Kedatangan Tuan Verentsille dan Rein disambut dengan senyum merekah oleh keluarga Danforth. Tidak salah tebakan Tuan Verentsille, mereka memang berniat untuk menjodohkan putri satu-satunya pada pemuda Verentsille. Pesta dansa yang diadakan beberapa waktu lalu pun juga dimaksudkan untuk mempertemukan kedua orang ini.
Tuan Danforth berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah.", katanya. "Mari kita lanjutkan pembicaraan sambil merokok di ruang sebelah.", ajaknya setelah semuanya selesai makan.
"Maaf saya tidak merokok, Tuan Danforth.", kata Rein.
Nyonya rumah tersenyum lebar menoleh pada putrinya. Lalu mereka memandu kedua tamunya ke ruang keluarga. Nyonya Danforth meminta putrinya memainkan piano sebagai alunan musik yang menemani pembicaraan.
"Permainan yang indah.", puji Tuan muda Verentsille. "Nona Danforth sudah tidak terlihat seperti masih belajar memainkannya."
"Clara latihan setiap hari. Dan setiap selesai makan malam, putri ku selalu akan memperdengarkan hasil latihannya. Kemajuannya sangat mengagumkan bukan?", kata Nyonya Danforth.
Rein tersenyum. "Benar sekali, Nyonya Danforth."
"Bagaimana kalau kau juga mencobanya, Rein?", usul Steven yang berdiri di samping perapian sambil memegang segelas anggur.
Rein tertawa kecil sambil menggeleng. "Oh, tidak, Steve. Permainanku tidak sebagus itu."
Clara menghentikan permainannya dan berdiri menepikan diri. Ia duduk di sisi ibunya.
"Ayolah, Teman. Kami semua ingin mendengarnya." Steven mendekat dan menarik tangan Rein yang kemudian melihat ayahnya.
"Penuhilah permintaan mereka.", kata Tuan Verentsille.
"Baiklah." Rein meletakkan minumannya di meja kecil di sampingnya. Ia berjalan menuju ke piano sambil tersenyum malu. "Chopin?", tanyanya pada para pendengar setelah ia duduk.
"Silahkan.", kata Tuan Danforth.
Rein memejam dan menarik napas setelah memposisikan jari-jari tangannya pada tuts piano. Ini adalah pertama kalinya ia bermain di hadapan orang lain selain ayah dan adik perempuannya. Ia gugup, namun tampak tenang. Pemuda itu membuka matanya dan mulai menarikan jari-jarinya di atas tuts piano. Sebuah lagu yang tenang nan romantis. Seluruh pendengar di ruangan tersebut tidak bersuara. Nyonya Danforth semakin menyukai pemuda ini. Wanita ini sudah tidak sabar untuk mengutarakan keinginannya menjodohkan putrinya pada pemuda bermata indah tersebut.
Rein mengakhiri permainannya. Mereka memberikan tepuk tangan untuknya. "Bagus!", kata Steven. "Masih bilang permainanmu jelek?"
"Jangan berlebihan, Steven. Permainan Nona Danforth jauh lebih indah dari ku."
"Anda sangat merendah. Bagaimana mungkin seorang pemula seperti saya dapat dibandingkan dengan anda.", kata Clara.
Rein kembali ke tempat duduknya.
"Oh ya. Hampir saja aku lupa.", kata Steven. "Adikku, bagaimana kalau kau meminta Temanku ini menemanimu minggu depan ?"
"Kakak!", Clara menegurnya dengan suara kecil.
"Menemani kemana?", tanya Rein pada temannya.
"Eh...tidak, Tuan Verentsille. Kakak hanya sembarangan bicara. Tolong jangan ditanggapi."
"Anak-anak jaman sekarang sudah mulai main rahasia-rahasiaan. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Ayah dan ibu sama sekali tidak mengerti.", kata Tuan Danforth.
"Tidak ada apa-apa, Ayah."
Steven membisu dan tidak melanjutkan topik yang tadi dikatakannya.
"Baiklah.", kata Tuan Verentsille seraya meletakkan gelas wine nya di meja. "Malam sudah semakin larut. Kami juga sudah terlalu lama di sini. Sudah waktunya bagi kami untuk pulang."
"Oh, waktu berlalu begitu cepat.", kata Nyonya Danforth.
Mereka semua berdiri dan hendak keluar dari ruangan.
"Nona Danforth.", panggil Rein.
Clara tidak jadi keluar setelah mendengar Rein yang memanggilnya. Sementara itu yang lainnya telah keluar sambil berbincang-bincang tanpa menyadari kedua orang tersebut tidak bersama mereka.
Rein mendekati gadis itu. "Apakah yang dikatakan Steven benar kalau anda membutuhkan seseorang untuk menemani anda minggu depan? Bolehkah saya tahu kemana anda akan pergi?"
Clara mengangguk. "Benar, Tuan Verentsille. Minggu depan kakakku dan kekasihnya akan pergi menonton opera. Saya ingin sekali ikut tapi takut mengganggu mereka. Tapi sudah saya putuskan tidak akan ikut."
Rein tersenyum. "Kalau Nona Danforth tidak keberatan, saya bersedia menemani anda minggu depan."
Clara terkejut bercampur senang. "Tapi...tiketnya sudah saya berikan pada orang lain tanpa sepengetahuan kakak."
"Kalau begitu kita beli yang baru."
Clara berusaha menahan luapan kebahagiaannya. "Tuan Verentsille, maaf sudah merepotkan anda. Dan terimakasih."
Rein hanya menanggapinya dengan senyuman. "Besok akan saya kabarkan tentang tiketnya."
Gadis pemalu itu mengangguk tersenyum.
Keduanya menyusul yang lain ke depan. Clara benar-benar tidak mampu menahan kebahagiaannya, nona cantik itu terus tersenyum dan berkali-kali melirik pemuda ramah tersebut.
Akhirnya Rein dan ayahnya berpamitan pulang.
"Clara, ibu perhatikan kau bahagia sekali. Apa sudah terjadi sesuatu dengan Tuan muda Verentsille?"
"Tidak apa-apa, Ibu. Tuan Muda Verentsille memang selalu ramah pada semua orang bukan. Dan dia adalah orang yang sangat baik."
Nyonya danforth melirik putrinya dari samping. "Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu."
"Ibu, berhentilah menggodaku."
Sang ibu tertawa.
"Oh ya. Hampir saja aku lupa.", kata Steven. "Adikku, bagaimana kalau kau meminta Temanku ini menemanimu minggu depan ?"
"Kakak!", Clara menegurnya dengan suara kecil.
"Menemani kemana?", tanya Rein pada temannya.
"Eh...tidak, Tuan Verentsille. Kakak hanya sembarangan bicara. Tolong jangan ditanggapi."
"Anak-anak jaman sekarang sudah mulai main rahasia-rahasiaan. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Ayah dan ibu sama sekali tidak mengerti.", kata Tuan Danforth.
"Tidak ada apa-apa, Ayah."
Steven membisu dan tidak melanjutkan topik yang tadi dikatakannya.
"Baiklah.", kata Tuan Verentsille seraya meletakkan gelas wine nya di meja. "Malam sudah semakin larut. Kami juga sudah terlalu lama di sini. Sudah waktunya bagi kami untuk pulang."
"Oh, waktu berlalu begitu cepat.", kata Nyonya Danforth.
Mereka semua berdiri dan hendak keluar dari ruangan.
"Nona Danforth.", panggil Rein.
Clara tidak jadi keluar setelah mendengar Rein yang memanggilnya. Sementara itu yang lainnya telah keluar sambil berbincang-bincang tanpa menyadari kedua orang tersebut tidak bersama mereka.
Rein mendekati gadis itu. "Apakah yang dikatakan Steven benar kalau anda membutuhkan seseorang untuk menemani anda minggu depan? Bolehkah saya tahu kemana anda akan pergi?"
Clara mengangguk. "Benar, Tuan Verentsille. Minggu depan kakakku dan kekasihnya akan pergi menonton opera. Saya ingin sekali ikut tapi takut mengganggu mereka. Tapi sudah saya putuskan tidak akan ikut."
Rein tersenyum. "Kalau Nona Danforth tidak keberatan, saya bersedia menemani anda minggu depan."
Clara terkejut bercampur senang. "Tapi...tiketnya sudah saya berikan pada orang lain tanpa sepengetahuan kakak."
"Kalau begitu kita beli yang baru."
Clara berusaha menahan luapan kebahagiaannya. "Tuan Verentsille, maaf sudah merepotkan anda. Dan terimakasih."
Rein hanya menanggapinya dengan senyuman. "Besok akan saya kabarkan tentang tiketnya."
Gadis pemalu itu mengangguk tersenyum.
Keduanya menyusul yang lain ke depan. Clara benar-benar tidak mampu menahan kebahagiaannya, nona cantik itu terus tersenyum dan berkali-kali melirik pemuda ramah tersebut.
Akhirnya Rein dan ayahnya berpamitan pulang.
"Clara, ibu perhatikan kau bahagia sekali. Apa sudah terjadi sesuatu dengan Tuan muda Verentsille?"
"Tidak apa-apa, Ibu. Tuan Muda Verentsille memang selalu ramah pada semua orang bukan. Dan dia adalah orang yang sangat baik."
Nyonya danforth melirik putrinya dari samping. "Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu."
"Ibu, berhentilah menggodaku."
Sang ibu tertawa.
~ 0 ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar