Seperti biasa, rutinitas Rein diawali dengan sarapan bersama ayahnya. Pada saat sarapan seperti ini mereka akan membicarakan tentang pekerjaan di pabrik. Dan ketika pembicaraan tentang pekerjaan selesai maka kedua orang tersebut akan berbicara tentang hal lainnya sampai sarapan selesai.
"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan seperti yang anda minta.", kata David, salah seorang pegawai kepercayaan Rein.
"Sebentar, David.", kata Rein yang menahannya pergi. "Tentang opera minggu depan, apa kau tahu dimana aku bisa membeli tiketnya?"
"Tuan ingin menonton opera?"
Rein tersenyum. "Lebih tepatnya menemani seseorang pergi menonton."
"Saya mengerti.", kata David tersenyum. "Saya akan segera membeli tiketnya."
"Tidak, David. Biar aku saja yang pergi."
Setelah mengetahui tempatnya dari David, Rein segera pergi memburu tiket. Sesampainya di sana, tidak terlihat antrian panjang di depan loket. Ia hanya perlu mengantri dari lima orang di depannya. Belum sampai pada gilirannya, hujan mulai mengguyur kota London. Rein yang tidak ada persiapan apapun untuk melindungi diri dari hujan menjadi basah kuyup. Lalu gilirannya pun tiba.
Clara berdiri di dekat jendela di kamarnya. Ia melihat langit mendung yang sedang mengguyuri tanah dengan hujan. Lalu ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan merajut. Ketika mendengar pintu kamarnya diketuk, ia segera menyembunyikan rajutannya di balik bantal lalu membukakan pintu.
"Hari ini kau terus mengurung diri di kamar, Clara?"
"Ibu.", sebutnya.
Nyonya Danforth masuk dan duduk di kursi. "Jangan kau kira ibu tidak tahu. Putriku ini mulai jatuh cinta pada Tuan muda Verentsille bukan?"
"Eh...saya...", Clara menjadi salah tingkah dan tidak berani melihat ibunya.
"Tuan muda Verentsille memang berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya. Ibu akan senang sekali dan merasa tenang bila kau menjadi istrinya, Clara."
"Ibu terlalu berlebihan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Tuan Verentsille. Mungkin saja dia menyukai wanita lain. Saya tidak berani berharap banyak."
"Benar juga ya. Tidak terpikirkan oleh ibu."
"Saya pernah mendengar kalimat ini seseorang yang sempurna, mungkin telah menjadi milik seseorang yang sempurna lainnya."
"Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Clara. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan yang saat ini kita liat pada Tuan muda Verentsille hanyalah kelebihannya. Orang sebaik itu juga pasti memiliki kekurangan."
Seseorang mengetuk pintu kamar Clara dan memberitahukan kedatangan Tuan muda Verentsille.
Ibu dan anak itu segera menuju ke ruang tamu.
"Tuan Verentsille !", panggil Clara yang terlihat khawatir melihat pemuda itu basah kuyup. Ia segera membantu mengusap Rein dengan handuk yang telah dibawakan oleh pelayan.
"Cepat ambilkan pakaian tuan muda kemari! Cepat!", perintah Nyonya Danforth.
Segera salah seorang pelayan pergi ke kamar Steven dan mengambil pakaiannya lalu segera kembali ke ruang tamu.
"Nah, Tuan muda Verentsille. Gantilah pakaian anda segera sebelum anda masuk angin.", kata Nyonya Danforth.
"Terimakasih, Nyonya Danforth."
"Kami keluar dulu.", kata Clara.
Rein pun ditinggal seorang diri di ruang tamu yang tertutup. Pemuda itu mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian Steven. Setelah selesai, ia membuka pintu dan memberitahu mereka yang telah menunggu di luar. Teh hangat dan makanan kecil disajikan atas perintah Nyonya Danforth. Ia membiarkan kedua orang tersebut berbicara di ruang tamu dan ia menyibukkan diri dengan hal lain.
"Tuan Verentsille, kenapa anda bisa kehujanan seperti tadi?", tanya Clara.
"Saya tidak menyangka akan turun hujan saat mengantri beli tiket.", jawabnya sambil tersenyum.
"Anda tidak segera berteduh?"
"Tentu saya berteduh, tapi hujan dan anginnya sangat kencang." Pemuda itu mengeluarkan dua lembar tiket yang dibelinya. "Maaf, Nona Danforth. Yang tersisa hanyalah kursi barisan belakang. Kalau anda tidak berminat..."
"Kita tetap akan menontonnya.", kata Clara yang memotong perkataan Rein. "Bagaimana mungkin saya menyia-nyiakan usaha anda. Ketika anda mengatakan akan menemani saya, itu sudah membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi anda kehujanan hanya untuk memenuhi keegoisan saya. Maafkan saya, Tuan Verentsille."
"Nona Danforth, saya mohon anda jangan berkata seperti itu.", kata Rein. "Saya tidak pandai bicara tapi saya berusaha melakukan yang terbaik. Karena anda sangat menghargainya, sudah membuatku sangat senang." Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. "Kalau begitu saya akan menjemput anda minggu depan."
Clara memandangnya dan tersenyum. "Ya. Saya akan menunggu."
Rein menjadi salah tingkah. Ia mengalihkan perhatiannya pada teh yang telah disuguhkan dan meminumnya. "Sekarang saya harus pamit, Nona Danforth.", katanya setelah berdiri.
"Tapi di luar masih hujan, Tuan Verentsille. Tinggallah di sini sampai hujan reda."
"Putriku benar, Tuan Verentsille.", kata Nyonya Danforth ketika memasuki ruangan. Ia duduk di satu sisi sofa sambil tersenyum.
Rein kembali duduk.
"Boleh saya tahu apa yang sedang kalian bicarakan?", tanya wanita paruh baya itu.
"Oh, saya hampir lupa. Maafkan ketidaksopanan saya, Nyonya Danforth. Minggu depan saya akan menemani putri anda menonton opera. Seharusnya saya mengatakannya dulu pada anda."
Nyonya Danforth memandangnya terkejut lalu memandang putrinya. "Kalian akan pergi bersama?"
Rein menjadi gugup dan merasa dirinya telah melakukan suatu kesalahan. "Maaf, Nyonya danforth. Seharusnya saya meminta ijin dari anda terlebih dahulu."
Wajah Nyonya Danforth berubah serius dan menatap tajam pada pemuda itu. "Tuan muda Verentsille, saya harap anda mengerti bahwa putri saya sangatlah lugu. Bagaimana tanggapan kekasih anda bila tahu kalian pergi berduaan? Terlebih lagi di depan umum. Bagaimana tanggapan orang-orang nantinya terhadap Clara?"
Rein terkejut dan berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Anda salah paham, Nyonya Danforth.", ia berusaha menjelaskan. "Bila saya sudah memiliki kekasih, mana mungkin saya berani menemani Nona Danforth menonton opera."
Nyonya Danforth masih menatap serius padanya. "Tuan muda Verentsille adalah seorang pemuda tampan yang memiliki banyak pengagum wanita. Sulit untuk mempercayai kalau anda belum juga memiliki tambatan hati."
"Tapi saya memang belum memilikinya, Nyonya Danforth. Dan saya sama sekali tidak ada maksud untuk merayu putri anda. Saya hanya ingin menemaninya menonton opera karena saya lihat putri anda sangat ingin menontonnya. Tapi memang ini adalah kesalahan saya karena tidak terlebih dahulu meminta ijin anda. Maafkan saya, Nyonya."
"Ibu. Tuan Verentsille bermaksud baik. Ibu jangan mendesaknya lagi."
Rein mencoba meyakinkan wanita itu sekali lagi. Ia menenangkan diri lalu memandangnya. "Nyonya Danforth, bolehkah saya menemani putri anda menonton opera minggu depan?"
Nyonya Danforth mengendurkan ketegangan di wajahnya lalu tersenyum. "Tentu, Tuan muda Verentsille.", katanya.
Rein tersenyum lega. "Terimakasih, Nyonya Danforth."
Clara pun ikut merasa lega. Ia tersenyum dan menuangkan teh untuk tamunya.
"Seharusnya saya yang berterimakasih karena anda memahami dan bersedia menemani Clara."
Rein tersenyum menggeleng. "Kalau Steven tidak mengatakannya saya juga tidak akan tahu, Nyonya."
"Tuan Verentsille, silahkan diminum.", kata Clara.
"Terimakasih." Setelah menyelesaikan keperluannya, Rein segera pamit kepada ibu dan anak itu. Walaupun mereka sudah mencoba untuk menahannya, namun pemuda itu tidak bisa lagi menunda kepergiannya.
"Maafkan perkataan ibuku tadi, Tuan Verentsille.", kata Clara yang mengantar tamunya ke depan.
Rein tersenyum, "Perkataan Nyonya Danforth benar. Beliau mengkhawatirkan anda. Itu sudah seharusnya. Sejak awal memang saya yang melakukan kesalahan. Syukurlah beliau tidak marah.", tanggapnya. "Dan saya akan segera mengembalikan pakaian kakakmu yang kupinjam."
"Ya." Gadis itu tersenyum.
"Sampai bertemu minggu depan, Nona Danforth." Rein mengecup punggung tangan gadis itu lalu masuk ke dalam kereta kudanya.
Clara melihat kereta kuda yang membawa lelaki yang ia sukai keluar dari gerbang rumahnya. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya. Ia tersenyum sendiri mengingat reaksi Rein ketika diserang perkataan ibunya. Ia berkaca di depan cermin besar yang disandarkan di salah satu sisi dinding kamarnya.
"Tidak disangka pemuda tampan itu menawarkan diri menemanimu.", kata sang ibu yang tiba-tiba muncul di belakang putrinya.
Clara sangat terkejut menyadari kehadiran ibunya yang tiba-tiba tersebut. "Ibu. Mengejutkan saja."
"Ibu sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kau terlalu asyik memikirkan pria idamanmu."
"...Tadi ibu sedikit berlebihan terhadapnya."
"Itu demi dirimu, Clara. Seperti yang tadi kau katakan, mungkin saja dia sudah memiliki wanita idamannya. Dan kalau benar begitu, kau akan menyesal nantinya."
"Tapi saya tidak berani mengharapkan apapun dari Tuan Verentsille."
Nyonya Danforth tertawa lucu.
"Rein?", sebut Steven ketika sedang makan malam bersama keluarganya. "Kau akan pergi bersamanya?"
"Benar, Kak."
"Temanku yang satu itu tidak pernah membicarakan tentang wanita. Tapi aku pernah melihatnya bersama Nona Jovant."
"Dia sudah mempunyai kekasih?", tanya sang ibu.
"Ntah lah. Tapi akhir-akhir ini mereka sudah tidak pernah terlihat bersama."
"Menurut kakak, apakah sebaiknya saya membatalkan janjinya?"
"Clara adikku tercinta, sudah lama aku mengenalnya dan belum pernah terdengar sesuatu yang buruk tentang dia. Aku yakin kalau dia sering terlihat bersama wanita yang berbeda, pasti gossip buruknya telah beredar kemana-mana. Orang itu lebih suka menghabiskan waktu luangnya di rumah menemani ayahnya."
"Kakakmu benar, Clara. Rein itu sama sepertimu, lebih banyak di rumah daripada mencari kesenangan di luar. Ayahnya sendiri yang mengatakannya."
Setelah mendengar pendapat dari ayah dan kakaknya, Clara merasa lebih tenang. Namun perasaan ketidakpercayaan diri masih terus menghantuinya.
Rein memainkan piano yang berada di ruang keluarga sementara ayah angkatnya membaca buku. Keduanya sedang menikmati waktu senggangnya masing-masing ketika salah seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tuan Rein.", panggil pelayan itu.
"Ada apa, Trudy?", pemuda itu menanggapi tanpa menghentikan permainannya.
"Pakaian yang anda pinjam dari Tuan Danforth telah selesai dicuci dan disetrika."
Rein tersenyum pada pelayannya. "Tolong letakkan di kamarku. Besok akan kukembalikan padanya."
"Baik, Tuan. Permisi."
Tuan Verentsille membalik halaman pada buku yang tengah dibacanya. "Kau akan ke rumahnya lagi, Rein?"
"Tidak, Ayah.", jawabnya. "Besok aku akan bertemu Steven, jadi akan kukembalikan padanya."
Rein mengakhiri permainannya dan menutup piano itu.
"Keluarga Jovant juga akan pergi ke menonton opera itu.", orang tua itu berkata lagi.
Pemuda itu terdiam.
"Tapi kau juga sudah tidak bisa membatalkan janjimu dengan Nona Danforth. Bukan begitu?"
"Mungkin kelak saya akan mendapat hukumannya, Ayah. Ini justru kesempatan yang baik agar Eruna menyerah."
Tuan Verentsille berbalik melihat putra angkatnya. Ia seolah-olah tidak mengenal sosok pemuda yang baru saja mengatakan hal selicik itu. "Mengenai masalahmu dengan Eruna, kau belum pernah mengatakan apapun pada ayah. Sampai kapan kau akan menutupinya? Kenapa orang tua ini tidak berhak mengetahuinya?"
"..."
"Jawablah, Putraku. Beri ayahmu ini alasan untuk memaafkan kata-kata yang baru kau ucapkan tadi."
Rein menunduk. Kemudian ia berdiri dan duduk di sisi ayahnya. Sepasang tangannya menggenggam lembut tangan ayahnya. "Bila saya memberitahu ayah ... bisakah ayah tidak mengatakannya pada siapapun juga?", ia berkata dengan nada memohon.
Tuan Verentsille berkerut kening, merasa penasaran dengan perkataan yang didengarnya. "Katakanlah.", ia berkata dengan tidak sabar untuk mendengarnya.
"Semua ini kulakukan demi Issabelle dan Richard."
"Apa maksudmu?"
"Paman Andrew tidak akan mengganggu hubungan kedua adikku bila aku bersedia menjauhi putrinya. Itulah kesepakatan kami, Ayah."
"Apa?" Tuan Verentsille terkejut mengetahui kenyataan itu.
"Karena itu, Ayah. Saya harus melakukannya agar Eruna menyerah. Satu-satunya jalan adalah dengan membuatnya membenciku."
Lelaki tua itu tidak mampu berucap apapun lagi. Ia menunduk bersedih.
"Dengan menyakiti Eruna, ibuku sendiri telah membenciku. Saya akan benar-benar hancur bila ayah juga membenciku. Jadi saya mohon mengertilah, Ayah. Demi kebahagian Issabelle, jangan katakan pada siapapun tentang kesepakatan ini."
Tuan Verentsille mengangguk-angguk. "Terimakasih, Rein. Dan maafkan ayah ... juga adikmu."
Rein memeluk ayah angkatnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ayah. Tidak ada.", ia berkata sambil memejam.
Orang tua itu menangis, putra angkatnya memeluk dan berusaha menenangkannya. Malam itu sudah tidak ada rahasia apapun lagi yang disembunyikan di antara kedua orang itu. Tuan Muda Verentsille merasa sedikit lebih lega namun tetap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yaitu Nona Danforth.
"Hari ini kau terus mengurung diri di kamar, Clara?"
"Ibu.", sebutnya.
Nyonya Danforth masuk dan duduk di kursi. "Jangan kau kira ibu tidak tahu. Putriku ini mulai jatuh cinta pada Tuan muda Verentsille bukan?"
"Eh...saya...", Clara menjadi salah tingkah dan tidak berani melihat ibunya.
"Tuan muda Verentsille memang berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya. Ibu akan senang sekali dan merasa tenang bila kau menjadi istrinya, Clara."
"Ibu terlalu berlebihan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Tuan Verentsille. Mungkin saja dia menyukai wanita lain. Saya tidak berani berharap banyak."
"Benar juga ya. Tidak terpikirkan oleh ibu."
"Saya pernah mendengar kalimat ini seseorang yang sempurna, mungkin telah menjadi milik seseorang yang sempurna lainnya."
"Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Clara. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan yang saat ini kita liat pada Tuan muda Verentsille hanyalah kelebihannya. Orang sebaik itu juga pasti memiliki kekurangan."
Seseorang mengetuk pintu kamar Clara dan memberitahukan kedatangan Tuan muda Verentsille.
Ibu dan anak itu segera menuju ke ruang tamu.
"Tuan Verentsille !", panggil Clara yang terlihat khawatir melihat pemuda itu basah kuyup. Ia segera membantu mengusap Rein dengan handuk yang telah dibawakan oleh pelayan.
"Cepat ambilkan pakaian tuan muda kemari! Cepat!", perintah Nyonya Danforth.
Segera salah seorang pelayan pergi ke kamar Steven dan mengambil pakaiannya lalu segera kembali ke ruang tamu.
"Nah, Tuan muda Verentsille. Gantilah pakaian anda segera sebelum anda masuk angin.", kata Nyonya Danforth.
"Terimakasih, Nyonya Danforth."
"Kami keluar dulu.", kata Clara.
Rein pun ditinggal seorang diri di ruang tamu yang tertutup. Pemuda itu mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian Steven. Setelah selesai, ia membuka pintu dan memberitahu mereka yang telah menunggu di luar. Teh hangat dan makanan kecil disajikan atas perintah Nyonya Danforth. Ia membiarkan kedua orang tersebut berbicara di ruang tamu dan ia menyibukkan diri dengan hal lain.
"Tuan Verentsille, kenapa anda bisa kehujanan seperti tadi?", tanya Clara.
"Saya tidak menyangka akan turun hujan saat mengantri beli tiket.", jawabnya sambil tersenyum.
"Anda tidak segera berteduh?"
"Tentu saya berteduh, tapi hujan dan anginnya sangat kencang." Pemuda itu mengeluarkan dua lembar tiket yang dibelinya. "Maaf, Nona Danforth. Yang tersisa hanyalah kursi barisan belakang. Kalau anda tidak berminat..."
"Kita tetap akan menontonnya.", kata Clara yang memotong perkataan Rein. "Bagaimana mungkin saya menyia-nyiakan usaha anda. Ketika anda mengatakan akan menemani saya, itu sudah membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi anda kehujanan hanya untuk memenuhi keegoisan saya. Maafkan saya, Tuan Verentsille."
"Nona Danforth, saya mohon anda jangan berkata seperti itu.", kata Rein. "Saya tidak pandai bicara tapi saya berusaha melakukan yang terbaik. Karena anda sangat menghargainya, sudah membuatku sangat senang." Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. "Kalau begitu saya akan menjemput anda minggu depan."
Clara memandangnya dan tersenyum. "Ya. Saya akan menunggu."
Rein menjadi salah tingkah. Ia mengalihkan perhatiannya pada teh yang telah disuguhkan dan meminumnya. "Sekarang saya harus pamit, Nona Danforth.", katanya setelah berdiri.
"Tapi di luar masih hujan, Tuan Verentsille. Tinggallah di sini sampai hujan reda."
"Putriku benar, Tuan Verentsille.", kata Nyonya Danforth ketika memasuki ruangan. Ia duduk di satu sisi sofa sambil tersenyum.
Rein kembali duduk.
"Boleh saya tahu apa yang sedang kalian bicarakan?", tanya wanita paruh baya itu.
"Oh, saya hampir lupa. Maafkan ketidaksopanan saya, Nyonya Danforth. Minggu depan saya akan menemani putri anda menonton opera. Seharusnya saya mengatakannya dulu pada anda."
Nyonya Danforth memandangnya terkejut lalu memandang putrinya. "Kalian akan pergi bersama?"
Rein menjadi gugup dan merasa dirinya telah melakukan suatu kesalahan. "Maaf, Nyonya danforth. Seharusnya saya meminta ijin dari anda terlebih dahulu."
Wajah Nyonya Danforth berubah serius dan menatap tajam pada pemuda itu. "Tuan muda Verentsille, saya harap anda mengerti bahwa putri saya sangatlah lugu. Bagaimana tanggapan kekasih anda bila tahu kalian pergi berduaan? Terlebih lagi di depan umum. Bagaimana tanggapan orang-orang nantinya terhadap Clara?"
Rein terkejut dan berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Anda salah paham, Nyonya Danforth.", ia berusaha menjelaskan. "Bila saya sudah memiliki kekasih, mana mungkin saya berani menemani Nona Danforth menonton opera."
Nyonya Danforth masih menatap serius padanya. "Tuan muda Verentsille adalah seorang pemuda tampan yang memiliki banyak pengagum wanita. Sulit untuk mempercayai kalau anda belum juga memiliki tambatan hati."
"Tapi saya memang belum memilikinya, Nyonya Danforth. Dan saya sama sekali tidak ada maksud untuk merayu putri anda. Saya hanya ingin menemaninya menonton opera karena saya lihat putri anda sangat ingin menontonnya. Tapi memang ini adalah kesalahan saya karena tidak terlebih dahulu meminta ijin anda. Maafkan saya, Nyonya."
"Ibu. Tuan Verentsille bermaksud baik. Ibu jangan mendesaknya lagi."
Rein mencoba meyakinkan wanita itu sekali lagi. Ia menenangkan diri lalu memandangnya. "Nyonya Danforth, bolehkah saya menemani putri anda menonton opera minggu depan?"
Nyonya Danforth mengendurkan ketegangan di wajahnya lalu tersenyum. "Tentu, Tuan muda Verentsille.", katanya.
Rein tersenyum lega. "Terimakasih, Nyonya Danforth."
Clara pun ikut merasa lega. Ia tersenyum dan menuangkan teh untuk tamunya.
"Seharusnya saya yang berterimakasih karena anda memahami dan bersedia menemani Clara."
Rein tersenyum menggeleng. "Kalau Steven tidak mengatakannya saya juga tidak akan tahu, Nyonya."
"Tuan Verentsille, silahkan diminum.", kata Clara.
"Terimakasih." Setelah menyelesaikan keperluannya, Rein segera pamit kepada ibu dan anak itu. Walaupun mereka sudah mencoba untuk menahannya, namun pemuda itu tidak bisa lagi menunda kepergiannya.
"Maafkan perkataan ibuku tadi, Tuan Verentsille.", kata Clara yang mengantar tamunya ke depan.
Rein tersenyum, "Perkataan Nyonya Danforth benar. Beliau mengkhawatirkan anda. Itu sudah seharusnya. Sejak awal memang saya yang melakukan kesalahan. Syukurlah beliau tidak marah.", tanggapnya. "Dan saya akan segera mengembalikan pakaian kakakmu yang kupinjam."
"Ya." Gadis itu tersenyum.
"Sampai bertemu minggu depan, Nona Danforth." Rein mengecup punggung tangan gadis itu lalu masuk ke dalam kereta kudanya.
Clara melihat kereta kuda yang membawa lelaki yang ia sukai keluar dari gerbang rumahnya. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya. Ia tersenyum sendiri mengingat reaksi Rein ketika diserang perkataan ibunya. Ia berkaca di depan cermin besar yang disandarkan di salah satu sisi dinding kamarnya.
"Tidak disangka pemuda tampan itu menawarkan diri menemanimu.", kata sang ibu yang tiba-tiba muncul di belakang putrinya.
Clara sangat terkejut menyadari kehadiran ibunya yang tiba-tiba tersebut. "Ibu. Mengejutkan saja."
"Ibu sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kau terlalu asyik memikirkan pria idamanmu."
"...Tadi ibu sedikit berlebihan terhadapnya."
"Itu demi dirimu, Clara. Seperti yang tadi kau katakan, mungkin saja dia sudah memiliki wanita idamannya. Dan kalau benar begitu, kau akan menyesal nantinya."
"Tapi saya tidak berani mengharapkan apapun dari Tuan Verentsille."
Nyonya Danforth tertawa lucu.
"Rein?", sebut Steven ketika sedang makan malam bersama keluarganya. "Kau akan pergi bersamanya?"
"Benar, Kak."
"Temanku yang satu itu tidak pernah membicarakan tentang wanita. Tapi aku pernah melihatnya bersama Nona Jovant."
"Dia sudah mempunyai kekasih?", tanya sang ibu.
"Ntah lah. Tapi akhir-akhir ini mereka sudah tidak pernah terlihat bersama."
"Menurut kakak, apakah sebaiknya saya membatalkan janjinya?"
"Clara adikku tercinta, sudah lama aku mengenalnya dan belum pernah terdengar sesuatu yang buruk tentang dia. Aku yakin kalau dia sering terlihat bersama wanita yang berbeda, pasti gossip buruknya telah beredar kemana-mana. Orang itu lebih suka menghabiskan waktu luangnya di rumah menemani ayahnya."
"Kakakmu benar, Clara. Rein itu sama sepertimu, lebih banyak di rumah daripada mencari kesenangan di luar. Ayahnya sendiri yang mengatakannya."
Setelah mendengar pendapat dari ayah dan kakaknya, Clara merasa lebih tenang. Namun perasaan ketidakpercayaan diri masih terus menghantuinya.
Rein memainkan piano yang berada di ruang keluarga sementara ayah angkatnya membaca buku. Keduanya sedang menikmati waktu senggangnya masing-masing ketika salah seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tuan Rein.", panggil pelayan itu.
"Ada apa, Trudy?", pemuda itu menanggapi tanpa menghentikan permainannya.
"Pakaian yang anda pinjam dari Tuan Danforth telah selesai dicuci dan disetrika."
Rein tersenyum pada pelayannya. "Tolong letakkan di kamarku. Besok akan kukembalikan padanya."
"Baik, Tuan. Permisi."
Tuan Verentsille membalik halaman pada buku yang tengah dibacanya. "Kau akan ke rumahnya lagi, Rein?"
"Tidak, Ayah.", jawabnya. "Besok aku akan bertemu Steven, jadi akan kukembalikan padanya."
Rein mengakhiri permainannya dan menutup piano itu.
"Keluarga Jovant juga akan pergi ke menonton opera itu.", orang tua itu berkata lagi.
Pemuda itu terdiam.
"Tapi kau juga sudah tidak bisa membatalkan janjimu dengan Nona Danforth. Bukan begitu?"
"Mungkin kelak saya akan mendapat hukumannya, Ayah. Ini justru kesempatan yang baik agar Eruna menyerah."
Tuan Verentsille berbalik melihat putra angkatnya. Ia seolah-olah tidak mengenal sosok pemuda yang baru saja mengatakan hal selicik itu. "Mengenai masalahmu dengan Eruna, kau belum pernah mengatakan apapun pada ayah. Sampai kapan kau akan menutupinya? Kenapa orang tua ini tidak berhak mengetahuinya?"
"..."
"Jawablah, Putraku. Beri ayahmu ini alasan untuk memaafkan kata-kata yang baru kau ucapkan tadi."
Rein menunduk. Kemudian ia berdiri dan duduk di sisi ayahnya. Sepasang tangannya menggenggam lembut tangan ayahnya. "Bila saya memberitahu ayah ... bisakah ayah tidak mengatakannya pada siapapun juga?", ia berkata dengan nada memohon.
Tuan Verentsille berkerut kening, merasa penasaran dengan perkataan yang didengarnya. "Katakanlah.", ia berkata dengan tidak sabar untuk mendengarnya.
"Semua ini kulakukan demi Issabelle dan Richard."
"Apa maksudmu?"
"Paman Andrew tidak akan mengganggu hubungan kedua adikku bila aku bersedia menjauhi putrinya. Itulah kesepakatan kami, Ayah."
"Apa?" Tuan Verentsille terkejut mengetahui kenyataan itu.
"Karena itu, Ayah. Saya harus melakukannya agar Eruna menyerah. Satu-satunya jalan adalah dengan membuatnya membenciku."
Lelaki tua itu tidak mampu berucap apapun lagi. Ia menunduk bersedih.
"Dengan menyakiti Eruna, ibuku sendiri telah membenciku. Saya akan benar-benar hancur bila ayah juga membenciku. Jadi saya mohon mengertilah, Ayah. Demi kebahagian Issabelle, jangan katakan pada siapapun tentang kesepakatan ini."
Tuan Verentsille mengangguk-angguk. "Terimakasih, Rein. Dan maafkan ayah ... juga adikmu."
Rein memeluk ayah angkatnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ayah. Tidak ada.", ia berkata sambil memejam.
Orang tua itu menangis, putra angkatnya memeluk dan berusaha menenangkannya. Malam itu sudah tidak ada rahasia apapun lagi yang disembunyikan di antara kedua orang itu. Tuan Muda Verentsille merasa sedikit lebih lega namun tetap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yaitu Nona Danforth.
~ 0 ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar