"Sudah lama kita tidak jalan berdua seperti ini, Clara.", kata Nyonya Danforth.
"Bila ibu kesepian, jangan ragu untuk meminta ku menemani ibu.", kata Clara.
Ibu dan anak itu melewati sore hari di Tea House.
"Kakak mu akan menikahi Josephine akhir tahun ini."
"Benarkah ?"
"Tapi...ibu tidak yakin bisa akrab dengan calon kakak ipar mu itu."
"Kenapa, Ibu ? Josephine gadis yang baik walaupun dia sedikit pemilih."
Nyonya Danforth menikmati teh nya. "Bagaimana dengan kehidupan mu, Clara ? Bagaimana sikap suami mu selama ini ? Juga ayah mertua mu ? Mereka tidak bersikap buruk pada mu, bukan ?"
Clara tertawa. "Ibu lucu sekali."
"Kenapa kau malah menertawakan ibu ? Itu adalah pertanyaan yang wajar. Suatu hari nanti kau pun akan mempertanyakan hal yang sama pada putrimu."
Clara hanya tersenyum. "Suami dan ayah mertua ku adalah orang-orang baik. Saya merasa beruntung dinikahi oleh Tuan muda Verentsille. Semoga keberuntungan selalu menyertai ku."
"Amin.", kata sang ibu. "Merupakan suatu keberuntungan juga Rein memiliki mu sebagai istrinya."
Clara melihat sebuah sosok yang dikenalnya tengah duduk di sudut ruangan sendirian. "Ibu, bukankah itu Nyonya Chaterine ?"
Sang ibu melihat ke arah yang dilihat putrinya. "Mungkin."
"Mari kita bergabung bersamanya, Ibu."
Ibu dan anak itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Nyonya Chaterine.
"Selamat sore, Nyonya Chaterine.", salam
Clara, begitu pun dengan Nyonya Danforth.
"Oh.", wanita itu terkejut melihat mereka. "Selamat sore, Nyonya Verentsille dan ..."
"Beliau adalah ibu ku."
"Nyonya Danforth.", sebutnya sambil tersenyum. "Silahkan duduk."
Kedua wanita itu mengambil tempatnya masing-masing.
"Anda tidak sedang menunggu orang, Nyonya ?", tanya Clara.
"Sama sekali tidak, Nyonya Verentsille.", jawabnya. "Saya hanya sedang menikmati teh di sini. Richard pernah membawa ku kemari."
"Selamat atas kelahiran cucu anda, Nyonya Chaterine.", ucap Nyonya Danforth.
"Terima kasih.", ucap Chaterine. "Berdua saja ?"
"Ya.", jawab sang ibu yang kemudian menoleh keluar jendela. "Clara, bukankah itu suami mu ?"
Clara segera menoleh. "Ya, Ibu", jawabnya setelah melihat Rein sedang berjalan keluar dari coffee house sebelah bersama seorang laki-laki. "Mungkin mereka sedang membicarakan pekerjaan.", katanya yang masih memperhatikan suaminya. Ia melihat Rein berpisah dengan orang itu di jalan, kemudian ia didekati oleh seorang anak kecil berbaju lusuh. Pemuda itu lalu mengikuti si anak pergi.
"Kemana mereka ?", tanya Nyonya Danforth. "Suami mu bergaul dengan anak-anak kumuh, Clara ?"
Clara memutuskan untuk mengikuti mereka walaupun Nyonya Danforth melarangnya. Nyonya Chaterine ikut bersama Clara, kecuali sang ibu yang merasa kesal dan tetap duduk di tempatnya.
"Tempat ini ...", kata Nyonya Chaterine.
"Anda tahu tempat ini?"
Seorang pemuda mendekati kedua wanita tersebut sambil terus memasati wajah Nyonya Chaterine. "Maaf, apakah anda bibi Chaterine ? Ibunya Rein ?"
Nyonya Chaterine memasati wajah pemuda itu. Ia menjawab pertanyaannya dengan mengangguk. "Anda ..."
"Saya Robert. Dulu teman bermainnya Rein, Bi. Tidak disangka penglihatan anda benar -benar telah sembuh.", katanya.
"Robert.", sebutnya mengulang nama itu sambil berusaha mengingat.
"Ayah !!!", panggil seorang anak kecil yang mendekatinya.
"Adrian, ada apa ?", tanya Robert panik melihat anaknya yang tergesa-gesa.
"Ibu segera melahirkan !"
"Robert ! Kita harus cepat membawanya..." Rein terdiam melihat istri dan ibu nya, kedua tangannya tengah mengangkat seorang wanita hamil yang merintih kesakitan.
Robert mendekati temannya lalu mengambil alih menggendong sang istri.
"Tidak ada waktu menunggu dokter. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.", kata Rein.
"Ya." Robert segera membawa istrinya ke rumah sakit dan diikuti si kecil Adrian.
Rein mendekati istri dan ibu nya. "Nyonya Chaterine, Clara, apa yang kalian lakukan di sini ?"
Clara menoleh sejenak melihat Nyonya Chaterine lalu menjawab suaminya. "Tadi kami di tea house melihat mu pergi dengan seorang anak kecil. Karena itu kami ingin tahu apa yang terjadi."
Rein mengangguk. "Aku akan mengantar kalian pulang setelah itu aku akan menyusul Robert ke rumah sakit."
"Saya juga ingin ke rumah sakit.", kata Nyonya Chaterine. "Saya harap anda tidak keberatan, Tuan Verentsille."
"Tapi ini sudah senja, Nyonya. Akan lebih baik bila saya mengantar anda pulang."
"Teman lama putra ku sedang cemas menunggu kelahiran bayi nya, Tuan Verentsille. Saya ingin berada di sana untuk menemaninya."
Rein melihat Clara yang memberikan anggukan kecil. "Baiklah.", katanya menyerah.
Rein menyewa sebuah kereta kuda. Di sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Rein terus berpikir inikah saatnya sang ibu mengetahui kebenarannya. Ataukah ia masih harus menunggu saat yang tepat untuk memberitahunya.
"Saya tidak menyangka anda begitu peduli pada keluarga kecil itu.", kata Nyonya Chaterine.
"Robert bekerja di pabrik kami. Tadi putranya hendak mencarinya di pabrik, tapi bertemu dengan ku di jalan. Saya hanya membantu sebisanya.", jelasnya yang melihat raut wajah ibunya kurang baik. Sang ibu memejam sambil mengeryit alis. "Ada apa, Nyonya ? Anda terlihat pucat."
Clara menyentuh tangan wanita itu. "Tangan anda dingin, Nyonya Chaterine."
Rein segera meminta kusir mempercepat laju keretanya.
"Saya tidak apa-apa.", jawab wanita itu sambil menyentuh keningnya.
Rein melepaskan jas untuk menyelimuti Nyonya Chaterine. Kemudian ia berpindah duduk ke sisi ibunya lalu merangkulnya. "Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit. Bertahanlah."
Nyonya Chaterine menyandarkan kepala di pundak putranya.
Dokter mengatakan bahwa Nyonya Chaterine kelelahan dan stress. Ia harus banyak istirahat.
Sementara Clara menjaga Nyonya Chaterine yang tertidur setelah minum obat, Rein menghubungi keluarga Jovant dan juga ayahnya. Setelah itu ia mengunjungi Robert yang tengah menantikan kelahiran bayinya di luar kamar bersalin.
"Bagaimana ibu mu ?"
"Kelelahan dan butuh istirahat.", jawab pemuda tampan itu. Keduanya duduk berdampingan di kursi.
Robert menepuk pundak temannya. "Terimakasih dan maaf sudah merepotkanmu."
Rein tersenyum mengangguk.
"Ibu mu tetap cantik seperti dulu. Begitu melihatnya aku langsung mengenalinya. Dia tidak banyak berubah."
"..."
"Hei, Kenapa tiba-tiba diam ?"
Rein memandangi temannya. Mulutnya menganga kecil hendak berkata, namun ia mengurungkan niatnya. Ia menghela napas. "Aku temani ibu dulu.", ia berkata sambil berdiri dan menepuk pundak Robert. "Beritahu aku kalau bayi mu sudah lahir.", tambahnya yang kemudian pergi ke lantai atas setelah temannya menanggapi dengan anggukkan dan senyum.
"Clara, aku sudah meminta kusir menjemput mu. Kau harus pulang istirahat.", ia berkata sambil menyentuh wajah istrinya.
"Aku akan di sini bersama mu, Rein. Yang sedang terbaring di sini adalah ibu dari suami ku. Bagaimana mungkin aku pulang."
Rein memeluknya setelah itu ia duduk di kursi di sisi tempat tidur dan memegang tangan sang ibu dengan kedua tangannya. "Untuk sesaat aku merasa ibu mengenaliku ... serta kesal pada ku.", katanya. "Clara...", panggilnya. "Aku tidak berani memberitahunya."
Wanita muda itu menyentuh pundak suaminya. "Gunakaan saat yang tepat, Rein. Perlukah aku yang membantu mu ?"
Rein menggeleng. Andrew dan Richard masuk dan seketika Rein berdiri. "Menyingkir !", tegur Andrew yang mendorong Rein. Ia memegang tangan kakaknya dan wajahnya tampak cemas.
"Apa kata dokter, Kak ?", tanya Richard.
"Kelelahan dan stress. Harus banyak istirahat.", jawab Rein.
Andrew menarik baju Rein. "Kemana kau membawanya pergi ? Apa saja yang kau katakan padanya sampai kakak ku jadi seperti ini ?"
"Bila anda begitu menyayanginya...peduli pada perasaannya...anda tidak seharusnya memisahkan kami."
Andrew mendorong pemuda itu hingga jatuh. "Jawab apa yang kutanyakan !"
Clara membantu suaminya berdiri. "Apa yang anda takutkan, Tuan Andrew ?", tanya wanita itu.
Rein mengisyaratkan Clara untuk tidak berdebat dengan pamannya. "Dokter bilang, besok pagi Nyonya Chaterine sudah boleh pulang dan cukup istirahat di rumah.", katanya. "Kami pamit dulu."
Andrew tidak berkata apa pun. Ia masih terpaku pada tempatnya.
"Kenapa tidak kau jelaskan kejadiannya ?", tanya Clara saat dalam perjalan pulang.
"Paman tidak akan pernah percaya apapun yang kukatan. Dia hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada ku."
"Rein.", panggil Clara.
"Ya ?"
"Melihat sikap paman pada mu tadi ... selain saat kau masih kecil ... apakah dia juga pernah melukai mu lagi ?"
Rein menatap mata istrinya untuk beberapa saat. "Ya.", jawabnya.
Clara terkejut dan menyentuh pundak suaminya.
"Maaf, Clara. Waktu itu aku berbohong pada mu.", katanya. "Luka di sekujur tubuh ku saat itu bukan karena perampokan."
"Tega sekali dia melukai mu sampai separah itu."
"Saat itu aku menolak menjawab keberadaan Eruna. Karena itu paman marah."
"..."
Rein tersenyum. "Tapi itu kan sudah lama berlalu. Dan terimakasih pada mu yang sudah merawat dan menemani ku sampai sembuh."
Clara berusaha tersenyum.
"Setelah apa yang terjadi hari ini, aku tidak ingin kau pergi sendirian ke kediaman keluarga Jovant lagi."
"...?"
"Aku takut paman akan melukai mu, Clara.", katanya. "Katakan pada ku bila kau ingin ke sana. Aku harus bersama mu."
Clara tersenyum. "Baiklah."
Rein berdansa dengan Clara di sebuah pesta dansa. Walaupun sekarang statusnya telah beristri, namun tetap saja Rein masih menjadi idola kaum hawa. Banyak mata yang akan memperhatikan bila ia hadir. Tuan dan Nyonya Danforth juga hadir di pesta, keduanya menghampiri pasangan muda itu.
"Beberapa hari yang lalu aku melihat mu bersama seorang anak di jalan, Menantu ku.", kata Nyonya Danforth.
"Ya, Ibu.", Rein membenarkan. "Dia adalah anak dari teman ku."
Nyonya Danforth terkejut. "Kau bergaul dengan mereka dari kelas rendah ?"
Rein hanya diam tanpa menanggapi.
"Ibu, ayah anak itu bekerja di pabrik kami. Tentu saja Rein akan sering bertemu langsung dengan para pekerjanya. Bagi saya itu adalah hal yang wajar.", jelas Clara.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka.", kata Tuan Danforth. "Harus ada jarak antara majikan dan bawahan."
Rein berusaha tersenyum dan mengangguk. "Saya mengerti.", katanya walaupun tidak sependapat dengan mereka.
"Lalu akan lebih baik bila kalian segera mempunyai anak, Clara. Dengan begitu suami mu pasti akan lebih memperhatikan kalian daripada anak-anak orang lain.", kata Nyonya Danforth.
"Kenapa ibu berbicara seolah-olah suami ku begitu buruk ?", tanya Clara.
"Clara, ibu mu mengkhawatirkan mu. Dan menantu ku, aku harap kau tidak berkecil hati dengan perkataannya.", kata Tuan Danforth.
"Sama sekali tidak, Ayah.", kata Rein tersenyum.
"Tapi apa yang dikatakan ibu mu benar, Clara. Kami sedang menantikan kabar baik dari kalian."
Clara menunduk melihat gelas wine di tangannya.
"Berusahalah.", bisik Tuan Danforth pada menantunya, setelah itu keduanya meninggalkan mereka.
"Clara.", panggil sang suami yang mengetahui suasana hati istrinya sedang kurang baik.
Tuan Verentsille yang juga ikut menghadiri pesta bersama putra dan menantunya mendekat. "Ayah tidak melihat keluarga Jovant di sini.", katanya.
"Mungkin mereka sibuk, Ayah.", kata Rein. "Ayah menikmati pestanya ?"
Orang tua itu tertawa. "Banyak sekali teman lama ku yang datang. Tentu aku menikmatinya."
"Syukurlah.", kata Rein. "Bila ayah tidak keberatan, kami ingin pulang duluan."
"Kenapa ?", tanya sang ayah yang kemudian melihat menantunya. "Putri ku, kau sakit ?"
Clara berusaha tersenyum. "Saya sedikit lelah, Ayah."
"Kalau begitu cepatlah pulang. Rein, pastikan kau harus merawatnya."
"Saya mengerti, Ayah."
Rein mematikan lampu kamar dan berbaring di ranjang. Ia menyelimuti istrinya lalu mengecup keningnya. "Mimpi indah, Clara."
"Rein."
"Hmm ?"
"Aku tidak mengerti kenapa ibu ku berkata seperti itu pada mu. Padahal ibu sangat senang kau menjadi menantunya."
"Jangan dipikirkan, Clara. Aku tidak marah. Mungkin ibu mu benar."
"..."
"Aku belum benar-benar menjadi seorang suami yang sempurna untuk putrinya. Kalau memang seperti itu, ibu mu benar. Dan aku pantas ditegur."
"Aku tidak merasa seperti itu."
Rein menghela napas. Ia berbalik dan mengecup bibir istrinya. "Aku harap semuanya belum terlambat.", katanya. "Aku akan benar-benar menjadi suami yang buruk bila sampai istri ku membenci ku."
Clara tersenyum.
"Lahirkan anak-anak yang sehat untuk ku, Clara."
Clara menyentuh wajah suaminya. "Ya.", jawabnya lembut.
Rein mencium bibir sang istri dengan lembut dan melewatkan malam yang indah.
"Tempat ini ...", kata Nyonya Chaterine.
"Anda tahu tempat ini?"
Seorang pemuda mendekati kedua wanita tersebut sambil terus memasati wajah Nyonya Chaterine. "Maaf, apakah anda bibi Chaterine ? Ibunya Rein ?"
Nyonya Chaterine memasati wajah pemuda itu. Ia menjawab pertanyaannya dengan mengangguk. "Anda ..."
"Saya Robert. Dulu teman bermainnya Rein, Bi. Tidak disangka penglihatan anda benar -benar telah sembuh.", katanya.
"Robert.", sebutnya mengulang nama itu sambil berusaha mengingat.
"Ayah !!!", panggil seorang anak kecil yang mendekatinya.
"Adrian, ada apa ?", tanya Robert panik melihat anaknya yang tergesa-gesa.
"Ibu segera melahirkan !"
"Robert ! Kita harus cepat membawanya..." Rein terdiam melihat istri dan ibu nya, kedua tangannya tengah mengangkat seorang wanita hamil yang merintih kesakitan.
Robert mendekati temannya lalu mengambil alih menggendong sang istri.
"Tidak ada waktu menunggu dokter. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.", kata Rein.
"Ya." Robert segera membawa istrinya ke rumah sakit dan diikuti si kecil Adrian.
Rein mendekati istri dan ibu nya. "Nyonya Chaterine, Clara, apa yang kalian lakukan di sini ?"
Clara menoleh sejenak melihat Nyonya Chaterine lalu menjawab suaminya. "Tadi kami di tea house melihat mu pergi dengan seorang anak kecil. Karena itu kami ingin tahu apa yang terjadi."
Rein mengangguk. "Aku akan mengantar kalian pulang setelah itu aku akan menyusul Robert ke rumah sakit."
"Saya juga ingin ke rumah sakit.", kata Nyonya Chaterine. "Saya harap anda tidak keberatan, Tuan Verentsille."
"Tapi ini sudah senja, Nyonya. Akan lebih baik bila saya mengantar anda pulang."
"Teman lama putra ku sedang cemas menunggu kelahiran bayi nya, Tuan Verentsille. Saya ingin berada di sana untuk menemaninya."
Rein melihat Clara yang memberikan anggukan kecil. "Baiklah.", katanya menyerah.
Rein menyewa sebuah kereta kuda. Di sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Rein terus berpikir inikah saatnya sang ibu mengetahui kebenarannya. Ataukah ia masih harus menunggu saat yang tepat untuk memberitahunya.
"Saya tidak menyangka anda begitu peduli pada keluarga kecil itu.", kata Nyonya Chaterine.
"Robert bekerja di pabrik kami. Tadi putranya hendak mencarinya di pabrik, tapi bertemu dengan ku di jalan. Saya hanya membantu sebisanya.", jelasnya yang melihat raut wajah ibunya kurang baik. Sang ibu memejam sambil mengeryit alis. "Ada apa, Nyonya ? Anda terlihat pucat."
Clara menyentuh tangan wanita itu. "Tangan anda dingin, Nyonya Chaterine."
Rein segera meminta kusir mempercepat laju keretanya.
"Saya tidak apa-apa.", jawab wanita itu sambil menyentuh keningnya.
Rein melepaskan jas untuk menyelimuti Nyonya Chaterine. Kemudian ia berpindah duduk ke sisi ibunya lalu merangkulnya. "Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit. Bertahanlah."
Nyonya Chaterine menyandarkan kepala di pundak putranya.
Dokter mengatakan bahwa Nyonya Chaterine kelelahan dan stress. Ia harus banyak istirahat.
Sementara Clara menjaga Nyonya Chaterine yang tertidur setelah minum obat, Rein menghubungi keluarga Jovant dan juga ayahnya. Setelah itu ia mengunjungi Robert yang tengah menantikan kelahiran bayinya di luar kamar bersalin.
"Bagaimana ibu mu ?"
"Kelelahan dan butuh istirahat.", jawab pemuda tampan itu. Keduanya duduk berdampingan di kursi.
Robert menepuk pundak temannya. "Terimakasih dan maaf sudah merepotkanmu."
Rein tersenyum mengangguk.
"Ibu mu tetap cantik seperti dulu. Begitu melihatnya aku langsung mengenalinya. Dia tidak banyak berubah."
"..."
"Hei, Kenapa tiba-tiba diam ?"
Rein memandangi temannya. Mulutnya menganga kecil hendak berkata, namun ia mengurungkan niatnya. Ia menghela napas. "Aku temani ibu dulu.", ia berkata sambil berdiri dan menepuk pundak Robert. "Beritahu aku kalau bayi mu sudah lahir.", tambahnya yang kemudian pergi ke lantai atas setelah temannya menanggapi dengan anggukkan dan senyum.
"Clara, aku sudah meminta kusir menjemput mu. Kau harus pulang istirahat.", ia berkata sambil menyentuh wajah istrinya.
"Aku akan di sini bersama mu, Rein. Yang sedang terbaring di sini adalah ibu dari suami ku. Bagaimana mungkin aku pulang."
Rein memeluknya setelah itu ia duduk di kursi di sisi tempat tidur dan memegang tangan sang ibu dengan kedua tangannya. "Untuk sesaat aku merasa ibu mengenaliku ... serta kesal pada ku.", katanya. "Clara...", panggilnya. "Aku tidak berani memberitahunya."
Wanita muda itu menyentuh pundak suaminya. "Gunakaan saat yang tepat, Rein. Perlukah aku yang membantu mu ?"
Rein menggeleng. Andrew dan Richard masuk dan seketika Rein berdiri. "Menyingkir !", tegur Andrew yang mendorong Rein. Ia memegang tangan kakaknya dan wajahnya tampak cemas.
"Apa kata dokter, Kak ?", tanya Richard.
"Kelelahan dan stress. Harus banyak istirahat.", jawab Rein.
Andrew menarik baju Rein. "Kemana kau membawanya pergi ? Apa saja yang kau katakan padanya sampai kakak ku jadi seperti ini ?"
"Bila anda begitu menyayanginya...peduli pada perasaannya...anda tidak seharusnya memisahkan kami."
Andrew mendorong pemuda itu hingga jatuh. "Jawab apa yang kutanyakan !"
Clara membantu suaminya berdiri. "Apa yang anda takutkan, Tuan Andrew ?", tanya wanita itu.
Rein mengisyaratkan Clara untuk tidak berdebat dengan pamannya. "Dokter bilang, besok pagi Nyonya Chaterine sudah boleh pulang dan cukup istirahat di rumah.", katanya. "Kami pamit dulu."
Andrew tidak berkata apa pun. Ia masih terpaku pada tempatnya.
"Kenapa tidak kau jelaskan kejadiannya ?", tanya Clara saat dalam perjalan pulang.
"Paman tidak akan pernah percaya apapun yang kukatan. Dia hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada ku."
"Rein.", panggil Clara.
"Ya ?"
"Melihat sikap paman pada mu tadi ... selain saat kau masih kecil ... apakah dia juga pernah melukai mu lagi ?"
Rein menatap mata istrinya untuk beberapa saat. "Ya.", jawabnya.
Clara terkejut dan menyentuh pundak suaminya.
"Maaf, Clara. Waktu itu aku berbohong pada mu.", katanya. "Luka di sekujur tubuh ku saat itu bukan karena perampokan."
"Tega sekali dia melukai mu sampai separah itu."
"Saat itu aku menolak menjawab keberadaan Eruna. Karena itu paman marah."
"..."
Rein tersenyum. "Tapi itu kan sudah lama berlalu. Dan terimakasih pada mu yang sudah merawat dan menemani ku sampai sembuh."
Clara berusaha tersenyum.
"Setelah apa yang terjadi hari ini, aku tidak ingin kau pergi sendirian ke kediaman keluarga Jovant lagi."
"...?"
"Aku takut paman akan melukai mu, Clara.", katanya. "Katakan pada ku bila kau ingin ke sana. Aku harus bersama mu."
Clara tersenyum. "Baiklah."
Rein berdansa dengan Clara di sebuah pesta dansa. Walaupun sekarang statusnya telah beristri, namun tetap saja Rein masih menjadi idola kaum hawa. Banyak mata yang akan memperhatikan bila ia hadir. Tuan dan Nyonya Danforth juga hadir di pesta, keduanya menghampiri pasangan muda itu.
"Beberapa hari yang lalu aku melihat mu bersama seorang anak di jalan, Menantu ku.", kata Nyonya Danforth.
"Ya, Ibu.", Rein membenarkan. "Dia adalah anak dari teman ku."
Nyonya Danforth terkejut. "Kau bergaul dengan mereka dari kelas rendah ?"
Rein hanya diam tanpa menanggapi.
"Ibu, ayah anak itu bekerja di pabrik kami. Tentu saja Rein akan sering bertemu langsung dengan para pekerjanya. Bagi saya itu adalah hal yang wajar.", jelas Clara.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka.", kata Tuan Danforth. "Harus ada jarak antara majikan dan bawahan."
Rein berusaha tersenyum dan mengangguk. "Saya mengerti.", katanya walaupun tidak sependapat dengan mereka.
"Lalu akan lebih baik bila kalian segera mempunyai anak, Clara. Dengan begitu suami mu pasti akan lebih memperhatikan kalian daripada anak-anak orang lain.", kata Nyonya Danforth.
"Kenapa ibu berbicara seolah-olah suami ku begitu buruk ?", tanya Clara.
"Clara, ibu mu mengkhawatirkan mu. Dan menantu ku, aku harap kau tidak berkecil hati dengan perkataannya.", kata Tuan Danforth.
"Sama sekali tidak, Ayah.", kata Rein tersenyum.
"Tapi apa yang dikatakan ibu mu benar, Clara. Kami sedang menantikan kabar baik dari kalian."
Clara menunduk melihat gelas wine di tangannya.
"Berusahalah.", bisik Tuan Danforth pada menantunya, setelah itu keduanya meninggalkan mereka.
"Clara.", panggil sang suami yang mengetahui suasana hati istrinya sedang kurang baik.
Tuan Verentsille yang juga ikut menghadiri pesta bersama putra dan menantunya mendekat. "Ayah tidak melihat keluarga Jovant di sini.", katanya.
"Mungkin mereka sibuk, Ayah.", kata Rein. "Ayah menikmati pestanya ?"
Orang tua itu tertawa. "Banyak sekali teman lama ku yang datang. Tentu aku menikmatinya."
"Syukurlah.", kata Rein. "Bila ayah tidak keberatan, kami ingin pulang duluan."
"Kenapa ?", tanya sang ayah yang kemudian melihat menantunya. "Putri ku, kau sakit ?"
Clara berusaha tersenyum. "Saya sedikit lelah, Ayah."
"Kalau begitu cepatlah pulang. Rein, pastikan kau harus merawatnya."
"Saya mengerti, Ayah."
Rein mematikan lampu kamar dan berbaring di ranjang. Ia menyelimuti istrinya lalu mengecup keningnya. "Mimpi indah, Clara."
"Rein."
"Hmm ?"
"Aku tidak mengerti kenapa ibu ku berkata seperti itu pada mu. Padahal ibu sangat senang kau menjadi menantunya."
"Jangan dipikirkan, Clara. Aku tidak marah. Mungkin ibu mu benar."
"..."
"Aku belum benar-benar menjadi seorang suami yang sempurna untuk putrinya. Kalau memang seperti itu, ibu mu benar. Dan aku pantas ditegur."
"Aku tidak merasa seperti itu."
Rein menghela napas. Ia berbalik dan mengecup bibir istrinya. "Aku harap semuanya belum terlambat.", katanya. "Aku akan benar-benar menjadi suami yang buruk bila sampai istri ku membenci ku."
Clara tersenyum.
"Lahirkan anak-anak yang sehat untuk ku, Clara."
Clara menyentuh wajah suaminya. "Ya.", jawabnya lembut.
Rein mencium bibir sang istri dengan lembut dan melewatkan malam yang indah.
~ ● ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar