Rein sedang berdiri di dekat jendela ketika Clara datang.
"Selamat pagi.", salam Clara yang menyadarkan Rein akan kehadirannya.
"Selamat pagi, Clara."
"Sedang memikirkan sesuatu ?", tanya wanita itu ketika berdiri di sisinya.
"Sejak terluka, aku belum pernah keluar dari kamar ini selangkah pun.", katanya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Rein ?"
"Rasa sakitnya sudah semakin berkurang. Mungkin besok aku sudah bisa kembali bekerja."
Clara meraih tangan kekasihnya. "Ayo, kita duduk di taman.", ajaknya.
Rein terkejut lalu tersenyum senang. "Tentu."
Clara membantu Rein berjalan. Mereka dengan pelan dan hati-hati menuruni tangga.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan ? Anda masih harus banyak istirahat di kamar.", kata Molly yang melihatnya.
"Aku ingin ke taman, Molly.", jawab pemuda itu. "Bisakah kau menyiapkan teh dan makanan kecil untuk kami ? Sandwich buatanmu yang kemarin sangat enak.", pujinya.
Kepala pelayan itu tersenyum kesal, ia tahu tuan mudanya sedang memuji dengan maksud jangan mengomelinya. Ia lalu bergegas ke dapur mempersiapkan yang diminta.
Clara tertawa kecil. "Dia terlihat kesal."
"Kalau aku tidak melakukannya, dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menceramahiku."
Mereka tiba di taman belakang. Keduanya duduk di kursi yang berada di bawah pohon. Rein memejam sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit, ia menarik napas yang dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
"Segarnya.", kata pemuda itu.
Clara tersenyum melihatnya.
"Terimakasih, Clara. Hanya kau satu-satunya yang bersedia membawaku kemari."
"Tapi kita tidak bisa lama berada di sini."
"Tidak apa-apa. Walau hanya sebentar, aku sudah sangat senang."
Molly mengantarkan pesanan tuan mudanya.
"Terimakasih, Molly.", kata Rein.
"Tuan Rein, ingatlah anda masih harus banyak istirahat."
"Aku tahu, Molly. Setelah menikmati ini aku akan kembali."
"Baiklah, Tuan dan Nona Danforth. Saya permisi."
"Kurasa besok kau belum boleh bekerja, Rein."
Pemuda itu hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Aku mengerti kalau kau sudah bosan di kamar terus."
Rein meletakkan cangkirnya. "Ayahku sudah tidak seharusnya bekerja.", katanya.
"Kalau begitu kau harus cepat sembuh dengan banyak istirahat. Kalau kau memaksakan tubuhmu, bukankah hasilnya akan lebih parah."
Lelaki itu menyadari kebenaran dari perkataan Clara. Namun ia membenci diri sendiri yang belum kunjung sembuh.
Keesokan sorenya ketika Tuan Verentsille kembali dari perusahaan, ia membawa beberapa dokumen yang perlu ditandatangani kepada putranya.
Rein merasa bingung melihat ayahnya. "Tanda tangan ayah juga berlaku di dokumen ini.", katanya.
"Yaaa...mungkin akan lebih baik kau yang memeriksanya sendiri karena ini adalah proyekmu."
Rein tersenyum senang. Dengan segera ia memeriksa dokumen-dokumen itu. Tuan Verentsille dapat melihat perubahan wajah putra angkatnya menjadi serius ketika sedang bekerja.
"Sementara kau bisa menangani pekerjaan dari rumah, Rein.", kata orang tua itu.
"Tentu, Ayah. Saya akan sangat menantikan berkas yang ayah bawa."
Rein sangat serius membaca dokumen-dokumen itu sampai tidak menyadari ayahnya telah meninggalkan kamarnya.
"Dia sedang menikmati pekerjaannya.", kata Tuan Verentsille.
"Terimakasih anda bersedia memenuhi permintaan saya, Tuan Verentsille.", kata Clara.
"Dengan senang hati, Nona Danforth. Saya senang anda bisa memikirkan cara terbaik untuk putraku."
Clara tersenyum. "Saya akan menemani Rein sekarang. Mungkin saya dapat melakukan sesuatu sementara ia bekerja.", pamitnya.
Setiap hari sepulangnya dari perusahaan, Tuan Verentsille akan membawakan dokumen ataupun berita terbaru dari perusahaannya. Mereka akan selalu membahasnya bersama. Dengan ijin dari dokter, Rein diperbolehkan memulai aktivitas nya kembali.
Begitu pun dengan Clara, gadis itu disibukkan dengan persiapan pernikahannya dua minggu lagi. Sang ibu selalu membawanya ke toko-toko tempat mereka memesan segala sesuatu yang dibutuhkan, mereka memastikan kalau pesanannya benar. Sepasang calon pengantin itu tidak diijinkan bertemu sampai di hari pernikahannya tiba.
Rein mengunjungi makam pamannya sehari sebelum acara pernikahan. Ia membawa bunga untuk di letakkan di depan nisan. Hari itu cuaca panas menyengat.
"Paman.", sebutnya. "Besok saya akan menikah dengan Clara.", katanya. "Saya mohon doa dari Paman Carlfred agar semuanya berjalan lancar. Juga...doakan saya agar mampu membuat Clara bahagia. Semoga saya mampu menjadi suami yang baik untuknya." Ia menunduk. "Sebenarnya saya sangat takut. Bantulah saya, Paman Carlfred."
Tuan Jovant mendekati makam putranya. "Kakek terus merasa akan bertemu denganmu di sini, Rein."
"Kakek.", panggilnya terkejut. Pemuda itu berdiri. "Kakek sering datang kemari ?"
"Ya.", jawab orang tua itu. "Ketika kakek merasa ingin bicara dengan Carlfred, maka kakek akan datang."
"..."
"Besok adalah hari pernikahanmu, Rein. Ada apa kau datang ke makam Carlfred ?"
"Kakek.", sebutnya. "Apakah menurut kakek besok Paman Andrew akan datang ?"
"Kakek melarangnya hadir. Kakek yakin dia akan mengacaukan hari besarmu."
"Sebenci itukah Paman Andrew padaku ? Apakah kakek juga membenci ayahku ?"
"Orang itu membawa putriku kabur lalu menelantarkannya juga kalian. Apa menurutmu kakek bisa memaafkannya ?"
"Apakah kakek yakin ayah lari dari tanggung jawab ?"
Tuan Jovant menatap cucunya.
"Saya mencaritahu tentang ayah.", katanya. "Untuk pertama kalinya ayah ikut bersama temannya menjadi awak kapal. Tapi sayang kapal itu disapu badai. Hanya beberapa yang selamat. Menurut informasi yang kudapatkan, ayah menolong rekannya hingga tidak sempat keluar dari kapal. Dia terjebak di dalam dan tenggelam bersama kapal itu.", jelasnya.
Tuan Jovant terkejut dan tak mampu berkata apapun.
"Ayahku bukanlah bajingan yang seperti selama ini keluarga Jovant anggap."
"Maaf, Cucuku."
Rein memegang pundak kakeknya. "Sekarang semuanya sudah jelas. Saya harap Paman Andrew juga bisa mengerti."
"Besok jalankan semuanya dengan tenang. Kakek pastikan pamanmu tidak akan hadir dan mengacaukannya."
"Terimakasih, Kakek."
Richard dan Issabelle memasuki kamar kakaknya.
"Hari besarmu ini akan menjadi hari peringatan patah hatinya para gadis penggemarmu, Kak.", kata Richard.
"Apa yang kau bicarakan, Richard.", tanggap sang kakak yang terlihat gugup lalu memeluk kedua adiknya.
"Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Kak Rein.", kata Issabelle.
"Terimakasih, Issabelle."
"Santai saja, Kak. Belum saatnya untuk gugup.", kata Richard yang menertawainya. "Saat yang akan membuatmu gugup adalah malam ini. Jangan sampai melakukan kesalahan.", bisiknya menggoda kakaknya.
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, Richard. Kalau tidak aku akan membatalkan posisimu sebagai best men ku."
"Hahahaha...Maaf, Kak. Itu adalah posisi yang kau percayakan padaku. Mana boleh diberikan pada orang lain."
"Kalau begitu berhentilah menggodaku.", kata Rein.
"Baik. Baik."
"Tuan Rein, kereta sudah siap. Sudah saatnya ke gereja sekarang.", kata Molly.
"Ya, Molly. Aku segera turun."
Para undangan telah memenuhi tempat duduk di dalam gereja. Pengantin pria dan best men-nya berdiri di sebelah kanan altar menunggu pengantin wanita masuk. Suasana di dalam gereja sangatlah tenang ketika pengantin wanita berjalan memasuki ruangan menuju ke altar dengan didampingi oleh sang ayah. Clara tidak mampu membendung kebahagiaannya, senyumnya merekah di balik cadar, ia tidak melepaskan pandangan pada calon suaminya yang mampu menutupi kegugupannya dengan senyuman di wajah. Tuan Danforth memberikan tangan kanan putrinya yang disambut Rein. "Mulai hari ini, kupercayakan putriku padamu, Rein. Jagalah dia dan bangunlah keluarga yang hangat bersamanya.", kata sang ayah.
"Saya berjanji akan memenuhi permintaan anda, Tuan Danforth."
Kemudian Tuan Danforth menempati tempat duduk di sebelah kanan istrinya.
Rein membuka cadar yang menutupi wajah pengantinnya. Kemudian mereka berlutut di tempat yang telah disediakan. Misa pernikahan pun dimulai dengan khidmat. Setelah selesai, Richard memberikan cincin kepada kakaknya untuk dipakaikan di jari manis Clara. Kemudian kedua mempelai menandatangani surat pernikahan mereka. Dengan begitu mereka telah resmi menjadi suami dan istri. Tangan kiri Clara melingkari lengan kanan suaminya, keduanya berjalan keluar dari gereja sambil tersenyum dengan iringan tepuk tangan dari para undangan.
Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman keluarga Verentsille. Jamuan makan bersama berlangsung selama dua jam. Setelah itu pengantin baru berangkat menuju ke Holly Village untuk berbulan madu. Mereka menyewa sebuah rumah sederhana di dekat danau. Hari sudah gelap ketika mereka tiba. Beberapa pelayan yang siap melayani segala kebutuhan majikannya, segera mengantarkan mereka ke kamar untuk beristirahat.
Clara membantu suaminya melepaskan jasnya.
"Karena sudah malam kita jadi tidak bisa menikmati pemandangannya.", kata Rein.
"Masih ada besok pagi.", kata Clara.
"Ya...kau benar.", tanggapnya.
"Pelayan bilang sudah menyiapkan air hangat. Mandilah dulu agar merasa segar, Sayang."
Rein terdiam mendengar panggilan mesra tersebut. "Kau duluan saja, Clara.", katanya. "Aku akan memeriksa perapiannya dulu." Ia segera mendekati perapian dan melihat kayu-kayu yang berada pada tempatnya yang siap untuk dibakar.
Clara menyadari kegugupan suaminya itu karena ia pun merasakan hal yang sama. Wanita itu hanya bisa tersenyum dan menuruti perkataan suaminya.
Beberapa waktu kemudian setelah Clara selesai, ia duduk di depan meja rias menyisir rambut merahnya sementara menunggu sang suami. Lalu ia berjalan mendekati jendela.
Rein keluar dan mendapatkan istrinya sedang berdiri sendirian di dekat jendela yang terbuka. Ia mendekatinya dan memakaikan mantel padanya. "Udara malam tidak baik untuk tubuh." Lalu ia menutup jendela.
"Aku sedang memikirkan kembali pemberkatan tadi pagi. Rasanya seperti mimpi."
Rein meraih tangan istrinya. "Ini bukan mimpi."
Clara terbuai dengan tatapan suaminya.
Rein mengecup punggung tangannya. "Selamat datang di keluarga Verentsille, Clara.", ucapnya. "Tolong jangan segan menyampaikan keluhanmu bila kelak aku melakukan kesalahan sebagai seorang suami."
Wanita itu tersenyum. "Begitu juga denganmu, Rein. Katakan padaku bila ada hal yang kulakukan yang tidak berkenan di hatimu."
Rein mengecup kening Clara dan memeluknya. Mereka duduk di salah satu sisi tempat tidur sambil menikmati wine yang telah disediakan.
"Selamat pagi.", salam Clara yang menyadarkan Rein akan kehadirannya.
"Selamat pagi, Clara."
"Sedang memikirkan sesuatu ?", tanya wanita itu ketika berdiri di sisinya.
"Sejak terluka, aku belum pernah keluar dari kamar ini selangkah pun.", katanya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Rein ?"
"Rasa sakitnya sudah semakin berkurang. Mungkin besok aku sudah bisa kembali bekerja."
Clara meraih tangan kekasihnya. "Ayo, kita duduk di taman.", ajaknya.
Rein terkejut lalu tersenyum senang. "Tentu."
Clara membantu Rein berjalan. Mereka dengan pelan dan hati-hati menuruni tangga.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan ? Anda masih harus banyak istirahat di kamar.", kata Molly yang melihatnya.
"Aku ingin ke taman, Molly.", jawab pemuda itu. "Bisakah kau menyiapkan teh dan makanan kecil untuk kami ? Sandwich buatanmu yang kemarin sangat enak.", pujinya.
Kepala pelayan itu tersenyum kesal, ia tahu tuan mudanya sedang memuji dengan maksud jangan mengomelinya. Ia lalu bergegas ke dapur mempersiapkan yang diminta.
Clara tertawa kecil. "Dia terlihat kesal."
"Kalau aku tidak melakukannya, dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menceramahiku."
Mereka tiba di taman belakang. Keduanya duduk di kursi yang berada di bawah pohon. Rein memejam sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit, ia menarik napas yang dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
"Segarnya.", kata pemuda itu.
Clara tersenyum melihatnya.
"Terimakasih, Clara. Hanya kau satu-satunya yang bersedia membawaku kemari."
"Tapi kita tidak bisa lama berada di sini."
"Tidak apa-apa. Walau hanya sebentar, aku sudah sangat senang."
Molly mengantarkan pesanan tuan mudanya.
"Terimakasih, Molly.", kata Rein.
"Tuan Rein, ingatlah anda masih harus banyak istirahat."
"Aku tahu, Molly. Setelah menikmati ini aku akan kembali."
"Baiklah, Tuan dan Nona Danforth. Saya permisi."
"Kurasa besok kau belum boleh bekerja, Rein."
Pemuda itu hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Aku mengerti kalau kau sudah bosan di kamar terus."
Rein meletakkan cangkirnya. "Ayahku sudah tidak seharusnya bekerja.", katanya.
"Kalau begitu kau harus cepat sembuh dengan banyak istirahat. Kalau kau memaksakan tubuhmu, bukankah hasilnya akan lebih parah."
Lelaki itu menyadari kebenaran dari perkataan Clara. Namun ia membenci diri sendiri yang belum kunjung sembuh.
Keesokan sorenya ketika Tuan Verentsille kembali dari perusahaan, ia membawa beberapa dokumen yang perlu ditandatangani kepada putranya.
Rein merasa bingung melihat ayahnya. "Tanda tangan ayah juga berlaku di dokumen ini.", katanya.
"Yaaa...mungkin akan lebih baik kau yang memeriksanya sendiri karena ini adalah proyekmu."
Rein tersenyum senang. Dengan segera ia memeriksa dokumen-dokumen itu. Tuan Verentsille dapat melihat perubahan wajah putra angkatnya menjadi serius ketika sedang bekerja.
"Sementara kau bisa menangani pekerjaan dari rumah, Rein.", kata orang tua itu.
"Tentu, Ayah. Saya akan sangat menantikan berkas yang ayah bawa."
Rein sangat serius membaca dokumen-dokumen itu sampai tidak menyadari ayahnya telah meninggalkan kamarnya.
"Dia sedang menikmati pekerjaannya.", kata Tuan Verentsille.
"Terimakasih anda bersedia memenuhi permintaan saya, Tuan Verentsille.", kata Clara.
"Dengan senang hati, Nona Danforth. Saya senang anda bisa memikirkan cara terbaik untuk putraku."
Clara tersenyum. "Saya akan menemani Rein sekarang. Mungkin saya dapat melakukan sesuatu sementara ia bekerja.", pamitnya.
Setiap hari sepulangnya dari perusahaan, Tuan Verentsille akan membawakan dokumen ataupun berita terbaru dari perusahaannya. Mereka akan selalu membahasnya bersama. Dengan ijin dari dokter, Rein diperbolehkan memulai aktivitas nya kembali.
Begitu pun dengan Clara, gadis itu disibukkan dengan persiapan pernikahannya dua minggu lagi. Sang ibu selalu membawanya ke toko-toko tempat mereka memesan segala sesuatu yang dibutuhkan, mereka memastikan kalau pesanannya benar. Sepasang calon pengantin itu tidak diijinkan bertemu sampai di hari pernikahannya tiba.
Rein mengunjungi makam pamannya sehari sebelum acara pernikahan. Ia membawa bunga untuk di letakkan di depan nisan. Hari itu cuaca panas menyengat.
"Paman.", sebutnya. "Besok saya akan menikah dengan Clara.", katanya. "Saya mohon doa dari Paman Carlfred agar semuanya berjalan lancar. Juga...doakan saya agar mampu membuat Clara bahagia. Semoga saya mampu menjadi suami yang baik untuknya." Ia menunduk. "Sebenarnya saya sangat takut. Bantulah saya, Paman Carlfred."
Tuan Jovant mendekati makam putranya. "Kakek terus merasa akan bertemu denganmu di sini, Rein."
"Kakek.", panggilnya terkejut. Pemuda itu berdiri. "Kakek sering datang kemari ?"
"Ya.", jawab orang tua itu. "Ketika kakek merasa ingin bicara dengan Carlfred, maka kakek akan datang."
"..."
"Besok adalah hari pernikahanmu, Rein. Ada apa kau datang ke makam Carlfred ?"
"Kakek.", sebutnya. "Apakah menurut kakek besok Paman Andrew akan datang ?"
"Kakek melarangnya hadir. Kakek yakin dia akan mengacaukan hari besarmu."
"Sebenci itukah Paman Andrew padaku ? Apakah kakek juga membenci ayahku ?"
"Orang itu membawa putriku kabur lalu menelantarkannya juga kalian. Apa menurutmu kakek bisa memaafkannya ?"
"Apakah kakek yakin ayah lari dari tanggung jawab ?"
Tuan Jovant menatap cucunya.
"Saya mencaritahu tentang ayah.", katanya. "Untuk pertama kalinya ayah ikut bersama temannya menjadi awak kapal. Tapi sayang kapal itu disapu badai. Hanya beberapa yang selamat. Menurut informasi yang kudapatkan, ayah menolong rekannya hingga tidak sempat keluar dari kapal. Dia terjebak di dalam dan tenggelam bersama kapal itu.", jelasnya.
Tuan Jovant terkejut dan tak mampu berkata apapun.
"Ayahku bukanlah bajingan yang seperti selama ini keluarga Jovant anggap."
"Maaf, Cucuku."
Rein memegang pundak kakeknya. "Sekarang semuanya sudah jelas. Saya harap Paman Andrew juga bisa mengerti."
"Besok jalankan semuanya dengan tenang. Kakek pastikan pamanmu tidak akan hadir dan mengacaukannya."
"Terimakasih, Kakek."
Richard dan Issabelle memasuki kamar kakaknya.
"Hari besarmu ini akan menjadi hari peringatan patah hatinya para gadis penggemarmu, Kak.", kata Richard.
"Apa yang kau bicarakan, Richard.", tanggap sang kakak yang terlihat gugup lalu memeluk kedua adiknya.
"Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Kak Rein.", kata Issabelle.
"Terimakasih, Issabelle."
"Santai saja, Kak. Belum saatnya untuk gugup.", kata Richard yang menertawainya. "Saat yang akan membuatmu gugup adalah malam ini. Jangan sampai melakukan kesalahan.", bisiknya menggoda kakaknya.
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, Richard. Kalau tidak aku akan membatalkan posisimu sebagai best men ku."
"Hahahaha...Maaf, Kak. Itu adalah posisi yang kau percayakan padaku. Mana boleh diberikan pada orang lain."
"Kalau begitu berhentilah menggodaku.", kata Rein.
"Baik. Baik."
"Tuan Rein, kereta sudah siap. Sudah saatnya ke gereja sekarang.", kata Molly.
"Ya, Molly. Aku segera turun."
Para undangan telah memenuhi tempat duduk di dalam gereja. Pengantin pria dan best men-nya berdiri di sebelah kanan altar menunggu pengantin wanita masuk. Suasana di dalam gereja sangatlah tenang ketika pengantin wanita berjalan memasuki ruangan menuju ke altar dengan didampingi oleh sang ayah. Clara tidak mampu membendung kebahagiaannya, senyumnya merekah di balik cadar, ia tidak melepaskan pandangan pada calon suaminya yang mampu menutupi kegugupannya dengan senyuman di wajah. Tuan Danforth memberikan tangan kanan putrinya yang disambut Rein. "Mulai hari ini, kupercayakan putriku padamu, Rein. Jagalah dia dan bangunlah keluarga yang hangat bersamanya.", kata sang ayah.
"Saya berjanji akan memenuhi permintaan anda, Tuan Danforth."
Kemudian Tuan Danforth menempati tempat duduk di sebelah kanan istrinya.
Rein membuka cadar yang menutupi wajah pengantinnya. Kemudian mereka berlutut di tempat yang telah disediakan. Misa pernikahan pun dimulai dengan khidmat. Setelah selesai, Richard memberikan cincin kepada kakaknya untuk dipakaikan di jari manis Clara. Kemudian kedua mempelai menandatangani surat pernikahan mereka. Dengan begitu mereka telah resmi menjadi suami dan istri. Tangan kiri Clara melingkari lengan kanan suaminya, keduanya berjalan keluar dari gereja sambil tersenyum dengan iringan tepuk tangan dari para undangan.
Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman keluarga Verentsille. Jamuan makan bersama berlangsung selama dua jam. Setelah itu pengantin baru berangkat menuju ke Holly Village untuk berbulan madu. Mereka menyewa sebuah rumah sederhana di dekat danau. Hari sudah gelap ketika mereka tiba. Beberapa pelayan yang siap melayani segala kebutuhan majikannya, segera mengantarkan mereka ke kamar untuk beristirahat.
Clara membantu suaminya melepaskan jasnya.
"Karena sudah malam kita jadi tidak bisa menikmati pemandangannya.", kata Rein.
"Masih ada besok pagi.", kata Clara.
"Ya...kau benar.", tanggapnya.
"Pelayan bilang sudah menyiapkan air hangat. Mandilah dulu agar merasa segar, Sayang."
Rein terdiam mendengar panggilan mesra tersebut. "Kau duluan saja, Clara.", katanya. "Aku akan memeriksa perapiannya dulu." Ia segera mendekati perapian dan melihat kayu-kayu yang berada pada tempatnya yang siap untuk dibakar.
Clara menyadari kegugupan suaminya itu karena ia pun merasakan hal yang sama. Wanita itu hanya bisa tersenyum dan menuruti perkataan suaminya.
Beberapa waktu kemudian setelah Clara selesai, ia duduk di depan meja rias menyisir rambut merahnya sementara menunggu sang suami. Lalu ia berjalan mendekati jendela.
Rein keluar dan mendapatkan istrinya sedang berdiri sendirian di dekat jendela yang terbuka. Ia mendekatinya dan memakaikan mantel padanya. "Udara malam tidak baik untuk tubuh." Lalu ia menutup jendela.
"Aku sedang memikirkan kembali pemberkatan tadi pagi. Rasanya seperti mimpi."
Rein meraih tangan istrinya. "Ini bukan mimpi."
Clara terbuai dengan tatapan suaminya.
Rein mengecup punggung tangannya. "Selamat datang di keluarga Verentsille, Clara.", ucapnya. "Tolong jangan segan menyampaikan keluhanmu bila kelak aku melakukan kesalahan sebagai seorang suami."
Wanita itu tersenyum. "Begitu juga denganmu, Rein. Katakan padaku bila ada hal yang kulakukan yang tidak berkenan di hatimu."
Rein mengecup kening Clara dan memeluknya. Mereka duduk di salah satu sisi tempat tidur sambil menikmati wine yang telah disediakan.
~ 0 ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar