Sabtu, 30 Mei 2015

Ch 08

Rein meletakkan peralatan makan dan menopang pelipisnya dengan tangan kiri.
"Apa kalian yakin dia kabur?", tanya Tuan Verentsille.
Richard mengeluarkan sepucuk surat. "Kami menemukan ini di kamarnya."
Tuan Verentsille mengambil surat itu dan membacanya. Setelah itu ia menoleh pada putra angkatnya yang sedaritadi tidak mengatakan apapun.
"Bagaimana Paman Andrew?", tanya Rein dengan mata yang masih memejam.
"Paman sedang berada di York dan kami belum menghubunginya. Dalam beberapa hari ini Paman akan pulang."
"..."
"Pikirkanlah sesuatu, Kak. Mungkin kakak bisa menebak kemana Eruna pergi."
"Aku tidak tahu.", kata Rein. Ia menurunkan tangannya dan menatap Richard dengan wajah lelah.
"Apa sebaiknya kau bantu mereka mencarinya, Rein?", usul Tuan Verentsille.
"Kemana aku harus mencarinya, Ayah ?"
"Dimanapun yang terpikirkan olehmu.", jawab lelaki tua itu. "Pergilah."


Richard dan Rein mencari sepupu mereka secara terpisah, mereka membagi wilayah pencarian. Barat dan timur. Rein mencarinya di wilayah barat dimulai dari gereja, restoran, taman, hotel, tea house, dan tempat-tempat lainnya yang mungkin Eruna kunjungi. Berbekal foto, mereka bertanya pada orang-orang yang ditemui di sekitar tempat pencarian. 
Mereka tidak menemukannya di hari pertama pencarian. Kakak beradik itu bahkan mengabaikan pekerjaannya di kantor. Rein mulai merasa kelelahan setelah dua hari pencarian dan istirahat yang sedikit. Ia terus berusaha berpikir dimana lagi kemungkinan gadis itu berada. Akhirnya kata 'pelabuhan' terlintas dalam pikirannya. Ia segera menuju ke sana dan menunjukkan foto Eruna pada penjaga loket. Tepat sekali dugaannya, gadis itu akan berlayar ke New York sore ini. Sekrang yang menjadi kendala pemuda itu adalah bagaimana menemukannya di antara lautan manusia sebanyak ini. Namun ia tetap berusaha menemukannya, melihat ke segala arah.

Jembatan kayu, tempat para penumpang melintas memasuki kapal berada tidak jauh dari tempat Rein berdiri. Ia memutuskan untuk berdiri di dekat jembatan itu dan mengawasi para penumpang yang akan melintas. Tempat itu lebih menyesakkan juga panas, berkali-kali ia mengusap keringat di kepalanya. Lalu setelah sekian lama menunggu, ia menemukannya ! Rein berhasil menarik tangan Eruna dan mencegahnya. "Jangan pergi.", katanya dengan napas sedikit tersenggal karena panas dan lelah.
Gadis itu hanya menatapnya dengan mata berkaca.
"Pulanglah, Eruna.", bujuknya. "Mereka menantimu."
Kemudian wanita itu menunduk melihat tangannya yang masih digenggam oleh pria yang ia cintai.
"Maaf.", ucap Rein seraya melepaskan tangannya.
Eruna tersenyum padanya. "Terima kasih, Rein. Aku senang kau mencariku."a
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang sekarang.", ajaknya kemudian berbalik.
"Ayah merencanakan pernikahanku."
Rein terpaku, dengan pelan ia berbalik kembali menatapnya.
"Aku belum siap, Rein.", katanya lagi. 
"Katakanlah pada Paman Andrew, tapi jangan bertindak seperti ini."
"Kau sangat mengerti siapa ayahku."
Rein menunduk berpikir apalagi yang mampu ia katakan. Kemudian ia menatapnya dengan mata yang mulai memerah dan berkaca. "Kau seorang wanita, Eruna. Sendirian di New York, tempat yang begitu jauh dan asing, bagaimana kau akan melewati hari-harimu?"
"Sekarang sudah bukan kewajibanmu memikirkan itu. Nona Danforth wanita yang baik. Berbahagialah dengannya."
"Eruna."
"Hanya satu hal yang bisa kau lakukan untukku."
"... Katakanlah."
"Rahasiakan keberadaanku dari siapapun juga."
"Tapi..."
"Bisakah aku mempercayaimu ?"
Rein membisu sejenak lalu menyanggupinya. "Baiklah."
Eruna tersenyum walaupun airmatanya telah tak terbendung. "Selamat tinggal, Tuan muda Verentsille yang pernah kucintai.", salamnya yang kemudian melintasi jembatan memasuki kapal.
Rein terus memperhatikan hingga kapal bergerak menjauh. Para pengantar yang memadati pelabuhan mulai membubarkan diri.

Rein tiba di kediaman keluarga Jovant sebelum jam makan malam. Ia tidak menyangka akan langsung bertemu dengan Andrew ketika memasuki rumah itu. Sang paman telah kembali dan mengetahui putrinya menghilang. Luapan kemarahannya langsung ditujukan pada pemuda di hadapannya. Dengan tongkat yang selalu dibawanya, ia memukul pemuda itu hingga roboh ke lantai. 
"Pasti kau yang menghasutnya !", marahnya. "Dimana kau menyembunyikannya ?! Katakan !"
Bagaimana bisa Rein menjawabnya bila ia terus dipukuli seperti itu. Pemuda itu bahkan sudah tidak bertenaga untuk melindungi diri. Ia lelah secara jiwa dan fisik. Beruntung anggota keluarga Jovant yang lain segera menghampiri mereka dan menghentikan Andrew.
"Jangan gila, Andrew ! Dia bisa mati kau pukuli !", tegur Tuan Jovant. Ia bersama dengan Richard menahan Andrew dan membawanya menjauh.
"Lepaskan aku, Ayah ! Aku akan membuatnya bicara ! Jangan halangi aku !"
Issabelle dan Chaterine membantu Rein bangun dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya dengan sapu tangan.
Rein mengisyaratkan mereka untuk tidak memapahnya. Pemuda itu memegang lengan kirinya yang sakit. Lalu bergerak maju beberapa langkah. "Saya bertemu Eruna."
Andrew berhenti merontah.
"Dimana dia ? Kenapa dia tidak bersamamu ?", tanya Nyonya Chaterine.
"Eruna sudah pergi.", jawabnya. "Dan saya sudah berjanji padanya tidak akan memberitahu siapapun tentang keberadaannya."
Andrew kembali ingin mendekati pemuda itu namun berhasil ditahan ayahnya dan Richard. "Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong itu !"
"Saya tahu anda tidak akan percaya.", kata Rein. "Tapi itulah kenyataannya."
"Terimakasih atas bantuanmu untuk mencari Eruna, Tuan muda Verentsille. Akan lebih baik bila sekarang anda pulang dan istirahat.", kata Tuan Jovant.
"Anda benar, Tuan Jovant. Saya akan pulang sekarang.", pamitnya.

Tuan Verentsille sedang menikmati makan malam ketika putra angkatnya pulang. Orang tua itu melihat penampilan Rein yang kacau dan lelah. Untunglah ia dapat melindungi kepalanya ketika sang paman memukulnya, pikir pemuda itu. Ia tidak akan mampu menyembunyikan luka lebam di bagian tubuhnya yang terbuka. Rein memberitahukan hasil pencariannya hari ini dan menyampaikan hal yang sama kepada ayahnya seperti yang dikatakannya pada keluarga Jovant. Malam itu Tuan Verentsille makan malam sendirian sementara putranya memilih beristirahat di kamar setelah mandi. 



~  0  ~




Tidak ada komentar: