Senin, 04 Mei 2015

Ch 03

Sebuah pesta dansa diadakan di kediaman keluarga Danforth yang merupakan rekan bisnis keluarga Verentsille. Malam itu Rein datang sendirian. Para gadis yang menghadiri pesta dansa mengalihkan perhatian mereka pada pemuda itu. Tuan muda Verentsille memang terkenal dengan ketampanan dan kesopanannya. Belum sempat ia menyapa tuan rumah, para gadis itu telah mengerumuninya dan mencari perhatian.

 "Aha! Dengan melihat kerumunan gadis-gadis cantik ini aku sudah mengira kau lah dalangnya, Rein.", kata seorang pemuda yang berperawakan sedang dan berambut hitam menerobos ke dalam kerumunan.
 Rein menoleh ke arah datangnya suara. "Steven.", sebutnya dengan lega. Ia berharap temannya itu segera mengeluarkannya. "Undangannya cukup ramai."
 Mereka bersalaman dan saling memeluk sejenak.
 "Tolong keluarkan aku dari sini.", bisik Rein.
 Steven tertawa lepas. "Baiklah, Nona-nona sekalian. Aku harus menculik pria tampan ini dari kalian. Silahkan menikmati pestanya." Steven membawa temannya menepikan diri.
 "Terimakasih, Steve."
 "Apa kau tahu bagaimana caranya agar kau selamat dari kejadian seperti tadi?", tanya pemuda berambut hitam tersebut.
 "Aku akan senang sekali bila kau bersedia memberitahuku."
 "Perempuan.", jawabnya.
 Rein mengernyit alis tidak mengerti. "Maksudmu?"
 "Setiap kali menghadiri pesta, kusarankan kau membawa seorang gadis bersamamu. Dengan begitu mereka akan segan mendekatimu seperti tadi."
 Rein tersenyum kaku dan menganggap itu adalah saran yang konyol.
  "Kenapa?"
  Pemuda itu tersenyum menggeleng. 
  Steven mengangkat tangannya memberi isyarat pada seseorang. Seorang gadis muda dengan segelas anggur di tangannya pun mendekat.
  "Perkenalkan. Ini adik perempuanku, Rein. Clara. Dan Clara, ini Tuan muda Verentsille yang baru saja kutolong dari kerumunan para gadis."
  "Apa yang kau bicarakan, Steve?", kata Rein yang berusaha tersenyum pada putri penyelenggara pesta. Kemudian ia meraih tangan kanan Clara dan mengecup punggung tangannya. "Senang berkenalan dengan anda, Nona Danforth."
  Clara tersenyum malu. Ia adalah salah satu penggemar Tuan muda itu.
  "Nah, kutinggalkan kalian berdua di sini. Aku harus menyapa tamu-tamu kita yang lain.", kata Tuan muda Danforth. "Rein, bicaralah pada adikku agar kau tidak terperangkap lagi.", pesannya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu meninggalkan mereka.
  Kedua orang yang pemalu tersebut tidak ada yang memulai pembicaraan. Rein menjadi bingung apa yang harus dilakukannya. Ia tidak ahli berbicara dengan wanita. Irama musik pun berganti. "Maukah anda berdansa denganku, Nona Danforth?", tanyanya seraya membungkukkan badan.
  Clara mengulurkan tangan kanannya memberi persetujuan. Keduanya lalu menuju ke lantai dansa bergabung bersama pasangan lainnya. Banyak sekali para gadis yang iri melihat Rein berdansa dengan seorang gadis.
  "Apakah ini adalah pesta dansa pertama anda?", tanya Rein.
  Clara tidak berani menatap mata indah pemuda itu. Ia sangat gugup dan dapat merasakan detak jantungnya yang begitu kuat. "Seburuk itukah gerakanku hingga anda bertanya demikian?"
  Rein terkejut dan menjadi salah tingkah. "Maafkan saya, Nona. Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung anda. Mohon maafkan kelancanganku.", kata Rein. "Hanya saja saya belum pernah melihat Nona Danforth dari setiap pesta dansa yang saya hadiri."
  Dengan tinggi yang hanya sebahu Rein, Clara harus menengadahkan kepala menatap mata indah pasangan dansanya. Ia tersenyum, "Ya.", akunya. "Ini pesta dansa pertamaku.", kata gadis berusia enam belas tahun itu.
  "Saya pernah mendengar Steven bercerita tentang anda. Katanya anda menyukai seni."
  Clara tersenyum merendah. "Kuharap kakakku tidak bercerita banyak hal tentang saya."
  Rein terdiam lalu tertawa kecil. "Saya rasa temanku benar. Anda seorang yang pemalu. Tapi saya berani meyakinkan anda, Nona Danforth, apapun yang Steven ceritakan tentang anda, semuanya sangat menarik."
  Gadis berambut merah ikal itu hanya bisa menanggapi dengan senyuman.
  Richard dan Issabelle baru sampai ketika Rein selesai berdansa. Eruna dan ayahnya pun turut hadir. Keempat orang tersebut menyadari keberadaan Tuan muda Verentsille yang sudah menepikan diri bersama Nona Danforth, mereka sedang menikmati anggur dan makanan kecil yang dihidangkan. Beberapa tamu undangan berbaur dengan keluarga Jovant sebelum mereka sempat menemui Tuan besar penyelenggara pesta.
  "Selamat datang, Rein.", sapa Tuan besar Danforth bersama istrinya.
 "Oh, Tuan dan Nyonya Danforth.", sebut pemuda itu ketika berpaling melihat mereka. "Selamat malam.", katanya seraya bersalaman dengan lelaki paruh baya itu lalu mengecup punggung tangan Nyonya Danforth."Maaf saya belum sempat menyapa anda berdua."
  "Hahaha...hal sekecil ini jangan dipermasalahkan.", kata lelaki tua yang kepalanya hanya ditumbuhi sedikit rambut itu.
  "Sendirian saja?", tanya Nyonya Danforth.
  "Benar, Nyonya. Ayahku kurang sehat hari ini. Karena itu saya tidak bisa lama di sini."
  "Sudah diperiksa dokter?", tanya Clara yang menunjukkan simpatinya.
  Rein mengangguk. "Sudah."
  "Kulihat kau berdansa dengan putriku tadi. Bagaimana gerakannya, Rein? Hari ini adalah pesta dansa pertamanya.", tanya wanita kurus dengan gaun biru itu penasaran.
  Clara menunduk malu.
  Rein melihat nona itu sejenak lalu memberikan komentar. "Sangat baik, Nyonya. Nona Danforth berdansa dengan sangat baik."
  Suami istri Danforth tertawa senang. "Clara, bagaimana kalau Tuan muda Verentsille yang menjadi tutor mu latihan piano?", kata Tuan Danforth.
  Rein dan Clara terkejut.
 "Saya....", wajah Clara merona. 
  "Tuan, saya rasa anda salah orang. Saya sama sekali belum pantas menjadi tutor. Dan lagi..."
  "Ayah, Ibu, Tuan Verentsille adalah orang yang sibuk. Saya tidak ingin membuatnya menjadi lebih sibuk lagi hanya untuk menjadi tutor ku."
  "Tapi sampai sekarang kau belum mendapatkan tutor yang cocok."
  Rein memandang Nona Danforth yang menunduk kehabisan kata. Lalu ia mencoba untuk mencari solusi. "Bagaimana kalau saya berbagi teknik dasarnya saja, Tuan? Saya tidak berpengalaman menjadi tutor. Tapi kalau untuk teknik dasar mungkin saya bisa berbagi dengan Nona Danforth seperti yang pernah saya pelajari sebelumnya. Seandainya Nyonya Hopkins masih hidup, saya pasti akan merekomendasikannya menjadi tutor Nona Danforth."
  "Bagus sekali.", kata Nyonya Danforth yang saling memandang dengan suaminya. "Clara, ayo ucapkan terimakasih pada Tuan Verentsille."
  Clara tersenyum pada pemuda di sisinya itu. "Terimakasih, Tuan muda Verentsille."
  Suami istri Danforth tertawa senang. "Kapan bisa dimulai?", tanya Nyonya Danforth.
  "Bila anda tidak keberatan, bagaimana setelah ayahku sembuh baru kita buat rencananya?"
  "Ya. Tentu saja."
 Richard dan Issabelle mendekati mereka. "Selamat malam, Tuan dan Nyonya Danforth.", salam Richard.
  "Oh, Tuan muda dan Nyonya muda Jovant. Selamat malam. Terimakasih sudah menghadiri pesta ini.", kata Tuan Danforth. "Berdua saja?"
  "Kami datang bersama Paman Andrew dan putrinya. Mereka sedang di sana.", jawab Richard sambil menunjuk.
  "Kakak, selamat malam.", sapa Issabelle.
  "Selamat malam juga, Adikku." Rein memperkenalkan Clara pada mereka.
  "Silahkan menikmati pestanya, Pasangan baru.", kata Tuan Danforth yang memohon diri bersama istrinya. "Rein, kutunggu kabar baik darimu."
  "Iya, Tuan."
  "Istriku, bagaimana kalau kau menemani Nona Danforth sementara aku dan kakak iparku bicara berdua?", usul Richard.
  "Nona Danforth tidak keberatan kan?", tanya Issabelle pada nona muda itu.
  Clara tersenyum ramah. "Tentu saja tidak. Silahkan."
  Rein dan Richard menuju ke tempat yang sunyi di taman.
  "Kudengar dari ibu kalau kakak mengatakan hal yang kejam.", kata Richard yang mulai emosi.
  "Saat ini pasti ibu sangat membenciku."
  "Tidak bisakah kakak berhenti melukai diri sendiri? Tidak adakah jalan keluar untukmu dan Eruna bersama kembali?"
  "Tidak ada.", jawab sang kakak singkat. "Tolong jangan campuri urusanku, Richard. Aku mampu mengatasinya. Eruna pasti akan menemukan pria yang jauh lebih baik dariku. Tuan Andrew pasti akan memberikan yang terbaik untuk putrinya."
  "Tapi, Kak..."
  Rein menatap serius pada adik kandungnya itu. "Jangan mencariku kalau ingin membicarakan tentang Nona Jovant. Permisi." Ia lalu kembali memasuki ruang pesta untuk berpamitan dengan tuan rumah.
  Eruna terus mengawasi mantan kekasihnya dan ia hendak menemuinya bila tidak segera dicegah oleh sang ayah.
  
  Beberapa hari setelah Tuan besar Verentsille sehat, Rein mulai memenuhi janjinya pada keluarga Danforth untuk mengajarkan teknik dasar bermain piano pada Clara. Tiga kali dalam seminggu pemuda itu datang ke kediaman teman bisnisnya sepulang dari menyelesaikan pekerjaannya. Mereka akan selalu mengajaknya makan malam bersama saat dia datang. Tidak butuh waktu yang lama bagi Clara untuk mempelajarinya dari pemuda Verentsille itu. Kemudian setelah mereka menemukan seorang tutor untuk Clara, Rein pun sudah jarang datang ke kediaman rekan bisnisnya.

Sudah dua bulan sejak kunjungan terakhir Richard dan Issabelle yang memberitahukan sebuah kabar gembira, mereka akan segera menjadi ayah dan ibu. Tuan Verentsille tidak mampu menahan kebahagiaannya. Setiap hari ia menghitung hari, lebih tepatnya mengurangi hari dimana cucunya akan lahir.

Suara piano berbunyi satu ketukan. Bunyi per ketukannya berjarak waktu beberapa detik. Dapat terdengar dari jarak waktu ketukan bahwa pemuda tampan berambut coklat yang sedang berdiri memainkannya sedang tidak bersemangat.
  "Kurasa permainan piano mu tidak seburuk itu.", kata Tuan Jovant yang datang berkunjung.
  Rein menekan sebuah ketukan lagi lalu menoleh ke arah datangnya suara. "Kakek.", sebutnya.
  Mereka pun duduk di ruang tamu. Dua cangkir teh disajikan dengan beberapa macam biskuit untuk menemani pembicaraan.
  "Ayah sedang berkumpul dengan teman-temannya.", kata Rein membuka pembicaraan.
  "Dan kau menghabiskan hari Minggu ini di rumah saja?"
  Rein tersenyum. "Tadi pagi saya ikut misa di gereja."
  Suasana menghening sejenak.
  "Kakek datang mencari ku?"
  "Ada suatu tempat yang ingin kakek kunjungi bersamamu."
  Pemuda itu sulit menolak ajakan kakeknya. Mereka pun pergi dengan menaiki kereta kuda yang membawa Tuan Jovant datang. Keduanya tiba di pemakaman. Lelaki tua itu memandu cucunya sampai ke sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama Carlfred Elmer Jovant 1852-1869.
  Melihat nama keluarga yang terukir di nisan sudah dapat terduga oleh Rein bahwa makam ini adalah kerabat kakeknya.
  "Carlfred.", panggil sang kakek. "Ayah membawa putra sulung kakakmu Chaterine."
  Rein terkejut dan tak mampu berkata apapun.
  Lalu Tuan Jovant berkata pada cucunya, "Pemuda yang berbaring di dalam sini adalah putra bungsuku. Carlfred. Putra kesayanganku yang selalu mampu memahami orang lain.", katanya mengenang.
  "Pasti berat untuk kakek saat kehilangan Paman Carlfred."
  Tuan Jovant menghela napas, berusaha mengendalikan kesedihannya. "Kakek bahkan tidak tahu dia sakit. Putraku tidak pernah mengatakan apapun tentang penyakitnya.", katanya dengan suara bergetar.
  Rein segera memeluk dan mencoba menenangkan kakeknya.
  "Carlfred pergi begitu saja.", katanya lagi. "Pergi mendahului orang tua ini."
  "Kakek.", sebutnya. "Karena Paman sangat menyayangi kakek makanya beliau tidak mengatakan apapun mengenai penyakitnya. Paman tidak ingin melihat kekhawatiran kakek."
  Tuan Jovant merasa lebih tenang dan menatap cucunya.
  Rein memandangi nisan itu lagi. Ia berjongkok dan menyentuh ukiran nama pamannya kemudian ia tersenyum seolah-olah ia dapat memahami tentang paman yang belum pernah dikenalnya ini. "Paman Carlfred. Meskipun saya tidak tinggal bersama keluarga Jovant, saya berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi mereka."
  Tuan Jovant masih belum melepaskan pandangannya dari Rein. "Seandainya Carlfred masih hidup, dia tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi padamu, Rein."
  Pemuda itu berdiri. "Semuanya telah terjadi.", katanya dengan suara yang tenang. "Kakek jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Kita tidak dapat mengubah yang telah terjadi."
  Pria tua itu dapat melihat jiwa puta bungsunya hidup di dalam diri Rein. Betapa miripnya mereka. "Chaterine harus tahu yang sebenarnya."
  Rein terkejut. "Tidak, kakek!", larangnya. "Ibuku tidak boleh mengetahui hal ini! Lebih baik ibu mengira saya telah mati. Saya tidak bisa neninggalkan Tuan Verentsille. Beliau adalah ayah angkatku. Orang yang sudah menolong dan merawatku." 
  Tuan Jovant menyerah, wajahnya menampakkan keputusasaan.
  "Kakek tidak akan memberitahunya kan."
  Tuan Jovant mengangguk. "Kalau menurutmu itu yang terbaik."
  Rein mencoba tersenyum. "Terimakasih."


Rein tiba di rumahnya menjelang senja. Saat itu Tuan Verentsille telah kembali dari berkumpul dengan teman-temannya. Ia duduk di ruang keluarga sambil membaca buku. Sejak menyerahkan bisnisnya kepada putra angkatnya, ia memiliki banyak waktu untuk membaca, salah satu hobi yang masih melekat di hari tuanya. 
  "Sudah pulang, Anak muda?"
  "Ayah.", panggil Rein yang menyungging senyum lalu duduk di sisinya.
  "Molly bilang kau keluar dengan Tuan Jovant?"
  "Iya. Mengunjungi makam Paman Carlfred yang meninggal di usia tujuh belas tahun.", jelasnya. "Putra bungsu kakek."
  "Oh.", lelaki tua itu bersuara. Kemudian ia mengganti topik. "Tuan Danforth mengundang kita makan malam di kediamannya besok."
  "Makan malam?"
  "Sepertinya dia tertarik menjodohkan putrinya padamu."
  Rein menoleh melihat ayah angkatnya.
  "Sebagian besar yang dibicarakannya adalah kamu." Tuan Verentsille tertawa.
  Rein tidak menanggapi apapun. Ia hanya diam dan tersenyum seperti biasa sambil menyimak cerita ayahnya mengenai pertemuan dengan teman-temannya hingga saat makan malam tiba.
   


~●~

Tidak ada komentar: