Minggu, 31 Mei 2015

Ch 09

Tuan verentsille baru turun dari kamarnya ketika putri dan menantunya datang berkunjung. Orang tua itu mengajak mereka ke ruang makan, sambil menunggu Rein turun, Issabelle menceritakan tentang kejadian semalam. Keduanya khawatir dengan kondisi tubuh kakaknya.
"Kakakmu tidak menceritakan apapun tentang lukanya.", kata Tuan Verentsille. "Ayah sempat berpikir kalau kakakmu kelelahan setelah dua hari disibukkan mencari Nona Jovant dan akan telat sarapan pagi ini. Akan lebih baik kita ke kamarnya untuk memeriksa keadaannya sekarang."
"Maaf telah membuat kalian khawatir.", kata Rein ketika memasuki ruang makan.
Richard segera menarikkan kursi untuknya duduk. 
"Selamat pagi, Ayah, Richard, Issabelle."
"Bagaimana keadaanmu pagi ini?", tanya sang ayah.
Rein tersenyum. "Tentunya tidak separah yang dikatakan kedua adikku ini, Ayah.", sangkalnya. Rasa sakit pada lukanya masih sangat terasa pagi itu. Bahkan lebih parah dari semalam. Namun ia menutupinya dari semua orang.
"Kakak pikir kami akan percaya begitu saja ?", tanya Richard. 
Rein terdiam. 
"Kami sudah memanggil dokter.", kata Richard lagi.
"Kalian terlalu berlebihan. Ini hanya luka lebam, nanti juga akan sembuh."
Issabelle berjalan ke belakang kakaknya lalu menekan punggungnya. Rein bersuara kesakitan memegang pundaknya. "Padahal aku tidak menekannya dengan kuat tapi reaksi kakak sudah seperti itu. Apa perlu kucoba sekali lagi?"
"Cukup, Issabelle. Cukup.", kata Rein yang mencoba melindungi punggungnya. "Baiklah aku akan mendengarkan saran kalian.", ia menyerah.
"Bagus, Issabelle.", puji Richard.
"Sepertinya aku harus berbicara langsung dengan Clara mengenai kakak ku ini.", kata perempuan berambut pirang itu setelah kembali ke tempat duduknya.
"Kau mau mengatakan apa padanya?", tanya Rein curiga.
"Clara harus tahu cara mengatasi calon suaminya yang keras kepala ini."
"Aku setuju, Istriku.", kata Richard.
Tuan Verentsille ikut tersenyum. "Ayah mendukungmu, Putriku."
Rein terdiam, ia kalah suara untuk membela diri. Issabelle memang selalu unggul dalam hal mendesaknya melakukan sesuatu.

Dokter yang dipanggil Richard mulai memeriksa kondisi Rein. Pemuda itu tidak mampu bergerak cepat, terkendala oleh luka-luka di sekujur tubuhnya. Rein harus mengatakan ia menjadi korban perampokan ketika dokter menanyakan apa yang terjadi padanya. Kemudian Richard membantu kakaknya berbaring. Dokter meminta pasiennya itu istirahat total sampai lukanya sembuh. Ia dilarang keluar kamar atau berjalan jauh selama masa istirahat. Dokter juga memberikan resep obat untuk diminum tiga kali sehari selama satu bulan. Untuk sementara masalah pekerjaan akan diambil alih oleh Tuan Verentsille.
"Maaf, Ayah jadi harus mengurus pekerjaan saya.", kata Rein.
"Ini sama sekali tidak membebaniku, Rein.", kata sang ayah yang lalu menghela napas. "Tapi apa yang dilakukan Tuan Andrew padamu benar-benar sudah keterlaluan."
Rein berdiam diri. Saat ini yang ia pikirkan adalah bagaimana mengatakan pada Clara kalau ia tidak bisa menemuinya untuk sementara waktu.


Sudah satu minggu Clara tidak bertemu dengan calon suaminya. Tidak biasanya Rein tidak mengunjunginya selama satu minggu penuh. Pemuda itu bahkan tidak mengabarkan apapun padanya. Sekarang gadis itu mulai khawatir. Kedua orang tuanya sedang berada di luar kota menghadiri pesta pernikahan kerabatnya. Sedangkan kakaknya sibuk mengurus perusahaan dan kekasihnya. Ia sendirian di rumah. Rasa kesepian begitu terasa. Ketika Steven pulang, ia langsung menemuinya.
"Clara, bagaimana keadaan Tuan Verentsille ? Apa sudah lebih baik ?", tanya Josephine yang diundang makan malam oleh kekasihnya.
Clara menatap wanita itu dengan heran. "Maaf. Aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan, Josephine."
Sekarang giliran wanita itu yang heran. "Kau tidak tahu ? Kudengar dari ayahku kalau calon suami mu sedang terluka. Dokter memintanya istirahat total dan ayahnya yang menggantikannya mengurus perusahaan."
Clara terbelalak seraya menutup bibirnya. Ia tersentak berdiri.
"Kami tidak tahu mengenai itu.", kata Steven. "Tidak ada yang memberitahu kami."
"Aku harus menjenguknya.", kata Clara yang hendak meninggalkan ruang makan.
Steven segera menghentikan adiknya. "Sudah malam, Clara. Besok pagi aku akan mengantarmu ke sana."


Rein menyelesaikan sarapan dan meminum obat yang diantarkan Molly. Ia duduk di tempat tidurnya sambil menyandar pada tumpukan bantal. Ada beberapa buku yang diletakkan di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya. Ia menikmati sinar matahari yang masuk melalui jendela yang tepat berada di sisi kirinya. Tidak lama kemudian ia hampir tertidur ketika Molly mengantarkan Steven dan Clara ke kamarnya. Pemuda itu membuka matanya lalu menoleh ke arah pintu. Ia bergerak ingin bangun dari tempatnya ketika melihat mereka. Clara segera mendekat dan menahannya. "Tetaplah seperti ini, Rein. Jangan paksakan dirimu.", wanita itu berkata dengan lembut sambil memegang tangan kanannya.
"Bagaimana keadaanmu?", tanya Steven.
"Sudah lebih baik.", jawabnya. "Bagaimana kalian bisa tahu?"
Steven memperlihatkan wajah kesalnya. "Josephine.", jawabnya singkat.
"Maaf. Aku tidak memberitahu kalian."
"Tidak seharusnya kau menyembunyikan ini dari kami, Rein. Kami berhak dan harus mengetahuinya. Apa kau tidak kasihan pada adikku ?"
"Sudahlah, Kak!", tegur Clara.
"Maaf.", ucapnya lagi.
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak akan memaafkanmu bila ada lain kali."
Rein tersenyum. "Ya."
"Baiklah, aku titipkan adikku di sini. Nanti aku akan kembali menjemputnya."
Rein mengangguk.
Setelah Steven pergi, Rein menatap wajah Clara yang penuh kecemasan. "Jangan khawatir, Clara." Ia menyentuh wajahnya.
"Kau mengantuk ?"
Rein mengangguk. "Sepertinya ada kandungan obat tidur  pada obat ku."
Clara memberikan senyumnya. Ia tidak melepaskan tangan kekasihnya sejak berada di sisinya. "Tidurlah. Aku akan selalu berada di sini menemanimu."
Rein menyungging senyum lalu memejam. Satu hal yang wanita itu pelajari dari calon suaminya, bahwa pria yang akan menikahinya ini adalah seseorang yang selalu menyimpan semua hal buruk yang dialaminya.
Setelah Rein terlelap, Clara melihat beberapa foto yang terletak di atas meja kecil. Foto-foto Rein bersama ayah dan adiknya, lalu foto pernikahan kedua adiknya. Ia juga melihat buku-buku yang tertumpuk rapi. Dia pasti melewati waktu dengan membaca buku-buku ini, pikirnya. Kemudian wanita itu ingin mengetahui buku apa saja yang dibaca calon suaminya. Ada beberapa buku karya Sir Arthur Conan Doyle dan Oliver Twist oleh Charles Dickens. Clara mengambil salah satu buku karya Conan Doyle dan membacanya sambil duduk di kursi di sebelah tempat tidur.

Molly mengetuk pintu lalu masuk menyuguhkan teh dan sandwich untuk gadis itu. Lalu ia berdiri sejenak melihat tuan mudanya.
"Saya tidak akan bisa melihat wajah tidur Tuan Rein kalau dia tidak sedang sakit seperti ini.", kata Molly sambil tersenyum kagum.
"Maaf ?", kata Clara.
"Oh. Bukan berarti saya senang melihatnya sakit, Nona.", ia menjelaskan. "Nona Issabelle secara khusus meminta dokter memberikan obat tidur. Tentunya dengan dosis yang masih layak."
"Dari yang kau katakan, sepertinya tuan mu adalah orang yang sering memaksakan diri.", tebak Clara.
"Benar, Nona Clara.", tanggapnya. "Kalau bukan karena kecerdikan Nona Issabelle, saya yakin Tuan Rein saat ini sedang berada di pabrik." Wanita gemuk itu menghela napas. "Saya sangat berharap kelak Nona Clara dapat mengatasi kebiasaaan calon suami anda ini."
Clara tertawa kecil. "Kalau begitu aku harus belajar dari adiknya."
"Nona Issabelle pasti senang mengajari anda."
"Terimakasih sudah memberitahuku, Molly."
"Sama-sama, Nona Clara. Sekrang saya harus pergi.", pamitnya.
Clara duduk di pinggiran ranjang dan memegang tangan kanan Rein. Ia perhatikan ada air mata yang menggenang di kedua sudut matanya yang terpejam. Selain itu ia merasakan tangan Rein menggenggam tangannya dan mulai bergerak gelisah. Clara mencoba menenangkannya. Ia mengusap kepalanya yang berkeringat dengan sapu tangan. Rein terbangun duduk dengan napas kuat. Ia menopang keningnya dengan tangan kiri.
"Kau mimpi buruk.", kata Clara.
Rein baru menyadari kehadiran wanita itu. "Clara.", sebutnya.
Wanita itu menuangkan teh untuknya.
"Terimakasih." Ia meminum tehnya.
"Merasa lebih baik, Rein ?"
Pemuda itu menjawabnya dengan mengangguk. "Sejak tadi kau menjagaku ?"
Clara tersenyum. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Aku ingin merawatmu, Rein."
"Terimakasih, Clara. Itulah kenapa aku tidak ingin memberitahumu. Kau pasti akan melakukan ini."
"Apa kau tidak suka ?"
Rein tersenyum menggeleng. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula hari ini aku merasa sudah jauh lebih baik."
"Kalau kau menginginkannya, aku akan berhenti merawatmu."
Rein tertawa kecil sambil menunduk. "Aku tidak akan melarangmu, Clara.", katanya. "Kau boleh datang kapan pun kau mau. Dan aku akan selalu menantikannya."
Clara tersenyum senang lalu beranjak mendekati meja. "Kau sudah tidur dua jam, Rein. Dan aku yakin kau lapar. Molly membuatkan sandwich untukku. Kita makan bersama ya."
Rein berguman setuju, ia menyusun bantal untuk disandari.
"Lagi-lagi kau melakukannya.", kata Clara yang mendekatinya. Ia menyusun bantal-bantal itu lalu membantunya mundur untuk menyandar. "Mintalah padaku untuk melakukannya. Aku ingin bisa berguna untukmu, Rein. Kurang dari dua bulan lagi aku akan menjadi istrimu."
"Clara.", lelaki itu menyebut namanya.
Clara memberikan satu potong sandwich untuknya. Mereka bersama-sama menikmati roti isi buatan Molly sambil mengobrol.
"Aku tidak tahu kau suka membaca karya fiksi, Rein."
Pemuda itu melihat pada tumpukan buku di meja lalu tersenyum lucu. "Bukan karena aku menyukainya. Aku minta diantarkan buku non-fiksi. Tapi Issabellle malah memberikanku bacaan itu."
Clara tertawa. "Lalu kau membacanya ?"
Rein mengangguk. "Aku juga membaca koran yang diantar Molly.", tambahnya.
"Cerita Sherlock Holmes sangat menarik. Tadi aku membacanya selagi kau tidur."
"Ya, aku sependapat denganmu.", katanya. "Bila kau ingin membacanya, kau bisa membawanya pulang, Clara."
"Aku akan baca di sini."
Pemuda itu menatapnya. "Begitu."
Clara memberinya minum. "Mau sandwichnya lagi?"
"Tidak, terimakasih.", tolaknya. Rein menurunkan kakinya ke lantai.
"Kau mau kemana, Rein? Kalau butuh sesuatu katakan saja padaku."
"Aku tahu, Clara.", kata lelaki yang selalu tersenyum ramah itu. "Tapi kau tidak mungkin menemaiku sampai ke kamar mandi bukan?"
Clara segera tertunduk malu. Wajahnya merona.
Dengan pelan pemuda itu berdiri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya memang sudah tidak separah seminggu yang lalu, namun tetap saja ia belum bisa bergerak dengan cepat layaknya orang sehat. Ia masih harus berpegangan pada sesuatu untuk berjalan.
"Akan kupanggilkan seseorang untuk membantumu."
"Tidak, Clara.", tolaknya. "Aku harus latihan. Berbaring terus membuat tubuhku pegal dan kepalaku pusing. Aku akan mencoba sendiri."
Clara mengulurkan tangannya untuk menjadi penopang. "Kalau begitu berpeganganlah pada tanganku. Aku akan mengantarmu, jangan khawatir, aku akan menunggu di luar pintu."
Rein menerima bantuan yang ditawarkan.
Tuan Jovant beserta Chaterine dan Issabelle datang menjenguk Rein. Mereka masuk ke kamarnya ketika Clara tengah menopangnya menuju ke ranjang.
"Clara, mari perkenalkan. Beliau adalah Tuan Jovant dan putrinya, Nyonya Chaterine, lalu ini adikku Issabelle.", kata Rein setelah duduk kembali di ranjang. "Dan ini adalah Nona Danforth, calon istri saya."
Clara memberi salam pada mereka.
"Kakak sudah pernah memperkenalkanku pada Nona Danforth.", kata Issabelle.
"Benarkah ?", tanya Rein.
Clara mempersilahkan mereka duduk.
"Nona Danforth, ayo kita bicara di bawah.", ajak Issabelle.
"Tapi...", gadis itu menoleh pada kekasihnya.
"Pergilah, Clara.", kata Rein.
Kedua wanita itu pun turun dan duduk di taman.
Molly mengantarkan teh dan kue-kue kering untuk tamu.
"Bagaimana kondisimu, Tuan Verentsille ?", tanya Chaterine.
"Sudah lebih baik, Nyonya. Terimakasih sudah datang menjengukku."
"Seharusnya orang tua ini yang berterimakasih padamu. Sebenarnya bisa saja kau melaporkan Andrew pada polisi atas penganiayaan ini. Tapi tidak kau lakukan."
"Ini adalah masalah keluarga, Tuan Jovant."
"Nona Danforth tidak mengetahui masalah ini ?", tanya Chaterine.
"Tidak, Nyonya."
"Dia gadis yang baik dan lembut. Anda pasti akan bahagia bersamanya."
"Terimakasih, Nyonya Chaterine."
"Sejak hari itu, Andrew menyuruh orang mencarinya."
"Katakanlah padanya, Tuan. Pencariannya hanya akan sia-sia. Dan berikan putrinya waktu untuk menenangkan diri."
"Sudah kukatakan padanya. Tapi putraku yang satu itu sangat keras."
Tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat.
Rein bersuara memecah keheningan. "Silahkan diminum tehnya.", katanya.
"Oh. Kau benar." Nyonya Chaterine menanggapi. "Sejak tadi membicarakan hal serius sampai lupa minum."
Kedua orang tersebut menikmati teh dan kue kecil yang disajikan.

"Issabelle, aku tahu ini sedikit kasar. Tapi aku ingin tahu tentang kakakmu lebih banyak.", kata Clara.
"Sejauh kau mengenal kakakku, apa saja yang kau ketahui tentangnya?"
"Seperti yang banyak orang katakan, Rein sangat ramah dan perhatian. Dan baru hari ini aku tahu dia tidak suka membebani orang. Bagiku itu adalah keburukannya. Aku ingin berguna untuknya. Aku ingin dia membutuhkanku."
"Kalau begitu buatlah kakakku membutuhkanmu."
Clara menatapnya. "Bagaimana caranya ?"
Issabelle meneguk tehnya. "Kakakku terlalu serius dan keras pada diri sendiri. Kau harus menemukan celah pada dirinya. Walaupun aku bilang kakakku keras, tapi sebenarnya dia sangat rapuh. Apa kau mengerti maksudku, Clara ?"
Clara mengangguk mengerti. "Aku akan berusaha.", katanya. "Lalu...satu hal lagi.", ia berkata dengan ragu.
"Ya?"
"Saya dengar, dulu Rein sempat dekat dengan Nona Jovant."
Issabelle menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Apakah dia pernah membutuhkannya?"
"Kurasa lebih penting bagimu untuk berusaha menjadi orang yang dibutuhkan kakakku. Itulah yang terpenting saat ini."
Clara berdiam diri. Ia menyadari masa lalu itu bukanlah sesuatu yang pantas ditanyakan. Setiap orang pasti memiliki rahasianya tersendiri. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak lagi menanyakan hal itu di kemudian hari.

"Sudah saatnya pulang, Adikku.", kata Steven yang sore itu datang menjemput.
Clara merasa berat meninggalkan Rein sendirian. "Kakak, bolehkah aku pulang setelah makan malam ?"
Steven menoleh pada Rein. "Lihatlah adikku. Kurasa semakin cepat kalian menikah akan semakin baik."
Rein tertawa. "Aku tahu kau mengkhawatirkan ku sendirian di sini, Clara. Percayalah, Molly sangat sering masuk kemari memeriksa keadaanku dan apa yang kubutuhkan."
Clara masih menunduk membisu.
"Hari ini kau merawatku seharian. Aku tidak ingin kau kelelahan dan sakit."
"..."
Rein memegang tangan wanita itu. "Dan aku akan menunggumu besok."
Clara tersenyum senang.
"Kau dengar itu, Adikku sayang ?"
"Kalau begitu sampai bertemu besok, Rein."
Rein mengagguk. "Aku akan menantikanmu.", katanya yang lalu mengecup punggung tangan calon istrinya.


~  ●  ~








Tidak ada komentar: