Minggu, 03 Mei 2015

Ch 01



Reinheart Ensmair Verentsille berdiri di depan kaca sambil merapikan pakaiannya. Ia baru selesai mandi pagi itu. Mata birunya yang indah tidak menampakkan kehidupan. Dari sorot matanya dapat terlihat seluruh isi hatinya yang kini tidak terdapat apapun lagi di sana. Kosong. Ia sudah tidak berani mengharapkan apapun lagi sejak kedua adiknya menikah kemarin. Eruna Esther Jovant harus menjadi masa lalunya.
Rein menarik napas dan menhembuskannya dengan pelan, merasakan aliran udara yang keluar melalui rongga hidungnya sambil memejam. Ia berjalan keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Belum ada seorang pun yang terlihat olehnya. Hari ini pemuda itu memang bangun lebih awal dari biasanya. Semalam ia terus terbangun dari tidur.
Ia menarik kursi dan duduk, meletakkan kedua tangannya di atas meja lalu melamun. Setelah beberapa saat, mulai terdengar bermacam-macam suara dari arah dapur yang membawa pikirannya tersadar.
     "Tuan Rein.", sebut kepala pelayan yang telah berdiri di sisi kanannya. Matanya menunjukkan keanehan melihat tuan mudanya telah duduk di sana sepagi ini. "Selamat pagi, Tuan.", salamnya kemudian yang menyadarkan pemuda tampan itu bahwa sekarang ia tidak sendirian.
     "Ah, selamat pagi, Molly.", ia balas menyapa sambil tersenyum kepada wanita gemuk paruh baya tersebut.
     "Anda ingin sarapan sekarang, Tuan?"
     "Tidak, Molly. Dengan ayah saja."
     Molly mengangguk. Sudah lama ia melihat kejanggalan pada tuan mudanya, khususnya sejak pemuda itu mengakhiri hubungan asmaranya dengan Eruna, sepupu yang sangat dicintainya.
     Sinar mentari pagi mulai menyelinap masuk ke ruang makan. Beberapa pelayan sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua majikan mereka. Yah, mulai hari ini hanya ada dua orang saja yang akan mereka layani setelah Issabelle menikah dengan Richard dan menjadi salah satu anggota keluarga Jovant.
     Rambut coklat Rein berkilau diterpa sinar mentari yang masuk. Kulitnya yang putih serta matanya yang sebiru samudera terlihat sangat berkelas, suaranya pun sangat lembut. Sikapnya yang ramah dan sopan kepada semua orang menjadikannya calon suami idaman para gadis yang melihatnya.
     "Sepi, ya.", sebuah suara yang tiba-tiba memecah keheningan.
     Rein menoleh lalu berdiri dengan segera. "Selamat pagi, Ayah.", salamnya yang kemudian menarikkan kursi di ujung meja yang biasa ditempati lelaki berusia enam puluh delapan tahun tersebut.
     Tuan Verentsille duduk dan memperhatikan wajah putra angkatnya dengan seksama sampai pemuda tersebut duduk kembali di tempatnya.
     Sarapan lalu disajikan. Rein memegang gelas yang berisi air putih dengan jemarinya yang panjang dan sedikit meruncing.
     "Mulai hari ini haya tinggal kita berdua.", kata Tuan Verentsille.
     Rein menatap mata ayah angkatnya yang menyendu. Ia meletakkan gelas dengan perlahan da sopan. "Saya akan selalu menemani ayah."
     Pria berambut putih tersebut tersenyum bahagia. Ia meraih peralatan makan yang diletakkan di kedua sisi piring. Mereka mulai menyantap sarapannya.
     "Ayah juga berharap kau segera menikah."
     Rein tersenyum. Ia mengambil serbet putih dan mengusap bibirnya. "Dengan siapa?", ia balik bertanya.
     "Eruna.", jawab ayah angkatnya sambil mengunyah.
     Rein terdiam. Ia menjadi salah tingkah. Seandainya ayah Eruna tidak membencinya. Rein tidak pernah membenci keluarga Jovant atas apa yang pernah mereka lakukan padanya di masa lalu. Ia justru masih berharap agar bisa diterima oleh keuarga ibunya itu. Bila tidak, untuk apa ia menempuh resiko yang akan mengakibatkan kekecewaan mendalam demi bisa bertemu dengan ibu dan Richard, adik laki-lakinya. Pemuda ini juga tidak pernah menyangka akan bertemu dan jatuh cinta dengan anak gadis dari paman yang sangat membencinya. Da kini pamannya telah mengetahui jati diri Rein yang gagal dibunuhnya sepuluh tahun yang lalu.
     "Itu tidak akan pernah terjadi, Ayah."
     Tuan Verentsille meliriknya dengan tatapan curiga.
     Rein kembali salah tingkah dan berusaha menjelaskan sebisanya. "Paman Andrew sangat membenciku. Dia tidak akan pernah menyetujui hubungan kami."
     Tuan Verentsille masih memandangnya curiga. "Hanya itu?"
     Pemuda itu mengalihkan pandangan dari si ayah angkat yang seperti terus mendesaknya. "Ya. Hanya itu."
     Memang ada sebuah penghalang yang tidak akan pernah ia katakan pada siapapun juga. Sebuah kesepakatan dengan sang paman. Rein harus memutuskan hubungan dengan Eruna dan tidak akan menemuinya lagi agar kedua adiknya dapat melangsungkan hubungan asmaranya ke jejang pernikahan. Perjanjian ini telah disepakati. Kini Richard dan Issabelle telah menikah. Selama Rein tidak melanggar perjanjian, maka Andrew tidak akan mengganggu pernikahan mereka.

Molly sudah bekerja pada keluarga Verentsille selama tiga puluh tahun. Ia adalah wanita gemuk berusia lima puluh dua tahun yang berambut pirang ikal. Ia sangat cekatan dalam mengatur para pelayan. Keluarga ini sudah menjadi seperti keluarganya. Siang itu ia menerima sepucuk surat yang ditujukan kepada Tuan Muda Verentsille. Tidak ada alamat dan nama pengirim yang tertulis di amplop putih itu. Ia hanya menemukan tulisan Untuk Tuan Muda Verentsille. Belum sempat ia beranjak dari tempatnya berdiri untuk menyerahkan surat itu, Rein telah keluar dari ruang kerjanya.
     "Surat untuk siapa, Molly?"
     "Oh.", wanita gemuk itu bersuara. "Untuk anda, Tuan.", ia menjawab seraya mendekati majikannya dan menyerahkan surat.
     Rein melakukan hal yang sama seperti kepala pelayannya, membolak balik surat mencari alamat atau nama si pengirim. Lalu ia melihat Molly dengan penuh pertanyaan, "Siapa pengirimnya?"
     Molly mengangkat bahunya. "Entahlah, Tuan."
     Rein mengangguk dan kembali ke ruang kerjanya. Ia mengambil pembuka surat dan membukanya. Surat itu dari Eruna. Gadis itu ingin bertemu sore ini di sebuah restoran kecil bernama Tucxon.

~●~


Tidak ada komentar: