Rabu, 27 Mei 2015

Ch 06

"Saya akan mengantar Nona Danforth pulang begitu pertunjukkannya selesai.", kata Rein yang datang menjemput gadis itu.
Tuan Danforth mengangguk tersenyum sambil memegang cerutu.
Keduanya pun pergi. Mereka tidak bersama dengan Steven karena ia telah pergi menjemput Josephine, kekasihnya.
Mereka tiba bersamaan dengan keluarga Jovant. Pertemuan pun tidak terhindarkan.
Richard dan Issabelle menemui kakaknya sementara anggota keluarga Jovant yang lain memasuki gedung opera terlebih dahulu. Mereka hanya saling menyapa dan tidak sempat berbicara.
Rein tidak begitu menikmati pertunjukkan tersebut. Namun ia mampu menyembunyikannya dari Clara. Ia ingin agar gadis itu tidak terganggu olehnya. Begitu pula dengan Eruna. Nona Jovant itu memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum pertunjukkan selesai.

Sejak pergi bersama ke pertunjukkan opera, Rein sering datang ke kediaman keluarga Danforth. Pemuda itu sepertinya ingin serius mendekati adik dari temannya. Mereka sering terlihat bersama di depan umum.

"Boleh aku duduk di sini?", tanya Issabelle.
Eruna tersadar dari lamunannya. "Ya. Tentu saja, Issabelle."
Issabelle duduk di kursi taman dan membelai perutnya yang mulai membuncit.
"Tidak lama lagi anggota keluarga kita akan bertambah.", kata Eruna.
Issabelle tersenyum. "Dan kau akan menjadi seorang bibi."
Eruna tersenyum tumpul. "Sepertinya kakakmu juga akan menerima seseorang sebagai keluarganya."
Wanita berambut ikal pirang itu melihat padanya. "Kau masih belum bisa melupakan Kak Rein?"
"Tidak semudah itu, Issabelle."
Issabelle tersenyum nakal mengingat masa lalu.
"Ada apa ?"
"Aku teringat dulu. Aku tahu Kak Rein bukan kakak kandungku. Karena dia begitu baik, maka aku memutuskan untuk menjadi istrinya kelak."
"Bahkan kau juga menyukai kakakmu?", Eruna terkejut dan merasa geli mengetahuinya.
"Ingat, kami bukan saudara kandung, Eruna. Dan wajar saja kalau aku pernah menyukainya."
"Lalu?"
"Kalau diingat-ingat lagi, aku benar-benar egois. Aku memonopoli Kak Rein. Aku sering memaksanya menemaniku. Terlebih lagi bila menghadiri pesta dansa, aku tidak mengizinkannya berdansa dengan wanita lain."
Eruna tertawa.
"Aku bahkan pernah cemburu padamu, Eruna."
"Bagaimana bisa, Issabelle?"
"Itu sebelum aku bertemu dengan Richard."
Eruna berusaha menahan tawanya. "Apa dia pernah mengeluh?"
Issabelle mengingat-ingat. "Seingatku tidak pernah."
"Kau dan Richard sangat beruntung memilikinya sebagai kakak kalian."
Issabelle menyentuh tangan Eruna. "Kak Rein yang kutahu bukanlah seseorang yang dikatakan paman selama ini. Aku juga tidak mengerti dengan tindakannya yang tiba-tiba menjauhimu. Tapi aku yakin kakakku pasti memiliki alasannya. Aku tahu sulit bagimu, Eruna. Tapi cobalah untuk meninggalkan masa lalu dan memulai yang baru."
Eruna mencoba tersenyum dan menahan air matanya. "Aku juga berharap aku mampu. Semua ini membuatku tersiksa, Issabelle. Kakakmu....dan juga ayahku. Sebenarnya ada apa di antara mereka?"

Chaterine melihat menantu dan kemenakannya dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Ia juga merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia tidak suka melihat Tuan muda Verentsille meninggalkan kemenakannya seperti itu, dan di sisi lain ia tidak sanggup membenci pemuda itu. Setiap kali melihat pemuda bermata biru tersebut, ia seolah sedang melihat putra sulungnya yang sudah meninggal. Karena itulah ia tidak mampu sepenuhnya membenci Tuan Muda Verentsille.
"Ibu.", panggil Richard.
"Kalau kakakmu masih hidup, ... tahun ini dia sudah berumur dua puluh dua tahun, seumuran dengan Tuan muda Verentsille."
"Tapi sayang sekali mereka adalah orang yang berbeda.", tanggap Richard.
Chaterine berbalik menatap putranya. "Richard putraku, apakah kau juga merasakannya? Setiap kali ibu melihat Tuan muda Verentsille, ibu seperti bertemu kembali dengan kakakmu. Apakah kau juga begitu, Richard?"
Richard mendekatinya dan memeluk ibunya. "Itu hanya perasaan ibu karena terlalu merindukan kakak.", ia mencoba menenangkan ibunya walaupun ia harus menyangkal perasaannya. "Saya tidak mengingat apapun tentang kakak karena saat itu aku masih kecil." Kemudian ia menawarkan pendapatnya, "Yang ibu butuhkan saat ini adalah bertemu dengannya. Dengan begitu rasa rindu ibu dapat terobati."
"Itu tidak mungkin, Richard."
Lelaki berambut coklat tersebut menghela napas. "Karena ibu telah menegurnya, bukan?", tebaknya. "Kalau ibu menginginkan, saya bisa mengatur sebuah pertemuan untuk kalian."


Richard menemui kakaknya di perusahaan keluarga Verentsille. Ia datang saat hari menjelang siang. Ia harus menunggu beberapa waktu karena Rein sedang rapat mengenai pengembangan perusahaannya. 
Ketika rapat selesai, Rein kembali ke ruangannya dan bertemu adiknya.
"Issabelle sehat?", tanya sang kakak.
"Ya. Sekarang sudah memasuki bulan kelima kehamilannya."
"Tidak lama lagi kau akan menjadi seorang ayah. Bagaimana persiapanmu?"
Richard meminum kopi yang disuguhkan untuknya. "Aku tidak tahu, Kak. Siap atau tidak aku tetap akan menjadi seorang ayah."
Rein menepuk pundak adiknya sambil tersenyum. "Dengan sendirinya kau akan terbiasa."
"Benar.", tanggap Richard. "Sepertinya kakak serius dengan Nona Danforth?"
Rein duduk menyandar. "Bulan Juni nanti kami menikah."
Sang adik menoleh terkejut.
Rein tertawa kecil melihat reaksi adiknya. "Kenapa kau sekejut itu, Richard? Bukankah kau dan Issabelle juga menikah setelah perkenalan yang baru berlangsung dua bulan?"
"Kakak mencintainya? Atau pernikahan ini karena bisnis keluarga?"
Tuan muda Verentsille berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati jendela. "Aku menghormati Clara. Ini bukanlah sebuah keputusan yang buruk."
"Itu artinya kakak tidak mencintai gadis itu. Bagaimana kakak bisa bahagia menjalani hidup bersama seseorang yang tidak kakak cintai?"
"Apakah orang sepertiku pantas untuk bahagia, Richard?", ia balas bertanya. "Keberadaanku hanya bisa menyakiti orang-orang yang kucintai. Tanpa ia sadari aku menggunakannya seperti alat. Aku menyakitinya tanpa ia sadari, memberinya harapan. Karena itu aku akan bertanggungjawab atas apa yang sudah kulakukan."
Richard hanya mendengarkan tanpa menanggapi.
"Kurasa aku mampu menanggungnya. Kebahagiaan Clara adalah tanggung jawabku."
"Aku tidak percaya.", kata sang adik.
"Tapi aku yakin aku mampu." Rein berbalik melihat adiknya. "Clara adalah wanita yang lembut. Aku mengaguminya. Dan aku akan belajar mencintainya."
"..."
"Kakakmu membutuhkan dukungan dan doa darimu, Richard. Bisakah kau memberikannya?"
Richard berdiri dan mengambil topinya. "Pukul tiga sore ini datanglah ke tea house tempat biasa kita bertemu.", ia menyampaikan maksud kedatangannya. "Selamat siang, Kak.", pamitnya.



~  0  ~




Tidak ada komentar: