Minggu, 03 Mei 2015

Ch 02



Eruna duduk di sudut restoran. Ia memang datang lebih awal untuk menunggu lelaki yang dicintainya. Wangi parfumnya sangat lembut. Gadis itu mengenakan pakaian berwarna hijau, seragam dengan sarung tangan brokatnya. Secangkir kopi hangat menemaninya sambil menunggu.
Sampai pada waktu yang telah dijanjikan, pria yang dinanti belum juga datang. Ia mulai gelisah melirik ke sekelilingnya, siapa tahu bila pemuda maskulin itu tidak menemukannya. Tapi dia tidak ada, dia tidak datang. Ah, mungkin telat, pikirnya. Harapan-harapan untuk menepis pikiran ketidakdatangan Rein terus bermunculan dalam benaknya. Satu cangkir kopi, dua hingga tiga cangkir kopi telah dia habiskan sembari menunggu. Warna langit mulai berganti gelap dan ia harus pulang. Benar saja apa yang dikhawatirkannya, sang ayah yang dingin telah menantinya di rumah. Dengan tangan melipat sambil duduk di ruang keluarga Andrew memanggilnya masuk. Pembawaan dingin dan sorot mata tajam adalah ciri khas lelaki berusia empat puluh tiga tahun tersebut.
     "Darimana?"
     "Jalan-jalan.", jawabnya dengan suara kecil. Ia berharap akan ada seseorang datang menolongnya sebelum ayahnya menginterogasi lebih lanjut.
     Andrew menurunkan kedua tangannya lalu berdiri. Sambil melangkah mengelilingi puteri tunggalnya, matanya terus memincing melihatnya. "Sampai semalam ini?", tanyanya. "Jangan coba-coba membohongiku.", katanya kemudian. "Selama berjam-jam duduk di sudut Tucxon. Sedang menunggunya? Kalian diam-diam bertemu di belakangku?"
     "Bertemu dengan siapa? Apakah saya tidak boleh menyendiri minum kopi? Bisakah ayah berhenti terus mencurigaiku? Lagipula apa sebabnya ayah begitu membenci Rein?"
     "Ada apa lagi ini?", tanya seorang lelaki tua dengan cerutu di mulutnya.
     Eruna langsung mendekati kakeknya mencari perlindungan. "Kakek."
     "Eruna mulai berani menentangku, Ayah!", kata Andrew dengan meninggikan suaranya.
     Chaterine masuk ke ruang tamu.
     Tuan Jovant menoleh kepada cucunya. "Apa yang sudah kau lakukan, Eruna?"
     "Saya tidak melakukan apapun. Hanya ayah saja yang selalu curiga."
     "Heh ! Masih berani menyangkal!"
     "Cukup!", kata Tuan Jovant dengan tegas.
     "Kenapa? Ayah membelanya?", protes Andrew.
     "Kau ikut denganku, Andrew."
     Sementara Tuan Jovant berbicara dengan putra sulungnya di ruang lain, Chaterine mengajak Eruna kembali ke kamarnya.
     "Sebenarnya apa yang kau lakukan, Eruna?", tanya Chaterine dengan sabar.
     "Dia tidak datang, Bi.", kata gadis itu yang mulai menangis. "Aku memintanya menemuiku. Tapi dia mengabaikanku."
     Chaterine memeluk kemenakannya. "Waktu itu kau bilang Rein menghindarimu, apa alasannya?"
     Eruna menggeleng. "Dia
tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba saja aku tidak bisa menghubunginya lagi."
     Sang bibi mengusap punggung gadis berambut pirang tersebut sambil menenangkannya. "Bibi akan bicara langsung dengan Rein. Dan kamu jangan menangis lagi."

     Tuan Jovant berdiri di sisi meja kerja sambil menatap penasaran pada puteranya. "Kalau saja waktu itu ayah tidak terhasut oleh kebencianmu pada Rein dan mengizinkannya tinggal bersama kita, anak-anak itu akan tumbuh bersama dan putrimu tidak akan jatuh cinta pada sepupunya sendiri."
     Andrew tersenyum mengejek memandang ayahnya. "Sekarang ayah menyesal?"
     Lelaki berambut putih tersebut membisu sejenak lalu menjawabnya, "Ya.", sambil mengagguk. "Dia semakin mirip dengan Carlfred."
     "Hahahahaha...!", Andrew tertawa mengejek. "Yang benar saja! Rein itu bajingan, sama dengan ayahnya! Sifat mereka berdua pasti sama liciknya!"
     "Dia mempunyai hati yang sama dengan Carlfred. Seandainya adikmu masih hidup, dia tidak akan membiarkan kita menelantarkan anak itu."
     Andrew menatap tajam pada ayahnya. "Rein tidak akan pernah tinggal bersama kita!", tegasnya.
     Tuan Jovant menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan. "Sepertinya ada alasan lain kenapa kau begitu membencinya?"
     Andrew mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sepertinya sudah berkali-kali kita membicarakan tentang dia dan selalu berakhir dengan pertengkaran. Aku harap ayah mengerti dengan jelas bahwa aku tidak suka membicarakan ini lagi.", katanya yang kemudian pergi. Andrew menolak untuk menjawab pertanyaan terakhir ayahnya. Dia memang memiliki sebuah alasan khusus yang membuatnya begitu membenci salah satu kemenakannya itu. Sangat tidak mungkin baginya untuk memberitahu siapapun bahwa dia jatuh cinta pada Chaterine, kakak perempuannya sendiri.
Satu-satunya yang mengetahui rahasia ini adalah Carlfred, tapi adiknya sudah meninggal karena penyakit tuberculosis pada usia tujuh belas tahun. Ini sebuah siksaan. Ia harus memendam perasaan ini seorang diri. Dulu saat Carlfred masih hidup, ia dapat berbagi dengan adik laki-laki yang sangat ia sayangi itu, ia baru bisa tenang setelah Carlfred menuturkan kata-kata yang ingin didengarnya. Carlfred dapat mengerti dirinya. Sampai pada suatu ketika Chaterine kabur bersama lelaki yang dicintainya karena tidak mendapatkan restu dari keluarga Jovant. Lalu Carlfred meninggal karena penyakitnya semakin parah. Tidak ada yang tahu bagaimana terpukulnya perasaan Andrew saat itu. Ia menikah dengan wanita yang tidak dicintai dan dikaruniai seorang putri cantik. Karena tidak tahan dengan sikap Andrew yang dingin, keras, dan selalu merasa benar, sang istri mengajukan perceraian dan Eruna diasuh oleh ayahnya.
Ia kembali dihadapkan pada suatu kenyataan ketika menemukan kakak perempuannya mengalami kebutaan beserta dua orang puteranya yang masih kecil. Ia meyakinkan sang ayah untuk menerima mereka kembali dan mengobati kebutaan Chaterine. Tetapi ia menolak menerima Rein karena wajah anak itu mirip ayahnya.

Rein berangkat kerja seperti biasa setelah sarapan pagi dengan ayahnya. Sesampainya di perusahaan ia bertemu dengan Chaterine yang sedang duduk menunggunya. Ia mengajak wanita itu masuk ke ruang kerjanya dan mempersilahkannya duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadapan ditengahi sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat dua cangkir kopi panas yang baru disuguhkan.
     "Apa yang membuat anda datang kemari, Nyonya Chaterine?", tanya Rein.
     Chaterine tersenyum. "Saya rasa anda sudah dapat menebak maksud kedatangan saya, Tuan Muda Verentsille."
     Rein menyungging senyum seolah-olah tidak mengerti. "Apakah ini mengenai adikku Issabelle?"
     "Tidak. Menantuku baik-baik saja. Mereka belum kembali dari bulan madu.", jawab wanita itu. "Ini mengenai anda dan kemenakan saya, Tuan Verentsille."
     Rein menunggu ibunya berkata lebih lanjut.
     "Eruna sudah seperti putriku sendiri. Dia selalu menceritakan apapun padaku. Termasuk hubungannya dengan anda."
     "Saya percaya Eruna juga menceritakan kalau hubungan kami sudah berakhir, Nyonya Jovant."
     "Tapi anda tidak memberikan alasan apapun padanya. Kenapa, Tuan Verentsille?"
     Rein meminum kopinya lalu meletakkannya kembali ke atas meja. "Saya menyadari kalau saya tidak pernah mencintai Eruna. Saya tidak akan memperoleh kebahagiaan dengan meneruskan hubungan ini."
     "Apa?", Chaterine terkejut mendengar jawaban pemuda itu. "Bagaimana bisa anda mengatakan hal seperti ini? Lalu bagaimana dengan Eruna? Anda sudah mempermainkannya!"
     Rein hanya diam. Pandangannya hanya tertuju pada cangkir kopinya.
     "Saya tidak mengira anda adalah orang yang tega.", kata Chaterine lalu bangun dari tempat duduknya. "Tadinya saya pikir anda mirip dengan putra sulungku yang sudah meninggal. Tapi ternyata semua itu salah. Permisi, Tuan Verentsille.", lanjutnya yang penuh kekecewaan.
     Setelah wanita itu keluar dari ruang kerjanya, Rein melihat ke arah pintu yang dilaluinya. "Maafkan aku, Ibu.", ucapnya berat.


~●~

Ch 01



Reinheart Ensmair Verentsille berdiri di depan kaca sambil merapikan pakaiannya. Ia baru selesai mandi pagi itu. Mata birunya yang indah tidak menampakkan kehidupan. Dari sorot matanya dapat terlihat seluruh isi hatinya yang kini tidak terdapat apapun lagi di sana. Kosong. Ia sudah tidak berani mengharapkan apapun lagi sejak kedua adiknya menikah kemarin. Eruna Esther Jovant harus menjadi masa lalunya.
Rein menarik napas dan menhembuskannya dengan pelan, merasakan aliran udara yang keluar melalui rongga hidungnya sambil memejam. Ia berjalan keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Belum ada seorang pun yang terlihat olehnya. Hari ini pemuda itu memang bangun lebih awal dari biasanya. Semalam ia terus terbangun dari tidur.
Ia menarik kursi dan duduk, meletakkan kedua tangannya di atas meja lalu melamun. Setelah beberapa saat, mulai terdengar bermacam-macam suara dari arah dapur yang membawa pikirannya tersadar.
     "Tuan Rein.", sebut kepala pelayan yang telah berdiri di sisi kanannya. Matanya menunjukkan keanehan melihat tuan mudanya telah duduk di sana sepagi ini. "Selamat pagi, Tuan.", salamnya kemudian yang menyadarkan pemuda tampan itu bahwa sekarang ia tidak sendirian.
     "Ah, selamat pagi, Molly.", ia balas menyapa sambil tersenyum kepada wanita gemuk paruh baya tersebut.
     "Anda ingin sarapan sekarang, Tuan?"
     "Tidak, Molly. Dengan ayah saja."
     Molly mengangguk. Sudah lama ia melihat kejanggalan pada tuan mudanya, khususnya sejak pemuda itu mengakhiri hubungan asmaranya dengan Eruna, sepupu yang sangat dicintainya.
     Sinar mentari pagi mulai menyelinap masuk ke ruang makan. Beberapa pelayan sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua majikan mereka. Yah, mulai hari ini hanya ada dua orang saja yang akan mereka layani setelah Issabelle menikah dengan Richard dan menjadi salah satu anggota keluarga Jovant.
     Rambut coklat Rein berkilau diterpa sinar mentari yang masuk. Kulitnya yang putih serta matanya yang sebiru samudera terlihat sangat berkelas, suaranya pun sangat lembut. Sikapnya yang ramah dan sopan kepada semua orang menjadikannya calon suami idaman para gadis yang melihatnya.
     "Sepi, ya.", sebuah suara yang tiba-tiba memecah keheningan.
     Rein menoleh lalu berdiri dengan segera. "Selamat pagi, Ayah.", salamnya yang kemudian menarikkan kursi di ujung meja yang biasa ditempati lelaki berusia enam puluh delapan tahun tersebut.
     Tuan Verentsille duduk dan memperhatikan wajah putra angkatnya dengan seksama sampai pemuda tersebut duduk kembali di tempatnya.
     Sarapan lalu disajikan. Rein memegang gelas yang berisi air putih dengan jemarinya yang panjang dan sedikit meruncing.
     "Mulai hari ini haya tinggal kita berdua.", kata Tuan Verentsille.
     Rein menatap mata ayah angkatnya yang menyendu. Ia meletakkan gelas dengan perlahan da sopan. "Saya akan selalu menemani ayah."
     Pria berambut putih tersebut tersenyum bahagia. Ia meraih peralatan makan yang diletakkan di kedua sisi piring. Mereka mulai menyantap sarapannya.
     "Ayah juga berharap kau segera menikah."
     Rein tersenyum. Ia mengambil serbet putih dan mengusap bibirnya. "Dengan siapa?", ia balik bertanya.
     "Eruna.", jawab ayah angkatnya sambil mengunyah.
     Rein terdiam. Ia menjadi salah tingkah. Seandainya ayah Eruna tidak membencinya. Rein tidak pernah membenci keluarga Jovant atas apa yang pernah mereka lakukan padanya di masa lalu. Ia justru masih berharap agar bisa diterima oleh keuarga ibunya itu. Bila tidak, untuk apa ia menempuh resiko yang akan mengakibatkan kekecewaan mendalam demi bisa bertemu dengan ibu dan Richard, adik laki-lakinya. Pemuda ini juga tidak pernah menyangka akan bertemu dan jatuh cinta dengan anak gadis dari paman yang sangat membencinya. Da kini pamannya telah mengetahui jati diri Rein yang gagal dibunuhnya sepuluh tahun yang lalu.
     "Itu tidak akan pernah terjadi, Ayah."
     Tuan Verentsille meliriknya dengan tatapan curiga.
     Rein kembali salah tingkah dan berusaha menjelaskan sebisanya. "Paman Andrew sangat membenciku. Dia tidak akan pernah menyetujui hubungan kami."
     Tuan Verentsille masih memandangnya curiga. "Hanya itu?"
     Pemuda itu mengalihkan pandangan dari si ayah angkat yang seperti terus mendesaknya. "Ya. Hanya itu."
     Memang ada sebuah penghalang yang tidak akan pernah ia katakan pada siapapun juga. Sebuah kesepakatan dengan sang paman. Rein harus memutuskan hubungan dengan Eruna dan tidak akan menemuinya lagi agar kedua adiknya dapat melangsungkan hubungan asmaranya ke jejang pernikahan. Perjanjian ini telah disepakati. Kini Richard dan Issabelle telah menikah. Selama Rein tidak melanggar perjanjian, maka Andrew tidak akan mengganggu pernikahan mereka.

Molly sudah bekerja pada keluarga Verentsille selama tiga puluh tahun. Ia adalah wanita gemuk berusia lima puluh dua tahun yang berambut pirang ikal. Ia sangat cekatan dalam mengatur para pelayan. Keluarga ini sudah menjadi seperti keluarganya. Siang itu ia menerima sepucuk surat yang ditujukan kepada Tuan Muda Verentsille. Tidak ada alamat dan nama pengirim yang tertulis di amplop putih itu. Ia hanya menemukan tulisan Untuk Tuan Muda Verentsille. Belum sempat ia beranjak dari tempatnya berdiri untuk menyerahkan surat itu, Rein telah keluar dari ruang kerjanya.
     "Surat untuk siapa, Molly?"
     "Oh.", wanita gemuk itu bersuara. "Untuk anda, Tuan.", ia menjawab seraya mendekati majikannya dan menyerahkan surat.
     Rein melakukan hal yang sama seperti kepala pelayannya, membolak balik surat mencari alamat atau nama si pengirim. Lalu ia melihat Molly dengan penuh pertanyaan, "Siapa pengirimnya?"
     Molly mengangkat bahunya. "Entahlah, Tuan."
     Rein mengangguk dan kembali ke ruang kerjanya. Ia mengambil pembuka surat dan membukanya. Surat itu dari Eruna. Gadis itu ingin bertemu sore ini di sebuah restoran kecil bernama Tucxon.

~●~