyukai keramaian. Kemudian ia berusaha menyangkalnya di hadapan wanita itu. "Gosip tidak selalu benar, Nyonya Chaterine."
Richard melihat arlojinya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jas. "Ibu, saya harus kembali ke perusahaan. Paman Andrew tidak tahu kalau saya sedang duduk di sini minum teh bersama kalian dan mengabaikan pekerjaan. Kalau sampai ia tahu, tamatlah riwayatku.", jelasnya.
"Tidak. Kau harus tetap di sini, Richard.", kata Chaterine.
"Tapi, Ibu, ..."
"Kau tidak perlu khawatir akan pamanmu."
Richard melihat pada kakaknya yang tidak menanggapi apapun. Ia takut pada kemarahan sang paman namun juga tidak ingin menentang permintaan ibunya. Akhirnya ia menuruti perkataan sang ibu dan duduk kembali.
Pertemuan dengan ibunya adalah sesuatu yang dari dulu selalu ia nantikan. Namun hari ini, Rein sama sekali tidak merasa nyaman dengan pertemuan mereka. Sesekali ia meminum tehnya untuk menenangkan diri.
"Anda terlihat tegang, Tuan Verentsille."
"Benarkah?"
Chaterine meminum tehnya lalu mengambil sebuah biskuit. Setelah mengunyah dan menelan dengan sopan, ia melanjutkan perkataannya. "Saya menyadari pertemuan terakhir kita telah meninggalkan kesan kurang baik untuk diri kita masing-masing. Saya berharap anda dapat memakluminya."
"..."
"Kemenakanku telah kuanggap seperti putriku sendiri. Saya tidak mampu melihatnya jatuh ke dalam kesedihan dan keputusasaan."
"..."
"Anda tidak ingin tahu bagaimana kabarnya, Tuan Verentsille?"
"Ibu!", tegur Richard dengan nada berbisik.
Topik inilah yang paling dihindari Rein. "Saya telah memiliki seorang calon istri, Nyonya Chaterine. Merupakan suatu ketidaksopanan bagi saya untuk menanyakan kabar dari gadis lain. Saya akan dianggap tidak menghormati calon istri saya."
"Calon istri ?", sebut Chaterine.
"Benar, Ibu. Kakak iparku akan menikah bulan Juni tahun ini.", Richard menjelaskan. "Karena itulah, merupakan sesuatu yang tidak pantas untuk membicarakan tentang kemenakan ibu.", bisiknya.
Chaterine menunduk dan menghela napas dengan pelan. "Anda sudah melangkah sejauh itu. Seharusnya begitu juga dengan Eruna."
"Tuan Andrew pasti akan mengatur yang terbaik untuknya."
Chaterine mencoba untuk tersenyum menatap pemuda itu. "Saya ucapkan selamat, Tuan Verentsille. Anda telah menemukan seseorang yang akan membahagiakan sepanjang sisa hidupmu."
Rein tersenyum walaupun ia tahu sebenarnya sang nyonya tengah menyindir. "Terimakasih.", ucapnya singkat.
Sesaat raut wajah Chaterine terlihat sedih. Ia melamun sambil mengangkat cangkir tehnya.
"Ada apa, Ibu?", tanya Richard.
Chaterine tersadar dari lamunannya dan tersenyum kaku pada putranya. "Oh.", ia bersuara. "Melihat Tuan Verentsille jadi mengingatkan ibu pada kakakmu, Richard."
Richard melihat kakaknya yang sedang minum teh. Rein mampu menutupi perasaannya walaupun sebenarnya ia sangat ingin berada di posisi adiknya saat ini.
"Maaf, Tuan Verentsille.", ucap Chaterine.
"Kalau begitu seharusnya saya segera pamit. Bila tidak, keberadaan saya hanya mengundang kesedihan anda, Nyonya Chaterine."
"Bisakah anda tinggal lebih lama, Tuan Verentsille?"
Tuan muda itu tidak mampu menanggapi apapun.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini sambil jalan-jalan di Hyde Park ?", usul Richard.
Rein melakukan pembayaran lalu bersama ibu dan adiknya berjalan ke Hyde Park yang tidak jauh dari Tea House.
Sore itu taman yang terkenal dengan keindahannya dan paling ramai dikunjungi oleh masyarakat kalangan atas tidaklah seramai seperti biasa. Chaterine melingkarkan tangannya pada lengan kanan putra keduanya. Ketiganya berjalan menikmati pemandagan rumput hijau beserta pepohonan. Mereka duduk di kursi di dekat sungai. Ada beberapa orang yang tengah berperahu menikmati pemandangan, ada juga yang sedang melukis.
"Bila putra sulungku masih hidup, saya yakin kalian akan menjadi teman yang baik."
"Anda masih merindukannya setelah sekian lama ia meninggal?"
"Reinharverd putraku tidak akan pernah kehilangan tempatnya di hatiku."
Pemuda bermata biru itu menatap ibunya, berharap agar ia mendengar lebih banyak lagi tentang dirinya.
"Saat melihatmu, saya seperti melihat Reinharverdku masih hidup. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan."
Rein tersenyum. "Saya pun selalu merindukan ibuku.", ia berkata sambil melihat ke langit senja.
Kini giliran Chaterine yang menatapnya.
"Saya merindukan pelukannya. Ketika ibu membelai rambutku, ketika ibu bernyanyi menidurkanku, dan masih banyak hal lainnya yang sudah tidak bisa kudapatkan darinya.", katanya sambil memejam mengenang masa kecilnya.
Chaterine ingin memeluk pemuda itu apabila saat ini mereka sedang tidak di tempat umum. Ia dapat merasakan kesedihannya, namun ia tidak mampu menyampaikan kasih keibuannya di hadapan orang banyak.
"Nyonya Chaterine.", panggilnya. "Bolehkah saya mendapatkan restu dari anda? Saya sangat mengharapkan kehadiran anda di gereja dan pesta pernikahan saya nanti."
Chaterine terkejut mendengar permintaannya. Lalu ia tersenyum menyetujui. "Baiklah. Saya akan datang."
Rein tersenyum bahagia dan berterimakasih pada ibunya.
Richard merasa lega melihat hubungan ibu dan kakaknya yang kembali hangat.


"Tuan Richard, Tuan Andrew menunggu anda di ruang kerja.", kata pelayan.
"Ya.", tanggapnya singkat.
Richard menarik napas yang dalam dan menghembusnya dengan pelan. Ia tahu apa yang akan dihadapinya di balik pintu ini. Chaterine menyentuh pundak putranya dan berkata, "Ibu akan menemanimu."
Keduanya masuk ke ruang kerja dimana sang paman telah menunggu. Lelaki berdarah dingin itu sedang berdiri di dekat jendela memunggungi mereka. Ada segelas brandy di tangan kirinya.
"Selamat malam, Paman.", salam Richard.
Andrew berbalik melihat mereka. "Kenapa kakak juga berada di sini?", tanyanya dengan dingin.
"Aku ingin tahu apa yang ingin kau bicarakan dengannya."
Andrew tersenyum tidak mengerti. "Ada apa denganmu, Kakakku? Tiba-tiba sekali kakak ingin tahu tentang masalah pekerjaan di perusahaan?"
Chaterine tidak ingin menanggapi pertanyaan adiknya.
Andrew menyandar pada meja kerjanya. "Ah....aku tahu.", ia berkata sambil tersenyum mengejek menatap Richard. "Kau sadar telah melakukan kesalahan, lalu meminta kakakku berbicara untukmu. Benar begitu, Richard?"
"Itu tidak benar, Paman."
"Aku paling benci mengulur-ulur waktu. Kau tahu dengan jelas apa yang ingin kubicarakan hari ini."
"Tadi sore saya menemani ibu minum teh."
"Aku meminta putraku menemaniku menemui Tuan Muda Verentsille. Kami bertiga minum teh bersama."
Andrew meletakkan gelasnya dengan kuat ke meja dan membuat ibu dan anak itu terkejut. "Mengabaikan pekerjaan dan minum teh! Hebat sekali ! Tanpa ijin dariku kau pergi meninggalkan pekerjaan dan menemui bajingan itu !"
Suara Andrew terdengar sampai keluar ruangan. Issabelle dan Eruna berdiri di balik pintu mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dan kakakku tercinta, aku tidak marah kau meminta putramu menemanimu.", ia memelankan suaranya. "Tapi aku tidak suka kakak menemui orang yang sudah menyakiti putriku."
"Kau tidak punya hak melarangku bertemu dengan siapapun yang kuinginkan, Andrew !", Chaterine berkata dengan tegas. "Tidak juga pada putra dan menantuku."
Andrew tertegun. Ia berbalik memunggungi mereka dan mengambil gelas yang diletakkannya di atas meja lalu meneguk isinya dengan sekali minum. Ia benar-benar marah.
"Oh, dan satu hal lagi, Andrew.", kata Chaterine sebelum keluar dari ruang kerja. "Kekhawatiranmu akan segera sirna. Tuan muda Verentsille akan segera menikah dua bulan lagi."
Setelah ibu dan anak itu keluar, Andrew melampiaskan amarahnya dengan melempar gelas yang dipegangnya ke jendela. Terdengar suara pecahan kaca dan barang-barang berjatuhan ke lantai.
"Benarkah itu, Bibi? Rein akan menikah?", tanya Eruna yang masih belum mempercayainya.
Chaterine membelai rambut kemenakannya dan mengangguk.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia segera berlari ke kamarnya di lantai dua. Ia mengunci diri dan menangis. Tidak seorangpun yang diijinkannya masuk.

Richard dan Issabelle masuk ke kamarnya. Sang suami menarikkan kursi untuk istrinya duduk, sedangkan ia sendiri berdiri di dekatnya.
"Aku juga baru mengetahuinya hari ini.", kata Richard.
"Kak Rein mencintainya?"
"Kakak bilang akan belajar mencintainya." Richard berlutut dan menempelkan telinganya di perut sang istri. "Kita hanya bisa mendukungnya, Issabelle. Dan semoga Eruna mampu melewati ini."
Issabelle membelai rambut suaminya.
"Dimana kakek?"
"Kakek sedang pergi. Mungkin sebentar lagi pulang."
Makan malam di hari itu menjadi sepi. Baik Andrew maupun Eruna tidak keluar dari ruangannya masing-masing. Hanya ada Tuan Jovant, Chaterine, Richard dan Issabelle. Pertengkaran yang terjadi malam itu menjadi topik pembicaraan di meja makan.


Satu minggu telah berlalu sejak pertengkaran antara Andrew dan kakaknya. Pagi-pagi sekali ketika Rein sedang menikmati sarapan bersama ayah angkatnya, ia telah kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah Richard. Sang adik tampak tergesa-gesa dan panik ketika ia diantar ke ruang makan oleh Molly.
"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Kak.", salamnya dengan tangan yang memegang topi.
"Selamat pagi, Richard.", salam keduanya.
"Duduklah dan sarapan bersama kami, Richard.", kata Rein dengan senyum ramahnya.
"Aku takut aku tidak memiliki waktu untuk ajakan kakak."
Rein dan Tuan Verentsille menatapnya dan merasa ada sesuatu yang penting untuk diketahui.
"Duduklah, Richard, dan tenangkan dirimu", kata Rein yang kehilangan senyum di wajahnya.
Lelaki tersebut menuruti perkataan kakaknya. Ia duduk dan meletakkan topinya di meja makan.
"Sekarang katakan apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa kemari."
"Eruna kabur dari rumah."



~  0  ~



Rabu, 27 Mei 2015

Ch 06

"Saya akan mengantar Nona Danforth pulang begitu pertunjukkannya selesai.", kata Rein yang datang menjemput gadis itu.
Tuan Danforth mengangguk tersenyum sambil memegang cerutu.
Keduanya pun pergi. Mereka tidak bersama dengan Steven karena ia telah pergi menjemput Josephine, kekasihnya.
Mereka tiba bersamaan dengan keluarga Jovant. Pertemuan pun tidak terhindarkan.
Richard dan Issabelle menemui kakaknya sementara anggota keluarga Jovant yang lain memasuki gedung opera terlebih dahulu. Mereka hanya saling menyapa dan tidak sempat berbicara.
Rein tidak begitu menikmati pertunjukkan tersebut. Namun ia mampu menyembunyikannya dari Clara. Ia ingin agar gadis itu tidak terganggu olehnya. Begitu pula dengan Eruna. Nona Jovant itu memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum pertunjukkan selesai.

Sejak pergi bersama ke pertunjukkan opera, Rein sering datang ke kediaman keluarga Danforth. Pemuda itu sepertinya ingin serius mendekati adik dari temannya. Mereka sering terlihat bersama di depan umum.

"Boleh aku duduk di sini?", tanya Issabelle.
Eruna tersadar dari lamunannya. "Ya. Tentu saja, Issabelle."
Issabelle duduk di kursi taman dan membelai perutnya yang mulai membuncit.
"Tidak lama lagi anggota keluarga kita akan bertambah.", kata Eruna.
Issabelle tersenyum. "Dan kau akan menjadi seorang bibi."
Eruna tersenyum tumpul. "Sepertinya kakakmu juga akan menerima seseorang sebagai keluarganya."
Wanita berambut ikal pirang itu melihat padanya. "Kau masih belum bisa melupakan Kak Rein?"
"Tidak semudah itu, Issabelle."
Issabelle tersenyum nakal mengingat masa lalu.
"Ada apa ?"
"Aku teringat dulu. Aku tahu Kak Rein bukan kakak kandungku. Karena dia begitu baik, maka aku memutuskan untuk menjadi istrinya kelak."
"Bahkan kau juga menyukai kakakmu?", Eruna terkejut dan merasa geli mengetahuinya.
"Ingat, kami bukan saudara kandung, Eruna. Dan wajar saja kalau aku pernah menyukainya."
"Lalu?"
"Kalau diingat-ingat lagi, aku benar-benar egois. Aku memonopoli Kak Rein. Aku sering memaksanya menemaniku. Terlebih lagi bila menghadiri pesta dansa, aku tidak mengizinkannya berdansa dengan wanita lain."
Eruna tertawa.
"Aku bahkan pernah cemburu padamu, Eruna."
"Bagaimana bisa, Issabelle?"
"Itu sebelum aku bertemu dengan Richard."
Eruna berusaha menahan tawanya. "Apa dia pernah mengeluh?"
Issabelle mengingat-ingat. "Seingatku tidak pernah."
"Kau dan Richard sangat beruntung memilikinya sebagai kakak kalian."
Issabelle menyentuh tangan Eruna. "Kak Rein yang kutahu bukanlah seseorang yang dikatakan paman selama ini. Aku juga tidak mengerti dengan tindakannya yang tiba-tiba menjauhimu. Tapi aku yakin kakakku pasti memiliki alasannya. Aku tahu sulit bagimu, Eruna. Tapi cobalah untuk meninggalkan masa lalu dan memulai yang baru."
Eruna mencoba tersenyum dan menahan air matanya. "Aku juga berharap aku mampu. Semua ini membuatku tersiksa, Issabelle. Kakakmu....dan juga ayahku. Sebenarnya ada apa di antara mereka?"

Chaterine melihat menantu dan kemenakannya dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Ia juga merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia tidak suka melihat Tuan muda Verentsille meninggalkan kemenakannya seperti itu, dan di sisi lain ia tidak sanggup membenci pemuda itu. Setiap kali melihat pemuda bermata biru tersebut, ia seolah sedang melihat putra sulungnya yang sudah meninggal. Karena itulah ia tidak mampu sepenuhnya membenci Tuan Muda Verentsille.
"Ibu.", panggil Richard.
"Kalau kakakmu masih hidup, ... tahun ini dia sudah berumur dua puluh dua tahun, seumuran dengan Tuan muda Verentsille."
"Tapi sayang sekali mereka adalah orang yang berbeda.", tanggap Richard.
Chaterine berbalik menatap putranya. "Richard putraku, apakah kau juga merasakannya? Setiap kali ibu melihat Tuan muda Verentsille, ibu seperti bertemu kembali dengan kakakmu. Apakah kau juga begitu, Richard?"
Richard mendekatinya dan memeluk ibunya. "Itu hanya perasaan ibu karena terlalu merindukan kakak.", ia mencoba menenangkan ibunya walaupun ia harus menyangkal perasaannya. "Saya tidak mengingat apapun tentang kakak karena saat itu aku masih kecil." Kemudian ia menawarkan pendapatnya, "Yang ibu butuhkan saat ini adalah bertemu dengannya. Dengan begitu rasa rindu ibu dapat terobati."
"Itu tidak mungkin, Richard."
Lelaki berambut coklat tersebut menghela napas. "Karena ibu telah menegurnya, bukan?", tebaknya. "Kalau ibu menginginkan, saya bisa mengatur sebuah pertemuan untuk kalian."


Richard menemui kakaknya di perusahaan keluarga Verentsille. Ia datang saat hari menjelang siang. Ia harus menunggu beberapa waktu karena Rein sedang rapat mengenai pengembangan perusahaannya. 
Ketika rapat selesai, Rein kembali ke ruangannya dan bertemu adiknya.
"Issabelle sehat?", tanya sang kakak.
"Ya. Sekarang sudah memasuki bulan kelima kehamilannya."
"Tidak lama lagi kau akan menjadi seorang ayah. Bagaimana persiapanmu?"
Richard meminum kopi yang disuguhkan untuknya. "Aku tidak tahu, Kak. Siap atau tidak aku tetap akan menjadi seorang ayah."
Rein menepuk pundak adiknya sambil tersenyum. "Dengan sendirinya kau akan terbiasa."
"Benar.", tanggap Richard. "Sepertinya kakak serius dengan Nona Danforth?"
Rein duduk menyandar. "Bulan Juni nanti kami menikah."
Sang adik menoleh terkejut.
Rein tertawa kecil melihat reaksi adiknya. "Kenapa kau sekejut itu, Richard? Bukankah kau dan Issabelle juga menikah setelah perkenalan yang baru berlangsung dua bulan?"
"Kakak mencintainya? Atau pernikahan ini karena bisnis keluarga?"
Tuan muda Verentsille berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati jendela. "Aku menghormati Clara. Ini bukanlah sebuah keputusan yang buruk."
"Itu artinya kakak tidak mencintai gadis itu. Bagaimana kakak bisa bahagia menjalani hidup bersama seseorang yang tidak kakak cintai?"
"Apakah orang sepertiku pantas untuk bahagia, Richard?", ia balas bertanya. "Keberadaanku hanya bisa menyakiti orang-orang yang kucintai. Tanpa ia sadari aku menggunakannya seperti alat. Aku menyakitinya tanpa ia sadari, memberinya harapan. Karena itu aku akan bertanggungjawab atas apa yang sudah kulakukan."
Richard hanya mendengarkan tanpa menanggapi.
"Kurasa aku mampu menanggungnya. Kebahagiaan Clara adalah tanggung jawabku."
"Aku tidak percaya.", kata sang adik.
"Tapi aku yakin aku mampu." Rein berbalik melihat adiknya. "Clara adalah wanita yang lembut. Aku mengaguminya. Dan aku akan belajar mencintainya."
"..."
"Kakakmu membutuhkan dukungan dan doa darimu, Richard. Bisakah kau memberikannya?"
Richard berdiri dan mengambil topinya. "Pukul tiga sore ini datanglah ke tea house tempat biasa kita bertemu.", ia menyampaikan maksud kedatangannya. "Selamat siang, Kak.", pamitnya.



~  0  ~




Minggu, 24 Mei 2015

Ch 05

Seperti biasa, rutinitas Rein diawali dengan sarapan bersama ayahnya. Pada saat sarapan seperti ini mereka akan membicarakan tentang pekerjaan di pabrik. Dan ketika pembicaraan tentang pekerjaan selesai maka kedua orang tersebut akan berbicara tentang hal lainnya sampai sarapan selesai.

"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan seperti yang anda minta.", kata David, salah seorang pegawai kepercayaan Rein.
"Sebentar, David.", kata Rein yang menahannya pergi. "Tentang opera minggu depan, apa kau tahu dimana aku bisa membeli tiketnya?"
"Tuan ingin menonton opera?"
Rein tersenyum. "Lebih tepatnya menemani seseorang pergi menonton."
"Saya mengerti.", kata David tersenyum. "Saya akan segera membeli tiketnya."
"Tidak, David. Biar aku saja yang pergi."

Setelah mengetahui tempatnya dari David, Rein segera pergi memburu tiket. Sesampainya di sana, tidak terlihat antrian panjang di depan loket. Ia hanya perlu mengantri dari lima orang di depannya. Belum sampai pada gilirannya, hujan mulai mengguyur kota London. Rein yang tidak ada persiapan apapun untuk melindungi diri dari hujan menjadi basah kuyup. Lalu gilirannya pun tiba.

Clara berdiri di dekat jendela di kamarnya. Ia melihat langit mendung yang sedang mengguyuri tanah dengan hujan. Lalu ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan merajut. Ketika mendengar pintu kamarnya diketuk, ia segera menyembunyikan rajutannya di balik bantal lalu membukakan pintu.
"Hari ini kau terus mengurung diri di kamar, Clara?"
"Ibu.", sebutnya.
Nyonya Danforth masuk dan duduk di kursi. "Jangan kau kira ibu tidak tahu. Putriku ini mulai jatuh cinta pada Tuan muda Verentsille bukan?"
"Eh...saya...", Clara menjadi salah tingkah dan tidak berani melihat ibunya.
"Tuan muda Verentsille memang berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya. Ibu akan senang sekali dan merasa tenang bila kau menjadi istrinya, Clara."
"Ibu terlalu berlebihan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Tuan Verentsille. Mungkin saja dia menyukai wanita lain. Saya tidak berani berharap banyak."
"Benar juga ya. Tidak terpikirkan oleh ibu."
"Saya pernah mendengar kalimat ini seseorang yang sempurna, mungkin telah menjadi milik seseorang yang sempurna lainnya."
"Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Clara. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan yang saat ini kita liat pada Tuan muda Verentsille hanyalah kelebihannya. Orang sebaik itu juga pasti memiliki kekurangan."
Seseorang mengetuk pintu kamar Clara dan memberitahukan kedatangan Tuan muda Verentsille.
Ibu dan anak itu segera menuju ke ruang tamu.
"Tuan Verentsille !", panggil Clara yang terlihat khawatir melihat pemuda itu basah kuyup. Ia segera membantu mengusap Rein dengan handuk yang telah dibawakan oleh pelayan.
"Cepat ambilkan pakaian tuan muda kemari! Cepat!", perintah Nyonya Danforth.
Segera salah seorang pelayan pergi ke kamar Steven dan mengambil pakaiannya lalu segera kembali ke ruang tamu.
"Nah, Tuan muda Verentsille. Gantilah pakaian anda segera sebelum anda masuk angin.", kata Nyonya Danforth.
"Terimakasih, Nyonya Danforth."
"Kami keluar dulu.", kata Clara.
Rein pun ditinggal seorang diri di ruang tamu yang tertutup. Pemuda itu mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian Steven. Setelah selesai, ia membuka pintu dan memberitahu mereka yang telah menunggu di luar. Teh hangat dan makanan kecil disajikan atas perintah Nyonya Danforth. Ia membiarkan kedua orang tersebut berbicara di ruang tamu dan ia menyibukkan diri dengan hal lain.
"Tuan Verentsille, kenapa anda bisa kehujanan seperti tadi?", tanya Clara.
"Saya tidak menyangka akan turun hujan saat mengantri beli tiket.", jawabnya sambil tersenyum.
"Anda tidak segera berteduh?"
"Tentu saya berteduh, tapi hujan dan anginnya sangat kencang." Pemuda itu mengeluarkan dua lembar tiket yang dibelinya. "Maaf, Nona Danforth. Yang tersisa hanyalah kursi barisan belakang.  Kalau anda tidak berminat..."
"Kita tetap akan menontonnya.", kata Clara yang memotong perkataan Rein. "Bagaimana mungkin saya menyia-nyiakan usaha anda. Ketika anda mengatakan akan menemani saya, itu sudah membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi anda kehujanan hanya untuk memenuhi keegoisan saya. Maafkan saya, Tuan Verentsille."
"Nona Danforth, saya mohon anda jangan berkata seperti itu.", kata Rein. "Saya tidak pandai bicara tapi saya berusaha melakukan yang terbaik. Karena anda sangat menghargainya, sudah membuatku sangat senang." Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. "Kalau begitu saya akan menjemput anda minggu depan."
Clara memandangnya dan tersenyum. "Ya. Saya akan menunggu."
Rein menjadi salah tingkah. Ia mengalihkan perhatiannya pada teh yang telah disuguhkan dan meminumnya. "Sekarang saya harus pamit, Nona Danforth.", katanya setelah berdiri.
"Tapi di luar masih hujan, Tuan Verentsille. Tinggallah di sini sampai hujan reda."
"Putriku benar, Tuan Verentsille.", kata Nyonya Danforth ketika memasuki ruangan. Ia duduk di satu sisi sofa sambil tersenyum. 
Rein kembali duduk.
"Boleh saya tahu apa yang sedang kalian bicarakan?", tanya wanita paruh baya itu.
"Oh, saya hampir lupa. Maafkan ketidaksopanan saya, Nyonya Danforth. Minggu depan saya akan menemani putri anda menonton opera. Seharusnya saya mengatakannya dulu pada anda."
Nyonya Danforth memandangnya terkejut lalu memandang putrinya. "Kalian akan pergi bersama?"
Rein menjadi gugup dan merasa dirinya telah melakukan suatu kesalahan. "Maaf, Nyonya danforth. Seharusnya saya meminta ijin dari anda terlebih dahulu."
Wajah Nyonya Danforth berubah serius dan menatap tajam pada pemuda itu. "Tuan muda Verentsille, saya harap anda mengerti bahwa putri saya sangatlah lugu. Bagaimana tanggapan kekasih anda bila tahu kalian pergi berduaan? Terlebih lagi di depan umum. Bagaimana tanggapan orang-orang nantinya terhadap Clara?"
Rein terkejut dan berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Anda salah paham, Nyonya Danforth.", ia berusaha menjelaskan. "Bila saya sudah memiliki kekasih, mana mungkin saya berani menemani Nona Danforth menonton opera."
Nyonya Danforth masih menatap serius padanya. "Tuan muda Verentsille adalah seorang pemuda tampan yang memiliki banyak pengagum wanita. Sulit untuk mempercayai kalau anda belum juga memiliki tambatan hati."
"Tapi saya memang belum memilikinya, Nyonya Danforth. Dan saya sama sekali tidak ada maksud untuk merayu putri anda. Saya hanya ingin menemaninya menonton opera karena saya lihat putri anda sangat ingin menontonnya. Tapi memang ini adalah kesalahan saya karena tidak terlebih dahulu meminta ijin anda. Maafkan saya, Nyonya."
"Ibu. Tuan Verentsille bermaksud baik. Ibu jangan mendesaknya lagi."
Rein mencoba meyakinkan wanita itu sekali lagi. Ia menenangkan diri lalu memandangnya. "Nyonya Danforth, bolehkah saya menemani putri anda menonton opera minggu depan?"
Nyonya Danforth mengendurkan ketegangan di wajahnya lalu tersenyum. "Tentu, Tuan muda Verentsille.", katanya.
Rein tersenyum lega. "Terimakasih, Nyonya Danforth."
Clara pun ikut merasa lega. Ia tersenyum dan menuangkan teh untuk tamunya.
"Seharusnya saya yang berterimakasih karena anda memahami dan bersedia menemani Clara."
Rein tersenyum menggeleng. "Kalau Steven tidak mengatakannya saya juga tidak akan tahu, Nyonya."
"Tuan Verentsille, silahkan diminum.", kata Clara.
"Terimakasih." Setelah menyelesaikan keperluannya, Rein segera pamit kepada ibu dan anak itu. Walaupun mereka sudah mencoba untuk menahannya, namun pemuda itu tidak bisa lagi menunda kepergiannya.
"Maafkan perkataan ibuku tadi, Tuan Verentsille.", kata Clara yang mengantar tamunya ke depan.
Rein tersenyum, "Perkataan Nyonya Danforth benar. Beliau mengkhawatirkan anda. Itu sudah seharusnya. Sejak awal memang saya yang melakukan kesalahan. Syukurlah beliau tidak marah.", tanggapnya. "Dan saya akan segera mengembalikan pakaian kakakmu yang kupinjam."
"Ya." Gadis itu tersenyum.
"Sampai bertemu minggu depan, Nona Danforth." Rein mengecup punggung tangan gadis itu lalu masuk ke dalam kereta kudanya.
Clara melihat kereta kuda yang membawa lelaki yang ia sukai keluar dari gerbang rumahnya. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya. Ia tersenyum sendiri mengingat reaksi Rein ketika diserang perkataan ibunya. Ia berkaca di depan cermin besar yang disandarkan di salah satu sisi dinding kamarnya.
"Tidak disangka pemuda tampan itu menawarkan diri menemanimu.", kata sang ibu yang tiba-tiba muncul di belakang putrinya.
Clara sangat terkejut menyadari kehadiran ibunya yang tiba-tiba tersebut. "Ibu. Mengejutkan saja."
"Ibu sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kau terlalu asyik memikirkan pria idamanmu."
"...Tadi ibu sedikit berlebihan terhadapnya."
"Itu demi dirimu, Clara. Seperti yang tadi kau katakan, mungkin saja dia sudah memiliki wanita idamannya. Dan kalau benar begitu, kau akan menyesal nantinya."
"Tapi saya tidak berani mengharapkan apapun dari Tuan Verentsille."
Nyonya Danforth tertawa lucu.

"Rein?", sebut Steven ketika sedang makan malam bersama keluarganya. "Kau akan pergi bersamanya?"
"Benar, Kak."
"Temanku yang satu itu tidak pernah membicarakan tentang wanita. Tapi aku pernah melihatnya bersama Nona Jovant."
"Dia sudah mempunyai kekasih?", tanya sang ibu.
"Ntah lah. Tapi akhir-akhir ini mereka sudah tidak pernah terlihat bersama."
"Menurut kakak, apakah sebaiknya saya membatalkan janjinya?"
"Clara adikku tercinta, sudah lama aku mengenalnya dan belum pernah terdengar sesuatu yang buruk tentang dia. Aku yakin kalau dia sering terlihat bersama wanita yang berbeda, pasti gossip buruknya telah beredar kemana-mana. Orang itu lebih suka menghabiskan waktu luangnya di rumah menemani ayahnya."
"Kakakmu benar, Clara. Rein itu sama sepertimu, lebih banyak di rumah daripada mencari kesenangan di luar. Ayahnya sendiri yang mengatakannya."
Setelah mendengar pendapat dari ayah dan kakaknya, Clara merasa lebih tenang. Namun perasaan ketidakpercayaan diri masih terus menghantuinya.


Rein memainkan piano yang berada di ruang keluarga sementara ayah angkatnya membaca buku. Keduanya sedang menikmati waktu senggangnya masing-masing ketika salah seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tuan Rein.", panggil pelayan itu.
"Ada apa, Trudy?", pemuda itu menanggapi tanpa menghentikan permainannya.
"Pakaian yang anda pinjam dari Tuan Danforth telah selesai dicuci dan disetrika."
Rein tersenyum pada pelayannya. "Tolong letakkan di kamarku. Besok akan kukembalikan padanya."
"Baik, Tuan. Permisi."
Tuan Verentsille membalik halaman pada buku yang tengah dibacanya. "Kau akan ke rumahnya lagi, Rein?"
"Tidak, Ayah.", jawabnya. "Besok aku akan bertemu Steven, jadi akan kukembalikan padanya."
Rein mengakhiri permainannya dan menutup piano itu.
"Keluarga Jovant juga akan pergi ke menonton opera itu.", orang tua itu berkata lagi.
Pemuda itu terdiam.
"Tapi kau juga sudah tidak bisa membatalkan janjimu dengan Nona Danforth. Bukan begitu?"
"Mungkin kelak saya akan mendapat hukumannya, Ayah. Ini justru kesempatan yang baik agar Eruna menyerah."
Tuan Verentsille berbalik melihat putra angkatnya. Ia seolah-olah tidak mengenal sosok pemuda yang baru saja mengatakan hal selicik itu. "Mengenai masalahmu dengan Eruna, kau belum pernah mengatakan apapun pada ayah. Sampai kapan kau akan menutupinya? Kenapa orang tua ini tidak berhak mengetahuinya?"
"..."
"Jawablah, Putraku. Beri ayahmu ini alasan untuk memaafkan kata-kata yang baru kau ucapkan tadi."
Rein menunduk. Kemudian ia berdiri dan duduk di sisi ayahnya. Sepasang tangannya menggenggam lembut tangan ayahnya. "Bila saya memberitahu ayah ... bisakah ayah tidak mengatakannya pada siapapun juga?", ia berkata dengan nada memohon.
Tuan Verentsille berkerut kening, merasa penasaran dengan perkataan yang didengarnya. "Katakanlah.", ia berkata dengan tidak sabar untuk mendengarnya.
"Semua ini kulakukan demi Issabelle dan Richard."
"Apa maksudmu?"
"Paman Andrew tidak akan mengganggu hubungan kedua adikku bila aku bersedia menjauhi putrinya. Itulah kesepakatan kami, Ayah."
"Apa?" Tuan Verentsille terkejut mengetahui kenyataan itu.
"Karena itu, Ayah. Saya harus melakukannya agar Eruna menyerah. Satu-satunya jalan adalah dengan membuatnya membenciku."
Lelaki tua itu tidak mampu berucap apapun lagi. Ia menunduk bersedih.
"Dengan menyakiti Eruna, ibuku sendiri telah membenciku. Saya akan benar-benar hancur bila ayah juga membenciku. Jadi saya mohon mengertilah, Ayah. Demi kebahagian Issabelle, jangan katakan pada siapapun tentang kesepakatan ini."
Tuan Verentsille mengangguk-angguk. "Terimakasih, Rein. Dan maafkan ayah ... juga adikmu."
Rein memeluk ayah angkatnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ayah. Tidak ada.", ia berkata sambil memejam.
Orang tua itu menangis, putra angkatnya memeluk dan berusaha menenangkannya. Malam itu sudah tidak ada rahasia apapun lagi yang disembunyikan di antara kedua orang itu. Tuan Muda Verentsille merasa sedikit lebih lega namun tetap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yaitu Nona Danforth.





                                                                     ~  0  ~

Ch 04



Kedatangan Tuan Verentsille dan Rein disambut dengan senyum merekah oleh keluarga Danforth. Tidak salah tebakan Tuan Verentsille, mereka memang berniat untuk menjodohkan putri satu-satunya pada pemuda Verentsille. Pesta dansa yang diadakan beberapa waktu lalu pun juga dimaksudkan untuk mempertemukan kedua orang ini.
  Tuan Danforth berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah.", katanya. "Mari kita lanjutkan pembicaraan sambil merokok di ruang sebelah.", ajaknya setelah semuanya selesai makan.
  "Maaf saya tidak merokok, Tuan Danforth.", kata Rein.
  Nyonya rumah tersenyum lebar menoleh pada putrinya. Lalu mereka memandu kedua tamunya ke ruang keluarga. Nyonya Danforth meminta putrinya memainkan piano sebagai alunan musik yang menemani pembicaraan.
  "Permainan yang indah.", puji Tuan muda Verentsille. "Nona Danforth sudah tidak terlihat seperti masih belajar memainkannya."
  "Clara latihan setiap hari. Dan setiap selesai makan malam, putri ku selalu akan memperdengarkan hasil latihannya. Kemajuannya sangat mengagumkan bukan?", kata Nyonya Danforth.
  Rein tersenyum. "Benar sekali, Nyonya Danforth."
  "Bagaimana kalau kau juga mencobanya, Rein?", usul Steven yang berdiri di samping perapian sambil memegang segelas anggur.
  Rein tertawa kecil sambil menggeleng. "Oh, tidak, Steve. Permainanku tidak sebagus itu."
  Clara menghentikan permainannya dan berdiri menepikan diri. Ia duduk di sisi ibunya.
  "Ayolah, Teman. Kami semua ingin mendengarnya." Steven mendekat dan menarik tangan Rein yang kemudian melihat ayahnya.
  "Penuhilah permintaan mereka.", kata Tuan Verentsille.
  "Baiklah." Rein meletakkan minumannya di meja kecil di sampingnya. Ia berjalan menuju ke piano sambil tersenyum malu. "Chopin?", tanyanya pada para pendengar setelah ia duduk.
  "Silahkan.", kata Tuan Danforth.
  Rein memejam dan menarik napas setelah memposisikan jari-jari tangannya pada tuts piano. Ini adalah pertama kalinya ia bermain di hadapan orang lain selain ayah dan adik perempuannya. Ia gugup, namun tampak tenang. Pemuda itu membuka matanya dan mulai menarikan jari-jarinya di atas tuts piano. Sebuah lagu yang tenang nan romantis. Seluruh pendengar di ruangan tersebut tidak bersuara. Nyonya Danforth semakin menyukai pemuda ini. Wanita ini sudah tidak sabar untuk mengutarakan keinginannya menjodohkan putrinya pada pemuda bermata indah tersebut.
  Rein mengakhiri permainannya. Mereka memberikan tepuk tangan untuknya. "Bagus!", kata Steven. "Masih bilang permainanmu jelek?"
  "Jangan berlebihan, Steven. Permainan Nona Danforth jauh lebih indah dari ku."
  "Anda sangat merendah. Bagaimana mungkin seorang pemula seperti saya dapat dibandingkan dengan anda.", kata Clara.
  Rein kembali ke tempat duduknya.
  "Oh ya. Hampir saja aku lupa.", kata Steven. "Adikku, bagaimana kalau kau meminta Temanku ini menemanimu minggu depan ?"
  "Kakak!", Clara menegurnya dengan suara kecil.
  "Menemani kemana?", tanya Rein pada temannya.
  "Eh...tidak, Tuan Verentsille. Kakak hanya sembarangan bicara. Tolong jangan ditanggapi."
  "Anak-anak jaman sekarang sudah mulai main rahasia-rahasiaan. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Ayah dan ibu sama sekali tidak mengerti.", kata Tuan Danforth.
  "Tidak ada apa-apa, Ayah."
  Steven membisu dan tidak melanjutkan topik yang tadi dikatakannya.
  "Baiklah.", kata Tuan Verentsille seraya meletakkan gelas wine nya di meja. "Malam sudah semakin larut. Kami juga sudah terlalu lama di sini. Sudah waktunya bagi kami untuk pulang."
  "Oh, waktu berlalu begitu cepat.", kata Nyonya Danforth.
  Mereka semua berdiri dan hendak keluar dari ruangan.
  "Nona Danforth.", panggil Rein.
  Clara tidak jadi keluar setelah mendengar Rein yang memanggilnya. Sementara itu yang lainnya telah keluar sambil berbincang-bincang tanpa menyadari kedua orang tersebut tidak bersama mereka.
  Rein mendekati gadis itu. "Apakah yang dikatakan Steven benar kalau anda membutuhkan seseorang untuk menemani anda minggu depan? Bolehkah saya tahu kemana anda akan pergi?"
  Clara mengangguk. "Benar, Tuan Verentsille. Minggu depan kakakku dan kekasihnya akan pergi menonton opera. Saya ingin sekali ikut tapi takut mengganggu mereka. Tapi sudah saya putuskan tidak akan ikut."
  Rein tersenyum. "Kalau Nona Danforth tidak keberatan, saya bersedia menemani anda minggu depan."
  Clara terkejut bercampur senang. "Tapi...tiketnya sudah saya berikan pada orang lain tanpa sepengetahuan kakak."
  "Kalau begitu kita beli yang baru."
  Clara berusaha menahan luapan kebahagiaannya. "Tuan Verentsille, maaf sudah merepotkan anda. Dan terimakasih."
  Rein hanya menanggapinya dengan senyuman. "Besok akan saya kabarkan tentang tiketnya."
  Gadis pemalu itu mengangguk tersenyum.
  Keduanya menyusul yang lain ke depan. Clara benar-benar tidak mampu menahan kebahagiaannya, nona cantik itu terus tersenyum dan berkali-kali melirik pemuda ramah tersebut.
  Akhirnya Rein dan ayahnya berpamitan pulang.
  
  "Clara, ibu perhatikan kau bahagia sekali. Apa sudah terjadi sesuatu dengan Tuan muda Verentsille?"
  "Tidak apa-apa, Ibu. Tuan Muda Verentsille memang selalu ramah pada semua orang bukan. Dan dia adalah orang yang sangat baik."
  Nyonya danforth melirik putrinya dari samping. "Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu."
  "Ibu, berhentilah menggodaku."
  Sang ibu tertawa.


~ 0 ~

Senin, 04 Mei 2015

Ch 03

Sebuah pesta dansa diadakan di kediaman keluarga Danforth yang merupakan rekan bisnis keluarga Verentsille. Malam itu Rein datang sendirian. Para gadis yang menghadiri pesta dansa mengalihkan perhatian mereka pada pemuda itu. Tuan muda Verentsille memang terkenal dengan ketampanan dan kesopanannya. Belum sempat ia menyapa tuan rumah, para gadis itu telah mengerumuninya dan mencari perhatian.

 "Aha! Dengan melihat kerumunan gadis-gadis cantik ini aku sudah mengira kau lah dalangnya, Rein.", kata seorang pemuda yang berperawakan sedang dan berambut hitam menerobos ke dalam kerumunan.
 Rein menoleh ke arah datangnya suara. "Steven.", sebutnya dengan lega. Ia berharap temannya itu segera mengeluarkannya. "Undangannya cukup ramai."
 Mereka bersalaman dan saling memeluk sejenak.
 "Tolong keluarkan aku dari sini.", bisik Rein.
 Steven tertawa lepas. "Baiklah, Nona-nona sekalian. Aku harus menculik pria tampan ini dari kalian. Silahkan menikmati pestanya." Steven membawa temannya menepikan diri.
 "Terimakasih, Steve."
 "Apa kau tahu bagaimana caranya agar kau selamat dari kejadian seperti tadi?", tanya pemuda berambut hitam tersebut.
 "Aku akan senang sekali bila kau bersedia memberitahuku."
 "Perempuan.", jawabnya.
 Rein mengernyit alis tidak mengerti. "Maksudmu?"
 "Setiap kali menghadiri pesta, kusarankan kau membawa seorang gadis bersamamu. Dengan begitu mereka akan segan mendekatimu seperti tadi."
 Rein tersenyum kaku dan menganggap itu adalah saran yang konyol.
  "Kenapa?"
  Pemuda itu tersenyum menggeleng. 
  Steven mengangkat tangannya memberi isyarat pada seseorang. Seorang gadis muda dengan segelas anggur di tangannya pun mendekat.
  "Perkenalkan. Ini adik perempuanku, Rein. Clara. Dan Clara, ini Tuan muda Verentsille yang baru saja kutolong dari kerumunan para gadis."
  "Apa yang kau bicarakan, Steve?", kata Rein yang berusaha tersenyum pada putri penyelenggara pesta. Kemudian ia meraih tangan kanan Clara dan mengecup punggung tangannya. "Senang berkenalan dengan anda, Nona Danforth."
  Clara tersenyum malu. Ia adalah salah satu penggemar Tuan muda itu.
  "Nah, kutinggalkan kalian berdua di sini. Aku harus menyapa tamu-tamu kita yang lain.", kata Tuan muda Danforth. "Rein, bicaralah pada adikku agar kau tidak terperangkap lagi.", pesannya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu meninggalkan mereka.
  Kedua orang yang pemalu tersebut tidak ada yang memulai pembicaraan. Rein menjadi bingung apa yang harus dilakukannya. Ia tidak ahli berbicara dengan wanita. Irama musik pun berganti. "Maukah anda berdansa denganku, Nona Danforth?", tanyanya seraya membungkukkan badan.
  Clara mengulurkan tangan kanannya memberi persetujuan. Keduanya lalu menuju ke lantai dansa bergabung bersama pasangan lainnya. Banyak sekali para gadis yang iri melihat Rein berdansa dengan seorang gadis.
  "Apakah ini adalah pesta dansa pertama anda?", tanya Rein.
  Clara tidak berani menatap mata indah pemuda itu. Ia sangat gugup dan dapat merasakan detak jantungnya yang begitu kuat. "Seburuk itukah gerakanku hingga anda bertanya demikian?"
  Rein terkejut dan menjadi salah tingkah. "Maafkan saya, Nona. Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung anda. Mohon maafkan kelancanganku.", kata Rein. "Hanya saja saya belum pernah melihat Nona Danforth dari setiap pesta dansa yang saya hadiri."
  Dengan tinggi yang hanya sebahu Rein, Clara harus menengadahkan kepala menatap mata indah pasangan dansanya. Ia tersenyum, "Ya.", akunya. "Ini pesta dansa pertamaku.", kata gadis berusia enam belas tahun itu.
  "Saya pernah mendengar Steven bercerita tentang anda. Katanya anda menyukai seni."
  Clara tersenyum merendah. "Kuharap kakakku tidak bercerita banyak hal tentang saya."
  Rein terdiam lalu tertawa kecil. "Saya rasa temanku benar. Anda seorang yang pemalu. Tapi saya berani meyakinkan anda, Nona Danforth, apapun yang Steven ceritakan tentang anda, semuanya sangat menarik."
  Gadis berambut merah ikal itu hanya bisa menanggapi dengan senyuman.
  Richard dan Issabelle baru sampai ketika Rein selesai berdansa. Eruna dan ayahnya pun turut hadir. Keempat orang tersebut menyadari keberadaan Tuan muda Verentsille yang sudah menepikan diri bersama Nona Danforth, mereka sedang menikmati anggur dan makanan kecil yang dihidangkan. Beberapa tamu undangan berbaur dengan keluarga Jovant sebelum mereka sempat menemui Tuan besar penyelenggara pesta.
  "Selamat datang, Rein.", sapa Tuan besar Danforth bersama istrinya.
 "Oh, Tuan dan Nyonya Danforth.", sebut pemuda itu ketika berpaling melihat mereka. "Selamat malam.", katanya seraya bersalaman dengan lelaki paruh baya itu lalu mengecup punggung tangan Nyonya Danforth."Maaf saya belum sempat menyapa anda berdua."
  "Hahaha...hal sekecil ini jangan dipermasalahkan.", kata lelaki tua yang kepalanya hanya ditumbuhi sedikit rambut itu.
  "Sendirian saja?", tanya Nyonya Danforth.
  "Benar, Nyonya. Ayahku kurang sehat hari ini. Karena itu saya tidak bisa lama di sini."
  "Sudah diperiksa dokter?", tanya Clara yang menunjukkan simpatinya.
  Rein mengangguk. "Sudah."
  "Kulihat kau berdansa dengan putriku tadi. Bagaimana gerakannya, Rein? Hari ini adalah pesta dansa pertamanya.", tanya wanita kurus dengan gaun biru itu penasaran.
  Clara menunduk malu.
  Rein melihat nona itu sejenak lalu memberikan komentar. "Sangat baik, Nyonya. Nona Danforth berdansa dengan sangat baik."
  Suami istri Danforth tertawa senang. "Clara, bagaimana kalau Tuan muda Verentsille yang menjadi tutor mu latihan piano?", kata Tuan Danforth.
  Rein dan Clara terkejut.
 "Saya....", wajah Clara merona. 
  "Tuan, saya rasa anda salah orang. Saya sama sekali belum pantas menjadi tutor. Dan lagi..."
  "Ayah, Ibu, Tuan Verentsille adalah orang yang sibuk. Saya tidak ingin membuatnya menjadi lebih sibuk lagi hanya untuk menjadi tutor ku."
  "Tapi sampai sekarang kau belum mendapatkan tutor yang cocok."
  Rein memandang Nona Danforth yang menunduk kehabisan kata. Lalu ia mencoba untuk mencari solusi. "Bagaimana kalau saya berbagi teknik dasarnya saja, Tuan? Saya tidak berpengalaman menjadi tutor. Tapi kalau untuk teknik dasar mungkin saya bisa berbagi dengan Nona Danforth seperti yang pernah saya pelajari sebelumnya. Seandainya Nyonya Hopkins masih hidup, saya pasti akan merekomendasikannya menjadi tutor Nona Danforth."
  "Bagus sekali.", kata Nyonya Danforth yang saling memandang dengan suaminya. "Clara, ayo ucapkan terimakasih pada Tuan Verentsille."
  Clara tersenyum pada pemuda di sisinya itu. "Terimakasih, Tuan muda Verentsille."
  Suami istri Danforth tertawa senang. "Kapan bisa dimulai?", tanya Nyonya Danforth.
  "Bila anda tidak keberatan, bagaimana setelah ayahku sembuh baru kita buat rencananya?"
  "Ya. Tentu saja."
 Richard dan Issabelle mendekati mereka. "Selamat malam, Tuan dan Nyonya Danforth.", salam Richard.
  "Oh, Tuan muda dan Nyonya muda Jovant. Selamat malam. Terimakasih sudah menghadiri pesta ini.", kata Tuan Danforth. "Berdua saja?"
  "Kami datang bersama Paman Andrew dan putrinya. Mereka sedang di sana.", jawab Richard sambil menunjuk.
  "Kakak, selamat malam.", sapa Issabelle.
  "Selamat malam juga, Adikku." Rein memperkenalkan Clara pada mereka.
  "Silahkan menikmati pestanya, Pasangan baru.", kata Tuan Danforth yang memohon diri bersama istrinya. "Rein, kutunggu kabar baik darimu."
  "Iya, Tuan."
  "Istriku, bagaimana kalau kau menemani Nona Danforth sementara aku dan kakak iparku bicara berdua?", usul Richard.
  "Nona Danforth tidak keberatan kan?", tanya Issabelle pada nona muda itu.
  Clara tersenyum ramah. "Tentu saja tidak. Silahkan."
  Rein dan Richard menuju ke tempat yang sunyi di taman.
  "Kudengar dari ibu kalau kakak mengatakan hal yang kejam.", kata Richard yang mulai emosi.
  "Saat ini pasti ibu sangat membenciku."
  "Tidak bisakah kakak berhenti melukai diri sendiri? Tidak adakah jalan keluar untukmu dan Eruna bersama kembali?"
  "Tidak ada.", jawab sang kakak singkat. "Tolong jangan campuri urusanku, Richard. Aku mampu mengatasinya. Eruna pasti akan menemukan pria yang jauh lebih baik dariku. Tuan Andrew pasti akan memberikan yang terbaik untuk putrinya."
  "Tapi, Kak..."
  Rein menatap serius pada adik kandungnya itu. "Jangan mencariku kalau ingin membicarakan tentang Nona Jovant. Permisi." Ia lalu kembali memasuki ruang pesta untuk berpamitan dengan tuan rumah.
  Eruna terus mengawasi mantan kekasihnya dan ia hendak menemuinya bila tidak segera dicegah oleh sang ayah.
  
  Beberapa hari setelah Tuan besar Verentsille sehat, Rein mulai memenuhi janjinya pada keluarga Danforth untuk mengajarkan teknik dasar bermain piano pada Clara. Tiga kali dalam seminggu pemuda itu datang ke kediaman teman bisnisnya sepulang dari menyelesaikan pekerjaannya. Mereka akan selalu mengajaknya makan malam bersama saat dia datang. Tidak butuh waktu yang lama bagi Clara untuk mempelajarinya dari pemuda Verentsille itu. Kemudian setelah mereka menemukan seorang tutor untuk Clara, Rein pun sudah jarang datang ke kediaman rekan bisnisnya.

Sudah dua bulan sejak kunjungan terakhir Richard dan Issabelle yang memberitahukan sebuah kabar gembira, mereka akan segera menjadi ayah dan ibu. Tuan Verentsille tidak mampu menahan kebahagiaannya. Setiap hari ia menghitung hari, lebih tepatnya mengurangi hari dimana cucunya akan lahir.

Suara piano berbunyi satu ketukan. Bunyi per ketukannya berjarak waktu beberapa detik. Dapat terdengar dari jarak waktu ketukan bahwa pemuda tampan berambut coklat yang sedang berdiri memainkannya sedang tidak bersemangat.
  "Kurasa permainan piano mu tidak seburuk itu.", kata Tuan Jovant yang datang berkunjung.
  Rein menekan sebuah ketukan lagi lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Kakek.", sebutnya.
  Mereka pun duduk di ruang tamu. Dua cangkir teh disajikan dengan beberapa macam biskuit untuk menemani pembicaraan.
  "Ayah sedang berkumpul dengan teman-temannya.", kata Rein membuka pembicaraan.
  "Dan kau menghabiskan hari Minggu ini di rumah saja?"
  Rein tersenyum. "Tadi pagi saya ikut misa di gereja."
  Suasana menghening sejenak.
  "Kakek datang mencari ku?"
  "Ada suatu tempat yang ingin kakek kunjungi bersamamu."
  Pemuda itu sulit menolak ajakan kakeknya. Mereka pun pergi dengan menaiki kereta kuda yang membawa Tuan Jovant datang. Keduanya tiba di pemakaman. Lelaki tua itu memandu cucunya sampai ke sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama Carlfred Elmer Jovant 1852-1869.
  Melihat nama keluarga yang terukir di nisan sudah dapat terduga oleh Rein bahwa makam ini adalah kerabat kakeknya.
  "Carlfred.", panggil sang kakek. "Ayah membawa putra sulung kakakmu Chaterine."
  Rein terkejut dan tak mampu berkata apapun.
  Lalu Tuan Jovant berkata pada cucunya, "Pemuda yang berbaring di dalam sini adalah putra bungsuku. Carlfred. Putra kesayanganku yang selalu mampu memahami orang lain.", katanya mengenang.
  "Pasti berat untuk kakek saat kehilangan Paman Carlfred."
  Tuan Jovant menghela napas, berusaha mengendalikan kesedihannya. "Kakek bahkan tidak tahu dia sakit. Putraku tidak pernah mengatakan apapun tentang penyakitnya.", katanya dengan suara bergetar.
  Rein segera memeluk dan mencoba menenangkan kakeknya.
  "Carlfred pergi begitu saja.", katanya lagi. "Pergi mendahului orang tua ini."
  "Kakek.", sebutnya. "Karena Paman sangat menyayangi kakek makanya beliau tidak mengatakan apapun mengenai penyakitnya. Paman tidak ingin melihat kekhawatiran kakek."
  Tuan Jovant merasa lebih tenang dan menatap cucunya.
  Rein memandangi nisan itu lagi. Ia berjongkok dan menyentuh ukiran nama pamannya kemudian ia tersenyum seolah-olah ia dapat memahami tentang paman yang belum pernah dikenalnya ini. "Paman Carlfred. Meskipun saya tidak tinggal bersama keluarga Jovant, saya berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi mereka."
  Tuan Jovant masih belum melepaskan pandangannya dari Rein. "Seandainya Carlfred masih hidup, dia tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi padamu, Rein."
  Pemuda itu berdiri. "Semuanya telah terjadi.", katanya dengan suara yang tenang. "Kakek jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Kita tidak dapat mengubah yang telah terjadi."
  Pria tua itu dapat melihat jiwa puta bungsunya hidup di dalam diri Rein. Betapa miripnya mereka. "Chaterine harus tahu yang sebenarnya."
  Rein terkejut. "Tidak, kakek!", larangnya. "Ibuku tidak boleh mengetahui hal ini! Lebih baik ibu mengira saya telah mati. Saya tidak bisa neninggalkan Tuan Verentsille. Beliau adalah ayah angkatku. Orang yang sudah menolong dan merawatku." 
  Tuan Jovant menyerah, wajahnya menampakkan keputusasaan.
  "Kakek tidak akan memberitahunya kan."
  Tuan Jovant mengangguk. "Kalau menurutmu itu yang terbaik."
  Rein mencoba tersenyum. "Terimakasih."


Rein tiba di rumahnya menjelang senja. Saat itu Tuan Verentsille telah kembali dari berkumpul dengan teman-temannya. Ia duduk di ruang keluarga sambil membaca buku. Sejak menyerahkan bisnisnya kepada putra angkatnya, ia memiliki banyak waktu untuk membaca, salah satu hobi yang masih melekat di hari tuanya. 
  "Sudah pulang, Anak muda?"
  "Ayah.", panggil Rein yang menyungging senyum lalu duduk di sisinya.
  "Molly bilang kau keluar dengan Tuan Jovant?"
  "Iya. Mengunjungi makam Paman Carlfred yang meninggal di usia tujuh belas tahun.", jelasnya. "Putra bungsu kakek."
  "Oh.", lelaki tua itu bersuara. Kemudian ia mengganti topik. "Tuan Danforth mengundang kita makan malam di kediamannya besok."
  "Makan malam?"
  "Sepertinya dia tertarik menjodohkan putrinya padamu."
  Rein menoleh melihat ayah angkatnya.
  "Sebagian besar yang dibicarakannya adalah kamu." Tuan Verentsille tertawa.
  Rein tidak menanggapi apapun. Ia hanya diam dan tersenyum seperti biasa sambil menyimak cerita ayahnya mengenai pertemuan dengan teman-temannya hingga saat makan malam tiba.
   


~●~