Rabu, 27 Mei 2015

Ch 06

"Saya akan mengantar Nona Danforth pulang begitu pertunjukkannya selesai.", kata Rein yang datang menjemput gadis itu.
Tuan Danforth mengangguk tersenyum sambil memegang cerutu.
Keduanya pun pergi. Mereka tidak bersama dengan Steven karena ia telah pergi menjemput Josephine, kekasihnya.
Mereka tiba bersamaan dengan keluarga Jovant. Pertemuan pun tidak terhindarkan.
Richard dan Issabelle menemui kakaknya sementara anggota keluarga Jovant yang lain memasuki gedung opera terlebih dahulu. Mereka hanya saling menyapa dan tidak sempat berbicara.
Rein tidak begitu menikmati pertunjukkan tersebut. Namun ia mampu menyembunyikannya dari Clara. Ia ingin agar gadis itu tidak terganggu olehnya. Begitu pula dengan Eruna. Nona Jovant itu memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum pertunjukkan selesai.

Sejak pergi bersama ke pertunjukkan opera, Rein sering datang ke kediaman keluarga Danforth. Pemuda itu sepertinya ingin serius mendekati adik dari temannya. Mereka sering terlihat bersama di depan umum.

"Boleh aku duduk di sini?", tanya Issabelle.
Eruna tersadar dari lamunannya. "Ya. Tentu saja, Issabelle."
Issabelle duduk di kursi taman dan membelai perutnya yang mulai membuncit.
"Tidak lama lagi anggota keluarga kita akan bertambah.", kata Eruna.
Issabelle tersenyum. "Dan kau akan menjadi seorang bibi."
Eruna tersenyum tumpul. "Sepertinya kakakmu juga akan menerima seseorang sebagai keluarganya."
Wanita berambut ikal pirang itu melihat padanya. "Kau masih belum bisa melupakan Kak Rein?"
"Tidak semudah itu, Issabelle."
Issabelle tersenyum nakal mengingat masa lalu.
"Ada apa ?"
"Aku teringat dulu. Aku tahu Kak Rein bukan kakak kandungku. Karena dia begitu baik, maka aku memutuskan untuk menjadi istrinya kelak."
"Bahkan kau juga menyukai kakakmu?", Eruna terkejut dan merasa geli mengetahuinya.
"Ingat, kami bukan saudara kandung, Eruna. Dan wajar saja kalau aku pernah menyukainya."
"Lalu?"
"Kalau diingat-ingat lagi, aku benar-benar egois. Aku memonopoli Kak Rein. Aku sering memaksanya menemaniku. Terlebih lagi bila menghadiri pesta dansa, aku tidak mengizinkannya berdansa dengan wanita lain."
Eruna tertawa.
"Aku bahkan pernah cemburu padamu, Eruna."
"Bagaimana bisa, Issabelle?"
"Itu sebelum aku bertemu dengan Richard."
Eruna berusaha menahan tawanya. "Apa dia pernah mengeluh?"
Issabelle mengingat-ingat. "Seingatku tidak pernah."
"Kau dan Richard sangat beruntung memilikinya sebagai kakak kalian."
Issabelle menyentuh tangan Eruna. "Kak Rein yang kutahu bukanlah seseorang yang dikatakan paman selama ini. Aku juga tidak mengerti dengan tindakannya yang tiba-tiba menjauhimu. Tapi aku yakin kakakku pasti memiliki alasannya. Aku tahu sulit bagimu, Eruna. Tapi cobalah untuk meninggalkan masa lalu dan memulai yang baru."
Eruna mencoba tersenyum dan menahan air matanya. "Aku juga berharap aku mampu. Semua ini membuatku tersiksa, Issabelle. Kakakmu....dan juga ayahku. Sebenarnya ada apa di antara mereka?"

Chaterine melihat menantu dan kemenakannya dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Ia juga merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia tidak suka melihat Tuan muda Verentsille meninggalkan kemenakannya seperti itu, dan di sisi lain ia tidak sanggup membenci pemuda itu. Setiap kali melihat pemuda bermata biru tersebut, ia seolah sedang melihat putra sulungnya yang sudah meninggal. Karena itulah ia tidak mampu sepenuhnya membenci Tuan Muda Verentsille.
"Ibu.", panggil Richard.
"Kalau kakakmu masih hidup, ... tahun ini dia sudah berumur dua puluh dua tahun, seumuran dengan Tuan muda Verentsille."
"Tapi sayang sekali mereka adalah orang yang berbeda.", tanggap Richard.
Chaterine berbalik menatap putranya. "Richard putraku, apakah kau juga merasakannya? Setiap kali ibu melihat Tuan muda Verentsille, ibu seperti bertemu kembali dengan kakakmu. Apakah kau juga begitu, Richard?"
Richard mendekatinya dan memeluk ibunya. "Itu hanya perasaan ibu karena terlalu merindukan kakak.", ia mencoba menenangkan ibunya walaupun ia harus menyangkal perasaannya. "Saya tidak mengingat apapun tentang kakak karena saat itu aku masih kecil." Kemudian ia menawarkan pendapatnya, "Yang ibu butuhkan saat ini adalah bertemu dengannya. Dengan begitu rasa rindu ibu dapat terobati."
"Itu tidak mungkin, Richard."
Lelaki berambut coklat tersebut menghela napas. "Karena ibu telah menegurnya, bukan?", tebaknya. "Kalau ibu menginginkan, saya bisa mengatur sebuah pertemuan untuk kalian."


Richard menemui kakaknya di perusahaan keluarga Verentsille. Ia datang saat hari menjelang siang. Ia harus menunggu beberapa waktu karena Rein sedang rapat mengenai pengembangan perusahaannya. 
Ketika rapat selesai, Rein kembali ke ruangannya dan bertemu adiknya.
"Issabelle sehat?", tanya sang kakak.
"Ya. Sekarang sudah memasuki bulan kelima kehamilannya."
"Tidak lama lagi kau akan menjadi seorang ayah. Bagaimana persiapanmu?"
Richard meminum kopi yang disuguhkan untuknya. "Aku tidak tahu, Kak. Siap atau tidak aku tetap akan menjadi seorang ayah."
Rein menepuk pundak adiknya sambil tersenyum. "Dengan sendirinya kau akan terbiasa."
"Benar.", tanggap Richard. "Sepertinya kakak serius dengan Nona Danforth?"
Rein duduk menyandar. "Bulan Juni nanti kami menikah."
Sang adik menoleh terkejut.
Rein tertawa kecil melihat reaksi adiknya. "Kenapa kau sekejut itu, Richard? Bukankah kau dan Issabelle juga menikah setelah perkenalan yang baru berlangsung dua bulan?"
"Kakak mencintainya? Atau pernikahan ini karena bisnis keluarga?"
Tuan muda Verentsille berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati jendela. "Aku menghormati Clara. Ini bukanlah sebuah keputusan yang buruk."
"Itu artinya kakak tidak mencintai gadis itu. Bagaimana kakak bisa bahagia menjalani hidup bersama seseorang yang tidak kakak cintai?"
"Apakah orang sepertiku pantas untuk bahagia, Richard?", ia balas bertanya. "Keberadaanku hanya bisa menyakiti orang-orang yang kucintai. Tanpa ia sadari aku menggunakannya seperti alat. Aku menyakitinya tanpa ia sadari, memberinya harapan. Karena itu aku akan bertanggungjawab atas apa yang sudah kulakukan."
Richard hanya mendengarkan tanpa menanggapi.
"Kurasa aku mampu menanggungnya. Kebahagiaan Clara adalah tanggung jawabku."
"Aku tidak percaya.", kata sang adik.
"Tapi aku yakin aku mampu." Rein berbalik melihat adiknya. "Clara adalah wanita yang lembut. Aku mengaguminya. Dan aku akan belajar mencintainya."
"..."
"Kakakmu membutuhkan dukungan dan doa darimu, Richard. Bisakah kau memberikannya?"
Richard berdiri dan mengambil topinya. "Pukul tiga sore ini datanglah ke tea house tempat biasa kita bertemu.", ia menyampaikan maksud kedatangannya. "Selamat siang, Kak.", pamitnya.



~  0  ~




Minggu, 24 Mei 2015

Ch 05

Seperti biasa, rutinitas Rein diawali dengan sarapan bersama ayahnya. Pada saat sarapan seperti ini mereka akan membicarakan tentang pekerjaan di pabrik. Dan ketika pembicaraan tentang pekerjaan selesai maka kedua orang tersebut akan berbicara tentang hal lainnya sampai sarapan selesai.

"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan seperti yang anda minta.", kata David, salah seorang pegawai kepercayaan Rein.
"Sebentar, David.", kata Rein yang menahannya pergi. "Tentang opera minggu depan, apa kau tahu dimana aku bisa membeli tiketnya?"
"Tuan ingin menonton opera?"
Rein tersenyum. "Lebih tepatnya menemani seseorang pergi menonton."
"Saya mengerti.", kata David tersenyum. "Saya akan segera membeli tiketnya."
"Tidak, David. Biar aku saja yang pergi."

Setelah mengetahui tempatnya dari David, Rein segera pergi memburu tiket. Sesampainya di sana, tidak terlihat antrian panjang di depan loket. Ia hanya perlu mengantri dari lima orang di depannya. Belum sampai pada gilirannya, hujan mulai mengguyur kota London. Rein yang tidak ada persiapan apapun untuk melindungi diri dari hujan menjadi basah kuyup. Lalu gilirannya pun tiba.

Clara berdiri di dekat jendela di kamarnya. Ia melihat langit mendung yang sedang mengguyuri tanah dengan hujan. Lalu ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan merajut. Ketika mendengar pintu kamarnya diketuk, ia segera menyembunyikan rajutannya di balik bantal lalu membukakan pintu.
"Hari ini kau terus mengurung diri di kamar, Clara?"
"Ibu.", sebutnya.
Nyonya Danforth masuk dan duduk di kursi. "Jangan kau kira ibu tidak tahu. Putriku ini mulai jatuh cinta pada Tuan muda Verentsille bukan?"
"Eh...saya...", Clara menjadi salah tingkah dan tidak berani melihat ibunya.
"Tuan muda Verentsille memang berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya. Ibu akan senang sekali dan merasa tenang bila kau menjadi istrinya, Clara."
"Ibu terlalu berlebihan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Tuan Verentsille. Mungkin saja dia menyukai wanita lain. Saya tidak berani berharap banyak."
"Benar juga ya. Tidak terpikirkan oleh ibu."
"Saya pernah mendengar kalimat ini seseorang yang sempurna, mungkin telah menjadi milik seseorang yang sempurna lainnya."
"Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Clara. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan yang saat ini kita liat pada Tuan muda Verentsille hanyalah kelebihannya. Orang sebaik itu juga pasti memiliki kekurangan."
Seseorang mengetuk pintu kamar Clara dan memberitahukan kedatangan Tuan muda Verentsille.
Ibu dan anak itu segera menuju ke ruang tamu.
"Tuan Verentsille !", panggil Clara yang terlihat khawatir melihat pemuda itu basah kuyup. Ia segera membantu mengusap Rein dengan handuk yang telah dibawakan oleh pelayan.
"Cepat ambilkan pakaian tuan muda kemari! Cepat!", perintah Nyonya Danforth.
Segera salah seorang pelayan pergi ke kamar Steven dan mengambil pakaiannya lalu segera kembali ke ruang tamu.
"Nah, Tuan muda Verentsille. Gantilah pakaian anda segera sebelum anda masuk angin.", kata Nyonya Danforth.
"Terimakasih, Nyonya Danforth."
"Kami keluar dulu.", kata Clara.
Rein pun ditinggal seorang diri di ruang tamu yang tertutup. Pemuda itu mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian Steven. Setelah selesai, ia membuka pintu dan memberitahu mereka yang telah menunggu di luar. Teh hangat dan makanan kecil disajikan atas perintah Nyonya Danforth. Ia membiarkan kedua orang tersebut berbicara di ruang tamu dan ia menyibukkan diri dengan hal lain.
"Tuan Verentsille, kenapa anda bisa kehujanan seperti tadi?", tanya Clara.
"Saya tidak menyangka akan turun hujan saat mengantri beli tiket.", jawabnya sambil tersenyum.
"Anda tidak segera berteduh?"
"Tentu saya berteduh, tapi hujan dan anginnya sangat kencang." Pemuda itu mengeluarkan dua lembar tiket yang dibelinya. "Maaf, Nona Danforth. Yang tersisa hanyalah kursi barisan belakang.  Kalau anda tidak berminat..."
"Kita tetap akan menontonnya.", kata Clara yang memotong perkataan Rein. "Bagaimana mungkin saya menyia-nyiakan usaha anda. Ketika anda mengatakan akan menemani saya, itu sudah membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi anda kehujanan hanya untuk memenuhi keegoisan saya. Maafkan saya, Tuan Verentsille."
"Nona Danforth, saya mohon anda jangan berkata seperti itu.", kata Rein. "Saya tidak pandai bicara tapi saya berusaha melakukan yang terbaik. Karena anda sangat menghargainya, sudah membuatku sangat senang." Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. "Kalau begitu saya akan menjemput anda minggu depan."
Clara memandangnya dan tersenyum. "Ya. Saya akan menunggu."
Rein menjadi salah tingkah. Ia mengalihkan perhatiannya pada teh yang telah disuguhkan dan meminumnya. "Sekarang saya harus pamit, Nona Danforth.", katanya setelah berdiri.
"Tapi di luar masih hujan, Tuan Verentsille. Tinggallah di sini sampai hujan reda."
"Putriku benar, Tuan Verentsille.", kata Nyonya Danforth ketika memasuki ruangan. Ia duduk di satu sisi sofa sambil tersenyum. 
Rein kembali duduk.
"Boleh saya tahu apa yang sedang kalian bicarakan?", tanya wanita paruh baya itu.
"Oh, saya hampir lupa. Maafkan ketidaksopanan saya, Nyonya Danforth. Minggu depan saya akan menemani putri anda menonton opera. Seharusnya saya mengatakannya dulu pada anda."
Nyonya Danforth memandangnya terkejut lalu memandang putrinya. "Kalian akan pergi bersama?"
Rein menjadi gugup dan merasa dirinya telah melakukan suatu kesalahan. "Maaf, Nyonya danforth. Seharusnya saya meminta ijin dari anda terlebih dahulu."
Wajah Nyonya Danforth berubah serius dan menatap tajam pada pemuda itu. "Tuan muda Verentsille, saya harap anda mengerti bahwa putri saya sangatlah lugu. Bagaimana tanggapan kekasih anda bila tahu kalian pergi berduaan? Terlebih lagi di depan umum. Bagaimana tanggapan orang-orang nantinya terhadap Clara?"
Rein terkejut dan berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Anda salah paham, Nyonya Danforth.", ia berusaha menjelaskan. "Bila saya sudah memiliki kekasih, mana mungkin saya berani menemani Nona Danforth menonton opera."
Nyonya Danforth masih menatap serius padanya. "Tuan muda Verentsille adalah seorang pemuda tampan yang memiliki banyak pengagum wanita. Sulit untuk mempercayai kalau anda belum juga memiliki tambatan hati."
"Tapi saya memang belum memilikinya, Nyonya Danforth. Dan saya sama sekali tidak ada maksud untuk merayu putri anda. Saya hanya ingin menemaninya menonton opera karena saya lihat putri anda sangat ingin menontonnya. Tapi memang ini adalah kesalahan saya karena tidak terlebih dahulu meminta ijin anda. Maafkan saya, Nyonya."
"Ibu. Tuan Verentsille bermaksud baik. Ibu jangan mendesaknya lagi."
Rein mencoba meyakinkan wanita itu sekali lagi. Ia menenangkan diri lalu memandangnya. "Nyonya Danforth, bolehkah saya menemani putri anda menonton opera minggu depan?"
Nyonya Danforth mengendurkan ketegangan di wajahnya lalu tersenyum. "Tentu, Tuan muda Verentsille.", katanya.
Rein tersenyum lega. "Terimakasih, Nyonya Danforth."
Clara pun ikut merasa lega. Ia tersenyum dan menuangkan teh untuk tamunya.
"Seharusnya saya yang berterimakasih karena anda memahami dan bersedia menemani Clara."
Rein tersenyum menggeleng. "Kalau Steven tidak mengatakannya saya juga tidak akan tahu, Nyonya."
"Tuan Verentsille, silahkan diminum.", kata Clara.
"Terimakasih." Setelah menyelesaikan keperluannya, Rein segera pamit kepada ibu dan anak itu. Walaupun mereka sudah mencoba untuk menahannya, namun pemuda itu tidak bisa lagi menunda kepergiannya.
"Maafkan perkataan ibuku tadi, Tuan Verentsille.", kata Clara yang mengantar tamunya ke depan.
Rein tersenyum, "Perkataan Nyonya Danforth benar. Beliau mengkhawatirkan anda. Itu sudah seharusnya. Sejak awal memang saya yang melakukan kesalahan. Syukurlah beliau tidak marah.", tanggapnya. "Dan saya akan segera mengembalikan pakaian kakakmu yang kupinjam."
"Ya." Gadis itu tersenyum.
"Sampai bertemu minggu depan, Nona Danforth." Rein mengecup punggung tangan gadis itu lalu masuk ke dalam kereta kudanya.
Clara melihat kereta kuda yang membawa lelaki yang ia sukai keluar dari gerbang rumahnya. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya. Ia tersenyum sendiri mengingat reaksi Rein ketika diserang perkataan ibunya. Ia berkaca di depan cermin besar yang disandarkan di salah satu sisi dinding kamarnya.
"Tidak disangka pemuda tampan itu menawarkan diri menemanimu.", kata sang ibu yang tiba-tiba muncul di belakang putrinya.
Clara sangat terkejut menyadari kehadiran ibunya yang tiba-tiba tersebut. "Ibu. Mengejutkan saja."
"Ibu sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kau terlalu asyik memikirkan pria idamanmu."
"...Tadi ibu sedikit berlebihan terhadapnya."
"Itu demi dirimu, Clara. Seperti yang tadi kau katakan, mungkin saja dia sudah memiliki wanita idamannya. Dan kalau benar begitu, kau akan menyesal nantinya."
"Tapi saya tidak berani mengharapkan apapun dari Tuan Verentsille."
Nyonya Danforth tertawa lucu.

"Rein?", sebut Steven ketika sedang makan malam bersama keluarganya. "Kau akan pergi bersamanya?"
"Benar, Kak."
"Temanku yang satu itu tidak pernah membicarakan tentang wanita. Tapi aku pernah melihatnya bersama Nona Jovant."
"Dia sudah mempunyai kekasih?", tanya sang ibu.
"Ntah lah. Tapi akhir-akhir ini mereka sudah tidak pernah terlihat bersama."
"Menurut kakak, apakah sebaiknya saya membatalkan janjinya?"
"Clara adikku tercinta, sudah lama aku mengenalnya dan belum pernah terdengar sesuatu yang buruk tentang dia. Aku yakin kalau dia sering terlihat bersama wanita yang berbeda, pasti gossip buruknya telah beredar kemana-mana. Orang itu lebih suka menghabiskan waktu luangnya di rumah menemani ayahnya."
"Kakakmu benar, Clara. Rein itu sama sepertimu, lebih banyak di rumah daripada mencari kesenangan di luar. Ayahnya sendiri yang mengatakannya."
Setelah mendengar pendapat dari ayah dan kakaknya, Clara merasa lebih tenang. Namun perasaan ketidakpercayaan diri masih terus menghantuinya.


Rein memainkan piano yang berada di ruang keluarga sementara ayah angkatnya membaca buku. Keduanya sedang menikmati waktu senggangnya masing-masing ketika salah seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tuan Rein.", panggil pelayan itu.
"Ada apa, Trudy?", pemuda itu menanggapi tanpa menghentikan permainannya.
"Pakaian yang anda pinjam dari Tuan Danforth telah selesai dicuci dan disetrika."
Rein tersenyum pada pelayannya. "Tolong letakkan di kamarku. Besok akan kukembalikan padanya."
"Baik, Tuan. Permisi."
Tuan Verentsille membalik halaman pada buku yang tengah dibacanya. "Kau akan ke rumahnya lagi, Rein?"
"Tidak, Ayah.", jawabnya. "Besok aku akan bertemu Steven, jadi akan kukembalikan padanya."
Rein mengakhiri permainannya dan menutup piano itu.
"Keluarga Jovant juga akan pergi ke menonton opera itu.", orang tua itu berkata lagi.
Pemuda itu terdiam.
"Tapi kau juga sudah tidak bisa membatalkan janjimu dengan Nona Danforth. Bukan begitu?"
"Mungkin kelak saya akan mendapat hukumannya, Ayah. Ini justru kesempatan yang baik agar Eruna menyerah."
Tuan Verentsille berbalik melihat putra angkatnya. Ia seolah-olah tidak mengenal sosok pemuda yang baru saja mengatakan hal selicik itu. "Mengenai masalahmu dengan Eruna, kau belum pernah mengatakan apapun pada ayah. Sampai kapan kau akan menutupinya? Kenapa orang tua ini tidak berhak mengetahuinya?"
"..."
"Jawablah, Putraku. Beri ayahmu ini alasan untuk memaafkan kata-kata yang baru kau ucapkan tadi."
Rein menunduk. Kemudian ia berdiri dan duduk di sisi ayahnya. Sepasang tangannya menggenggam lembut tangan ayahnya. "Bila saya memberitahu ayah ... bisakah ayah tidak mengatakannya pada siapapun juga?", ia berkata dengan nada memohon.
Tuan Verentsille berkerut kening, merasa penasaran dengan perkataan yang didengarnya. "Katakanlah.", ia berkata dengan tidak sabar untuk mendengarnya.
"Semua ini kulakukan demi Issabelle dan Richard."
"Apa maksudmu?"
"Paman Andrew tidak akan mengganggu hubungan kedua adikku bila aku bersedia menjauhi putrinya. Itulah kesepakatan kami, Ayah."
"Apa?" Tuan Verentsille terkejut mengetahui kenyataan itu.
"Karena itu, Ayah. Saya harus melakukannya agar Eruna menyerah. Satu-satunya jalan adalah dengan membuatnya membenciku."
Lelaki tua itu tidak mampu berucap apapun lagi. Ia menunduk bersedih.
"Dengan menyakiti Eruna, ibuku sendiri telah membenciku. Saya akan benar-benar hancur bila ayah juga membenciku. Jadi saya mohon mengertilah, Ayah. Demi kebahagian Issabelle, jangan katakan pada siapapun tentang kesepakatan ini."
Tuan Verentsille mengangguk-angguk. "Terimakasih, Rein. Dan maafkan ayah ... juga adikmu."
Rein memeluk ayah angkatnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ayah. Tidak ada.", ia berkata sambil memejam.
Orang tua itu menangis, putra angkatnya memeluk dan berusaha menenangkannya. Malam itu sudah tidak ada rahasia apapun lagi yang disembunyikan di antara kedua orang itu. Tuan Muda Verentsille merasa sedikit lebih lega namun tetap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yaitu Nona Danforth.





                                                                     ~  0  ~

Ch 04



Kedatangan Tuan Verentsille dan Rein disambut dengan senyum merekah oleh keluarga Danforth. Tidak salah tebakan Tuan Verentsille, mereka memang berniat untuk menjodohkan putri satu-satunya pada pemuda Verentsille. Pesta dansa yang diadakan beberapa waktu lalu pun juga dimaksudkan untuk mempertemukan kedua orang ini.
  Tuan Danforth berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah.", katanya. "Mari kita lanjutkan pembicaraan sambil merokok di ruang sebelah.", ajaknya setelah semuanya selesai makan.
  "Maaf saya tidak merokok, Tuan Danforth.", kata Rein.
  Nyonya rumah tersenyum lebar menoleh pada putrinya. Lalu mereka memandu kedua tamunya ke ruang keluarga. Nyonya Danforth meminta putrinya memainkan piano sebagai alunan musik yang menemani pembicaraan.
  "Permainan yang indah.", puji Tuan muda Verentsille. "Nona Danforth sudah tidak terlihat seperti masih belajar memainkannya."
  "Clara latihan setiap hari. Dan setiap selesai makan malam, putri ku selalu akan memperdengarkan hasil latihannya. Kemajuannya sangat mengagumkan bukan?", kata Nyonya Danforth.
  Rein tersenyum. "Benar sekali, Nyonya Danforth."
  "Bagaimana kalau kau juga mencobanya, Rein?", usul Steven yang berdiri di samping perapian sambil memegang segelas anggur.
  Rein tertawa kecil sambil menggeleng. "Oh, tidak, Steve. Permainanku tidak sebagus itu."
  Clara menghentikan permainannya dan berdiri menepikan diri. Ia duduk di sisi ibunya.
  "Ayolah, Teman. Kami semua ingin mendengarnya." Steven mendekat dan menarik tangan Rein yang kemudian melihat ayahnya.
  "Penuhilah permintaan mereka.", kata Tuan Verentsille.
  "Baiklah." Rein meletakkan minumannya di meja kecil di sampingnya. Ia berjalan menuju ke piano sambil tersenyum malu. "Chopin?", tanyanya pada para pendengar setelah ia duduk.
  "Silahkan.", kata Tuan Danforth.
  Rein memejam dan menarik napas setelah memposisikan jari-jari tangannya pada tuts piano. Ini adalah pertama kalinya ia bermain di hadapan orang lain selain ayah dan adik perempuannya. Ia gugup, namun tampak tenang. Pemuda itu membuka matanya dan mulai menarikan jari-jarinya di atas tuts piano. Sebuah lagu yang tenang nan romantis. Seluruh pendengar di ruangan tersebut tidak bersuara. Nyonya Danforth semakin menyukai pemuda ini. Wanita ini sudah tidak sabar untuk mengutarakan keinginannya menjodohkan putrinya pada pemuda bermata indah tersebut.
  Rein mengakhiri permainannya. Mereka memberikan tepuk tangan untuknya. "Bagus!", kata Steven. "Masih bilang permainanmu jelek?"
  "Jangan berlebihan, Steven. Permainan Nona Danforth jauh lebih indah dari ku."
  "Anda sangat merendah. Bagaimana mungkin seorang pemula seperti saya dapat dibandingkan dengan anda.", kata Clara.
  Rein kembali ke tempat duduknya.
  "Oh ya. Hampir saja aku lupa.", kata Steven. "Adikku, bagaimana kalau kau meminta Temanku ini menemanimu minggu depan ?"
  "Kakak!", Clara menegurnya dengan suara kecil.
  "Menemani kemana?", tanya Rein pada temannya.
  "Eh...tidak, Tuan Verentsille. Kakak hanya sembarangan bicara. Tolong jangan ditanggapi."
  "Anak-anak jaman sekarang sudah mulai main rahasia-rahasiaan. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Ayah dan ibu sama sekali tidak mengerti.", kata Tuan Danforth.
  "Tidak ada apa-apa, Ayah."
  Steven membisu dan tidak melanjutkan topik yang tadi dikatakannya.
  "Baiklah.", kata Tuan Verentsille seraya meletakkan gelas wine nya di meja. "Malam sudah semakin larut. Kami juga sudah terlalu lama di sini. Sudah waktunya bagi kami untuk pulang."
  "Oh, waktu berlalu begitu cepat.", kata Nyonya Danforth.
  Mereka semua berdiri dan hendak keluar dari ruangan.
  "Nona Danforth.", panggil Rein.
  Clara tidak jadi keluar setelah mendengar Rein yang memanggilnya. Sementara itu yang lainnya telah keluar sambil berbincang-bincang tanpa menyadari kedua orang tersebut tidak bersama mereka.
  Rein mendekati gadis itu. "Apakah yang dikatakan Steven benar kalau anda membutuhkan seseorang untuk menemani anda minggu depan? Bolehkah saya tahu kemana anda akan pergi?"
  Clara mengangguk. "Benar, Tuan Verentsille. Minggu depan kakakku dan kekasihnya akan pergi menonton opera. Saya ingin sekali ikut tapi takut mengganggu mereka. Tapi sudah saya putuskan tidak akan ikut."
  Rein tersenyum. "Kalau Nona Danforth tidak keberatan, saya bersedia menemani anda minggu depan."
  Clara terkejut bercampur senang. "Tapi...tiketnya sudah saya berikan pada orang lain tanpa sepengetahuan kakak."
  "Kalau begitu kita beli yang baru."
  Clara berusaha menahan luapan kebahagiaannya. "Tuan Verentsille, maaf sudah merepotkan anda. Dan terimakasih."
  Rein hanya menanggapinya dengan senyuman. "Besok akan saya kabarkan tentang tiketnya."
  Gadis pemalu itu mengangguk tersenyum.
  Keduanya menyusul yang lain ke depan. Clara benar-benar tidak mampu menahan kebahagiaannya, nona cantik itu terus tersenyum dan berkali-kali melirik pemuda ramah tersebut.
  Akhirnya Rein dan ayahnya berpamitan pulang.
  
  "Clara, ibu perhatikan kau bahagia sekali. Apa sudah terjadi sesuatu dengan Tuan muda Verentsille?"
  "Tidak apa-apa, Ibu. Tuan Muda Verentsille memang selalu ramah pada semua orang bukan. Dan dia adalah orang yang sangat baik."
  Nyonya danforth melirik putrinya dari samping. "Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu."
  "Ibu, berhentilah menggodaku."
  Sang ibu tertawa.


~ 0 ~

Senin, 04 Mei 2015

Ch 03

Sebuah pesta dansa diadakan di kediaman keluarga Danforth yang merupakan rekan bisnis keluarga Verentsille. Malam itu Rein datang sendirian. Para gadis yang menghadiri pesta dansa mengalihkan perhatian mereka pada pemuda itu. Tuan muda Verentsille memang terkenal dengan ketampanan dan kesopanannya. Belum sempat ia menyapa tuan rumah, para gadis itu telah mengerumuninya dan mencari perhatian.

 "Aha! Dengan melihat kerumunan gadis-gadis cantik ini aku sudah mengira kau lah dalangnya, Rein.", kata seorang pemuda yang berperawakan sedang dan berambut hitam menerobos ke dalam kerumunan.
 Rein menoleh ke arah datangnya suara. "Steven.", sebutnya dengan lega. Ia berharap temannya itu segera mengeluarkannya. "Undangannya cukup ramai."
 Mereka bersalaman dan saling memeluk sejenak.
 "Tolong keluarkan aku dari sini.", bisik Rein.
 Steven tertawa lepas. "Baiklah, Nona-nona sekalian. Aku harus menculik pria tampan ini dari kalian. Silahkan menikmati pestanya." Steven membawa temannya menepikan diri.
 "Terimakasih, Steve."
 "Apa kau tahu bagaimana caranya agar kau selamat dari kejadian seperti tadi?", tanya pemuda berambut hitam tersebut.
 "Aku akan senang sekali bila kau bersedia memberitahuku."
 "Perempuan.", jawabnya.
 Rein mengernyit alis tidak mengerti. "Maksudmu?"
 "Setiap kali menghadiri pesta, kusarankan kau membawa seorang gadis bersamamu. Dengan begitu mereka akan segan mendekatimu seperti tadi."
 Rein tersenyum kaku dan menganggap itu adalah saran yang konyol.
  "Kenapa?"
  Pemuda itu tersenyum menggeleng. 
  Steven mengangkat tangannya memberi isyarat pada seseorang. Seorang gadis muda dengan segelas anggur di tangannya pun mendekat.
  "Perkenalkan. Ini adik perempuanku, Rein. Clara. Dan Clara, ini Tuan muda Verentsille yang baru saja kutolong dari kerumunan para gadis."
  "Apa yang kau bicarakan, Steve?", kata Rein yang berusaha tersenyum pada putri penyelenggara pesta. Kemudian ia meraih tangan kanan Clara dan mengecup punggung tangannya. "Senang berkenalan dengan anda, Nona Danforth."
  Clara tersenyum malu. Ia adalah salah satu penggemar Tuan muda itu.
  "Nah, kutinggalkan kalian berdua di sini. Aku harus menyapa tamu-tamu kita yang lain.", kata Tuan muda Danforth. "Rein, bicaralah pada adikku agar kau tidak terperangkap lagi.", pesannya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu meninggalkan mereka.
  Kedua orang yang pemalu tersebut tidak ada yang memulai pembicaraan. Rein menjadi bingung apa yang harus dilakukannya. Ia tidak ahli berbicara dengan wanita. Irama musik pun berganti. "Maukah anda berdansa denganku, Nona Danforth?", tanyanya seraya membungkukkan badan.
  Clara mengulurkan tangan kanannya memberi persetujuan. Keduanya lalu menuju ke lantai dansa bergabung bersama pasangan lainnya. Banyak sekali para gadis yang iri melihat Rein berdansa dengan seorang gadis.
  "Apakah ini adalah pesta dansa pertama anda?", tanya Rein.
  Clara tidak berani menatap mata indah pemuda itu. Ia sangat gugup dan dapat merasakan detak jantungnya yang begitu kuat. "Seburuk itukah gerakanku hingga anda bertanya demikian?"
  Rein terkejut dan menjadi salah tingkah. "Maafkan saya, Nona. Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung anda. Mohon maafkan kelancanganku.", kata Rein. "Hanya saja saya belum pernah melihat Nona Danforth dari setiap pesta dansa yang saya hadiri."
  Dengan tinggi yang hanya sebahu Rein, Clara harus menengadahkan kepala menatap mata indah pasangan dansanya. Ia tersenyum, "Ya.", akunya. "Ini pesta dansa pertamaku.", kata gadis berusia enam belas tahun itu.
  "Saya pernah mendengar Steven bercerita tentang anda. Katanya anda menyukai seni."
  Clara tersenyum merendah. "Kuharap kakakku tidak bercerita banyak hal tentang saya."
  Rein terdiam lalu tertawa kecil. "Saya rasa temanku benar. Anda seorang yang pemalu. Tapi saya berani meyakinkan anda, Nona Danforth, apapun yang Steven ceritakan tentang anda, semuanya sangat menarik."
  Gadis berambut merah ikal itu hanya bisa menanggapi dengan senyuman.
  Richard dan Issabelle baru sampai ketika Rein selesai berdansa. Eruna dan ayahnya pun turut hadir. Keempat orang tersebut menyadari keberadaan Tuan muda Verentsille yang sudah menepikan diri bersama Nona Danforth, mereka sedang menikmati anggur dan makanan kecil yang dihidangkan. Beberapa tamu undangan berbaur dengan keluarga Jovant sebelum mereka sempat menemui Tuan besar penyelenggara pesta.
  "Selamat datang, Rein.", sapa Tuan besar Danforth bersama istrinya.
 "Oh, Tuan dan Nyonya Danforth.", sebut pemuda itu ketika berpaling melihat mereka. "Selamat malam.", katanya seraya bersalaman dengan lelaki paruh baya itu lalu mengecup punggung tangan Nyonya Danforth."Maaf saya belum sempat menyapa anda berdua."
  "Hahaha...hal sekecil ini jangan dipermasalahkan.", kata lelaki tua yang kepalanya hanya ditumbuhi sedikit rambut itu.
  "Sendirian saja?", tanya Nyonya Danforth.
  "Benar, Nyonya. Ayahku kurang sehat hari ini. Karena itu saya tidak bisa lama di sini."
  "Sudah diperiksa dokter?", tanya Clara yang menunjukkan simpatinya.
  Rein mengangguk. "Sudah."
  "Kulihat kau berdansa dengan putriku tadi. Bagaimana gerakannya, Rein? Hari ini adalah pesta dansa pertamanya.", tanya wanita kurus dengan gaun biru itu penasaran.
  Clara menunduk malu.
  Rein melihat nona itu sejenak lalu memberikan komentar. "Sangat baik, Nyonya. Nona Danforth berdansa dengan sangat baik."
  Suami istri Danforth tertawa senang. "Clara, bagaimana kalau Tuan muda Verentsille yang menjadi tutor mu latihan piano?", kata Tuan Danforth.
  Rein dan Clara terkejut.
 "Saya....", wajah Clara merona. 
  "Tuan, saya rasa anda salah orang. Saya sama sekali belum pantas menjadi tutor. Dan lagi..."
  "Ayah, Ibu, Tuan Verentsille adalah orang yang sibuk. Saya tidak ingin membuatnya menjadi lebih sibuk lagi hanya untuk menjadi tutor ku."
  "Tapi sampai sekarang kau belum mendapatkan tutor yang cocok."
  Rein memandang Nona Danforth yang menunduk kehabisan kata. Lalu ia mencoba untuk mencari solusi. "Bagaimana kalau saya berbagi teknik dasarnya saja, Tuan? Saya tidak berpengalaman menjadi tutor. Tapi kalau untuk teknik dasar mungkin saya bisa berbagi dengan Nona Danforth seperti yang pernah saya pelajari sebelumnya. Seandainya Nyonya Hopkins masih hidup, saya pasti akan merekomendasikannya menjadi tutor Nona Danforth."
  "Bagus sekali.", kata Nyonya Danforth yang saling memandang dengan suaminya. "Clara, ayo ucapkan terimakasih pada Tuan Verentsille."
  Clara tersenyum pada pemuda di sisinya itu. "Terimakasih, Tuan muda Verentsille."
  Suami istri Danforth tertawa senang. "Kapan bisa dimulai?", tanya Nyonya Danforth.
  "Bila anda tidak keberatan, bagaimana setelah ayahku sembuh baru kita buat rencananya?"
  "Ya. Tentu saja."
 Richard dan Issabelle mendekati mereka. "Selamat malam, Tuan dan Nyonya Danforth.", salam Richard.
  "Oh, Tuan muda dan Nyonya muda Jovant. Selamat malam. Terimakasih sudah menghadiri pesta ini.", kata Tuan Danforth. "Berdua saja?"
  "Kami datang bersama Paman Andrew dan putrinya. Mereka sedang di sana.", jawab Richard sambil menunjuk.
  "Kakak, selamat malam.", sapa Issabelle.
  "Selamat malam juga, Adikku." Rein memperkenalkan Clara pada mereka.
  "Silahkan menikmati pestanya, Pasangan baru.", kata Tuan Danforth yang memohon diri bersama istrinya. "Rein, kutunggu kabar baik darimu."
  "Iya, Tuan."
  "Istriku, bagaimana kalau kau menemani Nona Danforth sementara aku dan kakak iparku bicara berdua?", usul Richard.
  "Nona Danforth tidak keberatan kan?", tanya Issabelle pada nona muda itu.
  Clara tersenyum ramah. "Tentu saja tidak. Silahkan."
  Rein dan Richard menuju ke tempat yang sunyi di taman.
  "Kudengar dari ibu kalau kakak mengatakan hal yang kejam.", kata Richard yang mulai emosi.
  "Saat ini pasti ibu sangat membenciku."
  "Tidak bisakah kakak berhenti melukai diri sendiri? Tidak adakah jalan keluar untukmu dan Eruna bersama kembali?"
  "Tidak ada.", jawab sang kakak singkat. "Tolong jangan campuri urusanku, Richard. Aku mampu mengatasinya. Eruna pasti akan menemukan pria yang jauh lebih baik dariku. Tuan Andrew pasti akan memberikan yang terbaik untuk putrinya."
  "Tapi, Kak..."
  Rein menatap serius pada adik kandungnya itu. "Jangan mencariku kalau ingin membicarakan tentang Nona Jovant. Permisi." Ia lalu kembali memasuki ruang pesta untuk berpamitan dengan tuan rumah.
  Eruna terus mengawasi mantan kekasihnya dan ia hendak menemuinya bila tidak segera dicegah oleh sang ayah.
  
  Beberapa hari setelah Tuan besar Verentsille sehat, Rein mulai memenuhi janjinya pada keluarga Danforth untuk mengajarkan teknik dasar bermain piano pada Clara. Tiga kali dalam seminggu pemuda itu datang ke kediaman teman bisnisnya sepulang dari menyelesaikan pekerjaannya. Mereka akan selalu mengajaknya makan malam bersama saat dia datang. Tidak butuh waktu yang lama bagi Clara untuk mempelajarinya dari pemuda Verentsille itu. Kemudian setelah mereka menemukan seorang tutor untuk Clara, Rein pun sudah jarang datang ke kediaman rekan bisnisnya.

Sudah dua bulan sejak kunjungan terakhir Richard dan Issabelle yang memberitahukan sebuah kabar gembira, mereka akan segera menjadi ayah dan ibu. Tuan Verentsille tidak mampu menahan kebahagiaannya. Setiap hari ia menghitung hari, lebih tepatnya mengurangi hari dimana cucunya akan lahir.

Suara piano berbunyi satu ketukan. Bunyi per ketukannya berjarak waktu beberapa detik. Dapat terdengar dari jarak waktu ketukan bahwa pemuda tampan berambut coklat yang sedang berdiri memainkannya sedang tidak bersemangat.
  "Kurasa permainan piano mu tidak seburuk itu.", kata Tuan Jovant yang datang berkunjung.
  Rein menekan sebuah ketukan lagi lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Kakek.", sebutnya.
  Mereka pun duduk di ruang tamu. Dua cangkir teh disajikan dengan beberapa macam biskuit untuk menemani pembicaraan.
  "Ayah sedang berkumpul dengan teman-temannya.", kata Rein membuka pembicaraan.
  "Dan kau menghabiskan hari Minggu ini di rumah saja?"
  Rein tersenyum. "Tadi pagi saya ikut misa di gereja."
  Suasana menghening sejenak.
  "Kakek datang mencari ku?"
  "Ada suatu tempat yang ingin kakek kunjungi bersamamu."
  Pemuda itu sulit menolak ajakan kakeknya. Mereka pun pergi dengan menaiki kereta kuda yang membawa Tuan Jovant datang. Keduanya tiba di pemakaman. Lelaki tua itu memandu cucunya sampai ke sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama Carlfred Elmer Jovant 1852-1869.
  Melihat nama keluarga yang terukir di nisan sudah dapat terduga oleh Rein bahwa makam ini adalah kerabat kakeknya.
  "Carlfred.", panggil sang kakek. "Ayah membawa putra sulung kakakmu Chaterine."
  Rein terkejut dan tak mampu berkata apapun.
  Lalu Tuan Jovant berkata pada cucunya, "Pemuda yang berbaring di dalam sini adalah putra bungsuku. Carlfred. Putra kesayanganku yang selalu mampu memahami orang lain.", katanya mengenang.
  "Pasti berat untuk kakek saat kehilangan Paman Carlfred."
  Tuan Jovant menghela napas, berusaha mengendalikan kesedihannya. "Kakek bahkan tidak tahu dia sakit. Putraku tidak pernah mengatakan apapun tentang penyakitnya.", katanya dengan suara bergetar.
  Rein segera memeluk dan mencoba menenangkan kakeknya.
  "Carlfred pergi begitu saja.", katanya lagi. "Pergi mendahului orang tua ini."
  "Kakek.", sebutnya. "Karena Paman sangat menyayangi kakek makanya beliau tidak mengatakan apapun mengenai penyakitnya. Paman tidak ingin melihat kekhawatiran kakek."
  Tuan Jovant merasa lebih tenang dan menatap cucunya.
  Rein memandangi nisan itu lagi. Ia berjongkok dan menyentuh ukiran nama pamannya kemudian ia tersenyum seolah-olah ia dapat memahami tentang paman yang belum pernah dikenalnya ini. "Paman Carlfred. Meskipun saya tidak tinggal bersama keluarga Jovant, saya berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi mereka."
  Tuan Jovant masih belum melepaskan pandangannya dari Rein. "Seandainya Carlfred masih hidup, dia tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi padamu, Rein."
  Pemuda itu berdiri. "Semuanya telah terjadi.", katanya dengan suara yang tenang. "Kakek jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Kita tidak dapat mengubah yang telah terjadi."
  Pria tua itu dapat melihat jiwa puta bungsunya hidup di dalam diri Rein. Betapa miripnya mereka. "Chaterine harus tahu yang sebenarnya."
  Rein terkejut. "Tidak, kakek!", larangnya. "Ibuku tidak boleh mengetahui hal ini! Lebih baik ibu mengira saya telah mati. Saya tidak bisa neninggalkan Tuan Verentsille. Beliau adalah ayah angkatku. Orang yang sudah menolong dan merawatku." 
  Tuan Jovant menyerah, wajahnya menampakkan keputusasaan.
  "Kakek tidak akan memberitahunya kan."
  Tuan Jovant mengangguk. "Kalau menurutmu itu yang terbaik."
  Rein mencoba tersenyum. "Terimakasih."


Rein tiba di rumahnya menjelang senja. Saat itu Tuan Verentsille telah kembali dari berkumpul dengan teman-temannya. Ia duduk di ruang keluarga sambil membaca buku. Sejak menyerahkan bisnisnya kepada putra angkatnya, ia memiliki banyak waktu untuk membaca, salah satu hobi yang masih melekat di hari tuanya. 
  "Sudah pulang, Anak muda?"
  "Ayah.", panggil Rein yang menyungging senyum lalu duduk di sisinya.
  "Molly bilang kau keluar dengan Tuan Jovant?"
  "Iya. Mengunjungi makam Paman Carlfred yang meninggal di usia tujuh belas tahun.", jelasnya. "Putra bungsu kakek."
  "Oh.", lelaki tua itu bersuara. Kemudian ia mengganti topik. "Tuan Danforth mengundang kita makan malam di kediamannya besok."
  "Makan malam?"
  "Sepertinya dia tertarik menjodohkan putrinya padamu."
  Rein menoleh melihat ayah angkatnya.
  "Sebagian besar yang dibicarakannya adalah kamu." Tuan Verentsille tertawa.
  Rein tidak menanggapi apapun. Ia hanya diam dan tersenyum seperti biasa sambil menyimak cerita ayahnya mengenai pertemuan dengan teman-temannya hingga saat makan malam tiba.
   


~●~

Minggu, 03 Mei 2015

Ch 02



Eruna duduk di sudut restoran. Ia memang datang lebih awal untuk menunggu lelaki yang dicintainya. Wangi parfumnya sangat lembut. Gadis itu mengenakan pakaian berwarna hijau, seragam dengan sarung tangan brokatnya. Secangkir kopi hangat menemaninya sambil menunggu.
Sampai pada waktu yang telah dijanjikan, pria yang dinanti belum juga datang. Ia mulai gelisah melirik ke sekelilingnya, siapa tahu bila pemuda maskulin itu tidak menemukannya. Tapi dia tidak ada, dia tidak datang. Ah, mungkin telat, pikirnya. Harapan-harapan untuk menepis pikiran ketidakdatangan Rein terus bermunculan dalam benaknya. Satu cangkir kopi, dua hingga tiga cangkir kopi telah dia habiskan sembari menunggu. Warna langit mulai berganti gelap dan ia harus pulang. Benar saja apa yang dikhawatirkannya, sang ayah yang dingin telah menantinya di rumah. Dengan tangan melipat sambil duduk di ruang keluarga Andrew memanggilnya masuk. Pembawaan dingin dan sorot mata tajam adalah ciri khas lelaki berusia empat puluh tiga tahun tersebut.
     "Darimana?"
     "Jalan-jalan.", jawabnya dengan suara kecil. Ia berharap akan ada seseorang datang menolongnya sebelum ayahnya menginterogasi lebih lanjut.
     Andrew menurunkan kedua tangannya lalu berdiri. Sambil melangkah mengelilingi puteri tunggalnya, matanya terus memincing melihatnya. "Sampai semalam ini?", tanyanya. "Jangan coba-coba membohongiku.", katanya kemudian. "Selama berjam-jam duduk di sudut Tucxon. Sedang menunggunya? Kalian diam-diam bertemu di belakangku?"
     "Bertemu dengan siapa? Apakah saya tidak boleh menyendiri minum kopi? Bisakah ayah berhenti terus mencurigaiku? Lagipula apa sebabnya ayah begitu membenci Rein?"
     "Ada apa lagi ini?", tanya seorang lelaki tua dengan cerutu di mulutnya.
     Eruna langsung mendekati kakeknya mencari perlindungan. "Kakek."
     "Eruna mulai berani menentangku, Ayah!", kata Andrew dengan meninggikan suaranya.
     Chaterine masuk ke ruang tamu.
     Tuan Jovant menoleh kepada cucunya. "Apa yang sudah kau lakukan, Eruna?"
     "Saya tidak melakukan apapun. Hanya ayah saja yang selalu curiga."
     "Heh ! Masih berani menyangkal!"
     "Cukup!", kata Tuan Jovant dengan tegas.
     "Kenapa? Ayah membelanya?", protes Andrew.
     "Kau ikut denganku, Andrew."
     Sementara Tuan Jovant berbicara dengan putra sulungnya di ruang lain, Chaterine mengajak Eruna kembali ke kamarnya.
     "Sebenarnya apa yang kau lakukan, Eruna?", tanya Chaterine dengan sabar.
     "Dia tidak datang, Bi.", kata gadis itu yang mulai menangis. "Aku memintanya menemuiku. Tapi dia mengabaikanku."
     Chaterine memeluk kemenakannya. "Waktu itu kau bilang Rein menghindarimu, apa alasannya?"
     Eruna menggeleng. "Dia
tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba saja aku tidak bisa menghubunginya lagi."
     Sang bibi mengusap punggung gadis berambut pirang tersebut sambil menenangkannya. "Bibi akan bicara langsung dengan Rein. Dan kamu jangan menangis lagi."

     Tuan Jovant berdiri di sisi meja kerja sambil menatap penasaran pada puteranya. "Kalau saja waktu itu ayah tidak terhasut oleh kebencianmu pada Rein dan mengizinkannya tinggal bersama kita, anak-anak itu akan tumbuh bersama dan putrimu tidak akan jatuh cinta pada sepupunya sendiri."
     Andrew tersenyum mengejek memandang ayahnya. "Sekarang ayah menyesal?"
     Lelaki berambut putih tersebut membisu sejenak lalu menjawabnya, "Ya.", sambil mengagguk. "Dia semakin mirip dengan Carlfred."
     "Hahahahaha...!", Andrew tertawa mengejek. "Yang benar saja! Rein itu bajingan, sama dengan ayahnya! Sifat mereka berdua pasti sama liciknya!"
     "Dia mempunyai hati yang sama dengan Carlfred. Seandainya adikmu masih hidup, dia tidak akan membiarkan kita menelantarkan anak itu."
     Andrew menatap tajam pada ayahnya. "Rein tidak akan pernah tinggal bersama kita!", tegasnya.
     Tuan Jovant menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan. "Sepertinya ada alasan lain kenapa kau begitu membencinya?"
     Andrew mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sepertinya sudah berkali-kali kita membicarakan tentang dia dan selalu berakhir dengan pertengkaran. Aku harap ayah mengerti dengan jelas bahwa aku tidak suka membicarakan ini lagi.", katanya yang kemudian pergi. Andrew menolak untuk menjawab pertanyaan terakhir ayahnya. Dia memang memiliki sebuah alasan khusus yang membuatnya begitu membenci salah satu kemenakannya itu. Sangat tidak mungkin baginya untuk memberitahu siapapun bahwa dia jatuh cinta pada Chaterine, kakak perempuannya sendiri.
Satu-satunya yang mengetahui rahasia ini adalah Carlfred, tapi adiknya sudah meninggal karena penyakit tuberculosis pada usia tujuh belas tahun. Ini sebuah siksaan. Ia harus memendam perasaan ini seorang diri. Dulu saat Carlfred masih hidup, ia dapat berbagi dengan adik laki-laki yang sangat ia sayangi itu, ia baru bisa tenang setelah Carlfred menuturkan kata-kata yang ingin didengarnya. Carlfred dapat mengerti dirinya. Sampai pada suatu ketika Chaterine kabur bersama lelaki yang dicintainya karena tidak mendapatkan restu dari keluarga Jovant. Lalu Carlfred meninggal karena penyakitnya semakin parah. Tidak ada yang tahu bagaimana terpukulnya perasaan Andrew saat itu. Ia menikah dengan wanita yang tidak dicintai dan dikaruniai seorang putri cantik. Karena tidak tahan dengan sikap Andrew yang dingin, keras, dan selalu merasa benar, sang istri mengajukan perceraian dan Eruna diasuh oleh ayahnya.
Ia kembali dihadapkan pada suatu kenyataan ketika menemukan kakak perempuannya mengalami kebutaan beserta dua orang puteranya yang masih kecil. Ia meyakinkan sang ayah untuk menerima mereka kembali dan mengobati kebutaan Chaterine. Tetapi ia menolak menerima Rein karena wajah anak itu mirip ayahnya.

Rein berangkat kerja seperti biasa setelah sarapan pagi dengan ayahnya. Sesampainya di perusahaan ia bertemu dengan Chaterine yang sedang duduk menunggunya. Ia mengajak wanita itu masuk ke ruang kerjanya dan mempersilahkannya duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadapan ditengahi sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat dua cangkir kopi panas yang baru disuguhkan.
     "Apa yang membuat anda datang kemari, Nyonya Chaterine?", tanya Rein.
     Chaterine tersenyum. "Saya rasa anda sudah dapat menebak maksud kedatangan saya, Tuan Muda Verentsille."
     Rein menyungging senyum seolah-olah tidak mengerti. "Apakah ini mengenai adikku Issabelle?"
     "Tidak. Menantuku baik-baik saja. Mereka belum kembali dari bulan madu.", jawab wanita itu. "Ini mengenai anda dan kemenakan saya, Tuan Verentsille."
     Rein menunggu ibunya berkata lebih lanjut.
     "Eruna sudah seperti putriku sendiri. Dia selalu menceritakan apapun padaku. Termasuk hubungannya dengan anda."
     "Saya percaya Eruna juga menceritakan kalau hubungan kami sudah berakhir, Nyonya Jovant."
     "Tapi anda tidak memberikan alasan apapun padanya. Kenapa, Tuan Verentsille?"
     Rein meminum kopinya lalu meletakkannya kembali ke atas meja. "Saya menyadari kalau saya tidak pernah mencintai Eruna. Saya tidak akan memperoleh kebahagiaan dengan meneruskan hubungan ini."
     "Apa?", Chaterine terkejut mendengar jawaban pemuda itu. "Bagaimana bisa anda mengatakan hal seperti ini? Lalu bagaimana dengan Eruna? Anda sudah mempermainkannya!"
     Rein hanya diam. Pandangannya hanya tertuju pada cangkir kopinya.
     "Saya tidak mengira anda adalah orang yang tega.", kata Chaterine lalu bangun dari tempat duduknya. "Tadinya saya pikir anda mirip dengan putra sulungku yang sudah meninggal. Tapi ternyata semua itu salah. Permisi, Tuan Verentsille.", lanjutnya yang penuh kekecewaan.
     Setelah wanita itu keluar dari ruang kerjanya, Rein melihat ke arah pintu yang dilaluinya. "Maafkan aku, Ibu.", ucapnya berat.


~●~

Ch 01



Reinheart Ensmair Verentsille berdiri di depan kaca sambil merapikan pakaiannya. Ia baru selesai mandi pagi itu. Mata birunya yang indah tidak menampakkan kehidupan. Dari sorot matanya dapat terlihat seluruh isi hatinya yang kini tidak terdapat apapun lagi di sana. Kosong. Ia sudah tidak berani mengharapkan apapun lagi sejak kedua adiknya menikah kemarin. Eruna Esther Jovant harus menjadi masa lalunya.
Rein menarik napas dan menhembuskannya dengan pelan, merasakan aliran udara yang keluar melalui rongga hidungnya sambil memejam. Ia berjalan keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Belum ada seorang pun yang terlihat olehnya. Hari ini pemuda itu memang bangun lebih awal dari biasanya. Semalam ia terus terbangun dari tidur.
Ia menarik kursi dan duduk, meletakkan kedua tangannya di atas meja lalu melamun. Setelah beberapa saat, mulai terdengar bermacam-macam suara dari arah dapur yang membawa pikirannya tersadar.
     "Tuan Rein.", sebut kepala pelayan yang telah berdiri di sisi kanannya. Matanya menunjukkan keanehan melihat tuan mudanya telah duduk di sana sepagi ini. "Selamat pagi, Tuan.", salamnya kemudian yang menyadarkan pemuda tampan itu bahwa sekarang ia tidak sendirian.
     "Ah, selamat pagi, Molly.", ia balas menyapa sambil tersenyum kepada wanita gemuk paruh baya tersebut.
     "Anda ingin sarapan sekarang, Tuan?"
     "Tidak, Molly. Dengan ayah saja."
     Molly mengangguk. Sudah lama ia melihat kejanggalan pada tuan mudanya, khususnya sejak pemuda itu mengakhiri hubungan asmaranya dengan Eruna, sepupu yang sangat dicintainya.
     Sinar mentari pagi mulai menyelinap masuk ke ruang makan. Beberapa pelayan sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua majikan mereka. Yah, mulai hari ini hanya ada dua orang saja yang akan mereka layani setelah Issabelle menikah dengan Richard dan menjadi salah satu anggota keluarga Jovant.
     Rambut coklat Rein berkilau diterpa sinar mentari yang masuk. Kulitnya yang putih serta matanya yang sebiru samudera terlihat sangat berkelas, suaranya pun sangat lembut. Sikapnya yang ramah dan sopan kepada semua orang menjadikannya calon suami idaman para gadis yang melihatnya.
     "Sepi, ya.", sebuah suara yang tiba-tiba memecah keheningan.
     Rein menoleh lalu berdiri dengan segera. "Selamat pagi, Ayah.", salamnya yang kemudian menarikkan kursi di ujung meja yang biasa ditempati lelaki berusia enam puluh delapan tahun tersebut.
     Tuan Verentsille duduk dan memperhatikan wajah putra angkatnya dengan seksama sampai pemuda tersebut duduk kembali di tempatnya.
     Sarapan lalu disajikan. Rein memegang gelas yang berisi air putih dengan jemarinya yang panjang dan sedikit meruncing.
     "Mulai hari ini haya tinggal kita berdua.", kata Tuan Verentsille.
     Rein menatap mata ayah angkatnya yang menyendu. Ia meletakkan gelas dengan perlahan da sopan. "Saya akan selalu menemani ayah."
     Pria berambut putih tersebut tersenyum bahagia. Ia meraih peralatan makan yang diletakkan di kedua sisi piring. Mereka mulai menyantap sarapannya.
     "Ayah juga berharap kau segera menikah."
     Rein tersenyum. Ia mengambil serbet putih dan mengusap bibirnya. "Dengan siapa?", ia balik bertanya.
     "Eruna.", jawab ayah angkatnya sambil mengunyah.
     Rein terdiam. Ia menjadi salah tingkah. Seandainya ayah Eruna tidak membencinya. Rein tidak pernah membenci keluarga Jovant atas apa yang pernah mereka lakukan padanya di masa lalu. Ia justru masih berharap agar bisa diterima oleh keuarga ibunya itu. Bila tidak, untuk apa ia menempuh resiko yang akan mengakibatkan kekecewaan mendalam demi bisa bertemu dengan ibu dan Richard, adik laki-lakinya. Pemuda ini juga tidak pernah menyangka akan bertemu dan jatuh cinta dengan anak gadis dari paman yang sangat membencinya. Da kini pamannya telah mengetahui jati diri Rein yang gagal dibunuhnya sepuluh tahun yang lalu.
     "Itu tidak akan pernah terjadi, Ayah."
     Tuan Verentsille meliriknya dengan tatapan curiga.
     Rein kembali salah tingkah dan berusaha menjelaskan sebisanya. "Paman Andrew sangat membenciku. Dia tidak akan pernah menyetujui hubungan kami."
     Tuan Verentsille masih memandangnya curiga. "Hanya itu?"
     Pemuda itu mengalihkan pandangan dari si ayah angkat yang seperti terus mendesaknya. "Ya. Hanya itu."
     Memang ada sebuah penghalang yang tidak akan pernah ia katakan pada siapapun juga. Sebuah kesepakatan dengan sang paman. Rein harus memutuskan hubungan dengan Eruna dan tidak akan menemuinya lagi agar kedua adiknya dapat melangsungkan hubungan asmaranya ke jejang pernikahan. Perjanjian ini telah disepakati. Kini Richard dan Issabelle telah menikah. Selama Rein tidak melanggar perjanjian, maka Andrew tidak akan mengganggu pernikahan mereka.

Molly sudah bekerja pada keluarga Verentsille selama tiga puluh tahun. Ia adalah wanita gemuk berusia lima puluh dua tahun yang berambut pirang ikal. Ia sangat cekatan dalam mengatur para pelayan. Keluarga ini sudah menjadi seperti keluarganya. Siang itu ia menerima sepucuk surat yang ditujukan kepada Tuan Muda Verentsille. Tidak ada alamat dan nama pengirim yang tertulis di amplop putih itu. Ia hanya menemukan tulisan Untuk Tuan Muda Verentsille. Belum sempat ia beranjak dari tempatnya berdiri untuk menyerahkan surat itu, Rein telah keluar dari ruang kerjanya.
     "Surat untuk siapa, Molly?"
     "Oh.", wanita gemuk itu bersuara. "Untuk anda, Tuan.", ia menjawab seraya mendekati majikannya dan menyerahkan surat.
     Rein melakukan hal yang sama seperti kepala pelayannya, membolak balik surat mencari alamat atau nama si pengirim. Lalu ia melihat Molly dengan penuh pertanyaan, "Siapa pengirimnya?"
     Molly mengangkat bahunya. "Entahlah, Tuan."
     Rein mengangguk dan kembali ke ruang kerjanya. Ia mengambil pembuka surat dan membukanya. Surat itu dari Eruna. Gadis itu ingin bertemu sore ini di sebuah restoran kecil bernama Tucxon.

~●~