Minggu, 16 Agustus 2015

CH 12

Rein bersama Clara mengunjungi Issabelle di sore hari. Wajah pemuda itu begitu bahagia ketika menimang keponakannya secara bergiliran. Kemudian Richard mengajaknya berbicara di ruang kerja di lantai dasar ketika Issabelle hendak menyusui kedua putra mereka.
"Sudah kuputuskan tidak akan kuteruskan perusahaan ini, Kak."
"Seburuk itukah keadaannya ?"
"..."
"Aku sudah membicarakan dengan Ibu dan Kakek. Mereka tidak setuju dengan keputusanku."
"Apa rencana mu selanjutnya, Richard ?"
Sang adik menatap mata kakaknya dengan serius. "Aku butuh pinjaman dana dari kakak.", katanya. "Aku ingin mendirikan perusahaan pembuatan mainan anak."
"Kau tahu aku akan membantu mu, Richard. Tapi apa kau sudah yakin ? Pikirkanlah lagi dan rundingkan rencanamu ini dengan ibu dan kakek.", sarannya. "Juga istrimu.", tambahnya.
Pintu dibuka dengan cepat lalu Andrew masuk ke ruang kerja. "Tinggalkan ruangan ini, Richard.", perintahnya dengan suara datar.
Kakak beradik itu berdiri dan menoleh padanya.
"Apa kau ingin aku mengulangi perintahku ?"
Rein mengisyaratkan adiknya untuk pergi. "Selamat sore, Tuan Andrew.", salamnya setelah sang adik meninggalkan ruangan. Pemuda ini tidak mengenali pamannya untuk sesaat tadi. Perawakan sang paman yang sekarang sangat kurus dan kulitnya pucat tersebut tetap tegap dengan pembawaan yang selalu berkelas. 
"Kau harus membawa putriku pulang ke rumah ini.", kata Andrew seraya berjalan melaluinya.
Rein terkejut serta terdiam, ia tidak mengerti. Walaupun sang paman sangat membencinya, namun kali ini lelaki setengah baya itu terdengar seperti meminta bantuan.
"Aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengatakan keberadaannya.", lanjutnya. "Sebagai gantinya, kau harus menceraikan istrimu dan bertanggung jawab atas kebahagiaan putriku."
Rein menunduk lalu menatap pamannya dengan serius. "Saya akan berusaha menemukan putri anda, Tuan Andrew. Namun saya tidak bisa memenuhi permintaan anda yang selanjutnya."
Andrew menatap tajam padanya. Dapat terlihat bila emosinya akan segera meledak.
"Saya tidak akan pernah menceraikan Clara. Kebahagiaan Clara adalah tanggung jawabku sebagai suaminya. Permintaan anda seperti memperlakukan semua orang sebagai barang yang bisa diserahkan pada siapa saja yang anda inginkan. Putri anda juga manusia, Tuan Andrew. Putri anda memiliki perasaan dan pikiran, biarkan dirinya sendiri yang menentukan yang terbaik untuknya."
Andrew menyungging senyum. "Bisakah kau mempertahankan pernikahanmu setelah istrimu tahu kalau kau hanya memperalatnya untuk menjauhi Eruna ?"
Rein terbelalak. "Apa yang telah anda katakan pada Clara ?"
Andrew hanya tertawa kecil.
Rein segera keluar dan menemukan Clara di depan pintu. Keduanya pulang dan tidak ada yang membuka pembicaraan di sepanjang perjalanan di dalam kereta kuda.
Rein ingin membicarakan permasalahan ini dengan Clara, namun wanita itu memintanya untuk menunda sampai makan malam selesai.

Rein duduk di tepi ranjang sementara sang istri tengah menyisir rambut di depan meja rias. Keduanya sudah siap untuk tidur malam itu, namun Rein ingin masalah ini segera diselesaikan.
"Nyonya Chaterine adalah ibu kandung ku.", sang suami berkata sambil menatap mata istrinya melalui kaca rias.
Kegiatan menyisir Clara terhenti. Ia pun juga menatap suaminya melalui kaca di hadapannya.
"Richard adalah adik kandung ku.", ia menambahkan. "Aku adalah anak angkat keluarga Verentsille." Rein berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Ibu tidak mengenaliku. Mereka memberitahunya kalau aku, Reinharverd, sudah meninggal karena kecelakaan.", katanya. "Ayahku adalah seorang pelayan di kediaman keluarga Jovant. Hubungan kedua orang tua ku tidak direstui sehingga mereka kabur. Empat tahun setelah Richard lahir, ayahku meninggal. Ibu mengalami kebutaan. Aku bekerja untuk penghidupan kami bertiga."
Clara membalikkan badan melihat langsung suaminya.
"Suatu hari, ibu sakit parah, kami tidak punya uang untuk berobat. Berbekal pengetahuanku tentang keluarga Jovant, aku memberanikan diri mencari tempat tinggal mereka dan meminta bantuan. Setelah Paman Andrew melihat kondisi ibu, dia bahkan memberikan tawaran untuk membawa ibu dan adikku kembali ke kediamannya, namun aku tidak diijinkan ikut."
"Kau menerima tawaran itu ?", tebak Clara.
Rein mengangguk.
"Kenapa keluarga Jovant menolakmu, Rein ?"
Rein menggeleng. "Aku tidak tahu."
"..."
"Sampai sekarang aku tidak pernah tahu penyebab kebencian paman Andrew padaku."
"..."
"Karena aku tidak diijinkan bertemu dengan ibu dan adikku, sesekali aku akan menunggu dari kejauhan sambil memperhatikan pintu gerbang keluarga Jovant. Berharap aku bisa melihat mereka."
"..."
"Paman Andrew menyadari keberadaan ku dan berusaha melenyapkan ku. Mungkin paman ingin mencegah kemungkinan suatu waktu nanti kami akan bertemu. Ketika aku dikira telah mati, seseorang menemukanku yang bersimbah darah. Orang itu membawaku ke kediamannya lalu merawatku. Orang baik itu adalah Tuan Besar Verentsille yang kemudian mengangkatku sebagai putranya. Beliau memberiku pendidikan dan mengajariku banyak hal untuk hidup dalam lingkungan ini. Demi melindungiku, ayah mengganti namaku menjadi Reinheart dan menjauhkanku dari jangkauan keluarga Jovant."
"Kemudian bagaimana kau bisa berhubungan lagi dengan keluarga Jovant ?"
"Karena aku terlalu pesimis. Aku terus mencari cara agar dapat bertemu ibu dan Richard. Ayah tidak setuju dengan rencana ku untuk berbisnis dengan keluarga Jovant. Tapi aku tidak mendengarkannya. Aku tetap melaksanakan rencana ku. Semuanya berjalan lancar. Paman Andrew tidak mengenali ku. Lalu aku bertemu dengan Eruna, putri tunggal paman, di pesta dansa. Seiring waktu, kami mulai dekat."
"Lalu ?"
"Ketika aku sakit, Eruna dan Richard datang menjenguk serta merawat ku. Mereka membaca buku harian ku sambil menunggu ku tidur. Dari tulisan itulah mereka menemukan kebenaran tentang aku."
"Kau menulis buku harian ?"
"Dulu.", jawab Rein. "Aku membakar semuanya dan berhenti menulis." Pemuda itu menghela napas. "Kemudian aku melarang mereka memberitahu yang lainnya. Terlebih lagi pada ibu."
"Bagaimana paman Andrew mengetahuinya ?"
"Menurut perkataan Richard, Eruna menceritakan tentang aku pada kakek. Tanpa sepengetahuan mereka, paman Andrew mendengarkan semuanya."
"..."
"Paman memintaku menjauhi putrinya bila ingin hubungan Richard dan Issabelle direstui. Aku menyetujuinya tanpa sepengetahuan siapa pun. Aku juga ingin agar kau tidak memberitahu mereka tentang kesepakatan ini, Clara."
"..."
"Lalu aku bertemu dengan mu, Clara." Rein mendekati istrinya lalu berlutut dengan satu kaki di hadapannya. Ia memegang kedua tangan wanita itu. "Awalnya aku hanya menganggapmu sebagai adik dari teman ku." Ia menunduk. "Aku mencoba keluar dari bayang-bayang Eruna. Aku mencoba memulai hubungan yang baru dengan mu. Ketulusan dan kelembutan mu membuat ku ingin meneruskan hubungan ini bersama mu. Aku ingin membahagiakan mu, Clara."
"Oh, Tuhan ku ...", ucap Clara yang sudah tidak dapat membendung tangisannya.
Sang suami mengusap air mata istrinya. "Clara."
"Selesaikan cerita mu, Rein.", kata wanita itu. "Beritahu aku semuanya malam ini. Jangan ada rahasia apa pun lagi bila kau tulus ingin membahagiakan istri mu ini."
Rein berjalan mendekati meja kecil lalu menuangkan segelas air putih untuk Clara. Sang istri mencoba menenangkan diri setelah minum.
"Suatu pagi, Richard datang memberitahu ku bahwa Eruna menghilang. Aku bantu mencari sepupu ku itu. Akhirnya aku menemukannya di pelabuhan, dia akan pergi ke New York saat itu juga dan memintaku untuk tidak memberitahu siapa pun. Hanya itu yang sanggup ku lakukan untuknya."
"..."
"Hari ini paman memintaku mencari dan membawanya pulang.", Rein mengecup tangan istrinya. "Aku akan memenuhi permintaan paman satu kali lagi, Clara. Hanya sampai membawanya pulang pada ayahnya. Ini janji ku pada mu."
"..." Clara sangat ingin menanyakan perasaan suaminya itu terhadap dirinya. Namun ia takut mendengar jawaban yang akan diucapkan. Karena itu ia memilih untuk berdiam diri dan menanyakan hal lain. "Nyonya Chaterine harus mengetahui kebenaran ini, Rein. Sungguh tidak adil baginya, hanya dia seorang satu-satunya yang masih berduka akan putra sulungnya. Pengakuan mu akan menghapus kesedihan yang sudah berlarut dalam dirinya. Ibu mu masih belum dapat menerima pernyataan itu. Dia mengatakan pada ku bahwa kau begitu mirip dengan putra sulungnya. Dari lubuk hatinya dia sangat berharap kalau kau masih hidup dan kau lah putranya."
Rein mengangguk. "Aku tahu itu, Clara. Tapi kenyataannya aku tetap tidak bisa berada di sisi ibu seperti Richard. Aku harus di sini menemani ayah angkat ku. Aku tidak ingin meninggalkan orang baik itu sendirian."
"Suami ku yang baik.", sebut wanita cantik itu yang berbalik memegang sepasang tangan suaminya. "Kalian hanya dipisahkan oleh jarak. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa Reinharverd nya masih hidup akan membuat wanita itu dihujani air mata kebahagiaan. Aku yakin ibu mu akan mengerti kesulitan mu. Dia akan bisa memaklumkan mu. Percayalah."
"Clara.", sebutnya.
Suami istri itu berpelukan. Clara menangis dengan perasaan yang bercampur aduk. Wanita itu lega setelah mengetahui semua kenyataan yang diceritakan, namun ia takut akan kehilangan suaminya. Sedangkan Rein juga merasakan telah terbebas dari beban rahasia yang ia pikul selama ini. Mulai saat ini ia akan bisa membicarakan segala sesuatunya bersama sang istri.



~  o  ~









Tidak ada komentar: