Sabtu, 06 Juni 2015

Ch 11

"Sekarang juga aku mau pulang !", tegas Issabelle dengan tangan dilipat di atas perutnya yang kian membesar. Akhir-akhir ini pengaruh mengidamnya tambah besar. Apapun yang diinginkannya harus dipenuhi sekarang juga. Wanita itu memasang wajah cemberut sambil menatap suaminya. "Kau ikut atau tidak ?", tanyanya ketus.
Richard memegang keningnya dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi diletakkan di pinggang. Ia terlihat lebih kurus sejak pernikahan kakaknya dua minggu lalu. Lelaki itu sering dibuat kewalahan dengan keinginan istrinya yang aneh-aneh. Terkadang ia harus tidur di kursi panjang di dalam kamarnya pada saat sang istri sedang tidak ingin tidur berdampingan dengannya. Tidak jarang Issabelle akan membangunkannya di tengah malam hanya untuk menemaninya mengobrol karena tidak bisa tidur. Dan sekarang ia diminta untuk mengantarnya pulang ke rumah ayahnya.
"Baiklah aku akan mengantarmu, Sayang. Tapi tidak bisa menemanimu di sana. Banyak hal yang harus kuselesaikan di pabrik.", kata Richard.
"Jadi urusan pabrik lebih penting daripada istrimu ? Hari ini Kak Rein pulang. Aku ingin bertemu dengannya. Jangan katakan kau tidak peduli ? Kamu kan adik kandungnya, Richard."
"Aku tahu. Aku tahu, Sayang. Tapi tidak sekarang."
Issabelle memanggil pelayan dan meminta mereka membantunya mengenakan gaun barunya. Richard hanya memandangnya heran. Ketika pelayan keluar, ia mendekati  istrinya. "Kau tetap akan pergi?"
"Ya.", jawabnya. "Sendiri."
"Astaga ! Itu tidak mungkin ! Kau tidak boleh berpergian seorang diri, Sayang ! Lihat kondisimu. Apa kau mau membuatku mati ketakutan ?"
"Kalau kau tidak mau menemaniku, aku tidak akan pulang lagi ke rumah ini."

Rein duduk bersama ayahnya di ruang kerja. Keduanya membicarakan bisnis yang diambil alih  sang ayah selama Rein dan Clara pergi bulan madu. Mereka baru akan makan malam ketika Richard dan Issabelle tiba. Kemudian mereka pun makan malam bersama.
"Richard, kau terlihat kurus.", kata Rein. "Apa kau sakit ?"
"Wajar kalau aku jadi kurus. Adik perempuan tercintamu selalu membuatku kewalahan akhir-akhir ini."
"Kau tidak mengerti penderitaan seorang wanita hamil yang tentu ya lebih berat dari kewalahanmu itu.", kata Issabelle. "Seandainya perut ini dapat dilepaskan."
Semua orang tertawa.
"Putri ku ini pasti cerewet sekali, ya ?"
"Benar, Ayah. Hampir setiap malam saya diusir dari ranjang dan harus tidur di kursi. Terkadang kalau dia tidak bisa tidur, dia akan membangunkanku untuk menemaninya bicara sampai dia tertidur. Mengerikan bukan ?"
"Itu karena anakmu tidak bisa diam."
"Apa mungkin yang lahir nanti perempuan, ya ?", kata Clara.
"Apapun itu aku ingin anak ini segera lahir dan sehat tentunya.", kata Richard.
"Kalian sudah menyiapkan nama ?", tanya Rein.
"Sudah kubuat list namanya.", kata Issabelle. "Oh, kalian belum menceritakan tentang bulan madu yang kalian lalui."
Rein tersenyum. "Syukurlah Clara menyukainya."
"Tempatnya benar-benar indah sekali, Issabelle. Rumah yang kami tempati ada di pinggir danau. Ada juga kebun kecil untuk menanam kentang dan bunga. Lalu di malam hari ada kunang-kunang."
"Kami juga berkuda.", tambah Rein.
"Clara, jangan katakan kau ingin menetap di desa.", kata Issabelle penuh curiga.
"Tebakan mu tidak salah, Issbelle.", kata Rein.
Clara tersenyum menatap suaminya.
"Lalu ?", tanya Richard.
"Tentu saja itu baru sebuah keinginan. Karena aku juga menyukai tempat itu.", jawab Rein. "Kami akan tetap di sini menemani ayah."
"Jangan khawatirkan orang tua ini. Ayah sama sekali tidak keberatan kalian tinggal di sana.", kata Tuan Verentsille.
"Tidak, Ayah.", kata Clara dengan lembut. "Kami tidak ingin meninggalkan ayah di sini. Lagipula pekerjaan Rein juga di kota ini. Akan sulit untuknya bila pindah ke desa."
"Clara benar, Ayah. Kalaupun kami pindah, ayah juga akan tetap tinggal bersama kami."
Tuan Verentsille tertawa kecil.

Richard berdiri di dekat perapian sambil memegang segelas wine. "Kakak tampak bahagia."
Rein hanya tersenyum sambil duduk di kursi.
Sang adik membisu sejenak dan memilah kata-kata yang tepat. "Apa ada kabar dari sepupu kita itu ?", tanyanya ragu. Belum sempat dijawab, ia sudah menambahkan lagi, "aku tahu seharusnya aku tidak menanyakan ini padamu yang telah beristri. Tapi satu-satunya yang mengetahui keberadaannya adalah kakak."
"Tidak ada kabar apapun darinya, Richard."
Richard meneguk habis wine-nya lalu menambah lagi.
"Apa kau sedang bermasalah ?", tanya Rein.
"Tidak.", jawab sang adik singkat.
"Aku mengerti bila kau menutupinya dari Issabelle.", kata Rein. "Kudengar ada masalah pada perusahaan keluarga Jovant."
Richard meletakkan gelasnya di atas perapian lalu duduk di sisi kakaknya. "Sekarang masih masalah kecil.", jawabnya. "Tapi akan jadi besar bila terus dibiarkan."
"Katakan apa yang dapat kubantu ?"
Richard tersenyum. "Paman Andrew tidak akan mau dibantu oleh mu, Kak.", ia menghela napas. "Sepertinya kemampuan paman sudah tidak sehebat dulu."
"Kau tidak perlu memberitahunya tentang bantuanku."
"Jadi apa yang harus kukatakan pada paman ? Seorang misterius yang dermawan memberikan bantuan begitu saja ?" Richard tertawa. "Bisa berapa lama kita menutupinya dari paman ?"
Issabelle dan Clara masuk menemui suami mereka. Tidak lama kemudian Richard dan Issabelle berpamitan pulang, namun Rein menahan adik perempuannya untuk tidak meninggalakan ruangan dulu.
"Issabelle.", sebut Rein dengan lembut. "Kakak tahu kalau wanita hamil itu punya banyak keinginan yang aneh-aneh." Rein tertawa kecil. "Tapi sebisanya jangan mempersulit suami mu. Kasihan dia."
Sorot mata Issabelle menunjukkan keterkejutan. Lalu ia berusaha menutupinya. "Pasti sejak tadi Richard mengeluh terus, ya?", tanyanya. Sebenarnya ia menyadari ada sesuatu di balik kata-kata sang kakak yang tidak bisa dikatakannya. "Baiklah aku mengerti. Mungkin aku sering-sering saja datang untuk mengganggu mu, Kak.", katanya nakal.
Rein tersenyum. "Tolong sampaikan salam ku pada Nyonya Chaterine."
"Iya iya."


Rein memegang pundak istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. "Besok aku akan berangkat karena pekerjaan."
Clara menatapnya melalui kaca. "Kalau begitu aku akan mempersiapkan keperluan."
"Aku bisa melakukannya sendiri, Clara."
Wanita itu berdiri dan berbalik menatap suaminya. "Itu sudah menjadi kewajibanku untuk mempersiapkan keperluan suamiku. Rein, sekarang kau bukan lagi seorang diri. Jangan segan bila aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku istrimu, bukan ?"
Rein tersenyum, ia meraih kedua tangan Clara dan mengecupnya. "Maafkan perkataanku."
Clara menunduk cemberut. "Ini adalah yang kesekian kalinya kau menolak bantuanku. Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya."
Rein tertawa kecil sambil memeluknya. "Baiklah, Nyonya Muda Verentsille. Aku berjanji tidak akan menolaknya lagi. Aku butuh bantuanmu untuk mempersiapkan pakaianku selama tiga hari di York."
Clara tersenyum lucu. "Baiklah, Tuan Muda Verentsille." Ia meminta pelayan menyiapkan koper sementara dirinya menyiapkan pakaian-pakaian untuk sang suami. "Berarti besok aku sendirian yang akan menhadiri undangan minum teh dari Nyonya Chaterine."
"Bukankah kita yang mengundangnya ?"
"Ingatanmu tidak salah, Rein. Tapi usia kandungan Issabelle sudah tidak memungkinkannya lagi untuk berpergian."
"Begitu.", kata Rein. "Kuharap tidak akan terjadi apa-apa. Ibu dan kakek tidak akan membiarkan Paman Andrew mengganggu.", pikirnya.
"Ada apa?"
Rein tersenyum. "Aku tidur duluan." Ia mengecup kening istrinya. "Selamat malam."


"Kebetulan sekali suamiku berangkat hari ini.", kata Clara yang menjawab pertanyaan Nyonya Chaterine.
"Oh.", tanggap Nyonya Chaterine yang tidak mampu menutupi kekecewaannya. "Sayang sekali."
"Anda baik-baik saja, Nyonya ?", tanya Clara yang merasa aneh dengan ekspresi kekecewaannya.
Chaterine berusaha tersenyum. "Tentu.", jawabnya. Ia meminum tehnya lalu meletakkannya kembali.
"Apakah ada yang ingin anda bicarakan dengan Suami ku?"
"Tidak ada, Nyonya Verentsille.", jawabnya.
"Saya rasa tidak apa-apa bila ibu memberitahu Clara.", kata Issabelle.
"Bila anda tidak keberatan memberitahu saya tentunya.", tanggap Clara.
Chaterine tersenyum menunduk. "Saya melihat putra sulungku yang sudah meninggal di dalam diri Tuan Muda Verentsille."
Clara semakin penasaran. "Maaf, Nyonya Chaterine. Saya tidak mengerti yang anda bicarakan."
"Ya. Itu hanya perasaan ku saja. Mungkin karena saya terlalu merindukannya. Rein mirip dengan putraku."
"Apakah Rein tahu hal ini ?"
Chaterine mengangguk. "Berapa lama dia pergi, Nyonya Muda Verentsille?"
"Mungkin tiga hari.", jawabnya. "Ketika dia pulang, saya akan mengajaknya menemui anda."
Chaterine terkejut. "Anda tidak keberatan ?"
Clara tersenyum. "Kenapa saya harus keberatan, Nyonya ? Saya yakin suami ku juga tidak keberatan dianggap putra anda."
Chaterine tersenyum senang.
"Sudah saya katakan, bukan, kalau kakak ipar ku ini wanita yang pengertian.", kata Issabelle.
Chaterine mengangguk.
Tiba-tiba Issabelle memegang perutnya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat. Wanita itu akan segera melahirkan. Chaterine segera memanggil pelayan untuk membantu menantunya ke kamar. Semua orang dibuat panik. Dokter segera dipanggil dan para pelayan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Di saat semuanya sibuk, Andrew menemui Clara dan membawanya ke ruang kerja.
"Saya yakin anda telah lupa pada saya, Nyonya Muda Verentsille."
Clara mencoba mengingat lelaki kurus itu. "Maaf."
Andrew tersenyum. "Tidak apa-apa.", katanya. "Nama saya Andrew. Saya pernah menghadiri pesta dansa di kediaman keluarga Danforth bersama putri ku."
Clara tersenyum.
"Bisakah saya meminta bantuan kecil dari anda ?"
"Bantuan seperti apa, Tuan Andrew ?"
"Tolong tanyakan pada suami mu, dimanakah dia menyembunyikan putriku."
Clara terkejut. "Suami saya menyembunyikan putri anda ? Saya rasa anda salah orang, Tuan Andrew. Suami ku bukan orang seperti itu."
"Awalnya saya juga mengira dia adalah seorang pemuda tampan yang baik. Dan saya tidak ingin menanyakannya melalui anda karena ini akan merusak kepercayaan anda padanya. Tapi saya sudah pernah menanyakan langsung padanya dan dia tidak mau menjawabnya. Karena itu saya tidak punya pilihan selain meminta bantuan anda."
"Saya percaya padanya. Sepenuhnya."
"Bagaimana bila saya memberitahu anda tentang hubungan Tuan Muda Verentsille dengan putriku?"
"..."
"Saya menentang hubungan mereka, karena itulah dia membalasku dengan menyembunyikan keberadaan Eruna putriku. Dia sengaja mendekatimu untuk menyakiti Eruna."
Clara memejam dan menggeleng. "Itu tidak benar."
"Pikirkanlah. Apakah anda berhasil memiliki hatinya ?"
"Saya tidak meragukannya."
"Baiklah. Tapi tolong bantu saya menanyakannya.", kata Andrew yang kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Clara masih terkejut dengan apa yang didengarnya. Namun ia masih berharap untuk terus mempercayai suaminya. Lalu ia keluar dan menuju ke kamar Issabelle dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri membantu yang bisa dilakukan.


Issabelle melahirkan bayi kembar laki-laki. Clara melihat Tuan Verentsille dan Nyonya Chaterine menimang cucu mereka. Wanita muda itu ditawarkan untuk menggendong salah satu bayi kembar itu. Awalnya ia menolak, namun Nyonya Chaterine terus membujuknya hingga ia menyanggupi.
"Dia mungil sekali.", kata Clara. "Selamat, ya, Richard, Issabelle.", ucapnya.
"Terimakasih.", ucap Richard.
"Kau pun harus segera memberikan sepupu kepada kedua putraku ini, Clara.", kata Issabelle.
Clara tertawa kecil.
"Benar sekali. Saya yakin Tuan Verentsille juga sudah lama menantikan calon penerusnya.", kata Nyonya Chaterine.
Clara hanya menanggapi dengan senyuman setelah melihat ayah mertuanya mengangguk.

Rein kembali dari luar kota saat menjelang tengah malam. Ia menyadari bahwa orang-orang di rumahnya pasti telah terlelap. Karena itu saat memasuki kamar, ia berusaha sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya.
"Rein ?", sebut Clara yang terbangun ketika Rein berbaring di sisinya.
"Selamat malam, Clara. Maaf aku membuatmu terbangun.", katanya. "Tidurlah."
Clara memeluknya erat.
Rein tersenyum dan memeluk wanita itu. "Maaf, ya, aku tidak mengabarimu kalau akan pulang lebih awal."
"Aku sangat merindukanmu."
"..."
"Apa kau tidak merindukan istrimu?"
Rein mengecup kening Clara. "Bila aku tidak rindu, tentu aku tidak akan segera pulang begitu pekerjaan selesai."
Clara berdiam lama. "Issabelle melahirkan bayi kembar."
"Benarkah?" Pemuda itu terkejut dan senang. "Besok aku akan menjenguk mereka."
Lagi-lagi Sang istri membisu.
"Ada apa, Clara ?"
"Aku juga ingin menjadi seorang ibu."
"Tentu saja, Clara. Suatu saat nanti kau akan melahirkan anak-anak ku."
Wanita itu bangun melihat suaminya dengan pandangan tidak percaya.
Rein menyentuh pipi istrinya. "Sejak tadi sikapmu aneh. Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?"
Clara mencoba tersenyum dan kembali berbaring dalam pelukan suaminya tanpa menanggapi pertanyaan tersebut.


~  0  ~

Selasa, 02 Juni 2015

Ch 10

Rein sedang berdiri di dekat jendela ketika Clara datang.
"Selamat pagi.", salam Clara yang menyadarkan Rein akan kehadirannya.
"Selamat pagi, Clara."
"Sedang memikirkan sesuatu ?", tanya wanita itu ketika berdiri di sisinya.
"Sejak terluka, aku belum pernah keluar dari kamar ini selangkah pun.", katanya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Rein ?"
"Rasa sakitnya sudah semakin berkurang. Mungkin besok aku sudah bisa kembali bekerja."
Clara meraih tangan kekasihnya. "Ayo, kita duduk di taman.", ajaknya.
Rein terkejut lalu tersenyum senang. "Tentu."
Clara membantu Rein berjalan. Mereka dengan pelan dan hati-hati menuruni tangga.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan ? Anda masih harus banyak istirahat di kamar.", kata Molly yang melihatnya.
"Aku ingin ke taman, Molly.", jawab pemuda itu. "Bisakah kau menyiapkan teh dan makanan kecil untuk kami ? Sandwich buatanmu yang kemarin sangat enak.", pujinya.
Kepala pelayan itu tersenyum kesal, ia tahu tuan mudanya sedang memuji dengan maksud jangan mengomelinya. Ia lalu bergegas ke dapur mempersiapkan yang diminta.
Clara tertawa kecil. "Dia terlihat kesal."
"Kalau aku tidak melakukannya, dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menceramahiku."
Mereka tiba di taman belakang. Keduanya duduk di kursi yang berada di bawah pohon. Rein memejam sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit, ia menarik napas yang dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
"Segarnya.", kata pemuda itu.
Clara tersenyum melihatnya.
"Terimakasih, Clara. Hanya kau satu-satunya yang bersedia membawaku kemari."
"Tapi kita tidak bisa lama berada di sini."
"Tidak apa-apa. Walau hanya sebentar, aku sudah sangat senang."
Molly mengantarkan pesanan tuan mudanya.
"Terimakasih, Molly.", kata Rein.
"Tuan Rein, ingatlah anda masih harus banyak istirahat."
"Aku tahu, Molly. Setelah menikmati ini aku akan kembali."
"Baiklah, Tuan dan Nona Danforth. Saya permisi."
"Kurasa besok kau belum boleh bekerja, Rein."
Pemuda itu hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Aku mengerti kalau kau sudah bosan di kamar terus."
Rein meletakkan cangkirnya. "Ayahku sudah tidak seharusnya bekerja.", katanya.
"Kalau begitu kau harus cepat sembuh dengan banyak istirahat. Kalau kau memaksakan tubuhmu, bukankah hasilnya akan lebih parah."
Lelaki itu menyadari kebenaran dari perkataan Clara. Namun ia membenci diri sendiri yang belum kunjung sembuh.

Keesokan sorenya ketika Tuan Verentsille kembali dari perusahaan, ia membawa beberapa dokumen yang perlu ditandatangani kepada putranya.
Rein merasa bingung melihat ayahnya. "Tanda tangan ayah juga berlaku di dokumen ini.", katanya.
"Yaaa...mungkin akan lebih baik kau yang memeriksanya sendiri karena ini adalah proyekmu."
Rein tersenyum senang. Dengan segera ia memeriksa dokumen-dokumen itu. Tuan Verentsille dapat melihat perubahan wajah putra angkatnya menjadi serius ketika sedang bekerja.
"Sementara kau bisa menangani pekerjaan dari rumah, Rein.", kata orang tua itu.
"Tentu, Ayah. Saya akan sangat menantikan berkas yang ayah bawa."
Rein sangat serius membaca dokumen-dokumen itu sampai tidak menyadari ayahnya telah meninggalkan kamarnya.
"Dia sedang menikmati pekerjaannya.", kata Tuan Verentsille.
"Terimakasih anda bersedia memenuhi permintaan saya, Tuan Verentsille.", kata Clara.
"Dengan senang hati, Nona Danforth. Saya senang anda bisa memikirkan cara terbaik untuk putraku."
Clara tersenyum. "Saya akan menemani Rein sekarang. Mungkin saya dapat melakukan sesuatu sementara ia bekerja.", pamitnya.

Setiap hari sepulangnya dari perusahaan, Tuan Verentsille akan membawakan dokumen ataupun berita terbaru dari perusahaannya. Mereka akan selalu membahasnya bersama. Dengan ijin dari dokter, Rein diperbolehkan memulai aktivitas nya kembali.
Begitu pun dengan Clara, gadis itu disibukkan dengan persiapan pernikahannya dua minggu lagi. Sang ibu selalu membawanya ke toko-toko tempat mereka memesan segala sesuatu yang dibutuhkan, mereka memastikan kalau pesanannya benar. Sepasang calon pengantin itu tidak diijinkan bertemu sampai di hari pernikahannya tiba.


Rein mengunjungi makam pamannya sehari sebelum acara pernikahan. Ia membawa bunga untuk di letakkan di depan nisan. Hari itu cuaca panas menyengat.
"Paman.", sebutnya. "Besok saya akan menikah dengan Clara.", katanya. "Saya mohon doa dari Paman Carlfred agar semuanya berjalan lancar. Juga...doakan saya agar mampu membuat Clara bahagia. Semoga saya mampu menjadi suami yang baik untuknya." Ia menunduk. "Sebenarnya saya sangat takut. Bantulah saya, Paman Carlfred."
Tuan Jovant mendekati makam putranya. "Kakek terus merasa akan bertemu denganmu di sini, Rein."
"Kakek.", panggilnya terkejut. Pemuda itu berdiri. "Kakek sering datang kemari ?"
"Ya.", jawab orang tua itu. "Ketika kakek merasa ingin bicara dengan Carlfred, maka kakek akan datang."
"..."
"Besok adalah hari pernikahanmu, Rein. Ada apa kau datang ke makam Carlfred ?"
"Kakek.", sebutnya. "Apakah menurut kakek besok Paman Andrew akan datang ?"
"Kakek melarangnya hadir. Kakek yakin dia akan mengacaukan hari besarmu."
"Sebenci itukah Paman Andrew padaku ? Apakah kakek juga membenci ayahku ?"
"Orang itu membawa putriku kabur lalu menelantarkannya juga kalian. Apa menurutmu kakek bisa memaafkannya ?"
"Apakah kakek yakin ayah lari dari tanggung jawab ?"
Tuan Jovant menatap cucunya.
"Saya mencaritahu tentang ayah.", katanya. "Untuk pertama kalinya ayah ikut bersama temannya menjadi awak kapal. Tapi sayang kapal itu disapu badai. Hanya beberapa yang selamat. Menurut informasi yang kudapatkan, ayah menolong rekannya hingga tidak sempat keluar dari kapal. Dia terjebak di dalam dan tenggelam bersama kapal itu.", jelasnya.
Tuan Jovant terkejut dan tak mampu berkata apapun.
"Ayahku bukanlah bajingan yang seperti selama ini keluarga Jovant anggap."
"Maaf, Cucuku."
Rein memegang pundak kakeknya. "Sekarang semuanya sudah jelas. Saya harap Paman Andrew juga bisa mengerti."
"Besok jalankan semuanya dengan tenang. Kakek pastikan pamanmu tidak akan hadir dan mengacaukannya."
"Terimakasih, Kakek."


Richard dan Issabelle memasuki kamar kakaknya.
"Hari besarmu ini akan menjadi hari peringatan patah hatinya para gadis penggemarmu, Kak.", kata Richard.
"Apa yang kau bicarakan, Richard.", tanggap sang kakak yang terlihat gugup lalu memeluk kedua adiknya.
"Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Kak Rein.", kata Issabelle.
"Terimakasih, Issabelle."
"Santai saja, Kak. Belum saatnya untuk gugup.", kata Richard yang menertawainya. "Saat yang akan membuatmu gugup adalah malam ini. Jangan sampai melakukan kesalahan.", bisiknya menggoda kakaknya.
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, Richard. Kalau tidak aku akan membatalkan posisimu sebagai best men ku."
"Hahahaha...Maaf, Kak. Itu adalah posisi yang kau percayakan padaku. Mana boleh diberikan pada orang lain."
"Kalau begitu berhentilah menggodaku.", kata Rein.
"Baik. Baik."
"Tuan Rein, kereta sudah siap. Sudah saatnya ke gereja sekarang.", kata Molly.
"Ya, Molly. Aku segera turun."


Para undangan telah memenuhi tempat duduk di dalam gereja. Pengantin pria dan best men-nya berdiri di sebelah kanan altar menunggu pengantin wanita masuk. Suasana di dalam gereja sangatlah tenang ketika pengantin wanita berjalan memasuki ruangan menuju ke altar dengan didampingi oleh sang ayah. Clara tidak mampu membendung kebahagiaannya, senyumnya merekah di balik cadar, ia tidak melepaskan pandangan pada calon suaminya yang mampu menutupi kegugupannya dengan senyuman di wajah. Tuan Danforth memberikan tangan kanan putrinya yang disambut Rein. "Mulai hari ini, kupercayakan putriku padamu, Rein. Jagalah dia dan bangunlah keluarga yang hangat bersamanya.", kata sang ayah.
"Saya berjanji akan memenuhi permintaan anda, Tuan Danforth."
Kemudian Tuan Danforth menempati tempat duduk di sebelah kanan istrinya.
Rein membuka cadar yang menutupi wajah pengantinnya. Kemudian mereka berlutut di tempat yang telah disediakan. Misa pernikahan pun dimulai dengan khidmat. Setelah selesai, Richard memberikan cincin kepada kakaknya  untuk dipakaikan di jari manis Clara. Kemudian kedua mempelai menandatangani surat pernikahan mereka. Dengan begitu mereka telah resmi menjadi suami dan istri. Tangan kiri Clara melingkari lengan kanan suaminya, keduanya berjalan keluar dari gereja sambil tersenyum dengan iringan tepuk tangan dari para undangan.

Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman keluarga Verentsille. Jamuan makan bersama berlangsung selama dua jam. Setelah itu pengantin baru berangkat menuju ke Holly Village untuk berbulan madu. Mereka menyewa sebuah rumah sederhana di dekat danau. Hari sudah gelap ketika mereka tiba. Beberapa pelayan yang siap melayani segala kebutuhan majikannya, segera mengantarkan mereka ke kamar untuk beristirahat.
Clara membantu suaminya melepaskan jasnya.
"Karena sudah malam kita jadi tidak bisa menikmati pemandangannya.", kata Rein.
"Masih ada besok pagi.", kata Clara.
"Ya...kau benar.", tanggapnya.
"Pelayan bilang sudah menyiapkan air hangat. Mandilah dulu agar merasa segar, Sayang."
Rein terdiam mendengar panggilan mesra tersebut. "Kau duluan saja, Clara.", katanya. "Aku akan memeriksa perapiannya dulu." Ia segera mendekati perapian dan melihat kayu-kayu yang berada pada tempatnya yang siap untuk dibakar.
Clara menyadari kegugupan suaminya itu karena ia pun merasakan hal yang sama. Wanita itu hanya bisa tersenyum dan menuruti perkataan suaminya.
Beberapa waktu kemudian setelah Clara selesai, ia duduk di depan meja rias menyisir rambut merahnya sementara menunggu sang suami. Lalu ia berjalan mendekati jendela.
Rein keluar dan mendapatkan istrinya sedang berdiri sendirian di dekat jendela yang terbuka. Ia mendekatinya dan memakaikan mantel padanya. "Udara malam tidak baik untuk tubuh." Lalu ia menutup jendela.
"Aku sedang memikirkan kembali pemberkatan tadi pagi. Rasanya seperti mimpi."
Rein meraih tangan istrinya. "Ini bukan mimpi."
Clara terbuai dengan tatapan suaminya.
Rein mengecup punggung tangannya. "Selamat datang di keluarga Verentsille, Clara.", ucapnya. "Tolong jangan segan menyampaikan keluhanmu bila kelak aku melakukan kesalahan sebagai seorang suami."
Wanita itu tersenyum. "Begitu juga denganmu, Rein. Katakan padaku bila ada hal yang kulakukan yang tidak berkenan di hatimu."
Rein mengecup kening Clara dan memeluknya. Mereka duduk di salah satu sisi tempat tidur sambil menikmati wine yang telah disediakan.


~  0  ~



Minggu, 31 Mei 2015

Ch 09

Tuan verentsille baru turun dari kamarnya ketika putri dan menantunya datang berkunjung. Orang tua itu mengajak mereka ke ruang makan, sambil menunggu Rein turun, Issabelle menceritakan tentang kejadian semalam. Keduanya khawatir dengan kondisi tubuh kakaknya.
"Kakakmu tidak menceritakan apapun tentang lukanya.", kata Tuan Verentsille. "Ayah sempat berpikir kalau kakakmu kelelahan setelah dua hari disibukkan mencari Nona Jovant dan akan telat sarapan pagi ini. Akan lebih baik kita ke kamarnya untuk memeriksa keadaannya sekarang."
"Maaf telah membuat kalian khawatir.", kata Rein ketika memasuki ruang makan.
Richard segera menarikkan kursi untuknya duduk. 
"Selamat pagi, Ayah, Richard, Issabelle."
"Bagaimana keadaanmu pagi ini?", tanya sang ayah.
Rein tersenyum. "Tentunya tidak separah yang dikatakan kedua adikku ini, Ayah.", sangkalnya. Rasa sakit pada lukanya masih sangat terasa pagi itu. Bahkan lebih parah dari semalam. Namun ia menutupinya dari semua orang.
"Kakak pikir kami akan percaya begitu saja ?", tanya Richard. 
Rein terdiam. 
"Kami sudah memanggil dokter.", kata Richard lagi.
"Kalian terlalu berlebihan. Ini hanya luka lebam, nanti juga akan sembuh."
Issabelle berjalan ke belakang kakaknya lalu menekan punggungnya. Rein bersuara kesakitan memegang pundaknya. "Padahal aku tidak menekannya dengan kuat tapi reaksi kakak sudah seperti itu. Apa perlu kucoba sekali lagi?"
"Cukup, Issabelle. Cukup.", kata Rein yang mencoba melindungi punggungnya. "Baiklah aku akan mendengarkan saran kalian.", ia menyerah.
"Bagus, Issabelle.", puji Richard.
"Sepertinya aku harus berbicara langsung dengan Clara mengenai kakak ku ini.", kata perempuan berambut pirang itu setelah kembali ke tempat duduknya.
"Kau mau mengatakan apa padanya?", tanya Rein curiga.
"Clara harus tahu cara mengatasi calon suaminya yang keras kepala ini."
"Aku setuju, Istriku.", kata Richard.
Tuan Verentsille ikut tersenyum. "Ayah mendukungmu, Putriku."
Rein terdiam, ia kalah suara untuk membela diri. Issabelle memang selalu unggul dalam hal mendesaknya melakukan sesuatu.

Dokter yang dipanggil Richard mulai memeriksa kondisi Rein. Pemuda itu tidak mampu bergerak cepat, terkendala oleh luka-luka di sekujur tubuhnya. Rein harus mengatakan ia menjadi korban perampokan ketika dokter menanyakan apa yang terjadi padanya. Kemudian Richard membantu kakaknya berbaring. Dokter meminta pasiennya itu istirahat total sampai lukanya sembuh. Ia dilarang keluar kamar atau berjalan jauh selama masa istirahat. Dokter juga memberikan resep obat untuk diminum tiga kali sehari selama satu bulan. Untuk sementara masalah pekerjaan akan diambil alih oleh Tuan Verentsille.
"Maaf, Ayah jadi harus mengurus pekerjaan saya.", kata Rein.
"Ini sama sekali tidak membebaniku, Rein.", kata sang ayah yang lalu menghela napas. "Tapi apa yang dilakukan Tuan Andrew padamu benar-benar sudah keterlaluan."
Rein berdiam diri. Saat ini yang ia pikirkan adalah bagaimana mengatakan pada Clara kalau ia tidak bisa menemuinya untuk sementara waktu.


Sudah satu minggu Clara tidak bertemu dengan calon suaminya. Tidak biasanya Rein tidak mengunjunginya selama satu minggu penuh. Pemuda itu bahkan tidak mengabarkan apapun padanya. Sekarang gadis itu mulai khawatir. Kedua orang tuanya sedang berada di luar kota menghadiri pesta pernikahan kerabatnya. Sedangkan kakaknya sibuk mengurus perusahaan dan kekasihnya. Ia sendirian di rumah. Rasa kesepian begitu terasa. Ketika Steven pulang, ia langsung menemuinya.
"Clara, bagaimana keadaan Tuan Verentsille ? Apa sudah lebih baik ?", tanya Josephine yang diundang makan malam oleh kekasihnya.
Clara menatap wanita itu dengan heran. "Maaf. Aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan, Josephine."
Sekarang giliran wanita itu yang heran. "Kau tidak tahu ? Kudengar dari ayahku kalau calon suami mu sedang terluka. Dokter memintanya istirahat total dan ayahnya yang menggantikannya mengurus perusahaan."
Clara terbelalak seraya menutup bibirnya. Ia tersentak berdiri.
"Kami tidak tahu mengenai itu.", kata Steven. "Tidak ada yang memberitahu kami."
"Aku harus menjenguknya.", kata Clara yang hendak meninggalkan ruang makan.
Steven segera menghentikan adiknya. "Sudah malam, Clara. Besok pagi aku akan mengantarmu ke sana."


Rein menyelesaikan sarapan dan meminum obat yang diantarkan Molly. Ia duduk di tempat tidurnya sambil menyandar pada tumpukan bantal. Ada beberapa buku yang diletakkan di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya. Ia menikmati sinar matahari yang masuk melalui jendela yang tepat berada di sisi kirinya. Tidak lama kemudian ia hampir tertidur ketika Molly mengantarkan Steven dan Clara ke kamarnya. Pemuda itu membuka matanya lalu menoleh ke arah pintu. Ia bergerak ingin bangun dari tempatnya ketika melihat mereka. Clara segera mendekat dan menahannya. "Tetaplah seperti ini, Rein. Jangan paksakan dirimu.", wanita itu berkata dengan lembut sambil memegang tangan kanannya.
"Bagaimana keadaanmu?", tanya Steven.
"Sudah lebih baik.", jawabnya. "Bagaimana kalian bisa tahu?"
Steven memperlihatkan wajah kesalnya. "Josephine.", jawabnya singkat.
"Maaf. Aku tidak memberitahu kalian."
"Tidak seharusnya kau menyembunyikan ini dari kami, Rein. Kami berhak dan harus mengetahuinya. Apa kau tidak kasihan pada adikku ?"
"Sudahlah, Kak!", tegur Clara.
"Maaf.", ucapnya lagi.
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak akan memaafkanmu bila ada lain kali."
Rein tersenyum. "Ya."
"Baiklah, aku titipkan adikku di sini. Nanti aku akan kembali menjemputnya."
Rein mengangguk.
Setelah Steven pergi, Rein menatap wajah Clara yang penuh kecemasan. "Jangan khawatir, Clara." Ia menyentuh wajahnya.
"Kau mengantuk ?"
Rein mengangguk. "Sepertinya ada kandungan obat tidur  pada obat ku."
Clara memberikan senyumnya. Ia tidak melepaskan tangan kekasihnya sejak berada di sisinya. "Tidurlah. Aku akan selalu berada di sini menemanimu."
Rein menyungging senyum lalu memejam. Satu hal yang wanita itu pelajari dari calon suaminya, bahwa pria yang akan menikahinya ini adalah seseorang yang selalu menyimpan semua hal buruk yang dialaminya.
Setelah Rein terlelap, Clara melihat beberapa foto yang terletak di atas meja kecil. Foto-foto Rein bersama ayah dan adiknya, lalu foto pernikahan kedua adiknya. Ia juga melihat buku-buku yang tertumpuk rapi. Dia pasti melewati waktu dengan membaca buku-buku ini, pikirnya. Kemudian wanita itu ingin mengetahui buku apa saja yang dibaca calon suaminya. Ada beberapa buku karya Sir Arthur Conan Doyle dan Oliver Twist oleh Charles Dickens. Clara mengambil salah satu buku karya Conan Doyle dan membacanya sambil duduk di kursi di sebelah tempat tidur.

Molly mengetuk pintu lalu masuk menyuguhkan teh dan sandwich untuk gadis itu. Lalu ia berdiri sejenak melihat tuan mudanya.
"Saya tidak akan bisa melihat wajah tidur Tuan Rein kalau dia tidak sedang sakit seperti ini.", kata Molly sambil tersenyum kagum.
"Maaf ?", kata Clara.
"Oh. Bukan berarti saya senang melihatnya sakit, Nona.", ia menjelaskan. "Nona Issabelle secara khusus meminta dokter memberikan obat tidur. Tentunya dengan dosis yang masih layak."
"Dari yang kau katakan, sepertinya tuan mu adalah orang yang sering memaksakan diri.", tebak Clara.
"Benar, Nona Clara.", tanggapnya. "Kalau bukan karena kecerdikan Nona Issabelle, saya yakin Tuan Rein saat ini sedang berada di pabrik." Wanita gemuk itu menghela napas. "Saya sangat berharap kelak Nona Clara dapat mengatasi kebiasaaan calon suami anda ini."
Clara tertawa kecil. "Kalau begitu aku harus belajar dari adiknya."
"Nona Issabelle pasti senang mengajari anda."
"Terimakasih sudah memberitahuku, Molly."
"Sama-sama, Nona Clara. Sekrang saya harus pergi.", pamitnya.
Clara duduk di pinggiran ranjang dan memegang tangan kanan Rein. Ia perhatikan ada air mata yang menggenang di kedua sudut matanya yang terpejam. Selain itu ia merasakan tangan Rein menggenggam tangannya dan mulai bergerak gelisah. Clara mencoba menenangkannya. Ia mengusap kepalanya yang berkeringat dengan sapu tangan. Rein terbangun duduk dengan napas kuat. Ia menopang keningnya dengan tangan kiri.
"Kau mimpi buruk.", kata Clara.
Rein baru menyadari kehadiran wanita itu. "Clara.", sebutnya.
Wanita itu menuangkan teh untuknya.
"Terimakasih." Ia meminum tehnya.
"Merasa lebih baik, Rein ?"
Pemuda itu menjawabnya dengan mengangguk. "Sejak tadi kau menjagaku ?"
Clara tersenyum. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Aku ingin merawatmu, Rein."
"Terimakasih, Clara. Itulah kenapa aku tidak ingin memberitahumu. Kau pasti akan melakukan ini."
"Apa kau tidak suka ?"
Rein tersenyum menggeleng. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula hari ini aku merasa sudah jauh lebih baik."
"Kalau kau menginginkannya, aku akan berhenti merawatmu."
Rein tertawa kecil sambil menunduk. "Aku tidak akan melarangmu, Clara.", katanya. "Kau boleh datang kapan pun kau mau. Dan aku akan selalu menantikannya."
Clara tersenyum senang lalu beranjak mendekati meja. "Kau sudah tidur dua jam, Rein. Dan aku yakin kau lapar. Molly membuatkan sandwich untukku. Kita makan bersama ya."
Rein berguman setuju, ia menyusun bantal untuk disandari.
"Lagi-lagi kau melakukannya.", kata Clara yang mendekatinya. Ia menyusun bantal-bantal itu lalu membantunya mundur untuk menyandar. "Mintalah padaku untuk melakukannya. Aku ingin bisa berguna untukmu, Rein. Kurang dari dua bulan lagi aku akan menjadi istrimu."
"Clara.", lelaki itu menyebut namanya.
Clara memberikan satu potong sandwich untuknya. Mereka bersama-sama menikmati roti isi buatan Molly sambil mengobrol.
"Aku tidak tahu kau suka membaca karya fiksi, Rein."
Pemuda itu melihat pada tumpukan buku di meja lalu tersenyum lucu. "Bukan karena aku menyukainya. Aku minta diantarkan buku non-fiksi. Tapi Issabellle malah memberikanku bacaan itu."
Clara tertawa. "Lalu kau membacanya ?"
Rein mengangguk. "Aku juga membaca koran yang diantar Molly.", tambahnya.
"Cerita Sherlock Holmes sangat menarik. Tadi aku membacanya selagi kau tidur."
"Ya, aku sependapat denganmu.", katanya. "Bila kau ingin membacanya, kau bisa membawanya pulang, Clara."
"Aku akan baca di sini."
Pemuda itu menatapnya. "Begitu."
Clara memberinya minum. "Mau sandwichnya lagi?"
"Tidak, terimakasih.", tolaknya. Rein menurunkan kakinya ke lantai.
"Kau mau kemana, Rein? Kalau butuh sesuatu katakan saja padaku."
"Aku tahu, Clara.", kata lelaki yang selalu tersenyum ramah itu. "Tapi kau tidak mungkin menemaiku sampai ke kamar mandi bukan?"
Clara segera tertunduk malu. Wajahnya merona.
Dengan pelan pemuda itu berdiri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya memang sudah tidak separah seminggu yang lalu, namun tetap saja ia belum bisa bergerak dengan cepat layaknya orang sehat. Ia masih harus berpegangan pada sesuatu untuk berjalan.
"Akan kupanggilkan seseorang untuk membantumu."
"Tidak, Clara.", tolaknya. "Aku harus latihan. Berbaring terus membuat tubuhku pegal dan kepalaku pusing. Aku akan mencoba sendiri."
Clara mengulurkan tangannya untuk menjadi penopang. "Kalau begitu berpeganganlah pada tanganku. Aku akan mengantarmu, jangan khawatir, aku akan menunggu di luar pintu."
Rein menerima bantuan yang ditawarkan.
Tuan Jovant beserta Chaterine dan Issabelle datang menjenguk Rein. Mereka masuk ke kamarnya ketika Clara tengah menopangnya menuju ke ranjang.
"Clara, mari perkenalkan. Beliau adalah Tuan Jovant dan putrinya, Nyonya Chaterine, lalu ini adikku Issabelle.", kata Rein setelah duduk kembali di ranjang. "Dan ini adalah Nona Danforth, calon istri saya."
Clara memberi salam pada mereka.
"Kakak sudah pernah memperkenalkanku pada Nona Danforth.", kata Issabelle.
"Benarkah ?", tanya Rein.
Clara mempersilahkan mereka duduk.
"Nona Danforth, ayo kita bicara di bawah.", ajak Issabelle.
"Tapi...", gadis itu menoleh pada kekasihnya.
"Pergilah, Clara.", kata Rein.
Kedua wanita itu pun turun dan duduk di taman.
Molly mengantarkan teh dan kue-kue kering untuk tamu.
"Bagaimana kondisimu, Tuan Verentsille ?", tanya Chaterine.
"Sudah lebih baik, Nyonya. Terimakasih sudah datang menjengukku."
"Seharusnya orang tua ini yang berterimakasih padamu. Sebenarnya bisa saja kau melaporkan Andrew pada polisi atas penganiayaan ini. Tapi tidak kau lakukan."
"Ini adalah masalah keluarga, Tuan Jovant."
"Nona Danforth tidak mengetahui masalah ini ?", tanya Chaterine.
"Tidak, Nyonya."
"Dia gadis yang baik dan lembut. Anda pasti akan bahagia bersamanya."
"Terimakasih, Nyonya Chaterine."
"Sejak hari itu, Andrew menyuruh orang mencarinya."
"Katakanlah padanya, Tuan. Pencariannya hanya akan sia-sia. Dan berikan putrinya waktu untuk menenangkan diri."
"Sudah kukatakan padanya. Tapi putraku yang satu itu sangat keras."
Tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat.
Rein bersuara memecah keheningan. "Silahkan diminum tehnya.", katanya.
"Oh. Kau benar." Nyonya Chaterine menanggapi. "Sejak tadi membicarakan hal serius sampai lupa minum."
Kedua orang tersebut menikmati teh dan kue kecil yang disajikan.

"Issabelle, aku tahu ini sedikit kasar. Tapi aku ingin tahu tentang kakakmu lebih banyak.", kata Clara.
"Sejauh kau mengenal kakakku, apa saja yang kau ketahui tentangnya?"
"Seperti yang banyak orang katakan, Rein sangat ramah dan perhatian. Dan baru hari ini aku tahu dia tidak suka membebani orang. Bagiku itu adalah keburukannya. Aku ingin berguna untuknya. Aku ingin dia membutuhkanku."
"Kalau begitu buatlah kakakku membutuhkanmu."
Clara menatapnya. "Bagaimana caranya ?"
Issabelle meneguk tehnya. "Kakakku terlalu serius dan keras pada diri sendiri. Kau harus menemukan celah pada dirinya. Walaupun aku bilang kakakku keras, tapi sebenarnya dia sangat rapuh. Apa kau mengerti maksudku, Clara ?"
Clara mengangguk mengerti. "Aku akan berusaha.", katanya. "Lalu...satu hal lagi.", ia berkata dengan ragu.
"Ya?"
"Saya dengar, dulu Rein sempat dekat dengan Nona Jovant."
Issabelle menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Apakah dia pernah membutuhkannya?"
"Kurasa lebih penting bagimu untuk berusaha menjadi orang yang dibutuhkan kakakku. Itulah yang terpenting saat ini."
Clara berdiam diri. Ia menyadari masa lalu itu bukanlah sesuatu yang pantas ditanyakan. Setiap orang pasti memiliki rahasianya tersendiri. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak lagi menanyakan hal itu di kemudian hari.

"Sudah saatnya pulang, Adikku.", kata Steven yang sore itu datang menjemput.
Clara merasa berat meninggalkan Rein sendirian. "Kakak, bolehkah aku pulang setelah makan malam ?"
Steven menoleh pada Rein. "Lihatlah adikku. Kurasa semakin cepat kalian menikah akan semakin baik."
Rein tertawa. "Aku tahu kau mengkhawatirkan ku sendirian di sini, Clara. Percayalah, Molly sangat sering masuk kemari memeriksa keadaanku dan apa yang kubutuhkan."
Clara masih menunduk membisu.
"Hari ini kau merawatku seharian. Aku tidak ingin kau kelelahan dan sakit."
"..."
Rein memegang tangan wanita itu. "Dan aku akan menunggumu besok."
Clara tersenyum senang.
"Kau dengar itu, Adikku sayang ?"
"Kalau begitu sampai bertemu besok, Rein."
Rein mengagguk. "Aku akan menantikanmu.", katanya yang lalu mengecup punggung tangan calon istrinya.


~  ●  ~








Sabtu, 30 Mei 2015

Ch 08

Rein meletakkan peralatan makan dan menopang pelipisnya dengan tangan kiri.
"Apa kalian yakin dia kabur?", tanya Tuan Verentsille.
Richard mengeluarkan sepucuk surat. "Kami menemukan ini di kamarnya."
Tuan Verentsille mengambil surat itu dan membacanya. Setelah itu ia menoleh pada putra angkatnya yang sedaritadi tidak mengatakan apapun.
"Bagaimana Paman Andrew?", tanya Rein dengan mata yang masih memejam.
"Paman sedang berada di York dan kami belum menghubunginya. Dalam beberapa hari ini Paman akan pulang."
"..."
"Pikirkanlah sesuatu, Kak. Mungkin kakak bisa menebak kemana Eruna pergi."
"Aku tidak tahu.", kata Rein. Ia menurunkan tangannya dan menatap Richard dengan wajah lelah.
"Apa sebaiknya kau bantu mereka mencarinya, Rein?", usul Tuan Verentsille.
"Kemana aku harus mencarinya, Ayah ?"
"Dimanapun yang terpikirkan olehmu.", jawab lelaki tua itu. "Pergilah."


Richard dan Rein mencari sepupu mereka secara terpisah, mereka membagi wilayah pencarian. Barat dan timur. Rein mencarinya di wilayah barat dimulai dari gereja, restoran, taman, hotel, tea house, dan tempat-tempat lainnya yang mungkin Eruna kunjungi. Berbekal foto, mereka bertanya pada orang-orang yang ditemui di sekitar tempat pencarian. 
Mereka tidak menemukannya di hari pertama pencarian. Kakak beradik itu bahkan mengabaikan pekerjaannya di kantor. Rein mulai merasa kelelahan setelah dua hari pencarian dan istirahat yang sedikit. Ia terus berusaha berpikir dimana lagi kemungkinan gadis itu berada. Akhirnya kata 'pelabuhan' terlintas dalam pikirannya. Ia segera menuju ke sana dan menunjukkan foto Eruna pada penjaga loket. Tepat sekali dugaannya, gadis itu akan berlayar ke New York sore ini. Sekrang yang menjadi kendala pemuda itu adalah bagaimana menemukannya di antara lautan manusia sebanyak ini. Namun ia tetap berusaha menemukannya, melihat ke segala arah.

Jembatan kayu, tempat para penumpang melintas memasuki kapal berada tidak jauh dari tempat Rein berdiri. Ia memutuskan untuk berdiri di dekat jembatan itu dan mengawasi para penumpang yang akan melintas. Tempat itu lebih menyesakkan juga panas, berkali-kali ia mengusap keringat di kepalanya. Lalu setelah sekian lama menunggu, ia menemukannya ! Rein berhasil menarik tangan Eruna dan mencegahnya. "Jangan pergi.", katanya dengan napas sedikit tersenggal karena panas dan lelah.
Gadis itu hanya menatapnya dengan mata berkaca.
"Pulanglah, Eruna.", bujuknya. "Mereka menantimu."
Kemudian wanita itu menunduk melihat tangannya yang masih digenggam oleh pria yang ia cintai.
"Maaf.", ucap Rein seraya melepaskan tangannya.
Eruna tersenyum padanya. "Terima kasih, Rein. Aku senang kau mencariku."a
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang sekarang.", ajaknya kemudian berbalik.
"Ayah merencanakan pernikahanku."
Rein terpaku, dengan pelan ia berbalik kembali menatapnya.
"Aku belum siap, Rein.", katanya lagi. 
"Katakanlah pada Paman Andrew, tapi jangan bertindak seperti ini."
"Kau sangat mengerti siapa ayahku."
Rein menunduk berpikir apalagi yang mampu ia katakan. Kemudian ia menatapnya dengan mata yang mulai memerah dan berkaca. "Kau seorang wanita, Eruna. Sendirian di New York, tempat yang begitu jauh dan asing, bagaimana kau akan melewati hari-harimu?"
"Sekarang sudah bukan kewajibanmu memikirkan itu. Nona Danforth wanita yang baik. Berbahagialah dengannya."
"Eruna."
"Hanya satu hal yang bisa kau lakukan untukku."
"... Katakanlah."
"Rahasiakan keberadaanku dari siapapun juga."
"Tapi..."
"Bisakah aku mempercayaimu ?"
Rein membisu sejenak lalu menyanggupinya. "Baiklah."
Eruna tersenyum walaupun airmatanya telah tak terbendung. "Selamat tinggal, Tuan muda Verentsille yang pernah kucintai.", salamnya yang kemudian melintasi jembatan memasuki kapal.
Rein terus memperhatikan hingga kapal bergerak menjauh. Para pengantar yang memadati pelabuhan mulai membubarkan diri.

Rein tiba di kediaman keluarga Jovant sebelum jam makan malam. Ia tidak menyangka akan langsung bertemu dengan Andrew ketika memasuki rumah itu. Sang paman telah kembali dan mengetahui putrinya menghilang. Luapan kemarahannya langsung ditujukan pada pemuda di hadapannya. Dengan tongkat yang selalu dibawanya, ia memukul pemuda itu hingga roboh ke lantai. 
"Pasti kau yang menghasutnya !", marahnya. "Dimana kau menyembunyikannya ?! Katakan !"
Bagaimana bisa Rein menjawabnya bila ia terus dipukuli seperti itu. Pemuda itu bahkan sudah tidak bertenaga untuk melindungi diri. Ia lelah secara jiwa dan fisik. Beruntung anggota keluarga Jovant yang lain segera menghampiri mereka dan menghentikan Andrew.
"Jangan gila, Andrew ! Dia bisa mati kau pukuli !", tegur Tuan Jovant. Ia bersama dengan Richard menahan Andrew dan membawanya menjauh.
"Lepaskan aku, Ayah ! Aku akan membuatnya bicara ! Jangan halangi aku !"
Issabelle dan Chaterine membantu Rein bangun dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya dengan sapu tangan.
Rein mengisyaratkan mereka untuk tidak memapahnya. Pemuda itu memegang lengan kirinya yang sakit. Lalu bergerak maju beberapa langkah. "Saya bertemu Eruna."
Andrew berhenti merontah.
"Dimana dia ? Kenapa dia tidak bersamamu ?", tanya Nyonya Chaterine.
"Eruna sudah pergi.", jawabnya. "Dan saya sudah berjanji padanya tidak akan memberitahu siapapun tentang keberadaannya."
Andrew kembali ingin mendekati pemuda itu namun berhasil ditahan ayahnya dan Richard. "Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong itu !"
"Saya tahu anda tidak akan percaya.", kata Rein. "Tapi itulah kenyataannya."
"Terimakasih atas bantuanmu untuk mencari Eruna, Tuan muda Verentsille. Akan lebih baik bila sekarang anda pulang dan istirahat.", kata Tuan Jovant.
"Anda benar, Tuan Jovant. Saya akan pulang sekarang.", pamitnya.

Tuan Verentsille sedang menikmati makan malam ketika putra angkatnya pulang. Orang tua itu melihat penampilan Rein yang kacau dan lelah. Untunglah ia dapat melindungi kepalanya ketika sang paman memukulnya, pikir pemuda itu. Ia tidak akan mampu menyembunyikan luka lebam di bagian tubuhnya yang terbuka. Rein memberitahukan hasil pencariannya hari ini dan menyampaikan hal yang sama kepada ayahnya seperti yang dikatakannya pada keluarga Jovant. Malam itu Tuan Verentsille makan malam sendirian sementara putranya memilih beristirahat di kamar setelah mandi. 



~  0  ~




Kamis, 28 Mei 2015

Ch 07

Rein datang sebelum pukul tiga. Ia duduk sendirian di dalam tea house yang telah dijanjikan. Ia belum memesan apapun sejak tiba di sana. Entah apa yang dipikirkan Richard, pikirnya. Kenapa tiba-tiba memintanya kemari. Apakah dia ingin mempertemukannya dengan Eruna atau ada hal lain. Bermacam-macam pikiran silih berganti di dalam kepalanya. 
Beberapa pelanggan yang mengenali pemuda itu mulai berbisik menerka.
"Itu Tuan muda Verentsille."
"Kenapa dia sendirian ya? Atau sedang menunggu orang?"
"Kudengar hubungannya dengan Nona Danforth semakin dekat."
"Beruntung sekali gadis itu."
"Lihat! Lihat! Ada yang menghampirinya!"
"Bukankah itu Tuan muda Jovant, adik iparnya? Bersama dengan Nyonya Chaterine?"

Rein terkejut melihat ibunya tengah berdiri di hadapannya. Ia segera berdiri. Chaterine mengulurkan tangan kanannya yang disambut Rein dan mengecup punggung tangannya. "Selamat sore, Nyonya Chaterine.", salamnya.
"Selamat sore, Tuan Verentsille.", salam wanita itu. Kemudian Richard menarikkan kursi untuk ibunya duduk, lalu ia sendiri duduk di sebelah kirinya.
Rein tidak berani menatap langsung mata ibunya setelah kembali ke tempat duduk.
Mereka memesan teh dan biskuit untuk tiga orang.
"Saya tidak menyangka anda akan datang, Nyonya.", kata pemuda itu mencoba membuka pembicaraan.
Wanita dengan topi biru itu hanya menatap wajah pemuda yang duduk di hadapannya.
"Ibuku jarang keluar. Karena itu aku mengajaknya.", jelas Richard.
"Kalau begitu kau harus sering mengajaknya jalan-jalan, Richard."
"Sejujurnya saya kurang menyukai keramaian, Tuan Verentsille."
Rein menatap ibunya. "Keramaian tidak seburuk yang anda bayangkan. Banyak pemandangan indah bila anda mencoba untuk melihatnya."
Chaterine tersenyum. "Sepertinya anda bukanlah orang yang lebih suka tinggal di rumah di waktu senggang seperti yang dikatakan orang."
Tuan muda itu terdiam menyadari kemiripannya dengan sang ibu. Mereka sama-sama kurang menyukai keramaian. Kemudian ia berusaha menyangkalnya di hadapan wanita itu. "Gosip tidak selalu benar, Nyonya Chaterine."
Richard melihat arlojinya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jas. "Ibu, saya harus kembali ke perusahaan. Paman Andrew tidak tahu kalau saya sedang duduk di sini minum teh bersama kalian dan mengabaikan pekerjaan. Kalau sampai ia tahu, tamatlah riwayatku.", jelasnya.
"Tidak. Kau harus tetap di sini, Richard.", kata Chaterine.
"Tapi, Ibu, ..."
"Kau tidak perlu khawatir akan pamanmu."
Richard melihat pada kakaknya yang tidak menanggapi apapun. Ia takut pada kemarahan sang paman namun juga tidak ingin menentang permintaan ibunya. Akhirnya ia menuruti perkataan sang ibu dan duduk kembali.
Pertemuan dengan ibunya adalah sesuatu yang dari dulu selalu ia nantikan. Namun hari ini, Rein sama sekali tidak merasa nyaman dengan pertemuan mereka. Sesekali ia meminum tehnya untuk menenangkan diri.
"Anda terlihat tegang, Tuan Verentsille."
"Benarkah?"
Chaterine meminum tehnya lalu mengambil sebuah biskuit. Setelah mengunyah dan menelan dengan sopan, ia melanjutkan perkataannya. "Saya menyadari pertemuan terakhir kita telah meninggalkan kesan kurang baik untuk diri kita masing-masing. Saya berharap anda dapat memakluminya."
"..."
"Kemenakanku telah kuanggap seperti putriku sendiri. Saya tidak mampu melihatnya jatuh ke dalam kesedihan dan keputusasaan."
"..."
"Anda tidak ingin tahu bagaimana kabarnya, Tuan Verentsille?"
"Ibu!", tegur Richard dengan nada berbisik.
Topik inilah yang paling dihindari Rein. "Saya telah memiliki seorang calon istri, Nyonya Chaterine. Merupakan suatu ketidaksopanan bagi saya untuk menanyakan kabar dari gadis lain. Saya akan dianggap tidak menghormati calon istri saya."
"Calon istri ?", sebut Chaterine.
"Benar, Ibu. Kakak iparku akan menikah bulan Juni tahun ini.", Richard menjelaskan. "Karena itulah, merupakan sesuatu yang tidak pantas untuk membicarakan tentang kemenakan ibu.", bisiknya.
Chaterine menunduk dan menghela napas dengan pelan. "Anda sudah melangkah sejauh itu. Seharusnya begitu juga dengan Eruna."
"Tuan Andrew pasti akan mengatur yang terbaik untuknya."
Chaterine mencoba untuk tersenyum menatap pemuda itu. "Saya ucapkan selamat, Tuan Verentsille. Anda telah menemukan seseorang yang akan membahagiakan sepanjang sisa hidupmu."
Rein tersenyum walaupun ia tahu sebenarnya sang nyonya tengah menyindir. "Terimakasih.", ucapnya singkat.
Sesaat raut wajah Chaterine terlihat sedih. Ia melamun sambil mengangkat cangkir tehnya.
"Ada apa, Ibu?", tanya Richard.
Chaterine tersadar dari lamunannya dan tersenyum kaku pada putranya. "Oh.", ia bersuara. "Melihat Tuan Verentsille jadi mengingatkan ibu pada kakakmu, Richard."
Richard melihat kakaknya yang sedang minum teh. Rein mampu menutupi perasaannya walaupun sebenarnya ia sangat ingin berada di posisi adiknya saat ini.
"Maaf, Tuan Verentsille.", ucap Chaterine.
"Kalau begitu seharusnya saya segera pamit. Bila tidak, keberadaan saya hanya mengundang kesedihan anda, Nyonya Chaterine."
"Bisakah anda tinggal lebih lama, Tuan Verentsille?"
Tuan muda itu tidak mampu menanggapi apapun.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini sambil jalan-jalan di Hyde Park ?", usul Richard.
Rein melakukan pembayaran lalu bersama ibu dan adiknya berjalan ke Hyde Park yang tidak jauh dari Tea House.
Sore itu taman yang terkenal dengan keindahannya dan paling ramai dikunjungi oleh masyarakat kalangan atas tidaklah seramai seperti biasa. Chaterine melingkarkan tangannya pada lengan kanan putra keduanya. Ketiganya berjalan menikmati pemandagan rumput hijau beserta pepohonan. Mereka duduk di kursi di dekat sungai. Ada beberapa orang yang tengah berperahu menikmati pemandangan, ada juga yang sedang melukis.
"Bila putra sulungku masih hidup, saya yakin kalian akan menjadi teman yang baik."
"Anda masih merindukannya setelah sekian lama ia meninggal?"
"Reinharverd putraku tidak akan pernah kehilangan tempatnya di hatiku."
Pemuda bermata biru itu menatap ibunya, berharap agar ia mendengar lebih banyak lagi tentang dirinya.
"Saat melihatmu, saya seperti melihat Reinharverdku masih hidup. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan."
Rein tersenyum. "Saya pun selalu merindukan ibuku.", ia berkata sambil melihat ke langit senja.
Kini giliran Chaterine yang menatapnya.
"Saya merindukan pelukannya. Ketika ibu membelai rambutku, ketika ibu bernyanyi menidurkanku, dan masih banyak hal lainnya yang sudah tidak bisa kudapatkan darinya.", katanya sambil memejam mengenang masa kecilnya.
Chaterine ingin memeluk pemuda itu apabila saat ini mereka sedang tidak di tempat umum. Ia dapat merasakan kesedihannya, namun ia tidak mampu menyampaikan kasih keibuannya di hadapan orang banyak.
"Nyonya Chaterine.", panggilnya. "Bolehkah saya mendapatkan restu dari anda? Saya sangat mengharapkan kehadiran anda di gereja dan pesta pernikahan saya nanti."
Chaterine terkejut mendengar permintaannya. Lalu ia tersenyum menyetujui. "Baiklah. Saya akan datang."
Rein tersenyum bahagia dan berterimakasih pada ibunya.
Richard merasa lega melihat hubungan ibu dan kakaknya yang kembali hangat.


"Tuan Richard, Tuan Andrew menunggu anda di ruang kerja.", kata pelayan.
"Ya.", tanggapnya singkat.
Richard menarik napas yang dalam dan menghembusnya dengan pelan. Ia tahu apa yang akan dihadapinya di balik pintu ini. Chaterine menyentuh pundak putranya dan berkata, "Ibu akan menemanimu."
Keduanya masuk ke ruang kerja dimana sang paman telah menunggu. Lelaki berdarah dingin itu sedang berdiri di dekat jendela memunggungi mereka. Ada segelas brandy di tangan kirinya.
"Selamat malam, Paman.", salam Richard.
Andrew berbalik melihat mereka. "Kenapa kakak juga berada di sini?", tanyanya dengan dingin.
"Aku ingin tahu apa yang ingin kau bicarakan dengannya."
Andrew tersenyum tidak mengerti. "Ada apa denganmu, Kakakku? Tiba-tiba sekali kakak ingin tahu tentang masalah pekerjaan di perusahaan?"
Chaterine tidak ingin menanggapi pertanyaan adiknya.
Andrew menyandar pada meja kerjanya. "Ah....aku tahu.", ia berkata sambil tersenyum mengejek menatap Richard. "Kau sadar telah melakukan kesalahan, lalu meminta kakakku berbicara untukmu. Benar begitu, Richard?"
"Itu tidak benar, Paman."
"Aku paling benci mengulur-ulur waktu. Kau tahu dengan jelas apa yang ingin kubicarakan hari ini."
"Tadi sore saya menemani ibu minum teh."
"Aku meminta putraku menemaniku menemui Tuan Muda Verentsille. Kami bertiga minum teh bersama."
Andrew meletakkan gelasnya dengan kuat ke meja dan membuat ibu dan anak itu terkejut. "Mengabaikan pekerjaan dan minum teh! Hebat sekali ! Tanpa ijin dariku kau pergi meninggalkan pekerjaan dan menemui bajingan itu !"
Suara Andrew terdengar sampai keluar ruangan. Issabelle dan Eruna berdiri di balik pintu mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dan kakakku tercinta, aku tidak marah kau meminta putramu menemanimu.", ia memelankan suaranya. "Tapi aku tidak suka kakak menemui orang yang sudah menyakiti putriku."
"Kau tidak punya hak melarangku bertemu dengan siapapun yang kuinginkan, Andrew !", Chaterine berkata dengan tegas. "Tidak juga pada putra dan menantuku."
Andrew tertegun. Ia berbalik memunggungi mereka dan mengambil gelas yang diletakkannya di atas meja lalu meneguk isinya dengan sekali minum. Ia benar-benar marah.
"Oh, dan satu hal lagi, Andrew.", kata Chaterine sebelum keluar dari ruang kerja. "Kekhawatiranmu akan segera sirna. Tuan muda Verentsille akan segera menikah dua bulan lagi."
Setelah ibu dan anak itu keluar, Andrew melampiaskan amarahnya dengan melempar gelas yang dipegangnya ke jendela. Terdengar suara pecahan kaca dan barang-barang berjatuhan ke lantai.
"Benarkah itu, Bibi? Rein akan menikah?", tanya Eruna yang masih belum mempercayainya.
Chaterine membelai rambut kemenakannya dan mengangguk.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia segera berlari ke kamarnya di lantai dua. Ia mengunci diri dan menangis. Tidak seorangpun yang diijinkannya masuk.

Richard dan Issabelle masuk ke kamarnya. Sang suami menarikkan kursi untuk istrinya duduk, sedangkan ia sendiri berdiri di dekatnya.
"Aku juga baru mengetahuinya hari ini.", kata Richard.
"Kak Rein mencintainya?"
"Kakak bilang akan belajar mencintainya." Richard berlutut dan menempelkan telinganya di perut sang istri. "Kita hanya bisa mendukungnya, Issabelle. Dan semoga Eruna mampu melewati ini."
Issabelle membelai rambut suaminya.
"Dimana kakek?"
"Kakek sedang pergi. Mungkin sebentar lagi pulang."
Makan malam di hari itu menjadi sepi. Baik Andrew maupun Eruna tidak keluar dari ruangannya masing-masing. Hanya ada Tuan Jovant, Chaterine, Richard dan Issabelle. Pertengkaran yang terjadi malam itu menjadi topik pembicaraan di meja makan.


Satu minggu telah berlalu sejak pertengkaran antara Andrew dan kakaknya. Pagi-pagi sekali ketika Rein sedang menikmati sarapan bersama ayah angkatnya, ia telah kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah Richard. Sang adik tampak tergesa-gesa dan panik ketika ia diantar ke ruang makan oleh Molly.
"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Kak.", salamnya dengan tangan yang memegang topi.
"Selamat pagi, Richard.", salam keduanya.
"Duduklah dan sarapan bersama kami, Richard.", kata Rein dengan senyum ramahnya.
"Aku takut aku tidak memiliki waktu untuk ajakan kakak."
Rein dan Tuan Verentsille menatapnya dan merasa ada sesuatu yang penting untuk diketahui.
"Duduklah, Richard, dan tenangkan dirimu", kata Rein yang kehilangan senyum di wajahnya.
Lelaki tersebut menuruti perkataan kakaknya. Ia duduk dan meletakkan topinya di meja makan.
"Sekarang katakan apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa kemari."
"Eruna kabur dari rumah."



~  0  ~



Rabu, 27 Mei 2015

Ch 06

"Saya akan mengantar Nona Danforth pulang begitu pertunjukkannya selesai.", kata Rein yang datang menjemput gadis itu.
Tuan Danforth mengangguk tersenyum sambil memegang cerutu.
Keduanya pun pergi. Mereka tidak bersama dengan Steven karena ia telah pergi menjemput Josephine, kekasihnya.
Mereka tiba bersamaan dengan keluarga Jovant. Pertemuan pun tidak terhindarkan.
Richard dan Issabelle menemui kakaknya sementara anggota keluarga Jovant yang lain memasuki gedung opera terlebih dahulu. Mereka hanya saling menyapa dan tidak sempat berbicara.
Rein tidak begitu menikmati pertunjukkan tersebut. Namun ia mampu menyembunyikannya dari Clara. Ia ingin agar gadis itu tidak terganggu olehnya. Begitu pula dengan Eruna. Nona Jovant itu memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum pertunjukkan selesai.

Sejak pergi bersama ke pertunjukkan opera, Rein sering datang ke kediaman keluarga Danforth. Pemuda itu sepertinya ingin serius mendekati adik dari temannya. Mereka sering terlihat bersama di depan umum.

"Boleh aku duduk di sini?", tanya Issabelle.
Eruna tersadar dari lamunannya. "Ya. Tentu saja, Issabelle."
Issabelle duduk di kursi taman dan membelai perutnya yang mulai membuncit.
"Tidak lama lagi anggota keluarga kita akan bertambah.", kata Eruna.
Issabelle tersenyum. "Dan kau akan menjadi seorang bibi."
Eruna tersenyum tumpul. "Sepertinya kakakmu juga akan menerima seseorang sebagai keluarganya."
Wanita berambut ikal pirang itu melihat padanya. "Kau masih belum bisa melupakan Kak Rein?"
"Tidak semudah itu, Issabelle."
Issabelle tersenyum nakal mengingat masa lalu.
"Ada apa ?"
"Aku teringat dulu. Aku tahu Kak Rein bukan kakak kandungku. Karena dia begitu baik, maka aku memutuskan untuk menjadi istrinya kelak."
"Bahkan kau juga menyukai kakakmu?", Eruna terkejut dan merasa geli mengetahuinya.
"Ingat, kami bukan saudara kandung, Eruna. Dan wajar saja kalau aku pernah menyukainya."
"Lalu?"
"Kalau diingat-ingat lagi, aku benar-benar egois. Aku memonopoli Kak Rein. Aku sering memaksanya menemaniku. Terlebih lagi bila menghadiri pesta dansa, aku tidak mengizinkannya berdansa dengan wanita lain."
Eruna tertawa.
"Aku bahkan pernah cemburu padamu, Eruna."
"Bagaimana bisa, Issabelle?"
"Itu sebelum aku bertemu dengan Richard."
Eruna berusaha menahan tawanya. "Apa dia pernah mengeluh?"
Issabelle mengingat-ingat. "Seingatku tidak pernah."
"Kau dan Richard sangat beruntung memilikinya sebagai kakak kalian."
Issabelle menyentuh tangan Eruna. "Kak Rein yang kutahu bukanlah seseorang yang dikatakan paman selama ini. Aku juga tidak mengerti dengan tindakannya yang tiba-tiba menjauhimu. Tapi aku yakin kakakku pasti memiliki alasannya. Aku tahu sulit bagimu, Eruna. Tapi cobalah untuk meninggalkan masa lalu dan memulai yang baru."
Eruna mencoba tersenyum dan menahan air matanya. "Aku juga berharap aku mampu. Semua ini membuatku tersiksa, Issabelle. Kakakmu....dan juga ayahku. Sebenarnya ada apa di antara mereka?"

Chaterine melihat menantu dan kemenakannya dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Ia juga merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia tidak suka melihat Tuan muda Verentsille meninggalkan kemenakannya seperti itu, dan di sisi lain ia tidak sanggup membenci pemuda itu. Setiap kali melihat pemuda bermata biru tersebut, ia seolah sedang melihat putra sulungnya yang sudah meninggal. Karena itulah ia tidak mampu sepenuhnya membenci Tuan Muda Verentsille.
"Ibu.", panggil Richard.
"Kalau kakakmu masih hidup, ... tahun ini dia sudah berumur dua puluh dua tahun, seumuran dengan Tuan muda Verentsille."
"Tapi sayang sekali mereka adalah orang yang berbeda.", tanggap Richard.
Chaterine berbalik menatap putranya. "Richard putraku, apakah kau juga merasakannya? Setiap kali ibu melihat Tuan muda Verentsille, ibu seperti bertemu kembali dengan kakakmu. Apakah kau juga begitu, Richard?"
Richard mendekatinya dan memeluk ibunya. "Itu hanya perasaan ibu karena terlalu merindukan kakak.", ia mencoba menenangkan ibunya walaupun ia harus menyangkal perasaannya. "Saya tidak mengingat apapun tentang kakak karena saat itu aku masih kecil." Kemudian ia menawarkan pendapatnya, "Yang ibu butuhkan saat ini adalah bertemu dengannya. Dengan begitu rasa rindu ibu dapat terobati."
"Itu tidak mungkin, Richard."
Lelaki berambut coklat tersebut menghela napas. "Karena ibu telah menegurnya, bukan?", tebaknya. "Kalau ibu menginginkan, saya bisa mengatur sebuah pertemuan untuk kalian."


Richard menemui kakaknya di perusahaan keluarga Verentsille. Ia datang saat hari menjelang siang. Ia harus menunggu beberapa waktu karena Rein sedang rapat mengenai pengembangan perusahaannya. 
Ketika rapat selesai, Rein kembali ke ruangannya dan bertemu adiknya.
"Issabelle sehat?", tanya sang kakak.
"Ya. Sekarang sudah memasuki bulan kelima kehamilannya."
"Tidak lama lagi kau akan menjadi seorang ayah. Bagaimana persiapanmu?"
Richard meminum kopi yang disuguhkan untuknya. "Aku tidak tahu, Kak. Siap atau tidak aku tetap akan menjadi seorang ayah."
Rein menepuk pundak adiknya sambil tersenyum. "Dengan sendirinya kau akan terbiasa."
"Benar.", tanggap Richard. "Sepertinya kakak serius dengan Nona Danforth?"
Rein duduk menyandar. "Bulan Juni nanti kami menikah."
Sang adik menoleh terkejut.
Rein tertawa kecil melihat reaksi adiknya. "Kenapa kau sekejut itu, Richard? Bukankah kau dan Issabelle juga menikah setelah perkenalan yang baru berlangsung dua bulan?"
"Kakak mencintainya? Atau pernikahan ini karena bisnis keluarga?"
Tuan muda Verentsille berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati jendela. "Aku menghormati Clara. Ini bukanlah sebuah keputusan yang buruk."
"Itu artinya kakak tidak mencintai gadis itu. Bagaimana kakak bisa bahagia menjalani hidup bersama seseorang yang tidak kakak cintai?"
"Apakah orang sepertiku pantas untuk bahagia, Richard?", ia balas bertanya. "Keberadaanku hanya bisa menyakiti orang-orang yang kucintai. Tanpa ia sadari aku menggunakannya seperti alat. Aku menyakitinya tanpa ia sadari, memberinya harapan. Karena itu aku akan bertanggungjawab atas apa yang sudah kulakukan."
Richard hanya mendengarkan tanpa menanggapi.
"Kurasa aku mampu menanggungnya. Kebahagiaan Clara adalah tanggung jawabku."
"Aku tidak percaya.", kata sang adik.
"Tapi aku yakin aku mampu." Rein berbalik melihat adiknya. "Clara adalah wanita yang lembut. Aku mengaguminya. Dan aku akan belajar mencintainya."
"..."
"Kakakmu membutuhkan dukungan dan doa darimu, Richard. Bisakah kau memberikannya?"
Richard berdiri dan mengambil topinya. "Pukul tiga sore ini datanglah ke tea house tempat biasa kita bertemu.", ia menyampaikan maksud kedatangannya. "Selamat siang, Kak.", pamitnya.



~  0  ~




Minggu, 24 Mei 2015

Ch 05

Seperti biasa, rutinitas Rein diawali dengan sarapan bersama ayahnya. Pada saat sarapan seperti ini mereka akan membicarakan tentang pekerjaan di pabrik. Dan ketika pembicaraan tentang pekerjaan selesai maka kedua orang tersebut akan berbicara tentang hal lainnya sampai sarapan selesai.

"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan seperti yang anda minta.", kata David, salah seorang pegawai kepercayaan Rein.
"Sebentar, David.", kata Rein yang menahannya pergi. "Tentang opera minggu depan, apa kau tahu dimana aku bisa membeli tiketnya?"
"Tuan ingin menonton opera?"
Rein tersenyum. "Lebih tepatnya menemani seseorang pergi menonton."
"Saya mengerti.", kata David tersenyum. "Saya akan segera membeli tiketnya."
"Tidak, David. Biar aku saja yang pergi."

Setelah mengetahui tempatnya dari David, Rein segera pergi memburu tiket. Sesampainya di sana, tidak terlihat antrian panjang di depan loket. Ia hanya perlu mengantri dari lima orang di depannya. Belum sampai pada gilirannya, hujan mulai mengguyur kota London. Rein yang tidak ada persiapan apapun untuk melindungi diri dari hujan menjadi basah kuyup. Lalu gilirannya pun tiba.

Clara berdiri di dekat jendela di kamarnya. Ia melihat langit mendung yang sedang mengguyuri tanah dengan hujan. Lalu ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan merajut. Ketika mendengar pintu kamarnya diketuk, ia segera menyembunyikan rajutannya di balik bantal lalu membukakan pintu.
"Hari ini kau terus mengurung diri di kamar, Clara?"
"Ibu.", sebutnya.
Nyonya Danforth masuk dan duduk di kursi. "Jangan kau kira ibu tidak tahu. Putriku ini mulai jatuh cinta pada Tuan muda Verentsille bukan?"
"Eh...saya...", Clara menjadi salah tingkah dan tidak berani melihat ibunya.
"Tuan muda Verentsille memang berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya. Ibu akan senang sekali dan merasa tenang bila kau menjadi istrinya, Clara."
"Ibu terlalu berlebihan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Tuan Verentsille. Mungkin saja dia menyukai wanita lain. Saya tidak berani berharap banyak."
"Benar juga ya. Tidak terpikirkan oleh ibu."
"Saya pernah mendengar kalimat ini seseorang yang sempurna, mungkin telah menjadi milik seseorang yang sempurna lainnya."
"Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Clara. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan yang saat ini kita liat pada Tuan muda Verentsille hanyalah kelebihannya. Orang sebaik itu juga pasti memiliki kekurangan."
Seseorang mengetuk pintu kamar Clara dan memberitahukan kedatangan Tuan muda Verentsille.
Ibu dan anak itu segera menuju ke ruang tamu.
"Tuan Verentsille !", panggil Clara yang terlihat khawatir melihat pemuda itu basah kuyup. Ia segera membantu mengusap Rein dengan handuk yang telah dibawakan oleh pelayan.
"Cepat ambilkan pakaian tuan muda kemari! Cepat!", perintah Nyonya Danforth.
Segera salah seorang pelayan pergi ke kamar Steven dan mengambil pakaiannya lalu segera kembali ke ruang tamu.
"Nah, Tuan muda Verentsille. Gantilah pakaian anda segera sebelum anda masuk angin.", kata Nyonya Danforth.
"Terimakasih, Nyonya Danforth."
"Kami keluar dulu.", kata Clara.
Rein pun ditinggal seorang diri di ruang tamu yang tertutup. Pemuda itu mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian Steven. Setelah selesai, ia membuka pintu dan memberitahu mereka yang telah menunggu di luar. Teh hangat dan makanan kecil disajikan atas perintah Nyonya Danforth. Ia membiarkan kedua orang tersebut berbicara di ruang tamu dan ia menyibukkan diri dengan hal lain.
"Tuan Verentsille, kenapa anda bisa kehujanan seperti tadi?", tanya Clara.
"Saya tidak menyangka akan turun hujan saat mengantri beli tiket.", jawabnya sambil tersenyum.
"Anda tidak segera berteduh?"
"Tentu saya berteduh, tapi hujan dan anginnya sangat kencang." Pemuda itu mengeluarkan dua lembar tiket yang dibelinya. "Maaf, Nona Danforth. Yang tersisa hanyalah kursi barisan belakang.  Kalau anda tidak berminat..."
"Kita tetap akan menontonnya.", kata Clara yang memotong perkataan Rein. "Bagaimana mungkin saya menyia-nyiakan usaha anda. Ketika anda mengatakan akan menemani saya, itu sudah membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi anda kehujanan hanya untuk memenuhi keegoisan saya. Maafkan saya, Tuan Verentsille."
"Nona Danforth, saya mohon anda jangan berkata seperti itu.", kata Rein. "Saya tidak pandai bicara tapi saya berusaha melakukan yang terbaik. Karena anda sangat menghargainya, sudah membuatku sangat senang." Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. "Kalau begitu saya akan menjemput anda minggu depan."
Clara memandangnya dan tersenyum. "Ya. Saya akan menunggu."
Rein menjadi salah tingkah. Ia mengalihkan perhatiannya pada teh yang telah disuguhkan dan meminumnya. "Sekarang saya harus pamit, Nona Danforth.", katanya setelah berdiri.
"Tapi di luar masih hujan, Tuan Verentsille. Tinggallah di sini sampai hujan reda."
"Putriku benar, Tuan Verentsille.", kata Nyonya Danforth ketika memasuki ruangan. Ia duduk di satu sisi sofa sambil tersenyum. 
Rein kembali duduk.
"Boleh saya tahu apa yang sedang kalian bicarakan?", tanya wanita paruh baya itu.
"Oh, saya hampir lupa. Maafkan ketidaksopanan saya, Nyonya Danforth. Minggu depan saya akan menemani putri anda menonton opera. Seharusnya saya mengatakannya dulu pada anda."
Nyonya Danforth memandangnya terkejut lalu memandang putrinya. "Kalian akan pergi bersama?"
Rein menjadi gugup dan merasa dirinya telah melakukan suatu kesalahan. "Maaf, Nyonya danforth. Seharusnya saya meminta ijin dari anda terlebih dahulu."
Wajah Nyonya Danforth berubah serius dan menatap tajam pada pemuda itu. "Tuan muda Verentsille, saya harap anda mengerti bahwa putri saya sangatlah lugu. Bagaimana tanggapan kekasih anda bila tahu kalian pergi berduaan? Terlebih lagi di depan umum. Bagaimana tanggapan orang-orang nantinya terhadap Clara?"
Rein terkejut dan berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku. "Anda salah paham, Nyonya Danforth.", ia berusaha menjelaskan. "Bila saya sudah memiliki kekasih, mana mungkin saya berani menemani Nona Danforth menonton opera."
Nyonya Danforth masih menatap serius padanya. "Tuan muda Verentsille adalah seorang pemuda tampan yang memiliki banyak pengagum wanita. Sulit untuk mempercayai kalau anda belum juga memiliki tambatan hati."
"Tapi saya memang belum memilikinya, Nyonya Danforth. Dan saya sama sekali tidak ada maksud untuk merayu putri anda. Saya hanya ingin menemaninya menonton opera karena saya lihat putri anda sangat ingin menontonnya. Tapi memang ini adalah kesalahan saya karena tidak terlebih dahulu meminta ijin anda. Maafkan saya, Nyonya."
"Ibu. Tuan Verentsille bermaksud baik. Ibu jangan mendesaknya lagi."
Rein mencoba meyakinkan wanita itu sekali lagi. Ia menenangkan diri lalu memandangnya. "Nyonya Danforth, bolehkah saya menemani putri anda menonton opera minggu depan?"
Nyonya Danforth mengendurkan ketegangan di wajahnya lalu tersenyum. "Tentu, Tuan muda Verentsille.", katanya.
Rein tersenyum lega. "Terimakasih, Nyonya Danforth."
Clara pun ikut merasa lega. Ia tersenyum dan menuangkan teh untuk tamunya.
"Seharusnya saya yang berterimakasih karena anda memahami dan bersedia menemani Clara."
Rein tersenyum menggeleng. "Kalau Steven tidak mengatakannya saya juga tidak akan tahu, Nyonya."
"Tuan Verentsille, silahkan diminum.", kata Clara.
"Terimakasih." Setelah menyelesaikan keperluannya, Rein segera pamit kepada ibu dan anak itu. Walaupun mereka sudah mencoba untuk menahannya, namun pemuda itu tidak bisa lagi menunda kepergiannya.
"Maafkan perkataan ibuku tadi, Tuan Verentsille.", kata Clara yang mengantar tamunya ke depan.
Rein tersenyum, "Perkataan Nyonya Danforth benar. Beliau mengkhawatirkan anda. Itu sudah seharusnya. Sejak awal memang saya yang melakukan kesalahan. Syukurlah beliau tidak marah.", tanggapnya. "Dan saya akan segera mengembalikan pakaian kakakmu yang kupinjam."
"Ya." Gadis itu tersenyum.
"Sampai bertemu minggu depan, Nona Danforth." Rein mengecup punggung tangan gadis itu lalu masuk ke dalam kereta kudanya.
Clara melihat kereta kuda yang membawa lelaki yang ia sukai keluar dari gerbang rumahnya. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya. Ia tersenyum sendiri mengingat reaksi Rein ketika diserang perkataan ibunya. Ia berkaca di depan cermin besar yang disandarkan di salah satu sisi dinding kamarnya.
"Tidak disangka pemuda tampan itu menawarkan diri menemanimu.", kata sang ibu yang tiba-tiba muncul di belakang putrinya.
Clara sangat terkejut menyadari kehadiran ibunya yang tiba-tiba tersebut. "Ibu. Mengejutkan saja."
"Ibu sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kau terlalu asyik memikirkan pria idamanmu."
"...Tadi ibu sedikit berlebihan terhadapnya."
"Itu demi dirimu, Clara. Seperti yang tadi kau katakan, mungkin saja dia sudah memiliki wanita idamannya. Dan kalau benar begitu, kau akan menyesal nantinya."
"Tapi saya tidak berani mengharapkan apapun dari Tuan Verentsille."
Nyonya Danforth tertawa lucu.

"Rein?", sebut Steven ketika sedang makan malam bersama keluarganya. "Kau akan pergi bersamanya?"
"Benar, Kak."
"Temanku yang satu itu tidak pernah membicarakan tentang wanita. Tapi aku pernah melihatnya bersama Nona Jovant."
"Dia sudah mempunyai kekasih?", tanya sang ibu.
"Ntah lah. Tapi akhir-akhir ini mereka sudah tidak pernah terlihat bersama."
"Menurut kakak, apakah sebaiknya saya membatalkan janjinya?"
"Clara adikku tercinta, sudah lama aku mengenalnya dan belum pernah terdengar sesuatu yang buruk tentang dia. Aku yakin kalau dia sering terlihat bersama wanita yang berbeda, pasti gossip buruknya telah beredar kemana-mana. Orang itu lebih suka menghabiskan waktu luangnya di rumah menemani ayahnya."
"Kakakmu benar, Clara. Rein itu sama sepertimu, lebih banyak di rumah daripada mencari kesenangan di luar. Ayahnya sendiri yang mengatakannya."
Setelah mendengar pendapat dari ayah dan kakaknya, Clara merasa lebih tenang. Namun perasaan ketidakpercayaan diri masih terus menghantuinya.


Rein memainkan piano yang berada di ruang keluarga sementara ayah angkatnya membaca buku. Keduanya sedang menikmati waktu senggangnya masing-masing ketika salah seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tuan Rein.", panggil pelayan itu.
"Ada apa, Trudy?", pemuda itu menanggapi tanpa menghentikan permainannya.
"Pakaian yang anda pinjam dari Tuan Danforth telah selesai dicuci dan disetrika."
Rein tersenyum pada pelayannya. "Tolong letakkan di kamarku. Besok akan kukembalikan padanya."
"Baik, Tuan. Permisi."
Tuan Verentsille membalik halaman pada buku yang tengah dibacanya. "Kau akan ke rumahnya lagi, Rein?"
"Tidak, Ayah.", jawabnya. "Besok aku akan bertemu Steven, jadi akan kukembalikan padanya."
Rein mengakhiri permainannya dan menutup piano itu.
"Keluarga Jovant juga akan pergi ke menonton opera itu.", orang tua itu berkata lagi.
Pemuda itu terdiam.
"Tapi kau juga sudah tidak bisa membatalkan janjimu dengan Nona Danforth. Bukan begitu?"
"Mungkin kelak saya akan mendapat hukumannya, Ayah. Ini justru kesempatan yang baik agar Eruna menyerah."
Tuan Verentsille berbalik melihat putra angkatnya. Ia seolah-olah tidak mengenal sosok pemuda yang baru saja mengatakan hal selicik itu. "Mengenai masalahmu dengan Eruna, kau belum pernah mengatakan apapun pada ayah. Sampai kapan kau akan menutupinya? Kenapa orang tua ini tidak berhak mengetahuinya?"
"..."
"Jawablah, Putraku. Beri ayahmu ini alasan untuk memaafkan kata-kata yang baru kau ucapkan tadi."
Rein menunduk. Kemudian ia berdiri dan duduk di sisi ayahnya. Sepasang tangannya menggenggam lembut tangan ayahnya. "Bila saya memberitahu ayah ... bisakah ayah tidak mengatakannya pada siapapun juga?", ia berkata dengan nada memohon.
Tuan Verentsille berkerut kening, merasa penasaran dengan perkataan yang didengarnya. "Katakanlah.", ia berkata dengan tidak sabar untuk mendengarnya.
"Semua ini kulakukan demi Issabelle dan Richard."
"Apa maksudmu?"
"Paman Andrew tidak akan mengganggu hubungan kedua adikku bila aku bersedia menjauhi putrinya. Itulah kesepakatan kami, Ayah."
"Apa?" Tuan Verentsille terkejut mengetahui kenyataan itu.
"Karena itu, Ayah. Saya harus melakukannya agar Eruna menyerah. Satu-satunya jalan adalah dengan membuatnya membenciku."
Lelaki tua itu tidak mampu berucap apapun lagi. Ia menunduk bersedih.
"Dengan menyakiti Eruna, ibuku sendiri telah membenciku. Saya akan benar-benar hancur bila ayah juga membenciku. Jadi saya mohon mengertilah, Ayah. Demi kebahagian Issabelle, jangan katakan pada siapapun tentang kesepakatan ini."
Tuan Verentsille mengangguk-angguk. "Terimakasih, Rein. Dan maafkan ayah ... juga adikmu."
Rein memeluk ayah angkatnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ayah. Tidak ada.", ia berkata sambil memejam.
Orang tua itu menangis, putra angkatnya memeluk dan berusaha menenangkannya. Malam itu sudah tidak ada rahasia apapun lagi yang disembunyikan di antara kedua orang itu. Tuan Muda Verentsille merasa sedikit lebih lega namun tetap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yaitu Nona Danforth.





                                                                     ~  0  ~