Rein datang sebelum pukul tiga. Ia duduk sendirian di dalam tea house yang telah dijanjikan. Ia belum memesan apapun sejak tiba di sana. Entah apa yang dipikirkan Richard, pikirnya. Kenapa tiba-tiba memintanya kemari. Apakah dia ingin mempertemukannya dengan Eruna atau ada hal lain. Bermacam-macam pikiran silih berganti di dalam kepalanya.
Beberapa pelanggan yang mengenali pemuda itu mulai berbisik menerka.
"Itu Tuan muda Verentsille."
"Kenapa dia sendirian ya? Atau sedang menunggu orang?"
"Kudengar hubungannya dengan Nona Danforth semakin dekat."
"Beruntung sekali gadis itu."
"Lihat! Lihat! Ada yang menghampirinya!"
"Bukankah itu Tuan muda Jovant, adik iparnya? Bersama dengan Nyonya Chaterine?"
Rein terkejut melihat ibunya tengah berdiri di hadapannya. Ia segera berdiri. Chaterine mengulurkan tangan kanannya yang disambut Rein dan mengecup punggung tangannya. "Selamat sore, Nyonya Chaterine.", salamnya.
"Selamat sore, Tuan Verentsille.", salam wanita itu. Kemudian Richard menarikkan kursi untuk ibunya duduk, lalu ia sendiri duduk di sebelah kirinya.
Rein tidak berani menatap langsung mata ibunya setelah kembali ke tempat duduk.
Mereka memesan teh dan biskuit untuk tiga orang.
"Saya tidak menyangka anda akan datang, Nyonya.", kata pemuda itu mencoba membuka pembicaraan.
Wanita dengan topi biru itu hanya menatap wajah pemuda yang duduk di hadapannya.
"Ibuku jarang keluar. Karena itu aku mengajaknya.", jelas Richard.
"Kalau begitu kau harus sering mengajaknya jalan-jalan, Richard."
"Sejujurnya saya kurang menyukai keramaian, Tuan Verentsille."
Rein menatap ibunya. "Keramaian tidak seburuk yang anda bayangkan. Banyak pemandangan indah bila anda mencoba untuk melihatnya."
Chaterine tersenyum. "Sepertinya anda bukanlah orang yang lebih suka tinggal di rumah di waktu senggang seperti yang dikatakan orang."
Tuan muda itu terdiam menyadari kemiripannya dengan sang ibu. Mereka sama-sama kurang menyukai keramaian. Kemudian ia berusaha menyangkalnya di hadapan wanita itu. "Gosip tidak selalu benar, Nyonya Chaterine."
Richard melihat arlojinya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jas. "Ibu, saya harus kembali ke perusahaan. Paman Andrew tidak tahu kalau saya sedang duduk di sini minum teh bersama kalian dan mengabaikan pekerjaan. Kalau sampai ia tahu, tamatlah riwayatku.", jelasnya.
"Tidak. Kau harus tetap di sini, Richard.", kata Chaterine.
"Tapi, Ibu, ..."
"Kau tidak perlu khawatir akan pamanmu."
Richard melihat pada kakaknya yang tidak menanggapi apapun. Ia takut pada kemarahan sang paman namun juga tidak ingin menentang permintaan ibunya. Akhirnya ia menuruti perkataan sang ibu dan duduk kembali.
Pertemuan dengan ibunya adalah sesuatu yang dari dulu selalu ia nantikan. Namun hari ini, Rein sama sekali tidak merasa nyaman dengan pertemuan mereka. Sesekali ia meminum tehnya untuk menenangkan diri.
"Anda terlihat tegang, Tuan Verentsille."
"Benarkah?"
Chaterine meminum tehnya lalu mengambil sebuah biskuit. Setelah mengunyah dan menelan dengan sopan, ia melanjutkan perkataannya. "Saya menyadari pertemuan terakhir kita telah meninggalkan kesan kurang baik untuk diri kita masing-masing. Saya berharap anda dapat memakluminya."
"..."
"Kemenakanku telah kuanggap seperti putriku sendiri. Saya tidak mampu melihatnya jatuh ke dalam kesedihan dan keputusasaan."
"..."
"Anda tidak ingin tahu bagaimana kabarnya, Tuan Verentsille?"
"Ibu!", tegur Richard dengan nada berbisik.
"Ibuku jarang keluar. Karena itu aku mengajaknya.", jelas Richard.
"Kalau begitu kau harus sering mengajaknya jalan-jalan, Richard."
"Sejujurnya saya kurang menyukai keramaian, Tuan Verentsille."
Rein menatap ibunya. "Keramaian tidak seburuk yang anda bayangkan. Banyak pemandangan indah bila anda mencoba untuk melihatnya."
Chaterine tersenyum. "Sepertinya anda bukanlah orang yang lebih suka tinggal di rumah di waktu senggang seperti yang dikatakan orang."
Tuan muda itu terdiam menyadari kemiripannya dengan sang ibu. Mereka sama-sama kurang menyukai keramaian. Kemudian ia berusaha menyangkalnya di hadapan wanita itu. "Gosip tidak selalu benar, Nyonya Chaterine."
Richard melihat arlojinya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jas. "Ibu, saya harus kembali ke perusahaan. Paman Andrew tidak tahu kalau saya sedang duduk di sini minum teh bersama kalian dan mengabaikan pekerjaan. Kalau sampai ia tahu, tamatlah riwayatku.", jelasnya.
"Tidak. Kau harus tetap di sini, Richard.", kata Chaterine.
"Tapi, Ibu, ..."
"Kau tidak perlu khawatir akan pamanmu."
Richard melihat pada kakaknya yang tidak menanggapi apapun. Ia takut pada kemarahan sang paman namun juga tidak ingin menentang permintaan ibunya. Akhirnya ia menuruti perkataan sang ibu dan duduk kembali.
Pertemuan dengan ibunya adalah sesuatu yang dari dulu selalu ia nantikan. Namun hari ini, Rein sama sekali tidak merasa nyaman dengan pertemuan mereka. Sesekali ia meminum tehnya untuk menenangkan diri.
"Anda terlihat tegang, Tuan Verentsille."
"Benarkah?"
Chaterine meminum tehnya lalu mengambil sebuah biskuit. Setelah mengunyah dan menelan dengan sopan, ia melanjutkan perkataannya. "Saya menyadari pertemuan terakhir kita telah meninggalkan kesan kurang baik untuk diri kita masing-masing. Saya berharap anda dapat memakluminya."
"..."
"Kemenakanku telah kuanggap seperti putriku sendiri. Saya tidak mampu melihatnya jatuh ke dalam kesedihan dan keputusasaan."
"..."
"Anda tidak ingin tahu bagaimana kabarnya, Tuan Verentsille?"
"Ibu!", tegur Richard dengan nada berbisik.
Topik inilah yang paling dihindari Rein. "Saya telah memiliki seorang calon istri, Nyonya Chaterine. Merupakan suatu ketidaksopanan bagi saya untuk menanyakan kabar dari gadis lain. Saya akan dianggap tidak menghormati calon istri saya."
"Calon istri ?", sebut Chaterine.
"Benar, Ibu. Kakak iparku akan menikah bulan Juni tahun ini.", Richard menjelaskan. "Karena itulah, merupakan sesuatu yang tidak pantas untuk membicarakan tentang kemenakan ibu.", bisiknya.
Chaterine menunduk dan menghela napas dengan pelan. "Anda sudah melangkah sejauh itu. Seharusnya begitu juga dengan Eruna."
"Tuan Andrew pasti akan mengatur yang terbaik untuknya."
Chaterine mencoba untuk tersenyum menatap pemuda itu. "Saya ucapkan selamat, Tuan Verentsille. Anda telah menemukan seseorang yang akan membahagiakan sepanjang sisa hidupmu."
Rein tersenyum walaupun ia tahu sebenarnya sang nyonya tengah menyindir. "Terimakasih.", ucapnya singkat.
Sesaat raut wajah Chaterine terlihat sedih. Ia melamun sambil mengangkat cangkir tehnya.
"Ada apa, Ibu?", tanya Richard.
Chaterine tersadar dari lamunannya dan tersenyum kaku pada putranya. "Oh.", ia bersuara. "Melihat Tuan Verentsille jadi mengingatkan ibu pada kakakmu, Richard."
Richard melihat kakaknya yang sedang minum teh. Rein mampu menutupi perasaannya walaupun sebenarnya ia sangat ingin berada di posisi adiknya saat ini.
"Maaf, Tuan Verentsille.", ucap Chaterine.
"Kalau begitu seharusnya saya segera pamit. Bila tidak, keberadaan saya hanya mengundang kesedihan anda, Nyonya Chaterine."
"Bisakah anda tinggal lebih lama, Tuan Verentsille?"
Tuan muda itu tidak mampu menanggapi apapun.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini sambil jalan-jalan di Hyde Park ?", usul Richard.
Rein melakukan pembayaran lalu bersama ibu dan adiknya berjalan ke Hyde Park yang tidak jauh dari Tea House.
Sore itu taman yang terkenal dengan keindahannya dan paling ramai dikunjungi oleh masyarakat kalangan atas tidaklah seramai seperti biasa. Chaterine melingkarkan tangannya pada lengan kanan putra keduanya. Ketiganya berjalan menikmati pemandagan rumput hijau beserta pepohonan. Mereka duduk di kursi di dekat sungai. Ada beberapa orang yang tengah berperahu menikmati pemandangan, ada juga yang sedang melukis.
"Bila putra sulungku masih hidup, saya yakin kalian akan menjadi teman yang baik."
"Anda masih merindukannya setelah sekian lama ia meninggal?"
"Reinharverd putraku tidak akan pernah kehilangan tempatnya di hatiku."
Pemuda bermata biru itu menatap ibunya, berharap agar ia mendengar lebih banyak lagi tentang dirinya.
"Saat melihatmu, saya seperti melihat Reinharverdku masih hidup. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan."
Rein tersenyum. "Saya pun selalu merindukan ibuku.", ia berkata sambil melihat ke langit senja.
Kini giliran Chaterine yang menatapnya.
"Saya merindukan pelukannya. Ketika ibu membelai rambutku, ketika ibu bernyanyi menidurkanku, dan masih banyak hal lainnya yang sudah tidak bisa kudapatkan darinya.", katanya sambil memejam mengenang masa kecilnya.
Chaterine ingin memeluk pemuda itu apabila saat ini mereka sedang tidak di tempat umum. Ia dapat merasakan kesedihannya, namun ia tidak mampu menyampaikan kasih keibuannya di hadapan orang banyak.
"Nyonya Chaterine.", panggilnya. "Bolehkah saya mendapatkan restu dari anda? Saya sangat mengharapkan kehadiran anda di gereja dan pesta pernikahan saya nanti."
Chaterine terkejut mendengar permintaannya. Lalu ia tersenyum menyetujui. "Baiklah. Saya akan datang."
Rein tersenyum bahagia dan berterimakasih pada ibunya.
Richard merasa lega melihat hubungan ibu dan kakaknya yang kembali hangat.
"Tuan Richard, Tuan Andrew menunggu anda di ruang kerja.", kata pelayan.
"Ya.", tanggapnya singkat.
Richard menarik napas yang dalam dan menghembusnya dengan pelan. Ia tahu apa yang akan dihadapinya di balik pintu ini. Chaterine menyentuh pundak putranya dan berkata, "Ibu akan menemanimu."
Keduanya masuk ke ruang kerja dimana sang paman telah menunggu. Lelaki berdarah dingin itu sedang berdiri di dekat jendela memunggungi mereka. Ada segelas brandy di tangan kirinya.
"Selamat malam, Paman.", salam Richard.
Andrew berbalik melihat mereka. "Kenapa kakak juga berada di sini?", tanyanya dengan dingin.
"Aku ingin tahu apa yang ingin kau bicarakan dengannya."
Andrew tersenyum tidak mengerti. "Ada apa denganmu, Kakakku? Tiba-tiba sekali kakak ingin tahu tentang masalah pekerjaan di perusahaan?"
Chaterine tidak ingin menanggapi pertanyaan adiknya.
Andrew menyandar pada meja kerjanya. "Ah....aku tahu.", ia berkata sambil tersenyum mengejek menatap Richard. "Kau sadar telah melakukan kesalahan, lalu meminta kakakku berbicara untukmu. Benar begitu, Richard?"
"Itu tidak benar, Paman."
"Aku paling benci mengulur-ulur waktu. Kau tahu dengan jelas apa yang ingin kubicarakan hari ini."
"Tadi sore saya menemani ibu minum teh."
"Aku meminta putraku menemaniku menemui Tuan Muda Verentsille. Kami bertiga minum teh bersama."
Andrew meletakkan gelasnya dengan kuat ke meja dan membuat ibu dan anak itu terkejut. "Mengabaikan pekerjaan dan minum teh! Hebat sekali ! Tanpa ijin dariku kau pergi meninggalkan pekerjaan dan menemui bajingan itu !"
Suara Andrew terdengar sampai keluar ruangan. Issabelle dan Eruna berdiri di balik pintu mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dan kakakku tercinta, aku tidak marah kau meminta putramu menemanimu.", ia memelankan suaranya. "Tapi aku tidak suka kakak menemui orang yang sudah menyakiti putriku."
"Kau tidak punya hak melarangku bertemu dengan siapapun yang kuinginkan, Andrew !", Chaterine berkata dengan tegas. "Tidak juga pada putra dan menantuku."
Andrew tertegun. Ia berbalik memunggungi mereka dan mengambil gelas yang diletakkannya di atas meja lalu meneguk isinya dengan sekali minum. Ia benar-benar marah.
"Oh, dan satu hal lagi, Andrew.", kata Chaterine sebelum keluar dari ruang kerja. "Kekhawatiranmu akan segera sirna. Tuan muda Verentsille akan segera menikah dua bulan lagi."
Setelah ibu dan anak itu keluar, Andrew melampiaskan amarahnya dengan melempar gelas yang dipegangnya ke jendela. Terdengar suara pecahan kaca dan barang-barang berjatuhan ke lantai.
"Benarkah itu, Bibi? Rein akan menikah?", tanya Eruna yang masih belum mempercayainya.
Chaterine membelai rambut kemenakannya dan mengangguk.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia segera berlari ke kamarnya di lantai dua. Ia mengunci diri dan menangis. Tidak seorangpun yang diijinkannya masuk.
Richard dan Issabelle masuk ke kamarnya. Sang suami menarikkan kursi untuk istrinya duduk, sedangkan ia sendiri berdiri di dekatnya.
"Aku juga baru mengetahuinya hari ini.", kata Richard.
"Kak Rein mencintainya?"
"Kakak bilang akan belajar mencintainya." Richard berlutut dan menempelkan telinganya di perut sang istri. "Kita hanya bisa mendukungnya, Issabelle. Dan semoga Eruna mampu melewati ini."
Issabelle membelai rambut suaminya.
"Dimana kakek?"
"Kakek sedang pergi. Mungkin sebentar lagi pulang."
Makan malam di hari itu menjadi sepi. Baik Andrew maupun Eruna tidak keluar dari ruangannya masing-masing. Hanya ada Tuan Jovant, Chaterine, Richard dan Issabelle. Pertengkaran yang terjadi malam itu menjadi topik pembicaraan di meja makan.
Satu minggu telah berlalu sejak pertengkaran antara Andrew dan kakaknya. Pagi-pagi sekali ketika Rein sedang menikmati sarapan bersama ayah angkatnya, ia telah kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah Richard. Sang adik tampak tergesa-gesa dan panik ketika ia diantar ke ruang makan oleh Molly.
"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Kak.", salamnya dengan tangan yang memegang topi.
"Selamat pagi, Richard.", salam keduanya.
"Duduklah dan sarapan bersama kami, Richard.", kata Rein dengan senyum ramahnya.
"Aku takut aku tidak memiliki waktu untuk ajakan kakak."
Rein dan Tuan Verentsille menatapnya dan merasa ada sesuatu yang penting untuk diketahui.
"Duduklah, Richard, dan tenangkan dirimu", kata Rein yang kehilangan senyum di wajahnya.
Lelaki tersebut menuruti perkataan kakaknya. Ia duduk dan meletakkan topinya di meja makan.
"Sekarang katakan apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa kemari."
"Eruna kabur dari rumah."
"Calon istri ?", sebut Chaterine.
"Benar, Ibu. Kakak iparku akan menikah bulan Juni tahun ini.", Richard menjelaskan. "Karena itulah, merupakan sesuatu yang tidak pantas untuk membicarakan tentang kemenakan ibu.", bisiknya.
Chaterine menunduk dan menghela napas dengan pelan. "Anda sudah melangkah sejauh itu. Seharusnya begitu juga dengan Eruna."
"Tuan Andrew pasti akan mengatur yang terbaik untuknya."
Chaterine mencoba untuk tersenyum menatap pemuda itu. "Saya ucapkan selamat, Tuan Verentsille. Anda telah menemukan seseorang yang akan membahagiakan sepanjang sisa hidupmu."
Rein tersenyum walaupun ia tahu sebenarnya sang nyonya tengah menyindir. "Terimakasih.", ucapnya singkat.
Sesaat raut wajah Chaterine terlihat sedih. Ia melamun sambil mengangkat cangkir tehnya.
"Ada apa, Ibu?", tanya Richard.
Chaterine tersadar dari lamunannya dan tersenyum kaku pada putranya. "Oh.", ia bersuara. "Melihat Tuan Verentsille jadi mengingatkan ibu pada kakakmu, Richard."
Richard melihat kakaknya yang sedang minum teh. Rein mampu menutupi perasaannya walaupun sebenarnya ia sangat ingin berada di posisi adiknya saat ini.
"Maaf, Tuan Verentsille.", ucap Chaterine.
"Kalau begitu seharusnya saya segera pamit. Bila tidak, keberadaan saya hanya mengundang kesedihan anda, Nyonya Chaterine."
"Bisakah anda tinggal lebih lama, Tuan Verentsille?"
Tuan muda itu tidak mampu menanggapi apapun.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini sambil jalan-jalan di Hyde Park ?", usul Richard.
Rein melakukan pembayaran lalu bersama ibu dan adiknya berjalan ke Hyde Park yang tidak jauh dari Tea House.
Sore itu taman yang terkenal dengan keindahannya dan paling ramai dikunjungi oleh masyarakat kalangan atas tidaklah seramai seperti biasa. Chaterine melingkarkan tangannya pada lengan kanan putra keduanya. Ketiganya berjalan menikmati pemandagan rumput hijau beserta pepohonan. Mereka duduk di kursi di dekat sungai. Ada beberapa orang yang tengah berperahu menikmati pemandangan, ada juga yang sedang melukis.
"Bila putra sulungku masih hidup, saya yakin kalian akan menjadi teman yang baik."
"Anda masih merindukannya setelah sekian lama ia meninggal?"
"Reinharverd putraku tidak akan pernah kehilangan tempatnya di hatiku."
Pemuda bermata biru itu menatap ibunya, berharap agar ia mendengar lebih banyak lagi tentang dirinya.
"Saat melihatmu, saya seperti melihat Reinharverdku masih hidup. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan."
Rein tersenyum. "Saya pun selalu merindukan ibuku.", ia berkata sambil melihat ke langit senja.
Kini giliran Chaterine yang menatapnya.
"Saya merindukan pelukannya. Ketika ibu membelai rambutku, ketika ibu bernyanyi menidurkanku, dan masih banyak hal lainnya yang sudah tidak bisa kudapatkan darinya.", katanya sambil memejam mengenang masa kecilnya.
Chaterine ingin memeluk pemuda itu apabila saat ini mereka sedang tidak di tempat umum. Ia dapat merasakan kesedihannya, namun ia tidak mampu menyampaikan kasih keibuannya di hadapan orang banyak.
"Nyonya Chaterine.", panggilnya. "Bolehkah saya mendapatkan restu dari anda? Saya sangat mengharapkan kehadiran anda di gereja dan pesta pernikahan saya nanti."
Chaterine terkejut mendengar permintaannya. Lalu ia tersenyum menyetujui. "Baiklah. Saya akan datang."
Rein tersenyum bahagia dan berterimakasih pada ibunya.
Richard merasa lega melihat hubungan ibu dan kakaknya yang kembali hangat.
"Tuan Richard, Tuan Andrew menunggu anda di ruang kerja.", kata pelayan.
"Ya.", tanggapnya singkat.
Richard menarik napas yang dalam dan menghembusnya dengan pelan. Ia tahu apa yang akan dihadapinya di balik pintu ini. Chaterine menyentuh pundak putranya dan berkata, "Ibu akan menemanimu."
Keduanya masuk ke ruang kerja dimana sang paman telah menunggu. Lelaki berdarah dingin itu sedang berdiri di dekat jendela memunggungi mereka. Ada segelas brandy di tangan kirinya.
"Selamat malam, Paman.", salam Richard.
Andrew berbalik melihat mereka. "Kenapa kakak juga berada di sini?", tanyanya dengan dingin.
"Aku ingin tahu apa yang ingin kau bicarakan dengannya."
Andrew tersenyum tidak mengerti. "Ada apa denganmu, Kakakku? Tiba-tiba sekali kakak ingin tahu tentang masalah pekerjaan di perusahaan?"
Chaterine tidak ingin menanggapi pertanyaan adiknya.
Andrew menyandar pada meja kerjanya. "Ah....aku tahu.", ia berkata sambil tersenyum mengejek menatap Richard. "Kau sadar telah melakukan kesalahan, lalu meminta kakakku berbicara untukmu. Benar begitu, Richard?"
"Itu tidak benar, Paman."
"Aku paling benci mengulur-ulur waktu. Kau tahu dengan jelas apa yang ingin kubicarakan hari ini."
"Tadi sore saya menemani ibu minum teh."
"Aku meminta putraku menemaniku menemui Tuan Muda Verentsille. Kami bertiga minum teh bersama."
Andrew meletakkan gelasnya dengan kuat ke meja dan membuat ibu dan anak itu terkejut. "Mengabaikan pekerjaan dan minum teh! Hebat sekali ! Tanpa ijin dariku kau pergi meninggalkan pekerjaan dan menemui bajingan itu !"
Suara Andrew terdengar sampai keluar ruangan. Issabelle dan Eruna berdiri di balik pintu mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dan kakakku tercinta, aku tidak marah kau meminta putramu menemanimu.", ia memelankan suaranya. "Tapi aku tidak suka kakak menemui orang yang sudah menyakiti putriku."
"Kau tidak punya hak melarangku bertemu dengan siapapun yang kuinginkan, Andrew !", Chaterine berkata dengan tegas. "Tidak juga pada putra dan menantuku."
Andrew tertegun. Ia berbalik memunggungi mereka dan mengambil gelas yang diletakkannya di atas meja lalu meneguk isinya dengan sekali minum. Ia benar-benar marah.
"Oh, dan satu hal lagi, Andrew.", kata Chaterine sebelum keluar dari ruang kerja. "Kekhawatiranmu akan segera sirna. Tuan muda Verentsille akan segera menikah dua bulan lagi."
Setelah ibu dan anak itu keluar, Andrew melampiaskan amarahnya dengan melempar gelas yang dipegangnya ke jendela. Terdengar suara pecahan kaca dan barang-barang berjatuhan ke lantai.
"Benarkah itu, Bibi? Rein akan menikah?", tanya Eruna yang masih belum mempercayainya.
Chaterine membelai rambut kemenakannya dan mengangguk.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia segera berlari ke kamarnya di lantai dua. Ia mengunci diri dan menangis. Tidak seorangpun yang diijinkannya masuk.
Richard dan Issabelle masuk ke kamarnya. Sang suami menarikkan kursi untuk istrinya duduk, sedangkan ia sendiri berdiri di dekatnya.
"Aku juga baru mengetahuinya hari ini.", kata Richard.
"Kak Rein mencintainya?"
"Kakak bilang akan belajar mencintainya." Richard berlutut dan menempelkan telinganya di perut sang istri. "Kita hanya bisa mendukungnya, Issabelle. Dan semoga Eruna mampu melewati ini."
Issabelle membelai rambut suaminya.
"Dimana kakek?"
"Kakek sedang pergi. Mungkin sebentar lagi pulang."
Makan malam di hari itu menjadi sepi. Baik Andrew maupun Eruna tidak keluar dari ruangannya masing-masing. Hanya ada Tuan Jovant, Chaterine, Richard dan Issabelle. Pertengkaran yang terjadi malam itu menjadi topik pembicaraan di meja makan.
Satu minggu telah berlalu sejak pertengkaran antara Andrew dan kakaknya. Pagi-pagi sekali ketika Rein sedang menikmati sarapan bersama ayah angkatnya, ia telah kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah Richard. Sang adik tampak tergesa-gesa dan panik ketika ia diantar ke ruang makan oleh Molly.
"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Kak.", salamnya dengan tangan yang memegang topi.
"Selamat pagi, Richard.", salam keduanya.
"Duduklah dan sarapan bersama kami, Richard.", kata Rein dengan senyum ramahnya.
"Aku takut aku tidak memiliki waktu untuk ajakan kakak."
Rein dan Tuan Verentsille menatapnya dan merasa ada sesuatu yang penting untuk diketahui.
"Duduklah, Richard, dan tenangkan dirimu", kata Rein yang kehilangan senyum di wajahnya.
Lelaki tersebut menuruti perkataan kakaknya. Ia duduk dan meletakkan topinya di meja makan.
"Sekarang katakan apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa kemari."
"Eruna kabur dari rumah."
~ 0 ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar